Pagi itu hujan lebat mengguyur pemakaman yang berhias puluhan bahkan ratusan batu nisan berbentuk salib. Jeff Lincoln, lelaki yang baru kehilangan seluruh anggota keluarganya dalam semalam, menunduk menyaksikan pemakaman terakhir dari istri tercinta. Dua anaknya yang tewas dalam keadaan mengenaskan, telah lebih dulu dikubur dalam tanah berlapis peti mati beberapa waktu lalu. Meski beberapa kerabat dan sahabat datang, mengelus lirih pundaknya yang terbalut jas hitam panjang, lelaki keturunan aborigin tersebut tetap diterpa duka. Sakit dari luka yang ia dera, tak seberapa dibanding pedihnya kehilangan.
Untaian kalimat penguat yang dilontarkan orang-orang di sana, sama sekali tak mengurangi sedihnya. Perjumpaan dengan kawan lama yang berubah jadi manusia serigala, wanita berjubah merah yang jadi dalang pembunuhan keluarga, serta kehampaan sebab tak mampu berbuat apa-apa, begitu menyiksa. Belum lagi raut wajah tak berdosa keluarga kecil tercinta, berkelebatan pada benak pria berusia dua puluh delapan tahun tersebut.
Air matanya berderai manakala pendeta membacakan doa ampunan pada keluarga yang meninggalkannya. Ia mencoba tuk tak bersuara. Pilu yang terus menusuk d**a, lirih menanam murka. Nicole, satu-satunya manusia yang siap ia cari setelah pemakaman usai.
John Smith si lelaki pirang berkacamata hitam, memegang gagang payung di tangan kanan. Tangan kirinya menggenggam ponsel. Ia satu-satunya pelayat yang mengatur jarak, meski matanya tertuju pada Jeff dari kejauhan. "Sepertinya kutukannya sudah bereaksi."
'Kau yakin? balas suara dari ujung telepon yang lain.'
"Pendarahannya berhenti dalam waktu singkat. Tangan dan kakinya telah pulih, meskipun peluru sempat bersarang di sana. Dan tulang belikatnya, kembali seperti sediakala." Mata John terus menyorot punggung lelaki berkulit gelap dari jauh.
'Kapan kau akan membawanya?'
"Segera setelah dia yakin bahwa dia tak punya pilihan lain."
'Kalau dia menolaknya?'
"Apa itu pertanyaan?" John tersenyum simpul.
'Terserah, tapi jangan lakukan di keramaian!'
Lelaki pirang gondrong, berdengus sebelum memutuskan sambungan telepon. "Kau pun bukan bossku."
***
(Ruang Apartemen, beberapa jam lalu.)
"Kehadiranmu... Tak seperti orang biasa." Sosok tersebut melangkah lirih, bertanya menggunakan bahasa asing. tangan kanan lelaki tersebut masih erat menggenggam-menodongkan alat penembak laras pendek pada lelaki berkaos hitam.
Raihan yang mendengar suara lelaki dari belakang, kini mengangkat kedua tangan ke atas. Netranya melirik ke belakang. 'LHA? Di sini? Mereka lebih gegabah bertindak di negeri sendiri, ya?' Raihan si pemuda berbelangkon, mulai mengatur keluar masuknya napas. Ia memfokuskan tenaga dalam pada pertahanan, tak peduli meski jantungnya berdetak kencang tak karuan.
"Siapa kau!" seru si pria bule. Kakinya berhenti melangkah.
"Kau yang membunuhnya, benar?" Raihan bertanya balik.
"Aku tanya kau sekali lagi, siapa kau!" Nada bicaranya meninggi.
"La raimu sapa! (Kau sendiri siapa!)" Raihan memutar badan, mengayunkan tendangan kanan cepat ke arah tangan lelaki pirang.
Bhwaag!
Berhasil menjatuhkan alat penembak lawan, pemuda berblangkon cepat-cepat menyusulkan tendangan layang kedua dari kaki kiri. Ayunannya yang keras, merobohkan sosok berkacamata hingga ambruk dalam sekali serang. Kacamata pria bermata cokelat turut terlempar jatuh ke lantai.
Tak berhenti, Raihan lanjut melompat tuk menindih sosok tersebut dengan lengan kiri mengimpit leher lawan. "Katakan padaku! Kau anggota LHA yang lain, bukan!" Raihan melotot, tak peduli pada wajah lawan yang membiru sebab sulit bernapas.
Meski berkali-kali menghantam tuk menyingkirkan lelaki beralis tebal yang menindih selama beberapa menit, usahanya sia-sia. Berat badan lelaki berkaos hitam yang ia hadapi, terasa lebih berat dari tiga sak kantung semen besar. Alhasil, ia hanya menarik lirih belangkon Raihan seraya berkata terbata, "To-tolong, he-hentikan."
Saat itu juga, Raihan menatap dalam mata hazzel-nut lelaki bertuxedo hitam. Ketika batinnya lirih berkata hentikan, barulah ia menyingkir menginjak hancur kacamata hitam lawan dan menggapai alat penembak yang tergeletak tak jauh darinya. Alat penembak berjenis MAG 4. "Sekarang, jelaskan padaku. Siapa kau dan mengapa kau membunuhnya seperti itu?" tanyanya menodongkan alat penembak pada lelaki yang tengah mengatur napas. Leher pria yang Raihan todong membiru akibat serangannya.
"Biarkan aku bernapas dulu!" ucapnya kesal dengan napas tersengal. Lelaki berkumis tipis berbaju hitam, kini duduk sambil memegang leher. Sesekali ia terbatuk. "Kau... Kau orang suruhan Pusaka Nusantara, bukan?"
'Dia tahu Pusaka Nusantara? Tapi, kenapa responnya justru tenang? Pemuda berbulu mata lentik, mengerutkan dahi. "Kau siapa? Dan apa saja yang kau tahu soal kami?" Raihan menodongkan alat penembak dengan satu tangan.
"Namaku Julius... Aku dan rekanku adalah agen yang menyelidiki LHA di Indonesia beberapa tahun lalu! Aku kenal Tuan Panca juga!"
"Ha?" Raihan terbelalak mendengar statmen si pria bule. Orang ini, kenal beliau?
"Jika kita baik-baik saja, tolong... Turunkan benda itu," pintanya menunjuk pada alat penembak di tangan Raihan.
***
Pada pukul delapan malam waktu setempat, Raihan yang telah mengenakan jaket hitam lengkap dengan sarung tangan dan sepatu sport putih, erat digandeng oleh perempuan berkerudung putih berjaket nila. Mereka mengikuti lelaki bernama Julius yang berjalan pelan menuju tempat parkir. Ia tak bosan mengelus leher yang memar.
Perempuan berbulu mata lentik dan arloji putih di tangan, lirih bersuara pada lelakinya,"Mmmm... Mas, lalu siapa pelaku pembunuhan di apartemen sebelah kita?"
"Entah. Batinku yakin pembunuhan terjadi sebelum kita kembali kemarin malam," jawabnya pelan. 'Tapi anehnya, aku juga tak merasakan hal janggal semalam. Wajarnya, arwah yang mati dibunuh, pastinya akan bergentayangan dan meminta pertolongan pada orang terdekat. Kalau begitu, apakah... Arwah wanita itu juga ikut dibawa? Tapi siapa? Kalau benar pelaku pembunuhan ini, adalah pembunuh berantai yang berkeliaran itu, maka artinya ini berkaitan dengan sekte terkutuk!'
Selang beberapa menit, sebuah sedan hitam mendekati mereka bertiga. Sopir yang merupakan om-om botak berkulit gelap mirip seorang aktor holywood-Eddy Murphy dengan kemeja abu-abu, tersenyum menatap Julius. "Yo, what's up, dude?" Ia cengar-cengir.
"Tak ada waktu basa-basi. Ayo berangkat!" Sahut Julius kesal, ia masuk ke dalam sedan hitam. Disusul Raihan dan Syabila yang duduk di jok belakang.
***
(R. Guggenheim Solomon Museum)
Di sebuah toilet laki-laki, dua orang remaja setinggi seratus tujuh puluh lima sentimeter, asyik bergurau usai buang air. Seseorang dengan kupluk ala Bob Marley tak berhenti memainkan sakelar lampu toilet. Seorang dengan kaos putih, menertawakan temannya yang menjerit ketakutan di dalam bilik wc sebab menderita nyctophobia.
"Colt! Kumohon! Hentikan!"
"Hahahahah! Boo! Bogeyman ingin bermain denganmu!" Ia nyingir kuda, terus menyala-matikan sakelar.
"Awas! Freddy! Setan badut akan menarikmu masuk ke dalam lubang jamban! Hahahahaha!" celetuk satunya lagi.
Daak!
Tawa kedua pemuda usil terhenti manakala mendengar bunyi hantaman dari bilik wc paling ujung. Mereka saling tatap sejenak, sebelum seringai jahil kembali merekah. Kini gantian lelaki berbaju putih yang memainkan sakelar beriring tawa.
Daak!
Bukannya berhenti memainkan lampu, keduanya terus melanjutkan. Tak menghiraukan jerit histeris temannya yang ada di bilik toilet.
Dlap!
Lampu toilet tersebut, padam. Tombol sakelar tak lagi berfungsi. Mereka berdua tertawa terbahak selama lima detik. Hingga...
Bamm! Pyaar!
Bunyi pintu yang terlontar lepas dari engsel, menghantam kaca toilet. Tangis lelaki dalam bilik menggema di ruangan setelah tawa dua rekannya senyap.
Drap... Drap... Drap...
Derap langkah disusul dengan sepasang mata kuning yang menyala dalam gelap, membuat kedua remaja tak berakhlak, diam terpaku. Geraman dari makhluk yang tak tampak jelas apa itu, membuat mereka gemetar tak mampu bergerak.