"Namaku Tom. Aku dan Julius yang dulu pernah menangani penculikan di Indonesia," ungkapnya menggunakan bahasa Indonesia. Lelaki gempal berkulit gelap tersebut menyetir santai.
"Sebenarnya, benda apa yang dipamerkan di museum itu malam ini?" tanyanya Raihan melirik ke arah jalan raya kota yang cukup padat. Sejauh mata memandang, wajah manusia yang terlihat berwajah keturunan eropa dan orang kulit hitam.
"Beberapa waktu yang lalu, Legacy Hunter Association meng-klaim bahwa mereka telah menemukan cincin Raja Solomon yang hilang. Mereka mengumumkan pada penduduk sekitar sedari tiga bulan lalu bila benda misterius penuh sejarah itu, akan dipamerkan malam ini."
Dahi pemuda berblangkon mengerut. "Cincin Nabi Sulaiman?" gumamnya lirih. "Tapi apa yang membuat orang-orang ini percaya kalau itu benda asli?"
"Yahh kau tahu, kan. Beberapa tahun lalu Legacy Hunter Association jadi tenar karena hal-hal yang mereka lakukan di negerimu. Dan lagi, Legacy Hunter Association berhasil memanggil sesuatu yang disebut Jersey Devil baru-baru ini," ungkap Tom.
Raihan tak bernapas sejenak mendengar nama makhluk yang si sopir sebut. "Jersey Devil? Apa itu?" Ia menarik napas, mencoba mengingat nama yang sepertinya pernah ia dengar.
Sang sopir berbadan gempal menyahut, “makhluk legenda yang sering diburu penampakannya oleh Youtrouber muda yang sering berbohong.”
‘Makhluk legenda? Siluman? Jin? Mungkinkah di negeri ini juga ada siluman yang mampu mewujudkan diri ke alam manusia?’ Raihan menopang dagu menggunakan punggung tangan. “Tapi bagaimana pun, itu tak mungkin cincin yang asli. Sebab jika benar, pastinya dia tak akan ragu memakai benda tersebut untuk mengendalikan seluruh jin di muka bumi.”
"Hey, can you two speak a human language? (Apa kalian berdua bisa bicara bahasa manusia?)" Julius menyela, murung sebab tak tahu apa yang kedua orang tersebut bicarakan.
Tom terkekeh sembari menggelengkan kepala. "Kau hanya tahu enak Mas, terus Mas, iya Mas, right? Hahaha!"
Deg!
Sebuah firasat serta tekanan aura yang ganjil, menggerakan Raihan tuk berkata, "hentikan mobilnya! Sekarang!" Raihan menepuk keras sandaran kursi si sopir mobil.
Kendaraan mereka sampai di jalan pinggir taman. Dari sana, Museum Solomon R. Guggenheim tampak ramai oleh pengunjung. Kerumunan manusia begitu padat melebihi hari-hari biasanya. Event pameran malam itu berhasil menjadi daya tarik warga Amerika Serikat sekitar.
Syabila menggapai-meremas pundak kanan Raihan. Wajahnya pucat, tertunduk ketakutan. "Mmmm... Mas?"
"What's going on? (Ada apa?)" Julian menoleh ke arah bangku belakang di mana sepasang muda-mudi berada.
"Ahh... Something’s not right. (Ada yang tidak beres.)" Lelaki berkulit gelap mirip aktor senior Eddy Murphy, menghentikan laju mobil. Kepalanya mendongak ke atas memandang atap gedung museum tujuan.
Raihan menarik napas dalam, mengelus ubun-ubun sang istri. "Tenang. Istighfar. Tunggu di sini bersama mereka, ya?" Lelaki berblangkon merogoh saku jaket hitam dan keluar dari mobil. "Tunggu di sini." Ia mengambil sebatang rokkok dari bungkusnya, lanjut menyalakan dengan korek.
"H-hey! You stop just for-(Kau berhenti hanya untuk-)"
Belum Julius menegur, lelaki mirip Eddy Murphy menepuk pundak sang lelaki pirang berbusana tuksedo sembari menggelengkan kepala liri-memberi isyarat untuk melihat tanpa mengganggu yang Raihan perbuat.
"Mmmm... Mas, d-dia... Mendekat." Perempuan mancung berbusana nila, memperingatkan.
Raihan berkomat-kamit merapal sesuatu. Matanya terpejam seraya menikmati lisong. Batinnya turut menyeru sesuatu yang diajarkan oleh sang guru. Ia cepat membuka mata saat gambaran wanita berjubah merah sekilas tampak. ‘Ahh! Si wanita penyihir itu?’ Ia menyapukan mata ke sekitar, mencoba mencari sosok menjengkelkan yang ia kenal. "Tapi di mana dia?"
"Hey, Shaman! What are you lookin' for? (Hey, dukun! Kau cari apa?)" Julius membuka kaca pintu sedan hitam.
Raihan menoleh ke arah pria pirang cepak. "Please take care of my wife. (Aku titip istriku.)" pintanya sebelum mengayuh kedua kaki menuju museum megah yang berjarak seratus meter dari mobil mereka.
Julius membuka pintu, berteriak berlari mengejar Raihan. "Hey! Tapi kau tak punya izin masuk! Tunggu!"
Usai dua pria menjauhi mobil, Tom menghela napas. Memikirkan beberapa kemungkinan. Kepalanya lirih menoleh ke belakang, di mana Syabila berada. “Menrutmu, apa mungkin organisasi yang dipercaya PBB sebagai badan untuk menangani hal gaib itu, kini benar-benar berulah lagi di negeri ini? Tapi apa tujuannya? Jika tujuannya hanya menguasai dunia, maka kekeliruan besar kalau mereka terang-terangan memancing peperangan dunia. Hudson sendiri bukan orang gegabah dalam bertindak.”
Syabila menggeleng. “Saya kurang tahu, Pak. Tapi jika organisasi itu masih dikepalai oleh orang-orang yang pernah Mas Raihan lawan, maka bukan mustahil mereka melakukan hal yang mengancam manusia lain.”
***
(Deretan ruang toilet.)
Dalam gelapnya ruangan, Jeff si pria cepak keriting berdiri tertatih. Lelaki bermata lebar tersebut berjalan terseok, meraba-raba pintu keluar. Ia tak peduli pada bau anyir dan lembapnya busana yang ia kenakan. Saat ia menemukan gagang pintu, ia cepat mendorong.
Krieet…
"Kyaaaaaa!" Dua dari lima wanita pirang berbusana mini warna-warni, menjerit histeris melihat Jeff yang baru keluar dari toilet pria.
Lelaki yang masih mengalami vertigo ikut terbelalak melihat darah yang melekat di sekujur badan. "Wha-what the…. (Apa-apaan…)"
Tak berapa lama, beberapa petugas security berbusana biru mendekat ke arah si pria hitam yang basah oleh noda darah. Salah satunya berbicara pada anggota lain lewat Handy Talky di tangan kanan.
"What the hell is this? What happen to me? (Apa yang terjadi? Apa-apaan ini?)" Wajah Jeff gelagapan.
"Are you allright? (Kau baik saja?)" Security muda bertanya mendekat.
"No! It’s impossible! It’s imposible! No! (Tidak! ini mustahil! Ini mustahil terjadi! Tidak!)" Jeff memilih berlari menjauhui petugas keamanan.
"Hey! Stop!" Lelaki berseragam mengayuh kedua kakinya lebih cepat guna mengejar Jeff.
‘Dammit! Is it her doing? How can I get there! (Kurang ajar! Apa mungkin ini karena dia? Dan bagaimana bisa aku berada di tempat ini!)’ Jeff Lincoln terus berlari, tak acuh pada teriakan rombongan satpam di belakang. Beberapa pengunjung yang mencoba membantu petugas keamanan untuk menangkapnya pun gagal. Gerakannya begitu gesit dan kuat.
"Hey! Freeze! (Hey! Diam di tempat!)" Lima orang satpam lain muncul, menghadangnya dari arah berlawanan. Saat para satpam mengacungkan alat penembak, sontak semua pengunjung menjerit ketakutan.
Lelaki berkaos penuh noda darah berhenti. Ia pelan mengangkat kedua tangan. Matanya masih saja melirik mencari celah untuk kabur dari kepungan para security.
"Kneels! (Berlutut!)" Seru seorang satpam gemuk berambut putih. Mereka pelan mendekat sambil menodongkan alat penembak pada lelaki bersimbah darah.
Tap!
‘Go upstairs! (Naiklah ke atas!)’ Lirih bisikan wanita terngiang di kepala. Suara tersebut, mirip dengan suara istrinya yang meninggal malam lalu.
Bamm!
Sebuah pintu tangga darurat menuju rooftop, terbuka keras oleh sesuatu yang tak kasat mata.
"Margareth?" Melihat adanya pintu tangga darurat yang sudah terbuka tak jauh dari rombongan satpam di depan, lelaki cepak keriting tersebut justru melesat ke arah mereka.
Dor! Dor! Dor! Dor! Dor!
Meski tubuhnnya dihujani peluru, pria berkulit gelap tersebut terus melesat melewati para penembak. "Urghhh!" Jeff sekuat tenaga berlari memasuki pintu tangga darurat, mengacuhkan nyeri serbuan timah panas.
Lebih cepat, Sayang. Lebih cepat! Bisikan suara yang begitu mirip dengan istrinya, mendorong Jeff mempercepat kaki. "Margareth!"
***
Atap museum Solomon R. Guggenheim yang melingkar, dengan sedikit dome di bagian tengah pada malam hari, menjadi pemandangan yang Jeff saksikan. Sesosok wanita dengan dress putih berlumur darah tampak berdiri di ujung atap dekat tangga yang baru ia lalui. "M-Margareth?" panggilnya lirih dengan napas tersengal.
Wanita berwajah istrinya itu menolehkan kepala lirih. "Jeff..."
"You’re… Alive? (Kau... Maih hidup?)" Lelaki cepak keriting, menghampiri dengan langkah kontai.
"Ofcourse, My Dear. (Tentu, sayang.)" Wanita berwajah pucat, menoleh penuh pada Jeff seraya menyodorkan kedua tangan. "Jeff, I miss you. (Jeff, aku merindukanmu.)"
"Margareth!" Ketika Jeff melangkah hendak memeluk sosok yang menyerupai istrinya, sebuah tangan dari belakang erat mencengkeram pundak lelaki berkulit gelap.
Cet!
"Stop!" Raihan sang lelaki berblangkon, menarik lelaki berkulit gelap yang lebih tinggi darinya. Ia menjatuhkan Jeff hingga tersungkur ke lantai beton.
"Who are you! (Siapa kau!)" Jeff yang sadar dicegat Raihan, segera bangkit meluncurkan bogem mentah.
Blag!
Raihan lebih dulu membenturkan lutut kanan pada organ di tengah s**********n lelaki tersebut. Ia menarik napas dalam, menatap Jeff yang seketika pingsan tersungkur di lantai. Sosok wanita yang mirip dengan istri Jeff turut lenyap. "Semua orang yang masuk untuk naik kemari lewat tangga, seketika pingsan! Aku tahu kau penyebab ini semua!" Raihan berjalan mengitari dome.
"Hahahahah..." Perempuan berjubah merah duduk di atas box kayu. "Lama tak jumpa... Pria Jawa." Ia memamerkan cincin batu merah pada jari manis kiri.
"Setelah gagal menjalankan ritual di negeriku, sekarang kau jadikan negerimu sendiri sebagai tumbal ya?" Ia berhenti melangkah. Kedua tangannya mengepal erat. Sorot matanya penuh amarah. "Elizabeth!"