Sebuah Kesadaran

2048 Kata
(Woodbridge Cemetary, New Jersey.) Splaat! John si pria pirang bertuksedo hitam, reflek melompat saat ular raksasa sepanjang dua puluh meter menyabetkan ekor ke arahnya. “Raihan! Dia tak mempan ditembak!” serunya kembali menekan pelatuk, meluncurkan timah panas kebiruan pada sasaran. Dor! Dor! Dor! Besi-besi yang ditembakkan sang agen FBI, sama sekali tak menempel pada kulit ular. Semuanya menembus masuk kemudian keluar begitu saja. Seolah-olah, sosok bertaring panjang dengan mata merah tersebut hanya ilusi semata. Namun, dampak kerusakan yang si monster timbulkan dari masing-masing serangan, meninggalkan bekas seperti cekungan tanah yang timbul akibat sabetan ekor yang meleset. Pemuda berblangkon hitam berdiri tenang mengawasi pemakaman sekitar. Jaraknya dengan si John yang sibuk menghindari serangkaian serangan sang reptil hitam besar, berkisar lima belas meter. ‘Dedemit di sekitar seperti menjauhi kami... meski mereka menatap kami, tapi aku merasa seperti ada yang sedang mengawasi kami dalam jarak dekat selain ular ini?’ pikirnya memperhatikan puluhan wujud manusia pucat dengan kaki transparan – mengambang di atas tanah. Sosok-sosok gaib yang Raihan lihat, mengambang di pinggiran pepohonan. Sebagian yang berwujud anak-anak, mengintip dan bersembunyi di balik batu nisan. Swuuus! Pria pirang berhidung mancung melompat kayang ke belakang tuk menghindari patukan ular. Ia coba membidik mata kanan sang ular. “Raihan! Apa ular ini nyata?” tanyanya saat lagi-lagi serangan timah panasnya tak bersarang di anggota badan lawan. “Tahan dia sebentar!” pinta Raihan mengatur napas. ‘Aku yakin tak harus menggunakan tasbih itu di sini. Tapi, aku juga tak yakin serangan secara langsung bisa berhasil.’ Dlap! John melompat menghindari patukan sang ular raksasa untuk yang kesekian kali. Tanpa sadar, pemuda pirang bermata abu-abu itu membelakangi sedan merah yang masih terjungkal di dekat pohon besar tak berdaun. “Apa kau tak mau gunakan sihir anehmu itu!” serunya ketika sang ular bermata merah mendesis, menyabetkan ekor padanya. Blaaawg! Krrrataaak! “Shhhsh!” Ekor sang reptil raksasa mengayun dari samping kiri ke kanan, membuat pohon besar di dekat sedan merah tumbang. Tak berhenti di situ, sabetan ekor sang ular bermata merah melontarkan mobil di belakang John hingga lima meter. Meski John berhasil menghindar dengan melompat, sang Vampir yang kini berada di atas dahan pohon lain memperhatikan Julius dan Tom yang masih tergolek tak sadarkan diri di dalam sedan merah. “Bangun! Sekarang bukan waktunya tidur! Kalian!” Pemuda berjaket hitam menggulirkan iris netra ke kanan-kiri sembari menopang dagu menggunakan jempol kiri. “Baiklah...” Ia mengeratkan kepalan tinju kanan erat-erat. “Hoy! Kadal tanpa kaki! Kemari!” serunya lantang. “Shhhasshh!” Sang reptil raksasa menoleh, sejurus kemudian merayap cepat dengan mulut terbuka. Dari sepasang ujung taring nan panjang makhluk tersebut, sesuatu nan kental sebening embun nyaris menetes jatuh. Saat sang ular hendak melahap badan, Raihan melompat mundur tiga meter – lolos dari jepitan mulut lawan. “Sekarang!” gumamnya melompat ke depan melayangkan tinju kanan. “Qulhu Geni!” Swuuss! Bogem panas yang Raihan arahkan ke mulut ular yang telah mengatup, menembus masuk tanpa menyakiti lawan. ‘Heh? Ini seperti orang meninju wujud jurig yang belum sempurna? Tapi kenapa dia bisa menyerang benda nyata yang dia incar?’ Blaaag! “Shhssh!” Sang ular menggelenggkan kepala, menghantam badan pemuda berblangkon hitam keras-keras. “Uggh! Gusti!” Raihan terpelanting, menyenggol batu nisan yang tak lagi berdiri, dengan begitu keras. Tep! Saat ia hendak bangkit, cekungan nama pada batu nisan memperkuat rasa curiga. “Jangan-jangan!” Ia menoleh pada John yang masih duduk memandang dari dahan pohon. “John! Di mana cangkul?” Blaawk! Raihan yang lengah lagi-lagi dihantam oleh ekor sang ular raksasa. Tubuhnya menabrak menjebol paksa sebuah bangunan beton berisikan peralatan gali kubur, tak terkecuali peti-peti mati dan batu nisan tanpa nama. “Huugh!” Bbrrraag! Ia melakukan roll depan ketika langit-langit bangunan yang kecil mulai runtuh ke bawah. Netranya tajam melirik pada benda yang bisa digunakan. “Aman!” ucapnya mengangkat tinggi sebuah sekop sembari berdiri di ambang daun pintu kayu. John menepuk dahi. “Tinju sihirmu dan peluru khusus ini saja tidak mempan! Apa lagi sekop!” “Shhhsss!” Sang ular bertanduk melingkar di depan bangunan yang jebol. Ia menjulur-julurkan lidah bersiap mematuk. “Shhaaasshh!” Sang ular raksasa melesat mengarahkan sepasang taring tajam pada lawan. Dlap! Raihan melompat ke atas, ia menggapai pinggira daun pintu bagian atas kemudian mengayunkan baan ke atap bangunan kecil. “John! Tangkap dan gali kuburan perempuan itu!” serunya melempar sekop di tangan pada pria pirang bermata abu-abu. Swuuung! Sang Vampir berbusana tuksedo melompat turun dari atas pohon, ia meraih gagang sekop yang Raihan lempar. “Aku tak tahu apa maksudmu! Tapi kau harus berhasil!” gerutunya mulai menggali salah satu kuburan. Brralll! “Shhaasshh!” Sang ular bermata merah menyala menghancurkan dinding beton dengan kepala. Ia keluar dan menerjang si John yang tengah mengambili tanah menggunakan sekop. Dlap! Ia kembali melompat menghindari serangan sang monster sepanjang dua puluhan meter. “Alihkan perhatiannya!” ‘Tinju Qulhu Geni saja tidak mempan, apa lagi kalau rantai gaibnya! Tapi makhluk ini tidak mau kami membongkar kuburan itu... sudah jelas berarti!’ Raihan melambai-lambaikan tangan kanan ke atas. “John! Lempar sekopnya ke kepala ular itu! Sekarang!” serunya saat sang ular bersiap mematuk pria bertuksedo hitam dalam posisi membelakangi Raihan. John mengambil ancang-ancang, melempar sekop bak pelempar galah. “Huungh!” Tepat seperti yang Raihan terka, sekop tersebut melayang menembus tubuh kepala sang ular, terus melesat ke arahnya. “Jasad yang dikubur, menyatulah dengan tanah!” Dlap! Baru sedetik menangkap sekop, Sang Musafir Hitam memijak kuat-kuat atap, meluncur melesat ke sebuah kuburan dengan batu nisan ambruk di atasnya. “Haaah!” Sang pemuda berblangkon menancapkan sekop ke dalam tanah kuburan. Ujung sekop menghancurkan batu nisan dari beton, terus menancap hingga gagang ujung yang tersisa di atas tanah. “Atas nama-Nya yang Maha Menciptakan!” Ia mengangkat kepalan tangan kanan tinggi-tinggi. “Tinggalkan semua urusanmu di sini!” Pemuda berjaket hitam menghantam ujung gagang sekop, mendorongnya hingga meluncur cepat menembus bumi. Blaamm! Tepat sebelum John gagal menghindari patukan sang ular besar, pangkal ekor makhluk bermata merah menyala mendadak terbakar, diiringi jerit perempuan nan histeris dari dalam tanah. Api jingga yang melalapnya, berubah jadi biru – merambat naik hingga menghanguskan bagian badan dan kepala. “Shaaaaaassshhh!” Raga sang ular dalam sekejap jadi abu, tertiup oleh embus angin malam nan mencekam. Tak ada sedikit pun bagian dari tubuh sang ular raksasa yang tersisa. John terduduk di atas tanah, mengatur napas yang tersengal. “Fyuhh! Bagaimana bisa kau melenyapkannya?” Raihan meregang-regangan tulang punggung dan lengan seraya berjalan mendekati John. “Kau bilang, LHA pernah menangkap ular tadi? Atau jangan-jangan menangkap entitas lain yang serupa?” tanyanya mengulurkan tangan pada pria pirang. “Tidak. Aku tahu betul kalau mereka memang menangkap ular tadi. Elizabeth yang melakukannya sendiri,” jawabnya bangkit menerima uluran tangan sang rekan. ‘Kalau begitu, artinya mereka sengaja melepas kembali makhluk itu untuk menghambat kami.’ Raihan menghela napas. “Aku tak tahu, apa perempuan yang dikubur itu adalah penganut kepercayaan sesat mereka, atau mungkin salah satu korban yang terikat kutukan ilmu hitam. Tapi jantung makhluk tadi, menyatu dengan jantung perempuan yang dikubur itu,” ungkap Raihan menatap kuburan yang ia tancap dengan sekop. ‘Mas Raihan!’ Suara perempuan yang ia cinta, menggema jelas di kepala. “Syabila?” gumamnya berwajah serius. “Ada apa, Mister Raihan?” Pemuda berjaket hitam menoleh pada John. “Bisa kau minta orang-orang CIA atau FBI untuk menjemput kita?” “Aku sudah mengirim mereka pesan. Sebentar lagi mereka akan tiba.” “Kalau begitu segera bawa Julius dan Tom ke rumah sakit. Setelah itu, ubah destinasi ke Kota New York. Aku akan menunggumu di sana. Sepertinya aku kecolongan,” ucapnya merogoh saku jaket, teringat pada sang istri yang mungkin tengah dalam bahaya. * Jeff si manuisa serigala berbulut lebat, memandang geram sosok serupa lain yang berdiri ragu di ambang pintu masuk kamar apartemen.“Grraaaungh!” Ia berlari menggunakan kedua kaki dan tangan, sejurus kemudian melompat menerjang ke arah sasaran. “Grrraauungh!” Begitu pula dengan Nicole, sang kawan lama sekaligus pembunuh keluarganya yang melesat maju dalam wujud manusia serigala. Berbeda dari Jeff, ia melesat berniat menerkam perempuan berkerudung merah. Jlap! Jeff lebih dulu menancapkan taring tajam ke leher lawan, menggagalkan gerakannya guna mengoyak Syabila. “Grrrrrgh!” Layaknya hewan pemangsa berkaki empat pada umunya, mereka saling menggigit dan mengayunkan cakar. Tak seperti Jeff yang manalukanya berangsur-angsur rapat, Nicole tetap mengalirkan darah merah dari berbagai luka yang Jeff timbulkan. “Grrrraaungh!” Mereka bergulat menabrak berbagai perabot yang ada di ruang apartemen. Vas bunga serta lukisan panorama alam di dinding, berjatuhan ke lantai saat Jeff membanting – memojokkan Nicole ke tembok bercat putih. “Grrrraaagh!” Blaaag! Nicole berusaha berontak, tetapi cakar kanan-kiri Jeff menancap pada kedua pundaknya. “Grrraaaung!” Ia sebelum menggigitlengan kiri lawan. “Graaagh!” Jeff kembali membuka mulut penuh taring lebar-lebar, kemudian mengoyak leher lawan. Jlaappp! Krataaak! Tulang leher Nicole berbunyi, menandakan bila taring-taring Jeff menancap di sana, bahkan meremuk sebagian tulangnya. “Grrraauung!” Lambat laun, tubuh Nicole berubah jadi manusia biasa. Cakar, taring, mata, telinga, bahkan moncong di wajahnya kembali seperti semula. Hanya saja, ia tak mengenakan busana. Brraaak! Jeff yang belum puas meski lawannya terkulai lemas dengan pendarahan di leher dan beberapa anggota badan lain, melempar Nicole ke langit-langit tengah ruangan. Sontak, lampu neon yang sedari tadi menerangi ruangan, hancur oleh embusan badan Nicole si pria berkulit cerah. “Grrrr!” Dalam gelapnya ruangan, sepasang mata serigala Jeff bersinar kuning. ‘Aaargh! Wanita itu melarikan diri!’ batinnya kesal saat tak lagi merasakan kehadiran Syabila. Ia meringis, menahan nyeri luka di sekujur badan. “J-Jeff! T-tunggu! K-kenapa kau menyerangku!” ucapnya gagap dengan wajah pucat. ‘Padahal beberapa waktu lalu dia hilang kesadaran saat berubah jadi manusia serigala! Tapi kenapa dia bisa di sini dan menyerangku!’ Ia ngesot mundur tanpa mengalihkan tatapan dari sepasang mata sang manusia serigala. “Grrrragh!” Satu-satunya manusia serigala berwujud sempurna di ruangan, bersiap menerkam lelaki tanpa busana. ‘Siapapun kalian! Serahkan diri kalian! Apartemen ini telah dikepung!’ Seorang petugas keamanan dari dalam helikopter memberi ultimatum pada seseorang atau sesuatu yang tak ia kenal. Ketika lampu dari helikopter menyorot masuk melewati jendela kaca yang sudah dipecah oleh Jeff, mereka serentak menoleh ke sumber cahaya. Tampak helikopter dengan beberapa orang siap menembak. “Jeff!” Nicole tertatih bangkit. “Percayalah, kawan! Aku melakukan ini demi menyelamatkanmu!” ucapnya menarik selimut merah dari ranjang di belakang. Pemuda berkumis tipis tersebut menggunakannya sebagai jubah tuk menutupi badan. Ia mengadahkan tangan kanan ke depan, mencegah sang manusia serigala menghabisi nyawanya dalam sekejap. “K-kalau kau tak percaya....” Ia bergerak perlahan mendekati jendela. “Tanyakan pada Nelson Creigh!” serunya melesat melompat ke luar gedung. Pyaaarrr! Sesaat sebelum Jeff melompat menyusul, sebuah timah panas melesat dan bersarang di paha penuh bulu lebatnya. “Grrrraaaung!” Ia meraung menahan sakit, memutuskan putar balik ke pintu kamar. Drap drap drap drap drap! Kerumunan polisi beralat penembak laras panjang berlari mendekati kamar apartemen gelap di mana Jeff berdiri. “Diam di tempat! Atau kami tembak!” seru salah satu pria berseragam polisi lengkap dengan rompi anti peluru di badan. “Grrrr....” Jeff mengeratkan gigi-gigi taring. Ia menoleh kecil ke belakang. Dor! Sebuah tembakan lagi-lagi diluncurkan oleh anggota polisi dari pintu helikopter. Timah panasnya telak mendarat dan bersarang di pinggul si manusia serigala. “Grrraaaungh!” Jeff lagi-lagi balik badan. Ia mengayuh kedua kaki dan tangan guna melesat menabrak sisa jendela yang sudah tak berkaca. Brraak! Ia melompat terjun dari ketinggian. “Grrrrh!” Tangan kekar bercakar sang manusia serigala menggapai dinding beton. Srrraaakkk! Ia membuat ukiran di dinding sepanjang belasan meter. Entah beruntung atau memang lihai, Jeff si manusia serigala berhasil lolos dari hujan peluru yang diluncurkan oleh para penembak. Jerit histeris warga dari pinggiran jalan Kota New York, berpadu dengan bunyi jepratan foto. “Grrrrauuungh!” Jeff melompat turun ke aspal tempat parkir. Sejurus kemudian, ia melesat menuju pepohonan terdekat. Deru tembakan dari para polisi mulai berkurang ketika ia mendekati kerumunan warga yang berlarian. Hidung serigalanya terus saja berdengus, mencari jejak aroma Nicole yang tertinggal di sekitar tempat pertarungan. Dlap! Hanya dalam satu lompatan, Jeff melalui pagar pembatas gedung setinggi dua meter. Ia lanjut mengayuh kedua tangan dan kaki guna menuju sumber aroma yang berasal dari pepohonan taman kota. “Grrrrrgh!” Meski larinya agak pincang karena tembakkan beberapa polisi tadi, ia tetap gigih melangkah cepat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN