Regroup!

1899 Kata
(Ruang Interogasi Mansion Rahasia, New Jersey.) “Katakan pada orang kalau aku menunggunya di balkon lantai dua,” ucap John seraya melangkah menuju pintu keluar. Julius memalingkan mata dari pria keriting berkaos hitam yang dipasung pada dinding beton. Sudut bibirnya sedikit naik melihat punggung salah satu anggota FBI. “Kau masih ingin adu otot melawan dukun itu?” Brraak! John membuka pintu, menutupnya dengan keras tanpa menjawab pertanyaan sang rekan. Tom hanya geleng-geleng. Ia kembali memandangi layar ponsel di mana berita tentang kemunculan monster berkepala kambing membawa seorang manusia, jadi topik utama sosial media. “Wajah orang ini sudah terpampang di mana-mana.” Julius duduk di kursi logam, memandang lurus ke arah pria keriting berkulit gelap. “Lagi pula kita tidak akan memulangkan pria ini begitu saja setelah dia ikut membunuh para mahasiswa di hutan,” ucapnya bersedekap. “Dosis pelumpuh yang kau tembakkan tadi sepertinya terlalu besar untuk orang ini.” Krryet.... Daun pintu dibuka dari luar. Raihan yang masih mengenakan jaket serta blangkon hitam, datang mendekat. “Dia... bukankah dia yang jadi manusia serigala di museum?” Julius menoleh, melepas kaca mata hitam ke meja kayu di depan. “Kau yang melihat wajah pria itu dari dekat sebelum taring dan bulu-bulu hitam tumbuh di badannya, kan?” “Apa... jangan-jangan pria ini yang diserang temanmu semalam?” Tom menahan tawa, menoleh pada Raihan. “Kalau kami tidak menangkapnya, mungkin si pirang itu tidak akan membiarkanmu ikut kemari.” Raihan berjalan mendekati Jeff Lincoln yang terikat oleh rantai besi nan tebal. “Apa laki-laki bernama John itu atasan kalian?” “Dia ditunjuk oleh CIA dan FBI untuk menangani hal-hal yang berkaitan dengan kasus-kasus orang hilang. Dia juga orang pertama yang terang-terangan mendatangi gedung merah milik LHA dan meminta mereka berhenti melakukan berbagai tindakan ilegal.” Raihan mengerutkan kening, menatap baik-baik wajah pria keriting cepak yang tak sadarkan diri. “Jadi, apa yang membuatnya berubah jadi manusia serigala? Dan... apa kalian berniat merekrutnya jadi anggota?” Julius menyahut, “merekrut monster di dalam tim belum pernah terjadi sebelumnya. Kami hanya ingin menggali informasi darinya saja.” Pemuda berblangkon hitam menoleh cepat ke belakang, menatap Julius heran. ‘Apa jangan-jangan... mereka juga belum tahu kalau si John-John itu seorang Vampir?’ Tom buka mulut, bermaksud menjawab pertanyaan Raihan, “John yang menemukannya saat keluarganya dibunuh sekaligus. Dia bilang, salah seorang teman lama Jeff, menggigit, atau mencakarnya. Itu sebabnya dia juga berubah jadi manusia serigala.” “Mencakar dan menggigit?” Alis kanan Raihan naik. ‘Hanya karena dicakar dan digigit, manusia akan jadi manusia serigala?’ pikirnya heran. “Apa kalian sudah pernah melakukan uji coba pada makhluk sejenis ini? Maksudku, apa ada sel-sel tertentu yang membuat sel manusia jadi seperti mereka?” “Siapa sangka dukun dari Indonesia bisa berpikiran logis,” celetuk Julius lirih. “Beberapa autopsi dari kasus penyerangan makhluk seperti itu, tidak ditemukan sel-sel perubah wujud seperti virus zombi di film-film. Pihak medis hanya bisa menyatakan bila liur gigitan dan bekas cakarannya, sama seperti luka akibat serangan serigala biasa.” Pemuda berjaket parasit hitam menggulirkan mata ke kanan-kiri. ‘Dengan kata lain, ini bukan akibat yang bisa dinalar.’ Ia kembali menolehkan badan pada Jeff. ‘Tapi, kalau ini karena hal gaib, bagaimana cara kerjanya?’ “Mister Raihan?” Julius merogoh saku celana, meraih sebuah remot kecil warna hitam dari sana. “Sebelumnya kami pernah dengar soal Kuyang dari sekitar Kalimantan, dan Cindaku dari Sumatera Barat. Apa menurutmu, ada kesamaan antara dua hal itu dengan perubahan wujud manusia serigala?” Merogoh saku jaket guna mengambil sebungkus lisong dan korek, Raihan menyandarkan badan bagian bawah pada tepian meja. Ia menyalakan udud dengan tatapan tertuju pada Jeff Lincoln. “Sejujurnya, meski aku berasal dari Indonesia, aku belum pernah menemui Kuyang dan Cindaku. Tapi jika yang sekilas aku dengar, Kuyang dalam wujud kepala terbang, hanya tahap awal sebelum sempurna. Karena saat ilmunya sempurna, ia tak perlu berubah wujud sebab ia bisa menggunakan berbagai ilmu gaib dalam wujud manusia. Sebaliknya, kisah manusia harimau yang pernah kudengar, akan disebut sempurna ketika ia berubah total jadi wujud manusia harimau,” ungkpanya. ‘Yah kalau Wildan, mungkin dia bukan kategori Cindaku.’ Julius menghela napas sambil memain-mainkan remot dengan melempar-lemparnya kecil ke atas. “Lalu, mengenai orang yang dipasung di hadapanmu?” “Aku pernah melihatnya berubah sekali saat di atas atap museum. Waktu itu, aku yakin ada campur tangan Elizabeth sehingga ia berubah. Tapi kalau aku melihatnya berubah langsung, mungkin aku akan tahu sesuatu.” Tom dan Julius saling memandang setelah mendengar penjelasan Raihan. Tangan kiri mereka serentak meraih alat penembak laras pendek, mengarahkannya pada Jeff Lincoln. Sementara tangan kanan Julius, menekan tombol kecil di sudut remot bergambar atap rumah. Tut! Setelah tombol remot berbunyi akibat dipencet, Tom dan Julius beranjak mundur dari kursi. “Kalau kau selesai, kami akan menembaknya!” ucap Tom saat langit-langit ruangan mulai terbuka. Dari langit-langit ruangan, sinar bulan purnama menembus masuk. Tom dengan tangan agak gemetar, mengambil sekeping cermin kecil bundar dari saku celana jeans biru. Ia memantulkan cahaya rembulan ke muka pria keriting cepak yang terpasung di tembok. Deg! Raihan yang tengah mengisap lisong, seketika terdiam mematung merasakan aura berbeda dari tubuh si pria keriting di hadapannya. ‘Subhanalloh....’ Raihan menggilis lisong yang ia jepit setelah meniup keluar asap di mulut. Tidak seperti Tom dan Julius yang gemetar, pria berjaket hitam justru berjalan maju mendekati Jeff. Julius berteriak melihat tindakan Sang Musafir Hitam, “h-hey! Apa yang kau lakukan!” “Grrrrr!” Jeff Lincoln siuman setelah menerima sorot sinar purnama yang Tom arahkan pada wajahnya. Ia membuka sepasang mata yang menyala dalam gelap layaknya serigala. Air liur mulai menetes dari mulut. Brraaal! Dengan masa otot dan pembuluh darah yang seketika bertambah tebal, Jeff dengan mudah memutuskan rantai yang menjerat tangan kanan. Tatapannya tertuju pada Raihan. “Grrrrgh!” Brraaall! Kali ini, ia memutuskan rantai yang mengikat kaki. “Graaaugh!” “Hey! Apa kau sudah selesai!” Julius bersiap menekan pelatuk alat penembak. Brrakkk! Raihan mendorongkan telapak tangan kanan pada dahi pria yang mulai berubah jadi makhluk lain. Bibirnya berkomat-kamit merapal sesuatu. Anehnya, Jeff yang dipegang Raihan mendadak melemah, ia tak melakukan gerak perlawanan meski kepalanya dibenturkan ke dinding di belakang. * “Lihatlah siapa yang datang....” Dalam hitam pekatnya kegelapan tak diketahui, Raihan berdiri seorang diri. Ia celingukan mencari sumber suara berat dalam bahasa yang tak ia tahu, tetapi batinnya seolah membantu menerjemahkan. Wajahnya berubah serius ketika sepasang sorot mata merah menyala muncul. Jaraknya dengan sorot mata merah nan raksasa, sejauh belasan meter. “Siapa kau?” “Harusnya aku yang bertanya padamu, anak manusia! Siapa kau! Berani-beraninya berusaha memotong rantai kutukanku!” “Apa kau... makhluk yang berdiam dalam tubuh manusia ini? Atau kau... jangan-jangan...” “Jaga bicaramu! Aku yang dipuja bangsamu dari jaman dahulu! Tunjukkan kesopananmu padaku! Hrrrgh!” “Oh... jadi, kau ini makhluk yang mengajarkan ilmu perubahan wujud pada sebagian manusia, ya?” tanyanya santai. “Hrrrgh! Kau seharusnya bercermin lebih dulu sebelum bicara pada makhluk agung sepertiku!” Drrrrg! Raihan yang semula berdiri, mendadak dipaksa berlutut oleh sesuatu tak kasat mata. Selain tenaganya yang melemah, indra penglihatan, pendengaran, dan perasanya pun lambat laun tak bisa digunakan. “Siapa sangka ada makhluk gaib sekuat ini di sini?” gumamnya lirih. “Kau yang hanya manusia biasa, tidak akan bisa memutuskan rantai kutukan dari makhluk agung sepertiku!” Blaaamm! Raihan tersentak oleh gumpalan energi tak kasat mata, membuatnya terjengkang belasan meter, masuk ke dalam hitamnya bayangan pekat. * (Ruang Interogasi Mansion Rahasia, New Jersey.) “Gwaahhh!” Raihan terjengkang jauh, menabrak meja yang ada di belakang hingga terjungkal. “Grraaaagh!” Jeff Lincoln, lelaki yang sekujur badannya mulai ditumbuhi bulu-bulu serigala hitam, bergegas mendongak ke langit-langit. Ia meraung bak serigala seiring kepalanya yang berubah menonjol layaknya moncong serigala. Julius dan Tom mulai menembaki sang manusia serigala. Sayangnya, Jeff yang mendapatkan kekuatan berlipat ganda setelah melakukan transformasi, dengan mudah mengelak dari hujan peluru. Ia memilih melompat ke langit-langit yang terbuka, bermaksud melarikan diri. “Mister Raihan, kau tak apa?” tanya Tom jongkok di sebelah pria berblangkon hitam. “Tunggu di sini!” celetuknya melompat ke meja, kemudian memijaknya kuat sebagai bantalan guna melompat menyusul sang manusia serigala. Dlap! Di atap yang lebih rendah dari atap keseluruhan bangunan, pemuda berjaket hitam mengayuh kedua kaki kuat-kuat mengejar sang manusia serigala. Tangan kanannya merogoh saku jaket, meraba butir tasbih yang tersimpan di dalam saku busana. ‘Tubuh manusianya berubah jadi begitu? Mirip seperti perubahan Wildan saat melakukan penyatuan sempurna dengan khodam harimau itu. Lalu makhluk yang tadi itu... apa dia raja jin yang memberikan kutukan ini? Tapi kalau begitu, harusnya dalam satu malam, bakal banyak manusia serigala yang muncul kalau manusia bisa berubah hanya karena digigit atau dicakar saja?’ pikirnya melompat, berlari di dinding guna mencapai atap yang lebih tinggi tiga meter. “Grrrraaauung!” Jeff sesekali menoleh kecil pada Raihan yang dengan gigih masih mengejar. Ia menoleh ke sisi kanan atap, di mana balkon nan panjang berada. Membungkuk, ia memijak pada atap guna melompat menyeberang ke balkon dari bangunan sebelah. Dlap! Sang manusia serigala melompat sejauh belasan meter, menyeberangi tanah lapang yang merupakan taman tengah mansion. Pendaratannya di lorong balkon, membuat lantai keramik di sana retak. “Grraaaung!” Raihan mulai memutar tasbih, bersiap menggunakan jurus pamungkas. “Ya Alloh... Dzatulloh... Sifatulloh... Wujudulloh... Nurulloh...” “Biarkan dia pergi!” seru John yang berdiri di atas atap dalam posisi kedua tangan disakukan. “Kau...” Berhenti melangkah, Raihan mengernyitkan dahi, memperhatikan wajah pria berkaca mata hitam yang berdiri lima meter darinya. ‘Dia baru saja muncul? Dan matanya... tidak seperti tadi saat di hutan?’ “Aku sudah menambahkan alat pelacak khusus di tubuhnya,” ucapnya melepas kaca mata hitam, menaruhnya ke saku tuksedo. “Mmmm... begitu? Lalu kenapa dia dirantai di ruang tadi?” tanyanya tanpa bergerak maju. “Kami hanya ingin mengorek informasi darinya. Atau jika beruntung, kami mungkin bisa merekrutnya.” Ia menghela napas. “Tapi sekarang itu tak penting,” ucapnya menolehkan badan pada Raihan. “Karena sekarang, kau ada di pihak kami.” “Ngomong-omong soal itu... apa tidak ada yang tahu kalau kau ini-” “Aku minta maaf karena memperkenalkan diri sambil memperlihatkan wujudku itu, Tuan Raihan. Tapi aku yakin, kau bukan tipe orang yang suka membicarakan sisi buruk seseorang, kan?” John berjalan mendekati Raihan saat orang tersebut menampilkan mimik ragu. “Jangan khawatir. Aku bukan Vampir seperti di film-film yang mengisap darah manusia. Sebaliknya, seperti katamu... aku Vampir elegan yang membeli semua kebutuhanku. Fair and square.” ‘Wataknya berbanding terbalik saat matanya jadi abu-abu,’ pikir Raihan. “Namaku John. Mohon bantuannya, Tuan Raihan,” ucapnya mengulurkan tangan. Menjabat tangan sang pria pirang, Raihan menghela napas seraya tersenyum kecil. “Jangan gigit aku.” * (Rooftop sebuah gedung, Kota New York.) Elizabeth berdiri tegap di atas gedung besar setinggi puluhan meter. Di belakangnya, lelaki berjubah hitam duduk berlutut menanti arahan. “Kalau kau masih mau hidup, jangan kau tunjukkan wajahmu di hadapan Yang Mulia sementara ini. Beliau bukan orang yang menerima kegagalan.” “Baik, Nona,” sahutnya menunduk. “Aku dengar, Raihan datang ke negeri ini bersama kekasihnya, apa itu benar?” Perempuan berjubah merah balik badan. Pria berjubah hitam dengan simbol bintang segi enam di punggung mengangguk. “Benar, Nona.” “Lakukan hal yang sama, seperti kau mengubah sahabat lamamu. Aku ingin melihat, bagaimana reaksinya saat tahu bila wanita yang dia cintai, berubah jadi sesuatu yang ia benci,” ujarnya tersenyum lebar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN