Api Unggun Berdarah!

1764 Kata
Iwan, pemuda Yogyakarta dalam balutan kaos kuning berkerah dan celana jeans biru pudar, berdiri kebingungan di tengah hutan New Jersey. Meski matahari belum tenggelam, tetapi aura mencekam pepohonan tinggi nan besar sekitar, menyuguhkan aura mencekam. Angin nan dingin menembus tulang, sesekali meniup-niup tumpukan daun kering hutan sekitar. “Ealah jangkrik! Aku kok ning kene? Tenda bocah-bocah ilang?” gerutunya ketakutan menatap lingkungan sekitar. ‘Tolong... tolong kami... tolong bebaskan kami...’ Suara dari seseorang tanpa rupa, terbawa angin yang mendesir di sekitar pemuda jangkung berambut ikal. Bahasa yang terdengar berasal dari bahasa Inggris. “Si-siapa di sana?” sahutnya celingukan menggunakan bahasa yang sama. Wusss.... Angin meniup punuk pemuda berkulit kuning langsat, membuatnya tertarik oleh sesuatu dari arah belakang, tepatnya di rimbun hutan yang lebih rapat. “Si-siapa itu!” ucapnya lagi. Pandangan pemuda berambut ikal kini tertuju ke tanah berlapis dedaunan kering. Sepasang matanya menyipit tatkala menemukan noda darah dari sesuatu yang diarak. Aroma anyir pun mendadak menyengat hidung. “Darah? Halah halah! Aku belum lama pergi ke luar negeri, masa iya disambut jurig luar negeri!” gerutunya kesal. ‘Tolong... tolong kami... kami tak kuat!’ Drap... drap... drap... Meski ragu, Iwan memaksakan sepasang kakinya melangkah maju mengikuti jejak darah di tanah. Jantungnya berdekup tak karuan, bersamaan dengan keringat dingin yang menetes. Sesuatu yang tak kasat mata, membuat berat sekujur badan. Meski begitu, ia tetap melangkah maju memberanikan nyali. Setelah belasan menit berlalu, Iwan berhenti. Matanya terbuka lebar, menyaksikan sesosok mayat lelaki dengan busana compang-camping tengah terikat dengan tali tambang pada sebuah tiang kayu yang tertancap ke tanah. Luka sobek yang mayat itu dera begitu banyak, dari ujung kuku kaki sampai ujung kepala. Noda darah membanjiri kaos hitam yang mayat tersebut kenakan. “Innalillahi!” celetuknya kaget saat mayat yang terpasung, mendongak menatapnya dengan mata terbuka. * “Hwaah! Hah! Hah!” Iwan terbangun dari mimpi mengerikan. Ia tersadar di sebuah tenda kecil di tengah hutan. “Ya Alloh Gusti! Untung mimpi!” celetuknya lemas. Terdiam sejenak, ia merasa adanya keanehan. Bagaimana bisa perkemahan yang seharusnya riuh ramai dihuni puluhan mahasiswa campuran, begitu sunyi sepi. Demi menjawab rasa penasaran, pemuda berkulit kuning langsat bangkit, melangkah keluar tenda warna biru. Dahinya mengerut dua detik, sebelum sepasang matanya terbelalak. “Loh? Kok ilang!” celetuknya saat tak menjumpai tenda lain di sekitar sana. Plak! Plak! Iwan menampar-nampar mimpi, berusaha bangun jika yang ia alami ini masih mimpi. “Lah? Heh? Kok? Beneran? Kok... aku sendirian? Mana yang lain?” ‘Tolong... Tolong kami... bantu kami keluar dari hutan ini... tolong....’ Suara yang Iwan dengar, identik dengan suara mayat yang ia saksikan dalam mimpi beberapa saat lalu. Dengan wajah pucat bersimbah keringat, pemuda berbusana kuning tersebut menoleh ke belakang. Lagi-lagi, dijumpainya sosok mayat penuh luka sobek penuh darah tengah berdiri dengan tatapan datar. Sosok mengerikan itu berdiri tepat di sebelah tenda. * (Hutan New Jersey.) “Hwaaaa! Jurig! Minggir! Kurang diajar koen! Minggirlah demit alas!” Iwan terbangun di tenda biru. Bedanya, riuh ramai orang-orang yang berbincang menggunakan bahasa Inggris jelas terdengar kala itu. “Haduh ya Alloh Gusti... astaghfirulloh... dosa opo aku iki... pengen melu acara ring luar negeri kok malah menangi demit maneng! Jan!” gerutunya mengambil posisi duduk seraya mengusap wajah yang basah. “Ono opo tho, Wan?” Sungsang si pemuda sawo matang dalam balutan jas almamater yang membalut badan, melongok lewat celah tenda. “Innalillahi Ya Alloh demit!” celetuk Iwan spontan. “Hush! Ngawur! Di luar negeri mana ada demit! Yang ada tuh Vampir, apa Werewolf! Kan agak keren dikit!” lanjutnya melangkah masuk ke dalam tenda. “Hadeh....” Iwan mengembuskan napas berat. “Kenapa, Wan? Mimpi ditolak Nani, po?” “Nani? Nani!” sahutnya heran. “Omaewa mou shindeiru! Hahahah!” Sungsang si pemuda mancung bermata belo cengengesan. “Ngawur ah!” Iwan menarik napas dalam-dalam. “Wan. Kau simpan nomor orang Pusaka Nusantara, kan?” Wajah Sungsang jadi serius. “Ya, kenapa? Mau daftar jadi pasukannya?” “Aku dengar dari para panitia, sebelum acara api unggun, ada anggota LHA yang akan mengantar kita berkeliling hutan ini.” “A-apa?” Iwan terbelalak mendengar kalimat sang sahabat. * (Malam itu, Belahan Negeri Paman Sam.) Lelaki botak plontos berkulit agak gelap melempar ponsel ke kursi belakang sembari menyetir mobil sedan. “Hey, tangkap ini!” Pemuda berblangkon hitam sigap menerima lemparan gadget pria tersebut. Netranya menyipit memperhatikan tayangan berita yang tersiar di situs resmi Amerika. “Ini...” ‘Kami melaporkan tentang adanya fenomena mistis yang terekam secara jelas di kamera. Jika biasanya semua hal yang menyangkut makhluk mitologi dan legenda selalu samar menayangkan kemunculan makhluk tersebut, beberapa menit setelah sebuah acara exorcist ditayangkan, warga sekitar melihat penampakkan yang sama seperti di acara tadi, tengah membawa seseorang dalam cengkeraman. Sebagian berpendapat bila makhluk ini hanyalah rekayasa CGI canggih, tapi... lantas bagaimana dengan kesaksian warga lokal? Beberapa unit polisi bahkan dikerahkan untuk melacak kepergian makhluk berkepala domba yang muncul di angkasa pada malam yang dingin ini. Berikut, unggahan beberapa video warga lokal yang sempat merekam kemunculan makhluk tersebut.’ Pemuda beralis lebat dengan busana hitam panjang, tak bergeming dari layar ponsel. “Makhluk ini...” “Jersey Devil,” sahut lelaki botak yang tengah menyetir. “Beberapa orang meyakini, kalau dia merupakan keturunan Sang Iblis itu sendiri. Sementara yang lain, berpendapat bahwa makhluk itu berkaitan erat dengan konspirasi organisasi yang kita selidiki – Legacy Hunter Association,” ungkap Tom. “Kalau pendapatmu, bagaimana?” Raihan lirih menggeleng. “Aku belum berani menyimpulkan jika belum melihatnya dengan mata kepala sendiri.” “Yang aku dengar, kau memiliki kemampuan di atas rata-rata cenayang yang pernah kutemui. Apa kau tak merasakan apapun hanya dengan melihat makhluk itu dari kamera?” tanyanya menghentikan mobil. Lampu merah traffic membuatnya mengerem perlahan. Menyodorkan kembali ponsel pada Tom, Raihan menyahut, “apapun makhluk itu, harus ada yang menghentikannya. Lagi pula, aku tahu beberapa cara untuk memastikannya.” Lelaki botak berkaos kerah biru muda menerima ponsel. “Sebenarnya, aku ingin bertanya padamu soal beberapa hal.” “Apa?” tanya Raihan balik seraya bersandar pada kursi belakang. “Apa kau percaya bila Iblis selalu menarik jiwa-jiwa manusia agar mengisi penuh neraka?” Raihan menghela napas, menoleh pada kaaca hitam mobil saat kendaraan yang ia tumpangi kembali berjalan. “Secara harfiah, ya. Sudah tugas mereka untuk menjerumuskan manusia dari manusia pertama di muka bumi, hingga kiamat nanti terjadi.” “Termasuk memaksa manusia-manusia untuk mengikuti langkahnya menuju kegelapan?” “Dalam kepercayaan yang aku yakini, Iblis beserta antek-anteknya hanya menggoda manusia dengan berbagai cara. Harta, tahta, wanita... bahkan, kekuatan serta pengetahuan. Tapi mereka tidak pernah secara langsung menyiksa manusia untuk membawa manusia ke dalam kegelapan yang kau maksud.” “Menarik.” Tom tersenyum simpul. “Lalu bagaimana dengan kasus yang sedang kita hadapi ini? Bukankah artinya mereka melanggar batasan yang kau bicarakan, Mister Raihan?” “Iblis, Jin, arwah penuh dendam, atau apapun itu... secara umum mereka tidak melukai manusia secara fisik. Jika mereka melakukannya, artinya ada dua alasan. Yang pertama, mereka digunakan sebagai pisau untuk melukai target oleh seseorang. Dan yang kedua, mereka melakukannya atas dasar kemauan sendiri dengan siap menerima balasan di dunia setelah kehidupan nanti.” Tom manggut-manggut. “Well...penjelasanmu masuk akal. Lalu bagaimana dengan lelaki yang berubah jadi manusia serigala tanpa kehendaknya pribadi, kemudian membunuh belasan nyawa manusia tanpa sengaja? Apa dia juga akan dihukum oleh Tuhan?” “Heheh...” Raihan menghela napas lirih. “Matematika metafisika kehidupan, jauh lebih rumit dari yang kita bayangkan. Aku tak mau berburuk sangka pada manusia yang berubah jadi manusia serigala itu... tapi bisa jadi, apa yang dia alami sekarang, adalah imbalan dari apa yang pernah ia lakukan di kehidupan sebelumnya. Tuhan Maha Adil, lagi Maha Berkuasa. Jika kau melakukan keburukan sebesar gandum, maka DIA akan memberi hukuman setimpal. Sebaliknya, jika kau berbuat kebaikan sebesar telur semut, maka DIA akan memberimu hadiah berlipat-lipat dari yang kau beri.” “Ahh... aku mengerti. Jadi, itu sebabnya kau tidak pernah mengeluhkan kehidupan, karena kau selalu melihat sisi baik dari segala yang terjadi, benar?” ‘Keluh kesahku hanya perlu didengar oleh-Nya dan olehnya.’ Raihan tersenyum masam. “Mungkin kau benar.” “Kau orang yang menarik, Mister Raihan.” Tom mengemudikan mobil, sesekali memandang Raihan lewat spion di atas kepala. ‘Andai semua manusia selalu memandang kebaikan pada apa yang mereka alami, maka tidak ada yang bisa mencegah kedamaian.’ ‘Karena aku tak tahu tentang gerbang gaib air, aku tak bisa muncul mengejar mereka begitu saja.’ Ia memejamkan mata, menarik napas dalam berusaha menenangkan batin. “Berapa lama lagi kita bisa sampai di sana?” Belum sang sopir menjawab, ponsel sang istri yang ia sakukan di jaket parasit hitam berdering. Hapal nomor seseorang dari Indonesia, ia mengangkatnya. “Halo?” ‘Raihan, di mana kau sekarang? Aku sempat menelponmu, tapi malah Syabila yang mengangkatnya!’ “Maaf, Den. Sepertinya aku salah bawa ponsel. Sekarang, aku sedang menuju ke arah New Jersey. Apa ada sesuatu, Den?” ‘Alhamdulillah kalau begitu. Raden Rikma Seto mengabarimu agar pergi ke perkemahan Mahasiswa Indonesia di sana.’ Raihan mengerutkan dahi. “Perkemahan? Mahasiswa... kampus mana yang kau maksud, Den?” ‘Kampus si Iwan! Kebetulan Iwan juga ada di sana. Terakhir kali sekitar dua jam lalu, dia bilang kalau dia mencurigai adanya orang-orang LHA di sekitar sana. Tapi sekarang ponselnya sudah tidak aktif lagi.’ “Iwan? Wawes? Dia di sini juga, toh?” Raihan melirik ke kanan-kiri. “Apa Anda sudah coba periksa dengan raga sukma?” ‘Ada sesuatu yang menahan kami memeriksa hutan itu, semacam perisai gaib. Firasatku mengatakan kalau ini ulah si Penyihir Merah.’ “Elizabeth?” terka Raihan yakin. ‘Berapa lama lagi kira-kira kau bisa sampai ke sana, Han?’ Tom yang tengah menyetir sekaligus mengerti bahasa yang mereka gunakan bertanya, “jadi siapa prioritas kita? Lelaki yang dibawa makhluk itu, atau temanmu yang ada di perkemahan?” “Aku yakin dua hal ini saling berkaitan. Yang terpenting, kita sampai di Hutan New Jersey!” Mendengar jawaban Raihan, Tom menyahut, “kita mungkin butuh waktu sekitar satu jam. Tapi kalau begini, akan aku percepat semampuku!” Ngwuuung! Tom si lelaki botak berbadan agak gempal menambah kecepatan laju kendaraan, sampai speedometer mobil menyentuh angka seratus lima puluh kilometer. Beruntung, kendaraan yang mereka lalui merupakan jalan bebas hambatan – jalan raya yang pada sisi kanan dan kiri ditumbuhi pohon-pohon besar nan gelap tanpa pencahayaan. “Den, segera saya kabari kalau sudah sampai,” ucapnya mematikan sambungan telepon. ‘Tom, bangunkan aku jika kita sampai di sana,’ pintanya mengambil posisi duduk ala semedi. Tangan kanan pemuda berblangkon hitam meraih tasbih berbutir besar dari saku, kemudian mengatur keluar masuknya napas. Sementara bibirnya berkomat-kamit merapal doa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN