Clinton's Road Urban Legends

2532 Kata
(Trenton, New Jersey, Amerika.) Drrrg drrgg drrgg... Deru helikopter di langit malam mengganggu pulasnya tidur warga sekitar. Sementara, di atas jalan kota mobil-mobil polisi membunyikan sirine keras-keras. “Tersangka! Tersangka lari ke blok tujuh!” Si polisi berteriak menggunakan brick yang terpasang di dalam mobil. Lelaki berpostur kekar dengan kulit agak gelap terus menancap gas mengikuti laju lari sosok berbulu hitam lebat yang melesat di trotoar jalan. Seseorang dari sambungan brick merespon, ‘Dimengerti! Lima unit mobil sedang mencegat dari arah berlawanan. Apa yang dia kendarai?’ “Aaah... d-dia...” Polisi yang terus membuntuti si manusia serigala kembali berucap dengan mata terbelalak, “Dia sekarang memanjat! Dia memanjat gedung B tepat sebelum perempatan lampu merah blok tujuh!” ‘Chris? Ulangi?’ pinta seseorang dari sambungan alat komunikasi dengan nada heran. “Dia naik ke atas rooftop gedung B! Tepat sebelum Blok tujuh!” ‘Chris? Apa yang kita kejar ini? Manusia laba-laba?’ Ciiit! Chris si polisi cepak berbadan kekar memberhentikan mobil di bawah gedung yang dipanjat sang manusia serigala. “Kita cari tahu setelah membekuknya!” jawabnya tegas. ‘Apa mungkin dia yang sempat menggemparkan sosial media beberapa waktu lalu?’ Ia kembali mendekatkan brick ke mulut. “Unit udara! Sorot ke gedung B! Makhluk itu sudah selesai memanjat dan berada di atas! Kemari dan segera lumpuhkan!” “Grrrr!” Jeff yang sama sekali hilang kendali atas tubuh yang telah berubah jadi manusia serigala hitam nan kekar, melompat ke atap gedung setelah memanjat dinding bangunan menggunakan cakar tajam. Ia menoleh ke belakang, mendongak pada sebuah helikopter yang menembakkan lampu sorot padanya. Sinar terang yang dipancarkan, membuatnya sejenak menutup wajah sebelum kembali berlarian di atas gedung menggunakan kedua kaki dan tangan. Polisi dengan alat penembak laras panjang yang ada di dalam helikopter tercengang melihat penampakan makhluk yang hanya ia dengar untuk menakut-nakuti anak-anak agar tak bermain di hutan. “Apa-apaan ini! Makhluk itu....” ‘Unit udara! Segera lumpuhkan target!’ suara dari brick yang ada pada helikopter terdengar jelas. “Dimengerti!” teriak lelaki dengan rompi anti peluru di badan seraya membidik target yang mulai melompat dari rooftop gedung satu ke rooftop gedung lain. Dor! “Grraaung!” Sebuah timah panas dengan telak mengenai punggung kekar makhluk bermoncong serigala setinggi dua meter, membuatnya terjatuh ke bawah di mana gang nan gelap menanti. Brraak! Tong-tong logam beraroma tak sedap menjadi tempat pendaratan sang monster kekar berbulu lebat. Ia meraung kesakitan, kemudian menoleh ke tangan kanan bercakar yang tak sengaja menindih sesuatu. “Grrrgh!” Ia menggenggam benda berbentuk kalung. Sebuah kalung dengan liontin kecil. Pada bagian tengah liontin perak tersebut, terdapat ukiran bintang segi enam. Hidungnya berdengkus-dengkus seraya mendekatkan benda di tangan ke wajah. “Grrrrgh!” Air liur menetes dari sela taring tatkala aroma tubuh seseorang yang ia kenal, jelas dirasa oleh indra hidung sang manusia bermoncong serigala. Dlap! “Aaaaurgh!” Ia mengaum sembari melompat ke dinding beton, kembali merangkak memanjat dengan cakar-cakar tajam. Kali ini, laju larinya kian gesit. ‘Kami kembali melihat target! Dia menuju jalan utama kota! Ulangi! Dia menuju jalan utama kota! Semua unit segera hadang makhluk itu! Jauhkan warga sipil darinya!’ * (Di waktu yang sama, belahan New Jersey.) Raihan, John, dan Julius masih duduk di sebuah sedan merah yang Tom kendalikan. Mereka melaju dengan cepat di jalanan. “Hey, Mister Raihan?” Pemuda berblangkon hitam yang sedari tadi memandang keluar jendela mobil, menoleh. “Ya?” “Saat kemarin kita menuju hutan, kau sempat terdiam beberapa lama. Apa itu penerawangan yang kau lakukan? Sampai-sampai tahu bila ada kubah tak kasat mata yang menghadang?” Pertanyaan dari pria botak berbusana biru diam-diam membuat dua pria mancung pirang menantikan jawaban Raihan. “Aku tak tahu apa sebutannya di pengertian kalian. Tapi yang kemarin itu, aku coba merasakan semua hal yang ada di sekitar hutan. Sebenarnya, ada satu sosok energi yang aku kenal di tengah hutan,” jawabnya. John menerka, “Anggota LHA. Pria bertopeng putih dengan julukan kembaran maut?” “Orang itu sepertinya pergi setelah John menghabisi para mayat hidup di sana,” ucap Julius. Raihan menggulirkan mata ke kanan-kiri, teringat pada sosok misterius yang ia jumpai ketika mencoba melepas sisi gelap dari diri Jeff. “Hey... apa kalian tahu asal-usul soal legenda manusia serigala?” Tom buka mulut, “Dulu ada entitas tinggi yang disebut sebagai Dewi Ishtar. Dia dikatakan mengutuk lelaki-lelaki yang datang dan mengutarakan cinta padanya. Ia geram karena manusia serigala menerkam domba-domba warga, ia menyuruh hewan peliharaannya untuk menerkam balik si manusia serigala.” “Konyol! Dia yang mengutuk, dia juga yang menghukum!” celetuk Julius berdengus. Pemuda berblangkon hitam memejamkan mata. “Tidak, bukan,” ucapnya geleng-geleng. “Soal legenda yang berkaitan dengan... sesuatu yang bukan dewi perempuan?” Tom menerka, “Raja Arcadian yang dikutuk Zeus?” Raihan geleng-geleng. “Bukan... sesuatu yang lain.” John menoleh kecil pada lelaki berjaket hitam parasit. “Apa mungkin itu... legenda dari da-” Ciiit! Tom membanting stir mobil secara mendadak guna menghindari sesuatu seperti manusia yang berdiri di tengah jalan. Goncangan kendaraan roda empat yang mereka tumpangi membuat empat laki-laki di dalam sedan merah berpegangan erat pada sekitaran tempat duduk. “Bisa tolong bilang kalau mau berhenti mendadak?” celetuk Julius kesal. “Aahh... Mister Raihan? Sepertinya aku melihat wanita kabut yang menggoda kita di hutan itu?” gumam Tom menyapukan pandang dari sisi kanan dan kiri setelah kelebatan wanita tadi hilang. Julius mengangkat alis ke atas. “Apa maksudmu?” Raihan menghela napas, merogoh saku guna mengeluarkan sebatang lisong dan korek. “Wah... ududku ludes. Berhubung di Indonesia biasanya aku selalu diberi udud sebagai syarat, aku minta kalian carikan udud khas Indonesia setelah keluar dari sini, ya?” ucapnya santai menyalakan sebatang lisong. Beruntung, pemuda berjaket hitam duduk di ujung dekat pintu sisi kanan mobil. “Hey! Apa isi kepala dukun negaramu hanya sajen dan udud saja?” celetuk Julius kesal ketika Raihan tak menanggapi kebingungan Tom. “Jalankan saja mobilnya,” ucapnya mengisap lisong perlahan seraya memejamkan mata. Nguuuuuwng! Hanya dalam beberapa detik saja, lingkungan yang tadinya dipenuhi pinggiran hutan pinus, mendadak berganti jadi pemukiman warga nan sepi. Hanya Raihan yang tampak tenang, sementara tiga sosok pria di sebelahnya celingukan memandangi lingkungan sekitar. “Apa-apaan! Kenapa kita di-” “Jalankan terus mobilnya,” ucap Raihan tenang dengan mata terpejam. Tanpa beranya, Tom lanjut tancap gas. Ia lagi-lagi mengurangi kecepatan kendaraan tatkala jalan yang mereka lakui kembali jadi hutan gelap tanpa penerangan. “Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kita seperti berteleportasi?” Sopir botak bertanya. Keringat dingin mulai menetes membasahi dahi. Raihan menghela napas panjang. “Akar mimang, adalah pohon yang bisa membuat seseorang tersesat dan hanya berputar-putar di hutan. Sebagian bilang, jangan sampai menyentuh bagiannya. Sebagian lain bilang, kalau mereka tak bisa segera keluar dari hutan sebelum matahari tenggelam, maka mereka bisa tersesat berhari-hari di sana.” Ia tersenyum usai meniup asap dari mulut. Asapnya terempas keluar karena jendela mobil yang Raihan buka sebelum menyalakan udud tercinta. “Siapa sangka... di Amerika juga ada pohon dengan daya magis serupa,” ucapnya enteng tersenyum kecil. “Clinton’s road?” gumam John lirih. “Ini di Clinton’s road, kan?” tanyanya lagi saat sebuah pohon besar di atas bukit di sisi kanan jalan terlihat berdiri kokoh – berjarak puluhan meter dari jalan raya. “Tapi itu... Devil’s Tree yang harusnya ada di Kota Bernards!” ujarnya menunjuk pada pohon yang sebagiannya tak berdaun. “Tak apa,” tanggap Raihan tenang. “Jalankan saja mobilnya. Tenangkan diri kalian. Jika kalian merasa diteror dan takut, maka mereka berhasil,” imbuhnya menghela napas panjang. ‘Raihan Abdi Pangestu... apa kau tahu permainan apa yang baru saja kau ikuti?’ Suara dari lelaki yang pernah ia jumpai beberapa kali, menggema di kepala pemuda berblangkon hitam. “Apa kalian dengar itu?” Tom dan Julius serentak bertanya, “Dengar apa?” ‘Yang aku tahu, leluhur-leluhurmu memegang teguh kalimat; di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Sekarang kau bukan di negeri asalmu. Tapi kau dengan penuh percaya diri mengikuti permainan kami? Jangan harap semua orang yang ada di sekitarmu bisa selamat begitu saja!’ John menatap pria beralis lebat. “Raihan, apa yang kau dengar?” Bukannya menanggapi pertanyaan pria pirang yang duduk di kursi depan, Raihan menoleh ke wajah pucat pria botak berbusana biru. “Tom? Kau baik-baik saja?” Lelaki tambun menggelengkan kepala dua kali. “A-aku... tiba-tiba sangat mengantuk...” Mengerti akan adanya marabahaya, pria mancung berblangkon berteriak, “Semua! Pegangan!” Sraaasss! Sedan merah yang mereka tumpangi oleng, berputar-putar didorong oleh angin malam liar yang berembus dari berbagai arah. Tiga penumpang pria di sana, kembali berpegangan erat pada pegangan di atas pintu mobil dengan mata terpejam. Hanya Raihan yang berkomat-kamit merapal doa seraya membuka lebar sepasang mata. Wajahnya serius, dengan napas yang teratur. Ciiiitttt! Brraalll! Brraall! Brraaakk! Srraakk! Kendaraan roda empat tersebut sudah mencoba mengerem, tetapi dorongan angin yang begitu kencang membuatnya terus berputar, menabrak dan menjebol pagar besi sebuah pemakaman. Mobil tersebut terjungkir, bergelinding beberapa kali hingga menggiling rentetan batu nisan pemakaman. Raihan dan yang lain pun serasa dikocok di dalam kendaraan. Brraaaak! Mobil mereka terhenti paksa menabrak sebuah pohon besar. Jenis pohon ek tua. “Subhanalloh....” gumam Raihan sejenak sebelum menoleh pada Julius dan Tom yang pingsan tak sadarkan diri. “Haaaaagh!” John si pria bertuksedo hitam mengejam, menarik kedua kaki yang terimpit bagian mobil. Ia memancal jendela depan kendaraan hingga pecah. Kaca mata hitamnya lepas, membuat sepasang mata abu-abunya terlihat jelas. Pyaar! “Kau baik-baik saja?” tanyanya menoleh pada Raihan. “Ya. Aku baik-baik saja,” sahut Raihan mengutus siku guna menghancurkan jendela yang setengah terbuka. Kedua pria yang masih siuman, segera melangkah keluar dari kendaraan yang terparkir dalam posisi terbalik. “Syukurlah, mereka berdua hanya pingsan,” gumam pemuda berjaket hitam parasit ketika John menghampirinya. John menyapukan mata pada pemakaman sekitar. “Ini... Woodbridge Cemetary. Di jam segini kita tidak akan bisa sampai lokasi Jeff, tidak ada kendaraan umum seperti di Indonesia.” Raihan menghela napas seraya tersenyum masam. “Ududku ludes bre... bre...” keluhnya meringis. “Ngomong-omong... ada legenda horor apa di kuburan ini?” “Pada tahun 1896, seorang perempuan dimakamkan di sini,” ucapnya. “Lalu?” Raihan mengamati batu nisan yang tergeletak di atas tanah. Mungkin karena tersenggol mobilnya tadi. “Semua orang yang menghadiri pemakaman, dikejutkan dengan kemunculan sesosok ular yang melilit peti mati perempuan tersebut. Para warga meyakini bila siapapun yang menatap mata ular itu dari dekat, akan ditimpa nasib malang seumur hidupnya.” “Apa... nama perempuan yang kau maksud itu... Lulu Lorch?” “Bagaimana kau- ahh... lupakan. Kau cenayang.” Pemuda berblangkon hitam menggeleng. “Tidak. Itu,” ucapnya menunjuk pada batu nisan bernama serupa, yang juga memiliki tahun kematian sama. “Ahh... kau benar, tapi tenang saja.” John menaruh tangan kanan-kiri ke dalam saku celana hitam panjang. “LHA pernah datang kemari dan menangkap entitas itu,” ungkapnya tenang. “Lalu sekarang apa yang akan kita lakukan, Raihan?” “Ssshhh!” Suara desisan terdengar samar dari semak belukar hutan. Disusul dengan kemunculan sepasang mata merah menyala bak lampu taman berjalan. “Heheh... kukira kau yang mendesis,” celetuk Raihan merogoh saku jaket, mengeluarkan seutas tasbih berbutir besar dari sana. John yang turut memandang arah suara, terdiam dengan mata terbelalak. “I-itu...” Sesosok ular sebesar dua meter, dengan panjang mencapai belasan atau bahkan dua puluhan meter, mendesis merayap mendekati mereka. Sosok reptil tersebut memiliki mata merah menyala, dengan tonjolan daging seperti tanduk di bagian sisi kepala. Wujudnya mirip ular viper gaboon raksasa hitam. “Shhssssh!” “Kau tanya... apa yang harus kita lakukan?” Raihan memasang kuda-kuda silat. “Mari bakar hangus kadal tak berkaki ini... setelah itu, cari cara untuk pergi ke tempat serigala lepas itu.” Merogoh alat penembak yang tersimpan di saku belakang, John memegangi benda tersebut menggunakan kedua tangan. “Apa kau yakin, dia bisa dilukai?” tanyanya lagi membidikkan alat penembak ke kepala ular raksasa yang berhenti maju, melingkar seolah siap mematuk mereka. * (Kota New York, Amerika.) Syabila berjalan seorang diri di trotoar jalan. Tangan mungil si gadis berkerudung merah mencangking seplastik makanan halal dari camilan hingga bahan masakan. Gadis bergamis putih panjang dengan balutan sweater, berhenti di depan pintu masuk gedung besar menjulang sebuah apartemen. Nyaris tak ada siapa-siapa di sana, selain petugas keamanan dan resepsionis yang masih saja berjaga. Usai memperlihatkan kartu identitas gedung, Syabila melanjutkan langkah menuju lift. ‘Mas Raihan belum juga kasih kabar. Nomornya tidak aktif. Tom dan Julius juga tak bisa dikabari. Apa Mas Raihan baik-baik saja, ya?’ pikirnya cemas. Ting tung.... Lift yang ia tunggu-tunggu, terbuka. Sesaat ia memperhatikan pria berjaket coklat lusuh berbahan kulit yang berdiri di sudut lift. Sorot mata dan bagian rambut sosok tersebut tak terlihat karena bayangan tudung hoodie jaket. Hanya kumis tipis dan dagunya yang terlihat. ‘Kenapa aku mendadak gusar ya?’ Menarik napas, perempuan berkerudung merah melangkah masuk, menekan tombol nomor lantai ruang apartemennya berada. “Red Riding Hood. Gadis kecil menggemaskan yang diburu oleh serigala lapar. Apa Anda pernah dengar kisahnya, Nona?” tanya lelaki berjaket coklat lusuh dengan wajah menunduk. Bahasa yang ia gunakan adalah bahasa Indonesia. “Eh? Iya? A-Anda bicara pada saya?” tanya Syabila gugup. “Heheheh... orang Asia Tenggara itu unik-unik, ya? Meski tubuh mereka mungil, tapi wajah mereka awet muda. Berbeda dari orang-orang kami,” imbuhnya. Syabila tersenyum sekadarnya. Ia merogoh ponsel, mengirim pesan pada nomor sang suami. ‘Apa jangan-jangan orang di sebelahku ini....’ Ting tung.... Pintu lift kembali terbuka, kali ini seorang kakek dan nenek tua yang masuk ke dalam lift. Mereka tak menekan tombol lantai, mungkin karena masih satu lantai dengan Syabila. Dua pasang kekasih nan sepuh itu tersenyum ramah pada si perempuan berkerudung merah. Kemunculan mereka berdua, membuat Syabila menghela napas lega. Mata indahnya sesekali mendongak ke arah CCTV di sudut atas lift. Wajahnya kembali tenang saat lift yang mereka tumpangi, sampai di lantai tujuan. Tak hanya Syabila serta dua kakek-nenek, lelaki brejaket coklat misterius pun turut melangkah keluar. Mereka berempat berjalan menyusuri lorong apartemen. Hingga, saat si nenek dan kakek membuka pintu salah satu kamar apartemen, si pria misterius kembali bicara, “Red Riding Hood berhasil selamat karena bantuan si beruang. Lalu, apa kau pikir kau ini seberuntung Red Riding Hood, Nona manis?” Tatkala Syabila menoleh ke belakang, sepasang netranya lebar terbuka. Sosok pria berkumis tipis dengan jaket coklat, mendadak ditumbuhi bulu-bulu hitam nan lebat. Cakar tajam nan panjang, mulai muncul dari tangannya. Ia meraung, mendongak ke langit-langit lorong. “Kyaaaa!” Syabila berlari sekuat tenaga, menjatuhkan barang bawaan yang semenjak tadi dicangkingnya. Perempuan berkerudung merah, berlari dan berhenti di depan apartemennya. Ia merogoh saku sweater dengan tergesa. “Grrrraaaaung!” Sang manusia serigala melesat bersiap mengoyak mangsa. ‘Ya Alloh! Ya Alloh! Mas Raihan!’ batinnya berusaha memasukkan kunci ke lubang di daun pintu. Pyyaaarr! Baru ia berhasil membuka kamar apartemen, makhluk yang mirip seperti monster yang mengejarnya di belakang, menjebol jendela kamar. Sosok manusia serigala hitam pekat dengan sorot mata kuning menyala, mendarat di hadapan Syabila. “Grraaaung!” Ia mengaum keras, membiarkan air liur menetes turun dari mulut bertaring. Sementara itu, sosok manusia serigala lain yang semenjak tadi membuntuti, kini berdiri di ambang pintu masuk yang terbuka. Pandangan kedua makhluk itu, tertuju pada istri Sang Musafir Hitam – Syabila.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN