John, The Vampire (Bag. 2)

1174 Kata
Swuuss! John melompat menerkam pemuda berblangkon hitam yang berdiri tegap tanpa posisi siaga. Lelaki pirang mancung berbusana tuksedo hitam meluncurkan tangan kiri penuh cakar tajam yang menghitam ke wajah sasaran. “Hsssh!” Suara yang keluar dari mulut yang tertutup, mirip bunyi desisan ular. Pemuda berjaket hitam parasut menyampingkan badan seraya menepis lengan lawan. Lutut kiri Raihan diangkat naik – menyusul cepat gerak tangkisan dan menghantam telak ulu hati lawan. Wajah pemuda berblangkon hitam datar tatkala lelaki mancung berambut pirang terpental mundur lima meter. “Uhhokh!” John terbatuk merasakan mual. Tubuhnya gemetaran, berdiri bungkuk dengan bertumpu pada kaki nan sempoyongan. Dlap! Seolah tak memberi jeda, Raihan kembali melesat. Kali ini ia menggapai kepala belakang si pria pirang, sejurus kemudian melayangkan lutut kanan guna membenturkannya ke wajah lelaki mancung bermata abu-abu. Blaaak! Selesai melancarkan satu serangan dadakan, pria berblangkon hitam lekas-lekas meluruskan kaki kiri, menendang dorong pria bertuksedo hitam hingga terjungkal jatuh ke tanah penuh dedaunan kering. Blaaak! “Hssshhh!” John mengusap darah yang mengalir dari hidung. “Grrrah!” Lelaki jangkung berkulit cerah nyaris pucat tersebut melesat, melompati Raihan dan mendarat di belakang seraya mengayunkan tangan kanan-kiri bercakar tajam hitam. Bukan menghindar, pemuda berblangkon hitam justru memutar badan seraya mengayun kaki secara horisontal. Gerakannya sepersekian detik lebih cepat dari lelaki bertaring panjang, membuat pinggul lawan terkena serangannya lebih dulu. Membuat John lagi-lagi terlempar menjauh. Srraakkk! Pria bertuksedo hitam segera memulihkan keseimbangan, sejurus kemudian melompat naik ke atas pohon. Ia gesit melompat dari pohon satu ke pohon lain memutari Raihan yang berdiri tegap di atas tanah. Bermodalkan temaram sinar rembulan yang terhalang awan, Raihan menggulirkan mata ke kanan-kiri tanpa menggerakkan kepala. ‘Oh... jadi begini pergerakan insting mereka?’ Kratakkk! John memijakkan kaki kanan kuat-kuat, mematahkan ranting pohon yang ia pijak tanpa disengaja guna melesat meluncur mendekati sasaran. Ia melayang bak elang yang menerkam mangsa. Sambil memasang wajah menyeringai, pria pirang tersebut menusukkan tangan kiri bercakar tajam pada lawan. “Hsssh!” Raihan si pemuda berjaket hitam parasit berputar dalam posisi berdiri seraya bergerak ke samping. Sesaat sebelum jarak lawan tinggal sejengkal darinya, pemuda beralis lebat tersebut melayangkan tendangan ke punggung pria bertuksedo hitam. Arah tendangannya dari samping ke bawah, memaksa John terdorong menempel tanah. Blaak! Menarik napas dalam-dalam, Raihan menusukkan jari telunjuk tepat pada salah satu titik lemah anatomi manusia – aliran neuron yang terdapat di sela tulang punggung. “Ya Hadid!” bisik Raihan lirih setelah telunjuk menempel keras – menekan titik yang ia incar. “Grraaaaagh!” John meraung kesakitan. Selain rasa nyeri di bagian yang Raihan tusuk menggunakan jari telunjuk, anggota badannya tak kuasa tuk digerakkan. Menarik napas dalam-dalam kemudian membuangnya lembut, Raihan merogoh sebungkus lisong serta korek gas hitam yang ada pada saku. Dengan santai, ia melangkah mundur seraya menyalakan udud khas buatan Indonesia tersebut. “Gerakanmu tak seperti vampir di film-film,” ucapnya duduk pada dahan yang John patahkan tanpa sengaja tadi. “Apa karena sudah lama tak minum darah manusia?” “Hsshhh!” Pria beriris mata abu-abu memasang wajah geram. “Siapa yang mengirimmu!” bentaknya dalam bahasa Inggris. “Apa yang kau lakukan padaku!” imbuhnya jengkel. Anggota badannya sama sekali tak mampu digerakkan. Meniup asap dari mulut, Raihan mengatur napas dan gejolak darah yang sempat berontak. “Langsung saja... apa hubunganmu dengan pria pemanggil dedemit itu? Orang yang juga memasang pagar gaib di sekitar hutan ini.” “Hsshhh! Kau kira dengan siapa kau bicara!” “Vampir? Manusia yang melakukan perjanjian dengan Iblis agar dapat kekuatan lebih? Atau korban vampir lain yang akhirnya berubah jadi seperti mereka?” “Jaga mulutmu!” sahutnya lagi bernada tinggi dalam bahasa Inggris. Meski tatapan pemuda berblangkon hitam tertuju pada lelaki bertuksedo hitam yang tak ia kenal, tetapi batin dan benaknya mencoba menggali letak posisi orang-orang LHA yang ia cari. “Apa makhluk berkepala kambing... atau kepala domba-lah itu... itu juga piaraanmu?” “Hsssh! Grraaagh!” Tanpa disangka, John si pria pirang bermata abu-abu berhasil pulih dari pukulan pelumpuh Sang Musafir Hitam. Ia segera melompat ke pohon terdekat, kemudian menggunakannya sebagai pijakan guna menerkam lawan yang tengah duduk mengisap lisong. Melihat hal tersebut, Raihan berkomat-kamit merapal sesuatu. Tangan kanannya mengepal erat. “Qulhu geni!” Saat jarinya nyaris menyentuh leher pemuda berjaket hitam parasit, tubuh John kini ditarik oleh sesuatu nan panas tak kasat mata. Alhasil ia terjatuh dalam posisi terbaring. “Grrragh!” Ia meringis ketika merasakan panas yang seperti melepuhkan kulit. “Kau... pengguna sihir!” “Hahah... bedanya, sihir yang aku gunakan bukanlah sihir yang sama seperti orang-orang kalian gunakan,” ucapnya memungut sebuah ranting kayu sepanjang satu meter di samping kaki. Pemuda berjaket hitam mematahkan ujung ranting tanpa daun tersebut, membuatnya semakin runcing. “Aku dengar vampir tewas jika jantungnya ditusuk.” Ia mendekati John, kemudian membalik poisisi lelaki pirang agar terlentang. “Hsshh! Haaargh!” Lelaki mancung berambut pirang masih tak kuasa bergerak. Tubuhnya terjerat oleh rantai gaib panas yang Raihan munculkan. “Jika kau diberi kesempatan kedua, semoga kau terlahir jadi manusia!” serunya memegang dahan runcing secara terbalik, mengarahkan ujung tajamnya pada jantung John. “Stop!” Lelaki berkaca mata dalam balutan tuksedo hitam lain muncul sembari menodongkan alat penembak. Di belakang pria tersebut, Tom si pria botak berkulit coklat gelap menyusul dengan napas tersengal. * (Beberapa jam kemudian, di depan sebuah bangunan ala mansion, New Jersey.) Iwan dan Wicaksono geleng-geleng melihat Raihan yang datang menghampiri mereka. “Setiap ada Mas Raihan, di situ ada dedemit dan monster mengerikan,” celetuk Wicaksono seraya duduk lemas di depan teras berlantai keramik krem. Iwan yang masih pucat menjabat tangan Raihan yang berdiri di hadapannya. “Aku sempat dengar kalau sampean sedang bulan madu ke sini. Atau jangan-jangan sampean sedang dikirim Markas Pusat buat selidiki kasus di negeri ini?” “Kalian tak terluka, kan?” tanya Raihan turut duduk di sebelah mahasiswa sawo matang bermata belo. “Njaluk udude, Kang. Sepet cangkemku gak gowo udud!” pinta Iwan saat pemuda berblangkon hitam merogoh saku, mengambil sebuah korek hitam dan sebungkus lisong khas Nusantara. Usai menyalakan dan mengisapnya, Raihann memberikannya pada pria berambut ikal. “Apa kalian berdua, mahasiswa asal Indonesia yang selamat?” Wicaksono manggut-manggut. “Bus susulan yang harusnya datang, katanya ditunda keberangkatannya. Hanya kami yang sudah tiba lebih dulu di perkemahan kemarin malam.” ‘Sepertinya orang-orang FBI sudah membantu mencegah korban berjatuhan.’ Membuang asap dari mulut, Raihan memasang wajah datar. “Lalu kapan kalian balik ke Indonesia?” “Orang-orang tadi sudah memesankan tiket. Kami akan kembali besok pagi,” jawab Iwan. “Sebenarnya apa yang terjadi di sini, Mas?” “Sama seperti beberapa tahun lalu. Bedanya, sekarang mereka menargetkan negeri asal mereka sendiri,” jawab Raihan menghela napas. “Ngomong-omong di mana orang-orang yang sempat bersamaku tadi?” Wicaksono menoleh ke belakang, di mana daun pintu mansion rapat tertutup. “Mereka di dalam. Mereka membawa salah satu orang yang menyerang kami juga. Sebenarnya, makhluk apa mereka? Apa mereka sama seperti manusia rusa jadi-jadian yang pernah muncul di Garut dulu?” Melangkah mendekati pintu, Raihan menggeleng. “Entah. Tapi meski berbeda, aku yakin dalangnya masih sama.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN