Kegelapan, duka, sengsara, derita, dan nestapa, tampak dari pemandangan yang terhampar di hadapan Raihan kala itu. Desa sunyi dalam gelap malam, hanya diterangi jingga api yang berkobar pada kayu-kayu lapuk sekitar rumah tak berpenghuni. Sementara mayat-mayat manusia berwajah suku Eropa, bergelimpangan dibalut busana penuh noda darah serta luka mengerikan. Sebagian masih saja dicabik oleh burung-burung gagak hitam nan kelaparan, sisanya mulai dikerumuni lalat-lalat besar hitam. Raihan Abdi Pangestu, berdiri jejak di atas hamparan tanah gersang. Hatinya gemetar, menyaksikan mayat-mayat yang tak berdaya dengan tubuh tak lagi utuh. Siapapun atau apa pun yang melakukannya, pasti bukan manusia waras. Udara lembap yang ia rasa begitu dingin menusuk kulit berbalut jaket hitam parasut. ‘Apa ini

