Asal-usul Tinju Sang Musafir Hitam!

1246 Kata
(Gedung Terbengkalai, Sudut Kota New York.) Tes... Tes... Tess.... Air mata mengalir membasahi pipi Raihan, sebelum jatuh ke lantai usang berdebu. Pria berblangkon hitam yang baru saja menghancurkan entitas gaib hingga lenyap tak bersisa, membendung air mata. Rautnya jadi sedih begitu saja, seiring tubuh yang lemas gemetaran. “Huk... uhuk... huk...” Bruk.... Sang Musafir Hitam berlutut menghadap dinding ruangan yang retak. Tangan kanannya merenggut jantung yang terlapisi kain jaket hitam. “Huk... huk....” “H-hey?” John yang sempat takjub hingga tak bergeming, kini bergerak menghampiri Raihan. “Raihan? A-ada apa? Kenapa kau menangis?” tanyanya pada pria yang sesnggukan. ‘Apa dia mendapat luka setelah menghancurkan Umbracore?’ pikirnya ragu. “H-hey! Raihan!” Si pria pirang menggoyang-goyang tubuh lelaki bercelana hitam. “Hey!” “Huuaaa!” jeritnya histeris tak menggubris panggilan John. * (Beberapa bulan lalu, sebuah hutan di pedalaman Jawa Tengah, Indonesia.) Ki Panca dalam balutan gamis putih panjang serta sorban putih, berdiri menatap Raihan yang duduk semedi di atas batu sungai besar. Ia tersenyum lembut, menatap lelaki yang duduk diam menikmati guyuran air terjun. “Kau sudah mulai dewasa, ya...,” gumam Ki Panca lirih. Raihan Sang Musafir Hitam yang hanya mengenakan blangkon dan celana hitam pendek, membiarkan badannya diguyur langsung air terjun setinggi puluhan meter. Sudah lebih dari sebulan ia melakukan hal seperti itu setiap malam, tepatnya empat puluh satu hari ia melakukan tirakat di sana dan di waktu yang sama – tiap sepertiga malam. Wuss... wusss.... Dua sosok lelaki transparan muncul di samping kanan-kiri Ki Panca. Yang satu mengenakan busana adat Jawa Timur bercorak hitam, sementara satu yang di sisi kanan dibalut busana adat khas Tanah Pasundan warna putih. Wajah sosok pria berkumis dalam balutan baju hitam panjang, tak terlalu jelas karena binar cahaya yang terpancar di muka. Begitu pula dengan sosok berbusana putih yang memancarkan sinar meneduhkan dari wajah. Hanya saja, sosok berbusana ala sunda tak berkumis. Sosok berkumis dengan hidung mancung berkata lembut, “alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah... atas kuasa-Nya, dia dianugerahi bekal yang dia perlukan sebelum memulai pengembaraan di negeri seberang sana.” Sosok berbusana putih transparan di sisi kanan Ki Panca menambah, “atas kuasa-Nya, dia diberikan anugerah untuk melenyapkan segala jenis Jin yang pernah jadi lantaran maut manusia. Tapi, ajian ini hanya berlaku jika makhluk yang dituju pernah mencelakai lebih dari seratus orang manusia.” Ki Panca bertanya dengan raut serius, “apakah ada dampak buruk dari ajian ini, Den?” Sosok berkumis tipis menjawab, “setelah melancarkan ajian ini, batinnya merasakan kepedihan dan rasa penderitaan batin para manusia yang dibunuh oleh makhluk yang dituju.” Ki Panca manggut-manggut. “Apa ada lagi hal yang merugikan baginya?” “Insyaalloh tidak, sebab dampak perasaan para ruh yang akan ia terima juga bersifat sementara. Tetapi ingatan gambaran tentang kepedihan orang-orang itu, niscaya tetap membekas. Itu kenapa hanya orang-orang yang mampu mengheningkan diri, serta senantiasa ingat pada-Nya yang mendapat anugerah untuk menguasai ajian ini.” Ki Panca tersenyum memandang Raihan yang masih khusyuk bermeditasi. “Yah... semoga saja,” gumamnya lirih. “Mohon doanya, Mbah-Mbah sedanten,” pinta Ki Panca menoleh ke samping kanan-kiri bergantian. Setelah mengangguk, sosok berbusana hitam dengan blangkon menutup rambut bertanya kembali, “lalu akan disebut apa nama ajian ini?” “Karena dia sudah dikenal di kalangan manusia dan di kalangan sebagian bangsa gaib sebagai Musafir Hitam, mungkin pas kalau diberi nama, Tinju Sang Musafir Hitam.” * (Tiga hari kemudian, Kafe di Malam Hari, Kota New York.) “Pffft! Ahahahah!” John tertawa lepas usai mendengar cerita Raihan. Ia tak menyangka bila hal itu yang jadi sebab lelaki berblangkon hitam di sana menangis sesenggukan. “Hahaahah! Padahal, ahm... kau datang seperti pahlawan-pahlawan di film-film. Bisa-bisanya kau menangis seperti bayi setelah melakukan aksi heroik begitu! Hahahahah!” “Terserah.” Raihan dengan wajah tebal ala muka tembok mengambil sebungkus lisong dari saku jaket beserta sebuah korek gas. “Aku biarkan kau meledekku kali ini karena telah belikan aku satu kardus besar barang ini. Hahaha!” Pria bertuksedo hittam menyeruput secangkir americano tanpa pemanis di hadapannya. “Tapi kalau begitu, kau tidak bisa bertarung sejenak setelah memakainya, benar?” “Itu kenapa aku memintamu menghajar yang kecil lebih dulu. Karena masih awal, aku perlu waktu untuk mempersiapkan tenaga sebelum melakukan serangan itu,” ucapnya mngangkat secangkir kopi hitam tubruk khas Nusantara. “Lagi pula, aku juga tak menyangka perutmu bisa sampai berlubang begitu.” John menghela napas. “Aku bisa beregenerasi dalam waktu singkat jika meminum darah,” ucapnya lirih menaruh kembali cangkir ke meja kayu. “Tapi ngomong-omong, apa yang terjadi kalau aku dan Jeff Lincoln menerima seranganmu itu? Apa aku akan lenyap seperti makhluk itu?” tanyanya menatap pria berblangkon hitam. “Bagiku, kau dan Jeff sama seperti manusia yang memiliki ilmu gaib. Sepertinya, jika kalian aku serang saat berada di puncak perubahan... hasilnya akan sama. ” “Lalu... apa kau ....” John ragu menyelesaikan kalimat. “Menyembuhkan kalian agar kembali normal seperti manusia biasa? Itu juga yang kau ingin ucapkan saat di mobil waktu itu, kan?” terka Raihan usai mengisap sebatang lisong. Kafe ia berada, memperbolehkan para pengunjung untuk menikmati udud, itu sebabnya hanya ramai oleh banyak kaum pria saja. “Apa... kau bisa?” tanya John lagi lirih. “Entah, aku belum pernah meruqyah Vampir sebelumnya. Tapi ngomong-omong, sebenarnya makhluk apa yang menebar kutukan manusia serigala, ya?” “Aku tak tahu pasti, karena banyak sumber mitologi yang menyebutkan hal itu. Versi Yunani, versi orang-orang Nordik, versi suku pedalaman Amerika, dan banyak lagi.” Raihan menghela napas panjang, melirik pada lisong di tangan kiri. “Apa pun makhluk itu... nuansa energinya beberapa kali lipat lebih besar dari sosok kemarin yang kita lawan,” ucapnya lirih teringat pada sepasang sorot mata merah yang muncul tatkala ia coa meruqyah Jeff. “Ngomong-omong, apa orang-orangmu sudah menemukan di mana lokasi selanjutnya mengenai ritual itu? Lalu, soal pria bernama Jeff itu, apa kalian juga sudah menemukan lokasinya?” “Sejauh ini, kami baru memperkirakan beberapa tempat. Informanku menyebutkan bila, ada satu titik lagi yang harus kita periksa. Ia mencoba mengaitkan titik-titik di peta seperti yang kau lakukan sebelumnya. Dan kali ini, bentuk yang muncul adalah bintang segi enam.” Meniup asap dari mulut, Raihan mengerutkan dahi. “Benarkah?” Ia berhenti menyandar pada kursi. “Lalu di mana lokasinya? Kapan kalian menemukannya? Apa tidak sebaiknya kita segera bergerak?” “Lima puluh personil FBI dan CIA sudah mengawasi lokasi di sana. Mereka sudah menghapus simbol-simbol yang digunakan untuk ritual. Dan semenjak tibanya orang-orangku, tidak ada siapapun yang memasuki gedung-gedung kosong itu. Mereka juga tidak menemukan aktifitas paranormal di sana.” “Mmmmm... begitu, ya....” Raihan melirik ke kanan dan kiri. ‘Aku yakin, kalau makhluk bernama Umbracore itu memang disegel di gedung tebengkalai kemarin. Tapi, apa dengan menghapus simbol ritual di tempat penyegelan, mereka tak bisa memanggil makhluk itu agar menyeberang ke dimensi manusia lewat tempat lain lagi?’ renungnya menunduk. “Aku dengar, Tom dan Julius telah keluar dari rumah sakit,” ungkap John seraya mengangkat cangkir berisi americano pahit. “Mereka berdua pergi begitu saja ke wilayah New Texas.” “Mereka sudah sembuh?” Raihan mengaitkan alis. “Ya. Dan secara kebetulan atau tidak, mereka menemukan beberapa orang remaja yang meminta pertolongan di jalan.” “Maksudmu?” Raihan menggilis puntung ke asbak di meja. “Para remaja itu, bersaksi bila ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh warga sekitar. Tom bilang, ini berkaitan dengan salah satu makhluk di buku itu, makhluk yang konon berkaitan dengan Umbracore.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN