Pencarian

1837 Kata
(Hutan Taman Kota, New York.) Drap! Drap! Drap! Dlap! Jeff sang manusia serigala melesat mengejar mengikuti aroma tubuh Nicole dengan mengendus-endus udara malam sekitar. Laju kaki bercakarnya kian bertambah saat luka-luka akibat timah panas para anggota kepolisian telah merapat, pulih seperti sedia kala. “Grrrrgh!” Dlap! Sesuatu lain serupa siluet manusia, melesat dari dahan pohon satu ke pohon lain. Tubuhnya tak teridentifikasi, hanya hitam dan sebilah pedang panjang yang tampak dari sosok tersebut. “Kau mau pergi ke mana lagi?” Dlap! Siluet berpedang itu melompat dari dahan pohon, mendarat menghadang Jeff si manusia serigala. “Lari tidak akan menghindarkanmu dari karma langit!” serunya mengacungkan pedang panjang lurus pada sang manusia serigala yang terdiam memandanginya. Pria putih berjas hitam dengan celana panjang tersebut memiliki postur tubuh kurus, layaknya orang asia pada umunya. Wajahnya tirus, dengan alis tipis. Kakinya beralaskan sepatu sport hitam. Dari wajahnya, siapapun mengira bila ia adalah idol korea pemeran film laga. “Grrrragh!” Sang manusia serigala menunjukkan muka geram seraya memaerkan deretan taring tajam. Makhluk berbulu hitam lanjut melompat jauh, melewati pria cepak kurus yang berdiam menghadang. “Segel bumi!” serunya melempar secarik kertas kuning dengan ukiran kanji merah. Kertas tersebut menempel tepat di perut sasaran. Blaawk! Sepersekian detik setelah kertas bermantra itu menempel di perut, Jeff hantaman keras dari bongkahan batu yang membentur perut. “Grraaaung!” Ia meraung kesakitan. Belum lagi saat tubuhnya mendadak ditarik ke tanah oleh energi tak kasat mata. Blaaak! Jeff terimpit energi transparan seberat bongkahan batu besar. Ia meronta, mencoba lepas dari kungkuman tersebut. “Grrrraagh!” Ia melangkah mengangkat pedang di tangan kanan tinggi-tinggi ke atas. “Aku yang terakhir, akan menghabisi kalian satu persatu hingga tak tersisa!” Massa otot dan daging sang manusia serigala mendadak bertambah. “Grrraaagh!” Ia menggelinding ke samping, berhasil lolos dari himpitan energi gaib lawan. Dlap! Jeff melompat mengayunkan cakar kiri keras-keras ke kepala lawan. “Grraagh!” Daaaang! Beruntung, pria berbusana hitam modern tersebut berhasil menutup muka dengan bilah pipih pedang. Karena ayunan cakar lawan yang begitu kuat, ia terlempar lima meter hingga terjengkang jatuh di atas tanah. “Urgh!” “Grrroaagh!” Jeff yang baru saja menapakkan kaki di atas bumi, memutar badan. Ia melesat kembali pada pria putih yang terlentang. Srrraak! Tanpa disadari sang makhluk kekar bertaring tajam, sesosok pria berblangkon dengan balutan busana garis-garis lurus khas busana Jawa, melompat menggoreskan keris tajam berluk lima ke perut Jeff. “Grrraaaung!” Jeff terguling di tanah. Menyeringai kesal menatap sosok pria paruh baya yang baru saja muncul mengganggu. “Segel racun!” seru pria berpedang panjang seraya melempar kertas kuning berukirkan mantra berbeda dari sebelumnya. Tlap! Kertas tersebut mengenai pundak sang manusia serigala. “Grrrr! Grrraaagh!” Ia balik kanan, mengurungkan niat mengejar aroma tubuh Nicole yang kian jauh tak terendus. “Kau ini tidak sabaran!” seru pria berblangkon coklat sembari mengulurkan tangan pada sang rekan. “Tidak ada waktu untuk berdiam diri!” sahutnya menampik uluran tangan si pria paruh baya. Wajah mereka tak terlalu jelas akibat gelap bayangan pepohonan kala itu. “Lagi pula, dia tidak akan bisa bertahan lebih dari beberapa hari.” “Aku tak mengerti seluk beluk mantra racunmu. Tapi serigala satu itu, berbeda dari serigala-serigala sebelumnya.” “Apa dia anggota organisasi itu?” “Entah,” sahutnya menuju sisi gelap pepohonan ketika hellikopter mendekat menyorot ke bawah. “Aku dengar, anggota Pusaka Nusantara yang turun tangan ketika peperangan beberapa tahun lalu, ada di sini.” “Kau mau aku mencarinya?” Nadanya sebal. Pria berblangkon menoleh kecil. “Jika dia tahu aku mantan bawahan orang itu... mungkin kita akan menjelaskan lewat adu kanuragan.” * (Beberapa hari kemudian, Sebuah Gedung Perpustakaan , New York, Amerika Serikat.) Raihan menekkan-nekan layar ponsel ber-chasing merah muda, menelpon seseorang yang dikenalinya. “Halo, Kang Iwan?” tanyanya saat panggilan tersambung. ‘Yo, Kang? Pie, ono opo?’ “Kau dan Sungsang sudah di bandara?” tanyanya duduk di kursi kayu, menghadap sebuah buku tebal ber-cover berbagai simbol kerajaan Inggris. ‘Lah? Bagaimana kami bisa ke bandara, kalau tiba-tiba orang-orang FBI datang menahan kami buat tidak pulang dulu!’ “Hehehe... syukur kalau belum balik,” sahut pemuda berblangkon hitam. ‘Ahhh, pasti ini ulah sampean!’ “Syabila sekarang dirawat di rumah sakit New York. Tolong bawa Syabila kembali ke Indonesia lebih dulu.” ‘Lah, kok? Dirawat? Istrimu kenapa, Kang?’ “Kau tidak lihat berita?” Ia menghela napas, meluruskan tulang punggung. “Serigala-serigala itu menyerang apartemenku semalam. Sepertinya mereka mengincar semua yang kukenal. Strategi klise orang-orang LHA.” ‘Terus, apa luka istrimu parah?’ Nadanya panik. “Alhamdulillah, tidak. Dia berhasil lolos sebelum terkena serangan. Dia bilang, salah satu manusia serigala yang muncul menyerang manusia serigala lain.” ‘Ohh... lah kok bisa? Apa jangan-jangan itu si....’ Raihan manggut. “Jeff Lincoln. Dia sepertinya mulai mendapat kesadaran manusia saat berubah wujud.” ‘Sampean sekarang di mana? Rumah sakit si Syabila di mana?’ “Orang-orang FBI yang akan mengantarmu ke sana. Mereka juga yang akan mengawal kalian sampai tiba di Markas Pusat Pusaka Nusantara.” Raihan meraba buku tebal di hadapannya. “Dan tolong sampaikan pada Wildan dan Mandala, kalau mereka ada waktu... minta mereka datang kemari segera,” pintanya. ‘Kalau ada salah satu Titisan saja, mungkin kasus ini bisa cepat tuntas.’ ‘Oke Kang. Tapi apa orang-orang ini sudah tahu soal ini?’ “Ya. Sampaikan saja pada mereka untuk mengantarmu ke rumah sakit. Di rumah sakit itu juga ada Julius dan Tom,” jelasnya mematikan sambungan telepon. Setelah menaruh ponsel ke saku jaket, pria beralis lebat membenarkan posisi blangkon hitam di kepala. Sejurus kemudian fokus pada buku tebal di hadapannya. ‘Tujuan pasti orang-orang LHA di Indonesia beberapa tahun lalu saja, belum diketahui sampai sekarang. Lalu, apa yang mereka perbuat di sini sampai-sampai melukai banyak warga terang-terangan begini?’ pikirnya mulai membuka lembaran awal buku. * (Christ Hopsital, New Jersey.) Ben yang baru saja keluar rumah sakit guna membeli beberapa keperluan, melangkah di trotoar jalan menuju tempat kerjanya. Ia memperlambat langkah, tercengang melihat lelaki keriting yang ia kenal tengah berjalan tertatih dengan wajah pucat. “Jeff? Jeff! Kau baik-baik saja? Jeff!” Jeff Lincoln menoleh lirih dengan sisa tenaga. Sekujur badannya gemetar. “B-Ben?” Tak hanya dirinya, beberapa pejalan kaki sekitar pun memandang Jeff. Beberapa menyipitkan mata, merasa familiar pada lelaki hitam berkaos ketat. “Jeff? Apa yang terjadi padamu! Jeff?” Pria rambut abu-abu berbadan tegap mempercepat langkah, mendekati mendekap lelaki tersebut. Bruuk.... Belum lelaki berjas coklat memeluk, Jeff Lincoln jatuh tak sadarkan diri. Kejadian tersebut menjadi perhatian beberapa warga sekitar. * (Beberapa jam kemudian, Lobby Rumah Sakit, New York, Amerika Serikat.) “Istrimu tertidur lagi? Apa kata dokter?” Iwan bertanya pada pria berblangkon hitam yang berjalan menghampirinya di lobby rumah sakit. Suasana di rumah sakit nan besar tersebut cukup ramai, dipenuhi orang-orang mancung lokal. “Entah, dokter bilang dia hanya masih trauma saja,” sahut Raihan berjalan ke pintu keluar yang terbuat dari kaca. “Pantas pas dia bangun, dia hanya duduk diam memandangi jendela.” Iwan mengekor dari belakang. Raihan memperlambat langkah. “Apa saat kau kesini tadi, Syabila bangun?” “Ya. Tapi dia memang terlihat seperti orang linglung. Wajar saja menurutku.” Mata pemuda beralis tebal menoleh ke layar televisi di atas dinding dekat ruang tunggu. Sebuah berita mengenai LHA tengah ditayangkan menggunakan bahasa Inggris. “Sebentar, Wan.” ‘Bill Roods mengumumkan akan segera menekan jumlah angka orang hilang di Amerika Serikat. Pemilik organisasi LHA tersebut telah mempersiapkan ratusan anggota LHA untuk berjaga di setiap zona merah yang ditandai aparat kepolisian. Bill Roods juga menegaskan, mereka akan segera menangkap individu, mau pun sosok-sosok misterius yang menampakkan diri dan membuat gempar warga. ’ Raihan menyipitkan mata. “Bill Roods? Bukannya pemilik LHA itu Hudson, ya?” Pemuda berambut ikal menyahut, “Hudson, Elizabeth, dan beberapa orang yang pernah buat gara-gara di Indonesia beberapa tahun lalu, hanya orang yang dipercaya menjalankannya. Sementara pemegang sebenarnya adalah orang itu. Selain mendirikan LHA secara finansial, Bill Roods juga membantu berbagai organisasi dunia bidang kesehatan dan keamanan secara finansial.” “Dia setingkat juragan empang dan juragan kelapa sawitnya orang kita, Wan?” “Hahahahah! Dia punya ribuan cabang perusahaan teknologi di dunia. Masa kau ndak kenal dia, Kang?” Raihan lanjut berjalan keluar. “Aku hanya sekilas dengar saja.” Ia mendorong pintu kaca, lanjut melangkah di atas trotoar. “Lagi pula, bertahun-tahun aku selalu sibuk mengurus jurig dan dedemit pengganggu. Wajar, kan? Kalau aku tak cari tahu soal orang itu?” Iwan terkekeh lirih. “Padahal rumah sakit barusan itu, salah satu rumah sakit besar yang didanai oleh Bill Roods.” Tep.... Raihan berhenti, menoleh ke belakang. “Sungguh?” Iwan yang juga berhenti, malah fokus pada poster orang hilang yang tertempel di tiang listrik. ‘Wajah ini....’ Ia menajamkan mata, mengamati wajah pria yang pernah ia lihat entah di mana. “Kenapa, Wan?” Pemuda berblangkon hitam turut mengernyitkan kening. “Aah! O-orang ini... Ya! Mirip!” celetuknya spontan, membuat beberapa pejalan kaki lain menoleh heran. “Ada apa dengan orang ini?” Raihan memandangi wajah poster orang hilang. “Sebelum aku dan yang lain diminta pergi berkeliling dan dicekoki obat tidur, aku sempat bermimpi tentang orang ini!” “Maksudmu... di hutan kemarin? Apa yang kau mimpikan?” “Dia datang dalam wujud jurig. Tapi, dia berbisik meminta tolong berkali-kali padaku.” “Apa mungkin dia juga korban yang dilahap orang-orang separuh serigala itu?” “Aku tak tahu, tapi kalau dilihat dari bekas lukanya, dia tewas – dibunuh dengan benda tajam.” ‘Kalau diingat-ingat... kalimat jurig-jurig wanita kemarin, seolah-olah berargumen bila dia sudah dijanjikan untuk mendapatkan jiwa kami.’ Ia menggulirkan mata ke kanan-kiri. ‘Anggap saja si jurig yang meminta tumbal manusia di sana. Tapi kalau berhubungan dengan LHA... untuk apa? Apa motif mereka membunuh orang-orang sebagai tumbal?’ “Kang? Kang?” Iwan menyenggol pundak Raihan. “Ah, ya?” Raihan lanjut berjalan. “Kang... kalau makhluk-makhluk gaib di Amerika juga bisa mewujud seperti makhluk-makhluk di Indonesia, kenapa mereka tak melakukannya sejak dulu saja di sini, ya? Malah repot-repot datang ke negeri kita.” Deg! Raihan terbelalak mendengar penjelasan Iwan. “Benar!” Ia tersenyum lebar. “Apanya, Kang?” Ia bingung, mengerutkan kening. * (Kediaman Ben, New Jersey.) Terbangun dari bunga tidurnya, Jeff mendapati dirinya di kamar beton bercat putih. “Aku....” Ben yang sedari tadi duduk di sebelah tempat tidur, tersenyum lega. “Syukurlah kau sudah siuman.” “B-Ben?” Pria keriting cepak mengambil posisi duduk. “Agh... di mana, kita?” “Setelah ditinggal pergi oleh Ellie, aku memutuskan menjual rumahku yang di kota, dan memilih tinggal di sudut New Jersey.” Ia bangkit, mengambilkan segelas air di atas meja kamar. “Baru kali ini aku sependapat dengan si tua itu. Tak kusangka, hidup dikelilingi bunyi serangga dan angin yang menggesek pepohonan tidak buruk.” “Maksudmu... Nelson Creigh?” Ben tersenyum menyodorkan segelas air pada Jeff. “Siapa lagi?” Greep! Pria keriting berbadan kekar mencengkeram kerah Ben. “Di mana orang itu sekarang!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN