Ritual Segitiga

1949 Kata
“Jeff... apa kau benar-benar yakin?” tanya Ben pada pria keriting cepak yang telah berkemas membawa tas ransel besar. Jeff menghela napas, menolehkan badan pada lelaki yang berdiri di ambang pintu. “Kau mau aku disucikan lagi?” “Sesuatu yang ada dalam dirimu, bukanlah sesuatu yang seharusnya bersemayam dalam tubuh manusia, Jeff.” Ia menepuk pundak kekar pria hitam. “Aku tak peduli dari mana kekuatan ini berasal,” jelasnya menyingkirkan tangan kanan si lelaki berambut uban. “Aku juga tak peduli, jika setelahnya jiwaku harus dibakar di neraka!” imbuhnya melotot. “Tapi dendam ini....” Jeff menepuk keras jantung. “Harus aku balaskan sebelum mati!” Ia balik badan, berjalan meninggalkan rumah tersebut. “Dendam tidak akan mengantarmu pada kedamaian, Jeff! Kau tahu itu!” serunya memandang punggung pria berjaket jeans biru pudar. * (Malam itu, Gedung terbengkalai, Sudut Kota New York.) “Hahahah! Hahahah! Haahh!” Pria jangkung dengan kupluk abu-abu tertawa puas setelah dua perempuan yang ia kageti menjerit histeris dan menangis sesenggukan. “Hey! Hey! Kalian kira di sini benar-benar ada hantunya? Hahahah!” ledeknya mengarahkan handycam pada dua perempuan pirang berusia delapan belas tahunan. “Jimmy! Kau keterlaluan!” celetuk gadis berweater merah muda. “Hahahah! Kau benar-benar jadi penakut setelah kabur dari perkemahan pertukaran pelajar! Cassie, kau harus lihat mukamu yang ketakutan! Hahahah!” ledek Jimmy puas. Gadis bersweater abu-abu dalam dekapan Cassie, menenangkan napas yang tersengal. Jantungnya berdebar tak karuan, terasa dag dig dug tak menentu. “Aku akan adukan ini pada pacarmu nanti!” ucapnya kesal. “Hahahah, hey... tenanglah. Lagi pula, ini kan hanya untuk konten kita! Hahahah!” sahutnya terus merekam dua gadis di sana. “Guys! Kemarilah! Aku menemukan sesuatu! Nyalakan kameranya!” Suara laki-laki dari lorong dalam gedung menggema, membuat tiga remaja di sana meninggalkan ruang terbengkalai penuh debu dan coretan di dinding. Tanpa mereka sadari, terdapat sebuah simbol bintang segi enam di dinding. Simbol itu terukir di samping jendela berkaca usang. Warna gambar bintang segi enam tersebut merah tua, menandakan ukiran tersebut sudah lama dibuat. Mungkin sekitar beberapa bulan lalu. Drap... drap... drap.... Ketiga remaja melangkah pelan. Tak seperti Jimmy yang berjalan santai paling depan, dua perempuan bernama Cassie dan Ashley melangkah menunduk – masih shock karena kelakukan teman laki-laki mereka. “Kau di mana, Nick?” Teriakan Jimmy menggema di lorong gedung nan gelap. Hanya senter di tangan mereka masing-masing yang memberi penerangan. “Nick? Kau di mana?” Cassie turut bertanya, menyorotkan senter ke ruang-ruang kosong samping kanan-kiri lorong yang mereka lalui. Aroma menyengat dari tikus-tikus serta hewan kotor lain membuat dua gadis itu menutup hidung. “Kemari! Di ruangan ujung lorong!” seru suara yang mereka kenali lagi, disusul senter yang menyorot jendela ruangan pojok lorong. Drap drap drap drap drap.... Sampai di ruangan yang dimaksud, Nick si pria cepak kekar berambut hitam lebat menyorotkan senter ke dinding saat tiga orang temannya datang berdiri di ambang pintu masuk ruangan. “Lihatlah!” Simbol segitiga merah dengan lingkaran oval pada bagian tengah, terpampang jelas di dekat jendela ruangan. “Dan lihat ini!” imbuh Nick menyorotkan sinar senter pada seonggok badan yang tinggal tulang saja. “Ck!” Jimmy berjalan mendekati tulang tersebut. “Haah, ini hanya tulang imitasi yang biasanya di ruang laboratorium saja paling!” Pria cepak kekar menoleh pada Cassie. “Memang, ini dulu gedung apa?” “Ini... gedung perkantoran yang kemudian difungsikan sebagai apartemen. Tapi semenjak pembunuhan berantai yang terjadi, gedung ini ditinggalkan.” Jimmy menoleh kecil, tersenyum samping. “Jadi itu alasanmu tidak mau masuk tadi?” Nick kembali bertanya, “Siapa pelaku pembunuhannya?” Gadis bersweater merah muda menjawab, “Ron Braveheart, pemilik gedung ini sendiri.” Nick mengerutkan dahi. “Lalu apa motifnya?” “Seingatku, dia dulunya anggota eksekutif LHA. Setelah beberapa tahun bekerja di bidang administrasi di sana, dia membeli gedung ini dan mengubahnya jadi bangunan apartemen. Ia bersaksi bila setiap malam, sesuatu membisiknya untuk mencabut nyawa-nyawa penuh dosa yang tinggal di sini.” “Berapa banyak korbannya dan bagaimana dia membunuhnya? Apa dia sekarang dipenjara?” tanya Nick lagi. Cassie menghela napas dalam-dalam. “Ron menggantung enam orang, kemudian mengeluarkan isi perutnya. Dia juga memasung enam orang dan menikamnnya sebanyak ratusan kali. Dan enam orang lain, dia penggal di lantai atas.” Tubuh gadis bersweater abu-abu gemetar mendengar hal tersebut. “K-kalau begitu, ayo keluar!” Grep! Jimmy menahan pundak Ashley seraya menyeringai. “Hey, tunggu dulu! Kita perlu tambahan biaya untuk bayar kuliah, loh!” Nick menggulirkan mata ke kanan-kiri. “Kalau sudah ditangani pihak kepolisian, harusnya tidak ada apa-apa lagi di sini, benar?” Ia menoleh pada sudut ruang di mana tadi tulang manusia tergeletak. “Lalu bagaimana bisa ada tulang di... situ?” Tulang manusia yang ada di dekat jendela, raib tanpa jejak. Ashley dan Cassie pun celingukan. Wajah mereka pucat, menyorotkan senter ke sekeliling guna mencari keberadaan tulang tadi. Mereka gemetar, seiring berdirinya bulu kudu sekujur badan. “Mantan anggota LHA, katamu tadi? Jadi bangunan ini milik mantan anggota LHA?” Jimmy tersenyum lebar. “Wah! Bakal ramai kalau diunggah! Pas sekali mereka sedang jadi sorotan dunia! Hahahah!” Grep! Pemuda cepak berkaos hitam ketat menahan tangan Jimmy yang hendak mengarahkan kamera night vision ke dinding. “Tunggu!” “Kenapa?” tanyanya skeptis. “Kau takut kita akan dipenjara karena merekam jejak kelam mantan anggota LHA? Ahahahah!” “Aku bukan takut karena itu. Kalian semua pasti tahu, kalau LHA tidak akan tinggal diam begitu saja jika kita yang hanya anak-anak mengganggu nama mereka di saat seperti ini. Dikurung dalam penjara adalah pilihan terbaik. Mereka bukan kumpulan orang-orang yang bisa-” Klak! Klak! Crraaak! Tulang belulang manusia yang beberapa saat hilang, bergerak berlari dari sudut ruangan dan mencakar lengan kekar Nick hingga berdarah. “Klak ! Klak! Klak! Klak!” Sosok tengkorak hidup yang jadi sorotan senter empat pemuda, membentur-benturkan rahang tulang atas dan bawah. “Kyaaaaa!” Mereka menjerit histeris, berlari terbirtit-b***t keluar ruangan bersamaan. Daappp! Lampu semua ruangan di apartemen menyala terang, menyibak kegelapan yang semenjak tadi menyelimuti bangunan. Saat lampu di sana menyala, tulang yang tadi sempat bergerak pun, jatuh ambruk ke lantai. Hal itu membuat Nick bernapas lega meski merasakan nyeri di lengan kiri. “N-Nick! Kau tak apa?” tanya Cassie cemas. “D-dan tadi... apa tulang itu hidup lagi?” gumamnya merinding, menoleh pada tulang manusia di ruangan penuh debu. Nick meraba luka yang tak lagi mengucurkan darah. “Ahh, tidak. Hanya luka gores ringan,” balasnya menatap ujung lorong. “Apa pun itu tadi, sebaiknya kita cepat keluar! Ayo!” ‘Kalian ingin pergi begitu saja setelah melihat keajaiban kami?’ Suara perempuan menggema di kepala mereka. Wajah empat pelajar berusia depalan belas tahun serentak ketakutan sembari celingukan mencari sumber suara. Tubuh mereka lemas mendengar suara berat tanpa wujud. ‘Hahahah! Aku hanya perlu satu orang lagi, sebelum bangkit dan keluar dari tempat ini!’ Swuusss.... Angin malam mendadak berembus kencang menerpa empat pemuda di lorong gedung. Sesuatu seperti kabut hitam pekat, menyeruak dari ujung lorong dekat pintu keluar. Asap hitam dengan aroma menyengat, melayang perlahan menuju mereka. Menelan ludah, Nick menggapai tangan Cassie dan Jimmy. “Lari!” bisiknya balik badan, sejurus kemudian mengayuh kedua kaki kuat-kuat. Tatapannya hanya tertuju pada tangga yang ada di ujung lorong satunya. Meski sinar lampu neon gedung mempermudah mereka menapakkan kaki, kemunculan asap hitam yang melayang mengejar membuat mereka tergesa-gesa. Klotak! Handycam yang Jimmy bawa, terjatuh saat tangannya ditarik paksa Nick. “Lepaskan! Handycam-ku!” Pemuda berkupluk abu-abu melepas paksa tangan temannya, jongkok dan menggapai benda yang terjatuh. Cet! Ashley sigap menarik kerah baju pria berkupluk, membawanya pergi dari kejaran si asap hitam misterius. “Kau tidak waras! Lari!” * (Malam itu, Kota New York, Amerika Serikat.) “Wan, tolong tunggu sebentar di sana. Aku akan pastikan sesuatu di perpustakaan sebentar,” ucap pemuda berblangkon membuka daun pintu kayu coklat dari luar ruang perpustakaan. ‘Kenapa batinku tidak tenang dari tadi? Apa LHA sudah bergerak lagi? Tapi... di mana?’ gumamnya dalam batin. “Oh, halo... kukira sedang menemani istrimu.” John dalam balutan tuksedo hitam menoleh pada Raihan yang baru saja melangkah masuk. “Aku kira kau tak suka baca buku,” sahutnya mendekati deretan buku di sebelah pintu masuk. “Aku dijuluki kutu buku dulu. Kau sendiri, apa sudah temukan sesuatu?” Membawa buku besar, laki-laki berjaket hitam parasit menghampiri pria pirang berkaca mata hitam. “Ada berapa banyak urban legend di daerah Amerika?” “Mungkin... kurang lebih sama seperti di negeri asalmu. Kenapa?” Raihan membuka tengah buku, menunjukkan foto-foto orang hilang yang terjadi beberapa bulan sebelum ia tiba di sana. “Orang-orang ini... mereka belum diketemukan, benar?” “Apa kau dapat itu dari Tom?” John turut memperhatikan foto-foto dari wajah anak-anak, remaja, hingga dewasa. Seluruhnya ditempel rapi dengan jepitan logam. “Orang-orang ini hilang begitu saja di daerah yang terpencar. Benar?” Ia membuka lembaran-lembaran di buku yang sudah dipaangi foto-foto orang hilang. Jari pemuda beralis lebat berhenti, menunjuk pada foto seseorang yang Iwan temui di hutan New Jersey. Seseorang yang datang dalam wujud tak kasat mata dan mengganggu mimpinya. “Orang ini... hilang di hutan kemarin.” “Henry Scott. Mayatnya ditemukan sesaat sebelum aku meminta anggota FBI menyusuri hutan kemarin.” Ia menatap Raihan. “Dia tewas dengan ratusan luka tusuk di sekujur badan.” Raihan menatap dinding perpustakaan, tepat mengarah pada peta Benua Amerika. “Di sini... Hutan New Jersey kemarin, kan?” Ia menunjuk pada peta. “Lalu?” John mengerutkan dahi, mendekati pria berblangkon di dekat dinding. “Di sini, kediaman Jeff... benar?” Tangannya bergeser ke sebuah sudut map, di mana tulisan New York berada. “Benar. Lalu?” John manggut mengiyakan. “Beberapa waktu lalu, apa kalian menemukan kasus kematian serupa di antara kota-kota ini?” Raihan menggerakkan jari telunjuk kanan secara melingkar, meliputi nama kota; Pittsburgh, Wheeling, Clarksburgh, dan Columbus. “Kota Wheeling. Mayat salah satu perempuan yang ada di foto itu ditemukan tiga hari lalu dalam keadaan tak karuan. Ada banyak luka sayatan pisau di sekujur badan. Lalu?” Jari Raihan kini menekan, mengarakkannya dari nama Kota New York, New Jersey, dan Wheeling. Gerakan jari telunjuknya serupa segitiga. “Di Pulau Jawa, aku pernah menemukan kasus orang-orang yang melakukan ritual di beberapa kota berbeda. Tetapi garisnya sejajar lurus mengikuti rasi bintang. Apa kau yang seorang CIA atau FBI itu... tidak curiga pada bentuk segitiga ini?” Menanggalkan kaca mata hitam, John mengertukan dahi. “Apa-apaan ini...” Trriitt... triiiit... triittt.... Ponsel yang ada di saku John berdering. Melihat kontak yang ia kenal sebagai informan memanggil, John mengangkat telepon. “Ya, halo?” ‘John, kau di mana?’ tanya seorang pria dari sambungan telepon. “New York. Apa kau dapatkan sesuatu?” ‘Polisi lokal menemukan dua remaja delapan belas tahun tergeletak di depan apartemen terbengkalai milik Ron Braveheart. Dan di dalam, ada dua mayat dengan ratusan luka sayat.’ “Apartemen Ron Braveheart? Apa ada media yang sedang meliput di sana juga?” ‘Sesuai perintahmu, kami menghalangi mereka. Tapi, sepertinya ada yang aneh di dalam gedung itu.’ “Aneh? Apanya?” Kening John mengerut. ‘Lima petugas polisi yang sempat membawa keluar mayat dari olah tkp, tiba-tiba masuk dan hilang. Saat tiga orang lain mencoba masuk, ada kepulan seperti kabut hitam, atau asap... padahal tidak ada tanda-tanda kebakaran.’ “Tahan semua orang. Aku akan segera ke sana bersama Raihan.” Meski mereka menggunakan bahasa Inggris, Raihan yang sudah cukup berbekal kemampuan berbahasa pun paham pada situasi yang tengah dihadapi. “Sebelum berangkat, tolong bawakan juga kopi hitam ke sana.” John mematikan telepon. “A-apa? K-kau bercanda?” “Kau mau lihat dukun Jawa beraksi, kan?” tanyanya merogoh sebungkus lisong serta korek hitam dari saku jaket.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN