Pada malam gelap di jalan raya hutan, terlihat sesosok perempuan berbusana putih dengan kulit pucat. Rambut wanita misterius tersebut terjuntai menutup wajah. Yang mengerikan dari sosok tersebut, adalah jemari-jemari bercakar hitam nan panjang. Wanita tersebut berjalan pelan ke tengah jalan aspal.
Ciiiit!
Sontak, pria berkulit agak gelap dalam balutan busana biru pudar yang tengah melajukan mobil sedan hitam dalam kecepatan tinggi di jalan aspal lebar bebas hambatan, mengerem mendadak membuat badan mobil dibelokkan ke samping kanan. “Did you see that?” Tom si pria botak bertanya dengan napas tersengal.
Kepalanya celingukan menatap sekitar dari balik jendela mobil. Matanya mencari-cari sosok yang nyaris ia tabrak dalam kegelapan malam. “I swear i saw something!” gerutunya kaget.
“Yang barusan kau lihat bukanlah manusia.” Raihan yang sama sekali tak membuka mata, tetap dalam posisi bersila. “Kita sudah dekat. Jika setelah ini kau melihat sesuatu yang menghadang di tengah jalan, tabrak saja. Tidak ada manusia dalam radius beberapa kilometer di sekitar kita.”
Dahi Tom mengerut, menolehkan badan ke kursi belakang di mana lelaki berjaket hitam dengan blangkon membalut menutup rambut. “K-kau... bagaimana kau-” Tom menghela napas, urung melanjutkan pertanyaan. “Baiklah, Tuan Cenayang.”
Zruuuumm!
Ia lagi-lagi tancap gas, memainkan gigi guna mendapati kecepatan tertinggi kendaraan. ‘Apa dia seperti kelelawar yang dapat mendeteksi sesuatu lewat sonar suara?’ Ia menggeleng lirih, heran sekaligus takjub pada hal yang bisa manusia di belakangnya lakukan. Keringat dingin mulai bercucuran dari kening Tom, tatkala kabut tebal mulai menyeruak ke sekitar jalan raya.
Dari pepohonan pinus sekitar yang Raihan dan Tom lalui, sama sekali tak terdengar hewan nokturnal menggema mengisi sela kesunyian malam. Awan gelap kala itu menyelimuti langit, menyembunyikan sinar purnama dan bintang-bintang menyentuh wajah bumi. Ironis, meski angin kala itu tak berembus kencang, tetapi hawa dingin jelas menusuk menembus kulit dan daging sang sopir. Padahal, air conditioner kendaraan yang ada pada mobil mereka dalam keadaan tak menyala.
Napas Tom, lambat laun terasa berat. “Raihan? Apa kita baik-baik saja?” tanyanya cemas, menyadari suatu keanehan yang ia rasakan.
Pemuda beralis lebat tetap fokus memejamkan sepasang mata seraya merapal mantra, atau mungkin doa. Jari kanannya terus memutar tasbih dengan butiran besar seukuran biji buah salak. Tiap embus napas yang ia keluarkan dari hidung, seolah jadi kabut – terlihat jelas seolah dingin di dalam kendaraan mencapai suhu minus nol derajat celcius.
“Mister Raihan?” Tom yang biasanya tenang dalam situasi terburuk, kian cemas ketika speedometer kendaraan mereka dirambati hawa yang membekukan, sampai-sampai kaca dan spion dalam mobil membeku pelan-pelan.
Grep!
Pemuda berblangkon hitam menggenggam erat tasbih, mensakukannya ke dalam celana. Matanya terbuka dengan cepat seraya berkata, “perlambat laju mobilnya! Sekarang!” serunya maju ke bagian bangku depan mobil.
Dap! Dap! Dap!
Namun, pijakan rem sedan yang ia tumpangi sama sekali tak berfungsi. Tom yang panik, terus menginjak-injak pedal rem. “Arrgh! What the.... apa-apaan ini!” Tanpa mereka sadar, kabut nan pekat luar biasa telah mengepung sekitar jalan beraspal di depa mereka.
“Jurang yang kau lihat tadi, ada di sebelah kanan atau kiri?” tanya Raihan serius seraya mengepalkan tinju kanan-kiri.
“A-apa? Jurang?” Lelaki botak berkulit kecoklatan menoleh heran.
“Kanan, atau kiri?” tegas Raihan lagi.
“K-kanan!” jawabnya gugup.
“Tarik napas dalam-dalam!” perintahnya memalingkan kepala ke jendela pintu sisi kiri mobil, pemuda mancung beralis tebal mengutus siku kiri tuk menghantam kaca.
Pyaaar!
Hanya dalam satu kali pukulan, siku Raihan memecah kaca kendaraan. Tangan kanannya menggapai kerah busana lelaki botak berkulit coklat. Ia melompat keluar, sembari menarik lelaki bernama Tom keluar dari mobil.
“Are you c-” Kalimat penuh rasa heran dan kesal lelaki berbusana biru, terpotong ketika badan mereka mendarat keras di permukaan tanah berlapis rumput.
Blaaaaam!
Ledakan besar terjadi ketika mobil sedan yang mereka tumpangi menabrak sesuatu tak kasat mata. Sisa-sisa mobil roda empat tersebut sama sekali tak ada yang terlontar maju ke depan. Api yang beberapa detik menjilat berkobar pada logam, seketika padam – mungkin karena kabut dingin yang menyentuh lebih dari suhu minus nol derajat.
Sedetik, lelaki berbusana biru sempat heran. Jelas-jelas Raihan membawanya melompat terjun dari mobil ke sisi kiri di mana harusnya jurang berada, tetapi kini mereka tertelungkup di sisi kanan jalan yang datarannya tak terpisah jauh dari jalan raya. “Apa yang barusan terjadi?”
“Jangan terkejut begitu.” Raihan melirik pada Tom. “Kau sudah paham kalau mereka ahli dalam hal tipu muslihat, kan?” celetuknya menoleh ke sekitar, di mana kabut tebal mengepung.
Tom mengamati lingkungan sekitar. Ia meraih ponsel, menyalakan senter gadget guna mendapat pencahayaan. “Apa yang terjadi? Kenapa kabutnya jadi tebal begini?”
“Ini... sudah masuk kawasan hutan New Jersey, ya?” terka pemuda berblangkon hitam.
“Aku rasa kau benar. Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang? Jalan kaki ke hutan dalam kabut begini?”
Deg!
Firasat Sang Musafir Hitam terasa mengganjal. Bukan sekedar karena kabut tebal nan dingin di sekitar, melainkan akan adanya marabahaya yang mungkin mengintai. “Bisa tolong kabari rekan FBI-mu itu?” tanyanya mencengkeram kuat lengan kanan lelaki berkulit coklat.
“H-hey, ada ap-” ucapannya terpotong ketika Raihan lagi-lagi menarik – melempar tubuhnya sembari melompat.
Tronnn! Trooon! Troon!
Cahaya lampu sebuah truk terhalang oleh kabut pekat. Kendaraan besar bermuatan tangki bahan bakar, terlihat oleng di jalanan sebelum banting stir melaju ke arah mereka berdua. Beruntung, Raihan membawa Tom menghindar lebih dulu, membiarkan truk merah tersebut terjungkal bergulingan di tanah berselimut rumput hijau lembap.
“Nyaris saja!” celetuk Tom kaget. Badan gempalnya gemetar menyadari tubuhnya nyaris remuk berkeping-keping jika tak ditarik Raihan paksa.
“Tom?” Raihan memanggil lirih.
“Y-ya?” sahutnya gagap.
“Suruh FBI menghalau semua kendaraan yang melaju ke arah hutan New Jersey. Tutup semua akses untuk ke hutan, dan jangan biarkan media masa mengetahui hal ini,” pintanya melangkah menarik lelaki bertubuh besar.
‘You could never escape! Your soul is mine!’ Suara serupa telepati menggema di kepala lelaki berblangkon hitam. Kabut-kabut pekat di sekitar Raihan, seolah mulai bergerak memadat, semakin tebal. Di antara kabut-kabut tersebut, sebagian memadat mewujud jadi sosok perempuan berambut panjang.
“Berapa lama kau bisa lari, Tom?” Raihan mulai mempercepat laju kaki, membawa pria botak melewati truk yang baru saja oleng.
“Sebentar!” Tom menoleh ke arah truk. “Ada korban sipil di dalam kendaraan itu! Apa kau mau kita pergi meninggalkannya?”
“Kepala orang di sana terbentur, tapi tidak mendapat luka fatal. Sekarang dia pingsan. Kalau kita membawanya, bisa-bisa makhluk-makhluk ini juga memburunya. Apa kau mau itu terjadi?” jelas Raihan mengatur keluar-masuk napas.
“Makhluk apa?” tanyanya mengerutkan kening.
Raihan melongok ke belakang lelaki berbusana biru, memberi tahu keberadaan sosok yang dimaksud dengan isyarat gerakan kepala. Pria botak berbadan gempal menoleh kecil sejurus kemudian membalik badan. Dijumpainya sesosok wanita yang hampir ia tabrak di jalan beraspal tadi. Ciri dari rambut hingga busana serta kulitnya, sama persis.
Namun, sosok itu bukan hanya satu sosok, melainkan belasan sosok serupa yang berjajar melayang perlahan mendekati mereka berdua. “Wh-what the....” Tom menelan ludah, dengan keringat dingin bercucuran.
Senyum seringai para wanita berambut panjang menebar kesan ngeri ke dalam jiwa. Mata para wanita itu keseluruhan hitam pekat, tanpa iris mata secuil pun. ‘Your soul is mine!’ Satu dari belasan sosok tersebut bicara lewat telepati pada Raihan dan Tom.
Grep!
Raihan cepat-cepat menarik lengan si lelaki bertubuh gempal. Wajahnya datar, tak menampakkan rasa takut, mau pun rasa ragu. “Cepat! Kabari rekanmu untuk menutup semua akses menuju hutan!”
“A-alright! Alright!” Sembari berlari, lelaki berbusana biru mulai memencet nomor sang rekan. Ia melakukan panggilan.
Sementara belasan sosok mirip kuntilanak yang melayang pelan, mulai membumbung tinggi ke udara, mengejar Raihan dan lelaki botak yang tengah melaju ke arah pepohonan hutan pinus di depan. “Kyhaaaaaakh!” Mulut mereka lebar terbuka, memberikan suara memekik nan mengerikan.
*
(Hutan New Jersey, Amerika.)
Jerit kesakitan seorang perempuan, membangunkan Iwan dari tidurnya. Sayup membuka kedua mata, pemuda berambut ikal dalam balutan busana kuning terbelalak seketika, saat menemukan dirinya terikat oleh tali tambang. Matanya melirik ke arah kanan, di mana api unggun menyala terang. Sebuah kubangan sedalam tiga sentimeter berisikan darah kental nan anyir, melingkari api unggun berbahan bakar tulang belulang manusia.
Keringat dingin pun seketika membanjiri tubuh jangkung pemuda berkulit kuning langsat ketika belasan mahasiswa yang menemaninya dalam acara perkemahan, telah terpasung tak bernyawa dalam keadaan terpasung pada sebuah kayu yang tertancap di tanah. ‘Innalilahi Ya Alloh Gusti! pikirnya menelan ludah.
Sempat ia hampir berteriak mengeluarkan suara, tetapi adanya belasan manusia misterius dalam balutan jubah hitam, membuatnya urung. Wajah belasan lelaki tak dikenal itu, diterangi temaram cahaya api jingga, membuat Iwan mengerti bila orang-orang itu, adalah orang-orang penduduk negeri Paman Sam. Satu hal yang membuat Iwan makin lemas, yaitu sosok-sosok berjubah hitam, tengah asyik menyantap beberapa mayat manusia di sana. ‘Apa-apaan ini! Lagi-lagi ritual penumbalan sesat ala dukun barat! Saaattt! Kok iso aku melu ngene iki!’
Darah dan kepingan daging, masih lekat di mulut mereka. Geraman dan suara lain yang mereka timbulkan, bukanlah seperti bunyi yang bisa manusia timbulkan – melainkan identik dengan suara serigala lapar yang tengah mengoyak daging buruan.
Dengan tubuh bergidik ngeri, Iwan memejamkan sepasang mata. Ia lirih memiringkan badan ke samping kiri. Saat matanya sedikit terbuka, rasa lega pun tiba. Pasalnya, masih ada tujuh orang yang tergeletak tanpa luka di sisi kiri ia terbaring. Salah satunya, Sungsang Wicaksono sang sahabat. ‘Alhamdulillah! Kuntet iseh urip!’ pikirnya mengatur napas dan denyut jantung.
Drap!
Sesosok pria berjubah hitam yang semenjak tadi menyantap salah satu mayat di atas pohon, melompat terjun ke depan api unggun. Wajahnya tak begitu terlihat karena membelakangi cahaya api unggun. Ia mulai berucap menggunakan bahasa Inggris, “saudara-saudariku! Malam ini, adalah pesta perjamuan pertama menjelang kebangkitan para manusia yang dikasihi Sang Kuasa!” Ia mengadahkan kedua telapak tangan penuh noda darah ke atas. “Yang Mulia Hudson, akan membukakan jalan bagi kita para manusia terpilih, agar keluar dari persembunyian!”
Kata-kata sosok berjubah hitam di sana, membuat para manusia pemangsa sesama berhenti mengunyah santapan di tangan. Semua sosok berjubah hitam, mendongak menatap lelaki berjubah hitam dengan ukiran bintang segi enam di kain punggung belakang.
“Dan lagi... di pesta malam purnama kali ini... kita mendapatkan keluarga baru!” serunya lantang memandang langit malam.
Flaap! Flaaap!
Sesosok makhluk bersayap kelelawar dengan kepala domba, melayang di atas pepohonan. Makhluk tersebut menjatuhkan seorang pria keriting berkulit agak gelap ke dekat api unggun dari ketinggian belasan meter.
Bruuk!
Para manusia berbalut jubah hitam, mulai berdiri di tempat. Mata mereka memandang kedatangan pria tak dikenal yang baru saja dijatuhkan dari langit. Meski dipenuhi tanda tanya, tak ada satu pun dari mereka yang saling berkasa-kusuk.
Lelaki berjubah hitam dengan corak simbol bintang segi enam keemasan, lanjut bicara, “perkenalkan! Jeff, Sang Serigala Bayangan!”
“Aaauuuuuuurgh!” Orang-orang berjubah hitam, mendongak ke langit malam seraya mengaung. Aungan mereka saling sahut menyahut, seperti berkomunikasi dengan bahasa serigala.
Iwan yang sempat pura-pura pingsan, spontan mendelik menatap lelaki keriting dengan tubuh kekar. Sosok yang ia lihat tersebut, mengendus-endus mendekatinya dengan cara merangkak. ‘Jangkrik tenan! Aku ketahuan?’ pikirnya kembali terpejam.
“Santaplah hidangan pertamamu, Jeff!” bisik sang sosok pemimpin seraya tersenyum kecil dalam kegelapan malam.
Tetapi saat jarak Jeff dengan Iwan berkisar satu meter, kemunculan seseorang menjadi daya tarik tersendiri bagi mereka. “Apa pidatomu sudah selesai?” Pria pirang berkaca mata hitam dibalut busana ala tuksedo hitam, muncul dari gelap bayangan pepohonan pinus. “Lihatlah tempat ini... usus dan darah berceceran di mana-mana. Aku yakin kalian pasti belum mendapat izin dari pihak kepolisian sekitar untuk berpesta di hutan tengah malam begini?” ucapnya merogoh alat penembak laras pendek dari saku celana.
Masih dengan tubuh yang gemetaran hebat, Iwan mengintip lelaki pirang yang muncul membawa pelontar timah panas. ‘Siapa lagi dia? Apa dia orang LHA?’
“Grrr....” Para manusia berjubah hitam serentak menggeram menatap kemunculan lelaki pirang berbaju hitam.
Berbeda dari yang lain, Jeff dengan wajah meniru raut lapar seekor serigala, kembai mendekati Iwan dengan mulut bertaring tajamnya. “Grrr....”
Dor! Dor! Dor!
Pria bertuksedo hitam tanpa ragu menembakkan alat penembak pada Jeff. “Mari mulai pestanya, anak-anak!” serunya kembali menghujani para manusia berjubah hitam.
Tak lama berselang, belasan pria berseragam ala polisi SWAT lengkap dengan rompi anti peluru, muncul dari kegelapan hutan. Mereka mulai menembaki sosok berjubah hitam tanpa pandang bulu. “Graaargh!” Sebagian yang tertembak di kepala, meraung kesakitan.
Sementara sang pria berjubah hitam dengan ukiran bintang segi enam di punggung, melompat mundur ke dalam kegelapan hutan seraya mendongak ke langit malam. “Awan terkutuk! Enyahlah!” gerutunya kesal mengharap kemunculan sinar purnama tuk menyibak kegelapan hutan.
“Hheeheh... apa begini, piaraan Elizabeth?” pria berjubah putih dengan topeng keramik di wajah, melompat turun ke samping lelaki berjubah hitam.
Kemunculannya membuat lelaki berkain hitam terdiam sejenak. “Tuan...”
“Johny... Johny... Johny... Oh Johny kecilku....” Ia melangkah tanpa ragu menuju api unggun yang jadi lokasi penembakan.
Melihat sosok berjubah putih muncul, pria berkaca mata hitam memberi instruksi lewat tangan agar para bawahan berhenti menembak. “Kalian bertindak gegabah. Dengan begini, tamatlah sudah riwayat organisasi sesatmu!” ucap John.
Lelaki bertopeng putih keramik dengan ukiran buah apel pada dahi, memandang lima sosok pria berjubah hitam yang tersisa – tengah merangkak mundur mendekatinya. “Aah, sebentar.” Ia menatap pria pirang bertuksedo hitam. “Sebelum kita lanjutkan pesta... aku dengar sang cenayang Nusantara tiba di sini, ya? Berapa banyak kalian membayarnya sampai-sampai dia mau datang kemari?”
“Hanya perlu waktu bagi kami sampai kalian melakukan kesalahan fatal begini. Kami tak butuh bantuan untuk membongkar wujud asli kalian pada dunia,” sahutnya.
“Ahahah... hmmm... lihat, siapa yang bicara?” Pria berjubah putih melangkah maju mendekati api unggun. “Apa kalian tahu, kalau kami tidak suka dengan kesalahan kecil? Kalau yang kalian maksud sebagai kesalahan di sini adalah menyisakan kalian sebagai saksi, maka kalian salah!” tegasnya mengacungkan telunjuk pada John. “Sebab kalian, akan seperti pohon dan tanaman sekitar! Mengetahui, tapi tak dapat bicara!” imbuhnya menjentikkan jari kanan.
“Tembak!” seru John memberi komando untuk menghujamkan timah panas.
Lhuuup!
Belum sempat jari mereka menekan pelatuk, kabut tebal nan dingin menyeruak mengepung mereka. Tanpa mereka sadari, jasad-jasad manusia berjubah hitam yang tak bernyawa, mulai bergerak menggerakkan kaki. Mereka bangkit masih dengan luka tembak yang mendera sekujur badan. “Grrrr!” Mata mereka berubah hitam pekat, mulai bergerak mendekati manusia-manusia berseragam polisi di dalam hutan. Jerit histeris dan kesakitan, kembali diperdengarkan oleh para makhluk misterius bermata hitam kelam.