(Gedung Terbengkalai, New York, Amerika.)
John menoleh kecil ke belakang, memandangi segelintir opsir polisi yang berbincang mengenai keanehan gedung di hadapan mereka. Yakin bila tak ada yang sedang melihat ke arahnya, John menanggalkan, menaruh kaca mata hitam ke dalam saku. Mata abu-abunya menyipit, fokus pada sesuatu hitam yang menghalang tepat di pintu masuk. ‘Seperti asap... tapi padat.’
Menghela napas, John merogoh saku tuksedo. Ia mengambil sebuah botol semprot seperti parfum berukuran mini. Ia menyemprotkan cairan di dalam botol kecil tersebut ke sekujur badan, sejurus kemudian melangkah masuk menembus sesuatu hitam yang menghalangi pintu.
Tap....
‘Berhasil? Hmmm... menarik.’ Suara pantoefel hitamnya berdecit di lantai gedung nan sepi. Lampu-lampu putih yang tergantung di langit-langit ruang masih menyala keseluruhan. Pria pirang mancung dengan iris mata abu-abu, menggulirkan mata ke samping kiri dan kanan. ‘Tepat seperti yang Raihan sampaikan. Makhluk itu langsung memasang mata padaku.’ Ia menghirup udara pengap, melangkah pelan menuju ruangan kosong penuh debu sebelum lorong.
Tap... tap... tap....
John merogoh cat semprot dari balik busana. Pria bertuksedo hitam tersebut mendekati dinding dekat jendela. Mata abu-abunya tertuju pada simbol bintang segi enam dari darah yang telah kering. “Orang tua itu masih saja berulah, ya?”
Srrooott... srrooott.... srrooot....
Warna putih dari chat yang John semprotkan menghalangi garis merah dari simbol sebelumnya. Ia benar-benar mengacak-acak simbol bintang segi enam, bahkan mengubah – menggambarnya ulang jadi mirip punggung kura-kura, lengkap dengan ekor serta kepala di sana. “Family Friendly... benar?” gumamnya tersenyum.
Klak... klak... klak...
Sesosok tengkorak hidup berjalan, berdiam diri di ambang pintu masuk ruangan. “Klak! Klak! Klak! Klalalalalalak!” Ia membenturkan deret rahang atas dan bawah, membuat bunyi berisik dari mulut. Telunjuk tanpa daging dan kulitnya menunjuk pada John.
“Halo, Tuan Bony... apa saya mengganggu tidur Anda?” sapanya merogoh alat penembak dari balik busana hitam lengan panjangnya. “Nih, aku bawa pil tidur buatmu!” imbuhnya menembakkan timah panas kebiruan pada lawan.
Dor! Dor! Dor!
Tulang rusuk, lengan kanan, juga kepala tengkorak tersebut, remuk berkeping-keping akibat timah panas yang John lontarkan. Bagai tak bernyawa, tengkorak tersebut ambruk ke lantai begitu saja. Asap hitam nan samar, menguap dari sang tengkorak, sejurus kemudian lenyap di udara hampa.
Melihat sasaran tak berdaya, John menoleh kecil ke belakang pada simbol sesuatu yang ia ubah jadi gambar kura-kura. “Dua lagi, kan?” gumamnya memegangi daun telinga. Lelaki bertuksedo hitam melangkah melewati kepingan belulang manusia yang sempat hidup beberapa saat lalu.
Tap... tap... tap... tap....
“Hwaargh!” Seorang polisi yang entah datang dari mana, berjalan mengarahkan kedua tangan pada John yang baru keluar ruangan. Mata petugas polisi berbadan tambun nan gempal tersebut berwarna hitam total tanpa pinggiran putih seperti manusia normal.
Dor! Dor! Dor! Dor! Dor!
John sigap menodongkan alat penembak pada sang polisi. Tanpa ragu ia menembakkan lima peluru sekaligus ke wajah sasaran. Ia menghela napas setelah sosok tersebut jatuh ke lantai. “Apa ini?” gumamnya mengerutkan kening. “Mayat hidup? Aku tak menyangka kalau buku itu memang be-”
Polisi tambun dengan kepala penuh luka tembak kembali bergerak, merangkak mencoba menggapai kaki John. “Grraaawgh!”
Dlap!
Si laki-laki pirang melompat ke belakang. Tatkala tubuhnya berada di udara, ia membidikkan alat penembak ke kepala sasaran. Matanya menajam, wajahnya serius. ‘Apa dia tak bisa mati?’
Dor! Dor! Dor!
‘Dia bangkit lagi?’ pikirnya mendarat ke lantai. Tangan kirinya segera mengambil magazine peluru dari saku. Saat ia akan kembali membidik, sesuatu memeluknya erat dari belakang. Tak lain dan tak bukan, sosok polisi berbadan kekar menjagalnya, entah muncul dari mana. “Apa-apaan!”
“Grrraaawgh!”sang polisi berkumis di belakang John membuka lebar mulut, bermaksud mengoyak leher sang Vampir itu sendiri.
Cet! Grep!
Cakar dan taring John tumbuh dalam waktu singkat. Massa otot dan pembuluh darahnya pun kian jelas terlihat. “Harusnya aku yang melahap lehermu saat kau hidup!” serunya membanting polisi bermata hitam kelam ke bawah kuat-kuat. Gerakannya mirip ahli bela diri Judo profesional.
Blaaawk! Krataak!
Karena leher yang mendarat lebih dulu ke lantai, sang polisi kekar harus bangkit dengan posisi leher patah. “Grrr...” Si lelaki kekar berseragam polisi menggeram dengan kepala sengklek, lanjut berjalan mendekati John.
Lelaki mancung bertuksedo hitam melirik pada ruangan yang sempat ia singgahi. ‘Ohh... karena masih ada itu, ya?’
Drap! Drap! Drap! Drap! Drap!
John mengayuh kaki, tatapannya tertuju pada ujung lorong gedung. Dengan kecepatan Vampir yang mengalir dalam diri, ia lincah berlari menghindari ayunan tangan dua polisi bermata hitam pekat. Tanpa fokus pada serangan dua orang polisi di sana, ia melirik ke ruang-ruang kosong gedung di sepanjang lorong. ‘Di mana gambar yang dua lagi?’ pikirnya. “Harusnya mural dan gambar seperti itu langsung dihapus saja!”
Dap!
John berhenti mendadak, melihat ruangan di mana masih ada ceceran darah. Simbol seperti segitiga dan bintang segi lima terbalik dengan warna merah, terpampang jelas di dekat jendela. “Kena kau!”
Srroot! Srrooo! Srrrott!
Ia menyemrpotkan cat tersebut pada gambar di dinding dengan telinga waspada memperhatikan bunyi derap langkah dan geraman dua polisi tadi yang masih saja terdengar di lorong. Selesai menimbun gambar dengan spray cat putih, John menyipitkan mata ketika sesuatu hitam seperti lumut tak berdaun, muncul dari bekas semprotannya. “What the....”
Dari sesuatu hitam misterius tersebut, muncul dua pasang tangan yang mencuat keluar, disusul dua sosok kepala polisi lain bermata hitam kelam. Pria mancung bermata abu-abu sontak melompat mundur. “Ah... jadi dari sana mereka bermunculan?” gumamnya memegangi telinga.
Ia segera bergerak maju, melompat berpijak pada kepala salah satu polisi yang baru muncul dari portal hitam di dinding, sejurus kemudian menempel merayap di langit-langit ruangan. “Sepertinya aku merasakan kehadirannya di bagian atas gedung,” ucapnya lirih sembari merayap cepat menghindari terjangan empat orang polisi bermata hitam.
John berlari sekuat tenaga menaiki tangga. Ia terus berlari mengarungi tangga yang cukup tinggi bak ruang pintu tangga darurat tersebut selama belasan menit. Semakin tinggi ia berada, semakin udara di dalam gedung menyesakkan paru-paru. ‘Itu dia!’ Setelah sampai di ujung tangga, tangan kanan bercakarnya mengepal, ia luncurkan pada daun pintu logam yang tertutup di ujung tangga. Sebuah pintu yang mengarah pada ruang pemilik gedung.
Blllaaaak!
Tinju Vampir muda berambut pirang membuat daun pintu kayu logam tersebut terbuka begitu saja. Ia mengkibas-kibaskan tangan kanan. “Sepertinya aku memang perlu banya berlatih,” gumamnya tersenyum memandang simbol ukiran darah dari gambar bintang segi lima lain. Tak seperti gambar-gambar yang di bawah, gambar di ruangan ini lebih besar – terpampang jelas di dinding ruangan.
Swuuuus!
Kabut-kabut hitam serupa asap mendadak muncul dari dinding bergambarkan pentagram, mengepul dan menyatu. Asap hitam pekat beraroma kematian, melayang menerjang John. “Apa yang dilakukan seekor Vampir di sini?”
Dlap!
Sang Vampir dengan mudah melompat menghindari asap tersebut. “Hooohoo... kau sudah dalam wujud nyaris sempurna. Setelah ratusan tahun, akhirnya kau bisa bernapas di dunia manusia lagi?” celetuk lelaki beriris mata abu-abu, memperhatikan asap hitam yang terus menggumpal.
“Nyaris sempurna, katamu?” Asap hitam pekat tersebut, semakin padat menggumpal – membentuk jadi siluet manusia tanpa rambut dan muka. Sekujur badannya berwarna hitam. “Kalau kau mencoba mencegah kebangkitanku, maka kau sudah terlambat, Nak.”
Lhuuwb!
Sepasang mata bersinar merah, menyala di wajah tanpa hidung dan mulut sosok hitam pekat tersebut. Dari badannya yang hitam, sesuatu seperti asap terus saja mengepul, muncul dari badannya. Makhluk yang entah apa itu, melangkah maju mendekati John. Setiap lantai yang ia pijak, retak seolah menerima beban ratusan kilogram.