The Jersey Devil

1362 Kata
  (Satu hari kemudian, The Mark Hotel-Rooftop.) Di atap gedung mewah penuh sofa putih empuk dan sajian lezat ala makan-minuman asing di meja keramik, hanya Raihan yang mengenakan kaos lengan pendek dengan celana panjang hitam di antara para bule bertuksedo rapi. Netra lelaki berblangkon hitam cokelat, sesekali memandang langit malam yang lebar membentang. Selain cahaya dari gedung-gedung sekitar, tampak purnama dan beberapa bintang berkelip. Julius dan Tom datang mengenakan jas hitam. Keduanya mengenakan kacamata hitam sebagaimana belasan lelaki bule lain. "Kau terbakar oleh api si penyihir merah, tapi kau hanya hilang kesadaran selama dua puluh empat jam. Aku akui itu hal yang mengaggumkan," ujar si lelaki cepak pirang sembari duduk di sebelah Raihan. Tom si lelaki berkulit gelap, menyahut, "ahahah! Kau hanya belum lihat aksinya di kekacauan yang LHA timbulkan di Indonesia!" "Tapi tetap saja, tindakanmu itu bodoh dan gegabah," imbuh Julius ketus sambil menuang secuil sari anggur pada cangkir bening di meja. Raihan berdengus kesal memikirkan si wanita penyihir. "Lantas apa tanggapan pemerintah dan media lokal terkait insiden kemarin?" Tom sang lelaki besar menyahut, "seperti biasa, mereka menutupi kejadian kemarin. Mereka juga berhasil membungkam seluruh saksi mata yang ada di sekitar tempat kejadian. Tetapi beberapa orang yang merekam tragedi dari kejauhan berhasil merekam dirimu dan makhluk yang terjatuh lalu mempublikasikannya di sosial media dengan imbuhan teori konspirasi."  Raihan menatap Tom. "Bajunya bersimbah darah saat aku menemuinya sebelum dikendalikan oleh wanita itu. Apa ada korban jiwa yang makhluk itu timbulkan?" Julius menanggap, "tiga orang pemuda ditemukan tewas di dalam toilet pria. Jasad mereka tercabik-cabik dengan bekas gigitan serta cakaran. Kami yakin itu ulah makhluk itu."  Tom justru terhenyak mendengar pertanyaan Raihan. Ia yang sempat mengulur tangan hendak mengambil cangkir di meja, tak bergerak. Benaknya sibuk oleh beberapa praduga. ‘Jika ia tak kunjung ditangkap, korban akan terus berjatuhan. Tapi, mungkinkah dia pelaku pembunuhan berantai di sekitar kota ini?’ Lelaki beralis lebat menundukkan kepala sejenak seraya terpejam. "Lalu apa kalian berhasil menemukan identitas lelaki itu?" "Raihan… Did you just said that it was controlled by Elizabeth? (Raihan… Apa kau barusan bilang kalau orang itu dikendalikan Elizabeth?)" tanyanya menatap pria berblangkon. "Aku yakin begitu. Sesaat ketika terlempar dari atap museum, aku melihat Elizabeth sempat mengarahkan cincin merah di tangannya pada monster itu," jawabnya merogoh saku jaket, mengambil sebungkus lisong khas indonesia. "Oh, dan soal cincin yang ia pakai itu... Benda itu bukanlah cincin Solomon asli seperti yang mereka gemborkan." "Dari mana kau yakin? Bukankah buktinya, ia bisa mengendalikan orang hitam itu meski belum berubah wujud sempurna jadi manusia serigala?" ‘Rupanya benar bila orang itu adalah manusia serigala, ya?’ pikirnya mendengung lirih. "Karena setahuku, cincin Nabi Sulaiman tidak berbentuk seperti itu," jawabnya menyalakan api pada rokok dengan sebuah korek gas putih. Julius tersenyum simpul. "Memangnya kau pernah melihat cincin Solomon yang asli?" Lelaki gempal berkulit gelap, meraih gadget dari saku celana. Menelepon kontak bernama John Sick. Mungkinkah itu dia? Raihan menjawab lelaki cepak pirang usai mengisap rokok, "percayalah. Jika itu cincin yang asli, maka semua makhluk gaib di muka bumi sudah mengacau karena cincin yang asli mampu menundukkan hampir semua makhluk gaib." ‘Halo, Tommy. Missed me? (Hallo Tommy. Merindukanku?)’ "John, did you track it? (John, apa kau berhasil melacak keberadaan subjek kemarin?)" tanya Tom menempelkan ponsel pada pipi. ‘Anyone there? (Apa kau sendiri di sana?’ nada si penanya ragu. Bule cepak yang tersinggung mendengar John, protes, "hoy, jangan berlagak kau satu-satunya yang takut bila hal besar terbongkar." ‘The creature that you met there, was the man I reported few days ago. (Makhluk yang kalian temui di sana, adalah lelaki yang aku laporkan padamu beberapa hari lalu.)’ "What do you mean? (Apa maksudmu?)" Wajah Tom tegang. ‘Based from the last video that I saw, no doubt about it. (Dari video amatir yang terunggah di media sosial, wajahnya tak diragukan lagi.)’ "Kau bisa yakin padahal wajahnya pada video yang diunggah begitu samar?" Julius bertanya pada lelaki di sambungan telepon usai menenggak habis setengah cangkir sari anggur. Tom menghela napas. "Apa kau tahu di mana dia sekarang?" ***   Christ Hospital, New Jersey.    Jeff, lelaki berkulit gelap berhidung mancung tengah duduk merenung di sebuah bangku kayu panjang taman Rumah sakit. Meski leher, tangan, dan kaki pria berbusana ala pasien dibalut perban, tetapi luka tembak akibat pertemuan kemarin telah pulih tanpa guratan bekas.   "Apa yang terjadi padamu, adalah mukjizat Sang Kuasa, Jeff." Sosok pria tua botak berbusana dokter berjalan pelan, duduk tepat di samping kanan lelaki cepak.   Jeff tak bergeming dari menatap rerumputan di bawah alas kaki biru. Dirinya masih saja memikirkan tentang keanehan yang ia alami. Ingatan saat ia berubah jadi manusia serigala setengah sempurna, benar-benar raib. "Ben... Aku hanya berani menceritakan ini semua kepadamu," ungkapnya lirih.   Sang dokter berusia lima puluh lima tahun, menepuk pundak kanan Jeff. "Sejujurnya, aku belum sepenuhnya percaya pada apa yang kau alami. Tapi bagiku, sembuhnya luka tembak yang kau dera hanya dalam waktu singkat, merupakan mukjizat."   "Kau bilang, ini mukjizat?" Ia menoleh menatap Ben. "Aku kehilangan istriku! Aku kehilangan kedua anakku!" Nadanya meninggi. "Lalu kau sebut kutukan ini mukjizat?"   "J-Jeff... T-tenangkan dirimu," ucapnya saat tangan kanan lelaki berkulit gelap cepat mencengkeram kerah busana.   "Hoy! Hoy!" Petugas security datang tergesa-gesa. "Apa ada masalah?"   Setelah lelaki penuh perban melepas pegangan darinya, Ben tersenyum menatap Security. "Tidak. Tidak apa-apa. Hanya kerinduan keponakan pada pamannya."    Setelah sang petugas keamanan beranjak, lelaki beruban dengan kacamata mengatur napas. "Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu. Bukankah itu Firman Tuhan yang kerap kau ucapkan dulu? Doa yang sering kau ulang sebelum kau memilih jalan yang keliru?"   Braaag!   Si pria cepak mengayun keras tangannya pada meja kayu hingga berlubang. Netranya membendung air mata. Logikanya membenarkan, andai saja ia tak bertemu Nicole, mungkin saja keluarga kecilnya masih ada.   "Jeff... Aku sungguh tak tahu pada apa yang kau alami. Tapi jika benar kau mengira bila ini ada kaitannya dengan Iblis, maka akan aku antar kau padanya."   ***    "Assalamualaik...kum..." Raihan yang tak menyangka bila pintu kamar hotel tak dikunci, langsung memandang perempuan berkerudung putih yang duduk di ranjang putih. Televisi kamar menyala menampilkan sebuah acara lokal. "Neng... Kok teu dikunci pintunya?"  "Waalaikumsalam, Mas." Ia meringis menampakkan gigi. "Abdi teh kelupaan..." Mendekat dan membiarkan wanitanya mencium tangan, pemuda berkaos hitam menanggalkan blangkon. Sembari duduk, matanya tertuju pada layar TV. Acara ruqyah ala luar negeri? Sang dukun asal Nusantara, coba menerawang kemampuan sang pembawa acara gondrong berkemeja putih. Latar siaran berada di sebuah ruang dengan temaram sinar lampu. "Ini hanya reality show atau memang asli, Mas?" Syabila bertanya, menyandarkan kepala pada bahu kiri suami tercinta.  "Kan, kamu yang dari tadi nonton, Neng..." sahutnya mengecup kening si istri. "Mereka juga kan bicara pakai bahasa Inggris. Emang Neng paham?" imbuhnya meledek. "Ya atuh kan ada terjemahannya ke Indonesia juga, Mas!" balasnya mencubit lengan Raihan.   Silahkan kepada Tuan Lincoln untuk duduk di kursi pembersihan. Lelaki gondrong berbaju putih, mempersilahkan sang pasien untuk duduk di kursi putih. Deg! Raihan menoleh cepat ke arah layar. Jeff Lincoln? Acara Exorcism? Kenapa... Aku merasa harus melakukan sesuatu? "Ehh... Mas! I-itu... Dia, kan yang pas dulu nabrak Syabila di jalanan, kan? Anu... Tapi kok kalau dari belakang, dia mirip seperti... Orang yang mengamuk di Museum kemarin ya, Mas?" Lelaki beralis lebat tak bernapas sejenak. Daya ingat dan firasat tajam sang istri, menguatkan yakinnya. ‘Benar! Meski waktu itu wajahnya tersamar oleh darah di wajah, aku juga yakin itu orangnya!’   ***    Sebuah gedung, pinggiran New Jersey. Kameramen dan para kru acara telah memulai prosesi pengambilan gambar. Wajah mereka tegang memperhatikan Jeff yang duduk di kursi putih. Raut wajah lelaki berkulit gelap, laksana menahan sakit manakala sosok berambut gondrong merapal doa dari Alkitab seraya memegang dahi pasien. "Karena itu tunduklah kepada Allah dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu!" ucapnya mantap. "Grrr...." Jeff menggeram seiring raganya yang gemetaran. Ia mencengkeram pinggiran kursi hingga retak tanpa dirinya sadari. "Grrrrgh..." Lelaki tampan gondrong berulang-ulang membaca ayat yang sama. Jemarinya turut bergetar setelah belasan detik berlalu. Hingga... Braalll! Sesosok makhluk bersayap terjun menghancurkan langit-langit gedung. "Grroaaakh!" Sosok monster berkepala kambing, dengan tubuh serupa manusia kekar, menggeram menatap Jeff yang memandangnya balik. Tak seperti sepasang kaki belakang berbentuk kuda, kedua tangannya bercakar tajam. Ekornya panjang, dengan ujung trisula.    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN