(Twilight Alternative High School, Trenton, New Jersey,)
Jeff Lincoln, berjalan kontai di pinggir jalan raya kota di malam itu. Lalu lalang sepi kendaraan, mengisyaratkan bila waktu masih terlalu dini bagi kebanyakan manusia tuk beraktifitas. Pria berkaos hitam ketat tersebut, berhenti di seberang sebuah gedung sekolah berlantai lebih dari tiga tingkat. “Apa yang terjadi padaku?” gumamnya bersandar pada sebuah pohon besar di pinggiran trotoar jalan.
Meski telah mengalami banyak kejadian, tetapi yang pria keriting berbadan kekar ingat hanyalah momen saat dirinya duduk di kursi untuk disucikan, sebelum dibawa terbang oleh monster berkepala kambing. Hatinya menahan dirinya tuk menatap langit malam nan mendung, meski benaknya merasa janggal. “Kenapa aku di sini?” gumamnya lagi menoleh ke trotoar jalan.
Ia memutuskan berjalan mencari tempat yang agak jauh dari keramaian, melangkah mengarungi jajaran gedung nan sepi. Hingga, tubuhnya berhenti di dekat sebuah gang gelap nan sunyi, di mana dua orang dengan jaket dan celana hitam panjang lusuh tengah duduk menghangatkan diri di depan api unggun kecil-kecilan. Aroma menyengat dari alkohol begitu menusuk hidung Jeff. Padahal, jaraknya dengan api unggun hasil sampah itu berkisar tujuh meter.
Merasa dipandangi, dua orang dengan separuh kesadaran melambaikan tangan pada Jeff. “Hoy! Kau! Ya, kau! Kemarilah!” bujuk lelaki berkupluk abu-abu seraya bangkit dari duduk. “Kemari! Hoy!” serunya lagi saat si pria keriting berkaos hitam justru mlipir menjauh.
Tap tap tap tap tap!
Dua orang pria berbusana lusuh tebal justru mendekat menghampiri Jeff. Salah satu dari mereka merangkul pundak pria berbadan kekar seraya berbisik, “hey, kau kesepian, kan? Kau pasti punya beberapa dolar untuk cari cairan penghangat, kan?”
Pria dengan sebotol minuman di tangan, ikut merangkul Jeff dari belakang. “Ahahahahay... jangan takut begitu kawan! Kami tidak akan melukaimu. Kami hanya minta dompetmu saja! Tidak usah menggigil ketakutan begitu! Hahahay!”
Jeff memejamkan mata, memperlambat langkah. “Tidak... jangan... tolong biarkan aku sendirian,” pintanya dengan tubuh gemetaran.
“Hahahahay! Lihatlah si tampan ini! Dia seperti gadis remaja yang akan kita nikmati saja! Hahahay!”
Set!
Pria berjenggot pirang dengan kupluk di kepala, merogoh balik busana. Ia mengeluarkan sebilah pisau belati dari sana, dan menempelkan ujung tajamnya ke perut Jeff tanpa mendorong. “Kawan... lima puluh dolar saja cukup. Dari pada kau gunakan uangmu untuk menjahit luka di perut, kan?”
“Tolong... ti-tinggalkan aku sendiri...” pintanya gugup gemetaran seraya berhenti berjalan. Bukan dua preman gadungan itu yang ia takutkan, melainkan sesuatu yang bisa-bisa menguasai raganya jika dirinya dikuasai murka.
“Hey? Apa kau tak dengar?” bentak pria berjenggot seraya mendorong benda tajam hingga menembus kaos yang Jeff kenakan.
“Hey, kawan! Berikan saja dompetmu agar dia tak membuatmu pergi ke rumah sakit!” bentak pria satunya.
“Ton! Ambil dompetnya!” seru pria berjenggot.
Grep!
Sebelum tangan si lelaki tak dikenal merogoh paksa saku celana, Jeff lebih dulu mencengkeram pergelangan tangan si pembuat onar. Massa otot dan daging Jeff di tangan kanan mendadak bertambah, kekuatannya yang di atas rata-rata manusia, membuat bunyi tulang terdengar bergemeretak.
“Haaaarhgh!” Si pria berjaket lusuh mundur setelah pergelangan tangannya serasa patah dari dalam oleh genggaman kuat Jeff. Ia meraung, berlutut kesakitan menahan nyeri. “Haaaargh!”
“T-Tony!” Pria berkupluk abu-abu menoleh pada rekannya yang kesakitan. “Kau!” Ia menusukkan pisau belati pada pria beerkaos hitam yang ia rangkul. Tak melihat raut kesakitan dari sasaran, ia memperdalam tusukan benda tersebut kuat-kuat. “Haaagh!” Pisau yang ia tekan seperti menusuk batang pohon. Walau benda tajam di tangan berhasil menembus kulit, tetapi logam tersebut tak mampu bergerak lebih dalam menusuk daging Jeff.
“Hrrgh!” Jeff menggeram. Sepasang matanya kembali menyala dalam gelap layaknya serigala. “Aku sudah bilang, biarkan aku sendiri!” serunya geram seraya mengibaskan tangan kanan pada lawan.
Blaaaaawg!
“Huugh!” Tubuh si pria berjaket lusuh terpental ke tengah jalan raya, di mana tiba-tiba sebuah mobil sedan biru melesat kencang.
Brraak!
Alhasil, si pria berjenggot pirang terpental setelah badannya tertumbuk bagian badan mobil. Remaja-remaja yang ada di dalam mobil menjerit histeris. Tatapan mereka bukan tertuju pada pria yang baru saja mereka tabrak, melainkan pria ketriting yang melahap – menggigit leher pria berjaket lusuh lain di jalan trotoar yang sempat ia hantam.
Setelah mulut Jeff dibasahi darah kental nan segar, Jeff Lincoln mengeratkan gigi yang ternoda warna merah. Ia mendelik pada para remaja di dalam mobil, meninggalkan jasad manusia dengan luka fatal di leher. Langkahnya melambat saat sirine mobil polisi terdengar mendekat.
“Grrrr....” Mendengar kedatangan para polisi, Jeff sang manusia serigala memasang raut geram. Ia mendongak ke langit malam, ketika sinar sang purnama begitu terang bersinar. Awan-awan mendung yang sempat menghalangi bentuk sempurna sang bulan di langit, mulai tersapu oleh angin malam. “Grraaauuung!” Jeff meraung mengepalkan tangan kanan dan kiri.
Kuku-kuku pemuda tersebut tumbuh dengan cepat, menusuk daging telapak tangannya sendiri. “Grrraaauuung!” Bulu-bulu hitam yang tertiup angin malam, menutup sekujur badan. Telinganya bergerak-gerak, sebelum para polisi mulai menembakkan timah panas dari dalam kendaraan roda empat.
Dlap!
“Grrraauung!” Ia melesat memanjat dinding gedung menggunakan cakar-cakarnya yang panjang nan tajam.
*
(New Jersey, Amerika.)
Dalam sebuah mobil sedan merah, Raihan duduk bersebelahan dengan Julius, sementara John duduk di bangku depan menemani Tom si pria botak sebagai sopir.
Julius berdengus kesal. “Kau tadi membiarkan serigala itu lepas begitu saja. Tapi sekarang, meminta kita pergi mencarinya. Apa hobimu bermain kejar-kejaran dengan makhluk yang seperti itu?”
John menoleh kecil ke belakang. “Aku sudah berurusan dengan Elizabeth sejak lama. Aku paham, kalau dia pasti merencanakan sesuatu dengan makhluk baru yang ia sayang.”
Tom yang sambil menyetir, ikut buka mulut, “lagi pula kepolisian sekitar melaporkan tentang kemunculannya. Kita tak bisa tinggal diam.”
“Hahh! Tetap saja! Harusnya kita kejar dia saja dari tadi!” celetuk Julius kesal.
John kembali menoleh ke depan. “Ngomong-omong apa kalian tidak merasakan keganjilan dari makhluk itu?”
“Keganjilan apa maksudmu?” Si pria botak melirik.
“Dia... bukan manusia serigala,” ungkap si pria berkaca mata hitam.
“Lalu apa? Hyena hitam berdiri? Cupachabra?” Tom mengerutkan dahi. “Werebeast? Bukankah intinya sama!”
John menaikkan sudut garis bibir kanan. “Jika dia manusia serigala atau makhluk buas biasa, secara logika harusnya baju yang dipakainya terkoyak karena tubuhnya yang membesar. Tapi anehnya, baju yang ia kenakan justru hilang seolah menyatu dengan kulit tubuhnya.”
Raihan yang sedari tadi diam, buka mulut, “apa maksudmu, dia bisa menggunakan sihir?”
“Tepat. Kalian tahu apa bedanya Lycanthrope dengan Werewolf?”
“Tidak,” jawab Tom dan Julius serentak.
“Lychantrope hampir mirip dengan Shapeshifter; manusia yang bisa merubah wujud sekehendak hati jadi berbagai hewan. Bedanya, Lychantrope secara umum hanya bisa berubah jadi beberapa bentuk serigala. Sementara Werewolf, hanya manusia serigala biasa. Meski kekuatannya dluar biasa.”
Raihan bertanya, “tapi bukankah dia berubah tanpa kehendak sendiri?”
“Benar. untuk saat ini, begitu. Dan sebaiknya, selalu begitu jika dia tidak mau bergabung dengan kita. Karena jika dia tahu kekuatannya yang sebenarnya, dia bisa berubah kapan pun tanpa memerlukan sinar bulan purnama.”