(Hutan New Jersey, Amerika.)
“Huff... Huff... Hosh! Haaah!” Tom duduk lemas setelah belasan menit ia lalui dengan berlari. Baru kali ini ia dikejar oleh sosok-sosok wanita astral di hutan negeri kelahirannya. Menyandarkan punggung pada batang pohon pinus di belakang, ia menoleh pada Raihan yang berjalan dengan wajah tenang. “A-apa... mereka sudah... tidak mengejar... kita, lagi?”
Memungut seutas ranting pohon dari tanah, pemuda berjaket hitam parasit tak tersenyum sama sekali. Ia berjalan mendekati lelaki botak berbusana biru. “Di sekeliling hutan, terpasang sebuah pagar tak kasat mata yang cukup kuat. Dan wanita-wanita jurig tadi, hanya berkeliaran di luar hutan saja.”
“Apa pagar tak kasat mata itu yang membuat mobilku meledak? Lalu... makhluk apa mereka tadi? Arwah-arwah penasaran?” tanyanya memandangi Raihan yang menusuk – menggoreskan ujung ranting pohon ke tanah seraya berjalan memutari Tom. “Tapi kalau begitu, kenapa kita bisa masuk ke dalam hutan?”
“Ya, kendaraan atau pun manusia yang ingin memasuki hutan, akan menabrak pagar tak kasat mata itu. Kemudian para sosok gaib tadi, aku yakin mereka diperintah oleh seseorang yang berada di tengah hutan,” ucapnya berhenti berjalan setelah selesai menggambar lingkaran di tanah memutari Tom.
“Lalu kenapa kita bisa masuk? Dan lingkaran apa yang kau gambar ini?”
“Ini mirip seperti pagar gaib yang mengelilingi hutan. Tetapi bedanya, hanya manusia biasa yang bisa masuk ke dalam lingkaran ini.” Pemuda berblangkon hitam menoleh ke kegelapan hutan. “Aku akan cari orang yang memasang pagar gaib itu. Sementara, kau diamlah di sini. Apapun yang terjadi, jangan tinggalkan lingkaran ini. Paham?”
Menatap lingkaran berdiameter tiga meter, si pria botak mengerutkan kening. “Kau ingin meninggalkanku sendiri? Di hutan gelap bersama wanita-wanita tembus pandang tadi?”
Raihan menghela napas pelan. “Jika kau tak percaya pada lingkaran ini, percayalah padaku. Jika kau tak percaya padaku, maka percayalah pada Tuhan. Sebab, lingkaran ini dibuat atas izin-Nya demi menjagamu dari makhluk seperti tadi.”
“Kau bercanda, kan?” tanyanya saat Raihan balik kanan, muai berjalan menjauhinya. “H-hey! Raihan! Are you kidding me?”
Tersenyum sungging, Raihan menoleh kecil seraya berkata, “seperti slogan minuman instan pembentuk badan; trust me, it works!”
*
(Sisi Lain Hutan New Jersey, Amerika.)
John yang baru saja melepas ikatan tali tambang tebal dari tubuh Iwan dan Sungsang Wicaksono, menoleh ke belakang memandangi mayat para anggota FBI yang ia bawa. Ia membiarkan beberapa mahasiswa lain tetap tergeletak dengan posisi terikat. Bukan enggan membebaskan jeratan, tetapi tinggal Iwan dan Wicaksono-lah yang bernapas – sementara yang lain telah meregang nyawa. “Segera tinggalkan hutan ini!” perintahnya menodongkan alat penembak laras pendek pada tiga sosok mayat hidup yang melangkah terseok seraya mendekat .
“T-tapi saya tidak tahu harus pergi ke mana, Pak!” ucap Iwan sembari memapah pemuda berkulit sawo matang.
“Dari sini, pergilah jalan sejauh lima ratus meter! Setelah itu belok ke kanan, dan berjalan sejauh tiga ratus meter!” jelasnya menekan pelatuk alat penembak seraya membidik tiga sosok mayat hidup berjubah hitam sili berganti.
Dor! Dor! Dor!
Timah panas yang John luncurkan melubangi dahi ketiga sosok berjubah hitam. Mereka ambruk, sedikit kejang. Taring dan mata mereka yang sempat berwujud mirip serigala, kembali seperti manusia biasa.
Jeff Lincoln yang semenjak tadi bertengger di dahan pohon besar, melompat terjun ke bawah hendak menerkam Iwan. “Grrraaaung!”
Blaak!
John si pria pirang lekas-lekas mendorong Iwan dan Wicaksono dengan bahu. Alhasil, dirinya yang diterkam manusia berkulit agak gelap dengan taring tajam. “Apa yang kalian lakukan!” bentaknya kesal menatap mahasiswa asal Indonesia. Tangan kanan-kiri pria bertuksedo hitam menahan leher dan bahu kanan manusia setengah serigala yang belum sempurna. “Pergi! Sekarang!”
Iwan dengan cepat mengayuh kedua kaki, membawa Wicaksono dalam gendongan belakang. “Aku akan panggil bantuan!” serunya sambil berlari.
“Grraagh!” Suara yang lelaki keriting timbulkan mirip raungan serigala. Ia mencengkeram erat lengan kanan-kiri John, sejurus kemudian berdiri dan melempar sang mangsa ke belakang. “Grraaagh!”
Swuuung!
John meringis kesakitan ketika punggungnya mendarat keras di batang pohon pinus. “Gwaakh!” Belum tubuhnya terarak jatuh menyentuh bumi, Jeff Lincoln sang manusia bermata menyala kuning bak serigala, lanjut melesat menerkam ke arahnya.
Lelaki berkaca mata hitam celingukan sejenak, meraba-raba badan guna menemukan alat penembak. “Aw! Shi-”
Grep!
Lehernya dicekik erat sang pria berkulit coklat gelap. Tangan kanan-kirinya memegangi tangan sang pria keriting. “Lihat! Sekarang kau percaya pada kutukan itu, ha?”
Sang pria berkulit gelap menghantamkan kepala John ke batang pohon berkali-kali. Ia mengeratkan gigi, memamerkan sepasang taring panjang di sana. Matanya yang kini seperti serigala, melotot pada wajah lelaki berkaca mata. “Grrraawgh!”
Brrakkk! Braaak! Braaakk!
Kaca mata hitam yang John kenakan, terjatuh ke tanah. Darah mulai mengalir dari luka kepala belakangnya. Ia meringis, turut mengeratkan gigi. “Jangan paksa aku melakukannya!” Otot dan pembuluh darah lelaki berkulit cerah, tampak menonjol. Kuku-kukunya yang semula tumpul, tiba-tiba memadat memanjang.
Brrrak! Brraak! Brraak!
Jeff Lincoln terus menghantamkan kepala sang lelaki pirang bertuksedo hitam. Baru ketika aroma darah nan anyir mulai merebak, liur menetes dari sela-sela gigi. Ia berhenti membenturkan kepala John pada batang pohon, sejurus kemudian membuka mulut lebar-lebar berniat melahap leher si pria mancung.
Jllaapp!
Belum sempat taring tajam Jeff menyentuh kulit leher sasaran, cakar tajam milik John lebih dulu mendarat telak – menembus usus pria berkulit coklat gelap. “Grrraaaung!” Ia reflek melompat mundur, meraba perut yang mengucurkan darah dengan deras.
Membenarkan kerah tuksedo, sepasang mata John terlihat berwarna abu-abu. “Dalam legenda, konon Vampir dan Werewolf selalu bermusuhan. Tetapi faktanya, kalian para manusia jadi-jadian hanyalah makhluk yang terikat oleh kami, para bangsawan terhormat di era zaman kegelapan.” Ia melangkah, mengisap udara lewat mulut meski gigi tertutup. “Aku sudah pernah mengingatkanmu, Tuan Jeff Lincoln.” John tanpa ragu melesat menendang perut pria berambut keriting.
Blaawg!
“Aaaaurngh!” Pria berbadan besar terlempar lima meter akibat tendangan pria bersepatu pantoefel. Ia meringkuk menahan sakit.
“Kalau kejadian yang kau alami ini, bukanlah candaan semata!” bentaknya kembali menendang tubuh Jeff Lincoln yang tergeletak di tanah.
Blaaawg!
“Auuuuuungh!” Jeff meringis menahan nyeri, darah dari perutnya terus mengucur deras akibat serangan fatal lelaki mancung berambut pirang.
Meraih mengambil alat penembak yang ada di tanah, John menodongkan benda tersebut ke kepala Jeff. “Aku sudah berjanji pada bawahan dan atasanku... kalau kau sampai berubah dan lepas kendali begini, maka aku sendiri yang akan membu-”
Blaawk!
Batu seukuran kepalan tangan melayang melesat, menghantam moncong alat penembak yang John pegang. Hal itu membuat lelaki pirang menoleh ke kanan, di mana sesosok pria berblangkon hitam muncul di dekat sebuah pohon. Wajahnya tak terlihat akibat terselimut gelap bayangan hutan.
Sementara itu, Jeff yang melihat kesempatan tuk kabur, bergegas berlari ke arah berlawanan guna melarikan diri. “Grraaungh!”
John yang termakan emosi, meremas handle alat penembak hingga remuk berkeping-keping. “Apa yang kau lakukan!” serunya dalam bahasa Inggris. Tanpa ia sadar, taringnya memanjang.
“Awalnya aku tak percaya kalau bangsa vampir itu masih ada,” sahut Raihan dalam bahasa yang sama. “Tapi setelah melihatmu dan ingat pada orang-orang organisasi itu, sepertinya benar; bahwa kalian membeli pasokan darah dari rumah sakit untuk mengkonsumsinya secara aman.”