Elizabeth, Werewolf, dan Cincin Pusaka

1101 Kata
"Do you think you can stop me here, Mr. Raihan? (Kau pikir kau bisa mengalahkanku di sini, Tuan Raihan?)" Tubuh Elizabeth membumbung lirih, naik mengambang di udara dengan kedua kaki lurus. "You don’t event carried any legacies! (Kau bahkan tak membawa pusaka apapun!)" Setelah melayang lima meter di atas permukaan atap, sosok berjubah merah melesat menerjang lelaki berblangkon, mengarahkan cakar tangan kanan.  Srraak! Berhasil melukai lelaki berjaket hitam, Elizabeth membalik badan terdiam di udara. Sosok tersebut menjilat darah lelaki yang ada pada cakar tajamnya. "Kuburanmu, akan berada jauh dari rumahmu!" Meski cepat mengelak, lengan Raihan terkoyak. Ia berguling dan segera bangkit, memasang wajah datar pada lawan. "Darahku, lebih segar dari kambing bersayap majikanmu itu, ya?" ujarnya merogoh saku jaket hitam. "Lagi pula aku tak perlu senjata tajam untuk mencabuti rambut dari kepala penuh korengmu." "Hrrghhh!" Rautnya berubah. Wanita berbusana merah kembali melayang tuk menyambar. Lelaki berjaket hitam, lekas menyampingkan badan sembari mengalungkan tasbih kayu pada kaki kanan lawan. Ia mengeratkan genggaman lanjut memutar badan, membenturkan tubuh si perempuan pada kaca dome. Dakk!! Baru Raihan hendak menggapai pundak Elizabeth, Jeff melompat menerjang lelaki berbusana hitam. Ia mengeram bak anjing kelaparan. "Grrrr!"   Raihan yang kini ditindih pria berkulit gelap, menahan d**a si sosok cepak sekuat tenaga. Dia jadi siluman! Netranya fokus pada taring Jeff yang memanjang. Tanpa disadari, sinar rembulan memancar manakala awan malam yang menutup, mulai berembus tertiup angin. Elizabeth berjalan maju, lantas menendang keras lawan hingga terlontar jatuh dari rooftop. Blaak! Ia mengacungkan cincin merah ketika Jeff yang bermata serigala melotot memandang. "Get him! (Tangkap dia!)" Lelaki hitam bersimbah darah melesat mengejar Raihan. Tanpa berpikir ia terjun dari atas gedung, mengejar lelaki berblangkon. ***  (Beberapa bulan sebelumnya, Pondok Pesantren Banyu Putih, Indonesia.) Raihan duduk bersila menghadap pada lelaki mancung berkemeja putih lengan pendek. Di saung serupa gubuk bambu beratap rumbia, keduanya menikmati sebungkus rokok dan kopi s**u di malam sunyi. Nyanyian jangkrik dan kicau burung hantu, mengiring obrolan mereka dari gelap pepohonan sekitar. "Mmmm... Mas, apa benar tak masalah jika saya ajak Syabila ke Amerika?"  Menyalakan rokok usai menyeruput cairan hangat warna cokelat, Ki Panca tersenyum. "Ya ndak apa-apa. Memangnya kenapa?" "Tapi... Bukankah saya pergi ke sana karena-" Lelaki bermata jernih menyela, "Alloh yang Maha Melindungi. Bukan kamu. Tenang saja. Lagi pula dari awal menikah sampai sekarang, kau sudah banyak menolong orang lain. Jadi jatahmu bahagiakan istrimu di waktu ini." Lelaki beralis lebat, buang napas. Ia tersenyum kecil saat kekhawatirannya terjawab. "Nggih, Mas." "Oh, iya. Ngomong-omong kalau di Bandara umum, ndak boleh bawa senjata tajam, ya?" "Setahu saya, tidak boleh, Mas. Itu kenapa mungkin saya hanya bawa tasbih ini saja," jelasnya meraba saku jaket hitam. Ki Panca melirik ke kanan dan kiri. Bibirnya bergerak bak merapal doa. "Kamu sudah coba cari-cari tahu soal hubungan sejarah Amerika dengan Indonesia?" Lelaki berblangkon sedikit menundukkan pandang. "Mmmm... Belum banyak, Mas. Segera saya cari habis ini, Mas." "Ngger, sebenarnya doa kunci untuk menggunakan tasbih itu, juga bisa dipakai untuk berbagai hal lain." Raihan memasang wajah serius. Menatap balik netra jeli Sang Guru. Selain untuk me-ruqyah? "Seperti yang sering saya sampaikan, tiap huruf hijaiyah memiliki ruh. Tiap ruh memiliki tugas. Dan kau bisa mempraktekkan tugas mereka pada kondisi dan situasi tertentu." Raihan berdengung, mencoba mencerna.  "Dah, nanti insyaalloh kamu paham sendiri." ***  "Ya Alloh..." Raihan yang tengah terjatuh dari atap gedung museum, coba mengheningkan pikiran, tak memedulikan teriak histeris warga lokal di bawah gedung. "Dzatulloh..." Netranya awas pada manusia bertaring yang kian dekat hendak menggapai badannya. "Sifatulloh..." Ia menyatukan kedua tapak tangan. "Wujudulloh..." sebutnya menutup mata. "Nurulloh..." Ia menarik napas dalam lewat lubang hidung. "Sirrulloh..." Ia membalik badan, memandang tanah berlapis beton di sana. "Wahai Dzat yang mampu merubah sifat suatu ciptaan, kukuhkanlah daging dan tulang hamba! Amat mudah bagimu memberi hal yang mustahil sekalipun!" Blaamm! Raihan mendarat dengan lutut kanan lebih dulu. Beton putih yang merupakan jalur lewat mobil, hancur berkeping-keping. ‘Alhamduli-’ Manakala ia mendongak ke atas, Jeff Lincoln tengah terjun bersiap mendaratkan cakar-cakar tajam tangan kanan. "Huugh!"   Kerumunan manusia di sana berhamburan lari, meski sebagian tetap mengabadikan momen tersebut lewat kamera gadget. Riuh sirine mobil polisi pun menggema, seiring para petugas pengaman gedung yang berdatangan. Semuanya mengacungkan senapan pada Jeff dan Raihan. Lelaki berblangkon reflek melompat mundur, menyaksikan sang manusia setengah monster menancapkan jemari tajam pada beton di sana. ‘Manusia Serigala? Manusia Serigala!’ pikirnya siaga dalam kuda-kuda silat.  Dor! Dor! Dor! Dor! Dor! Lima buah timah panas meluncur melesat, menembus kulit gelap Jeff Lincoln. "Rrrraaaaaauuurrrr!" Ia menoleh cepat ke arah Julius, lelaki yang baru saja menembak. "Ggrrrraaaaur!" Jeff membungkukkan badan, berlari bak anjing liar.  Para petugas dengan alat penembak, kini mulai menghujani tembakan pada sosok lelaki setengah serigala bertaring tajam. Melihat adanya kesempatan, Raihan mulai merapal doa seraya mengepalkan tinju kanan. "Qulhu Geni!" Baru ia hendak menghantamkan tinju ke lantai guna mengikat ruh target agar tak bergerak, sebuah bola api melesat dari langit, menyambar Raihan. Blammm! "Huurgh! Duhhh! Gusti!" Lelaki beralis lebat, terjengkang jatuh. Ia buru-buru melepas jaket hitam yang berkobar. "Dasar wadon laknat!" gerutunya terengah-engah. Elizabeth, tubuhnya diselimuti api. Sejurus kemudian raib dari pandangan.  Sang manusia bercakar memutar haluan, ia berlari ke jalanan dengan tubuh penuh luka tembak. "Rrraaaurrr!" Julius yang sadar bila lawannya hendak kabur, cepat-cepat merogoh sebuah pistol kedua dari kantung sabuk di belakang. Ia membidik punggung lawan, lanjut menekan pelatuk. Dor! "Grrraaaung!" Jeff yang suaranya mirip serigala, lanjut berlari menahan nyeri. Ia melompati pagar pembatas gedung hanya dalam satu pijakan kaki. Julius si pria cepak pirang, mengangkat sebuah panggilan telepon sembari mendekati Raihan. Tak seperti anggota keamanan dan polisi lain, ia urung mengejar sebab paham bila makhluk setengah serigala itu tak akan mampu dilumpuhkan hanya dengan peluru biasa. "Hallo, John! Kemana saja kau!" ‘Siapa itu? Apakah perubahannya sempurna? Adakah korban dari pihak kita?’ "Mana aku tahu! Dia tiba-tiba saja mengamuk di keramaian museum!" ujarnya kesal. Kemana dia berlari? Apa kau berhasil menembaknya?   "Arah barat. Sekarang giliranmu," jawabnya menatap Raihan yang meringis kesakitan. Ia sesekali fokus pada api berkobar di jaket sang dukun asal Jawa.   Roger that! Dan mengenai lelaki dari Pusaka Nusantara, tampung dia sementara. Bilang pada Eve kalau dia bala bantuan kita. Usai berpesan, lelaki lain dari telepon memutus sambungan.   "Tunggu! Hoy! Haargh!"   Raihan yang kini hanya mengenakan kaos hitam, terkekeh. Ia nyingir menahan panas. Allohuma ya Alloh Gusti! Api si penyihir setan itu benar-benar mengenai sukmaku! Keringat dingin mengucur deras membasahi sekujur badan pria beralis lebat. Tangan dan lututnya yang menopang di atas beton, gemetar. Jiiancuuk tenan!   "Mas Raihan!" Perempuan berbusana nila, berlari mendekati Raihan. Wajahnya kalut.   "Hey, kau tertawa kenapa?"   Napas Raihan melemah, seiring rasa nyeri bak ditusuk paku pada kening. Ia ambruk, tak sadarkan diri. Suara cemas sang istri tak mampu ia dengar.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN