(Beberapa hari yang lalu sebelum penaklukan Umbracore, Jalan Kota New York.)
Sembari menyetir, John menoleh pada pria berblangkon hitam di sampingnya. “Jadi apa yang kau dapat setelah jadi kutu buku di perpustakaan rahasia kami, Tuan dukun muda?”
“Dahulu di masa abad pertengahan, ada begitu banyak penyimpangan yang dilakukan rakyat kerajaan. Dan sebagian besar, terjadi di belahan negara Eropa.” Raihan menghela napas. “Mereka mengabdkan diri pada para raja. Yang tanpa mereka ketahui, bahwa raja-raja yang mereka junjung, justru menyembah makhluk yang tak seharusnya disembah.”
“Makhluk apa yang kau maksud?” John mengerutkan dahi.
“Di buku yang kau titipkan kemarin, ada enam nama yang entah mengapa bagiku menarik. Umbracore, Nanom, Zubaba, Ferus, Zazel, dan Mal’un. Apa kau pernah dengar salah satu di antara mereka?”
Deg!
John tersentak mendengar nama-nama yang Raihan sebutkan, khususnya pada dua nama yang disebutkan barusan. “K-kenapa kau... maksudku, apa yang membuatmu curiga pada nama-nama itu?”
“Karena dari enam makhluk yang aku sebut ini, mereka memiliki satu kesamaan ritual. Sama-sama memerlukan tumbal manusia, dan mengharuskan pengikut mereka melakukan pembunuhan berkali-kali,” jawabnya megeluarkan sebungkus lisong yang ada di saku jaket. “Aku tahu kau ini Vampir, tapi kenapa mukamu jadi kelihatan pucat begitu?” ledek Raihan.
“Jika kita terlambat mencegah salah satu saja dari kebangkitan mereka... maka habislah sudah,” gumam John gelisah.
“Hehehhehh!” Pemuda berblangkon hitam justru terkekeh sambil menyalakan api. Tak lupa ia membuka jendela mobil agar asap tersapu keluar.
“Kau... tertawa? Apa semua orang Indonesia selalu tertawa ketika ada bencana begini?”
“Bwahhahahahah!” Raihan tertawa lepas. Saat ia mengisap udud khas negeri asal pemberian John, ia terbatuk. “Uhuk! Huk! Uhuukk! Hah... hahah...”
John memperlambat mobil saat antrian lampu merah terlihat di depan. “Kau bisa sesantai ini? Apa kau tak tahu kalau makhluk-makhluk itu dianggap Iblis karena bisa menyapu bersih manusia?”
“Uhhokh... uhuukk! Ahahaah! Hmmm....” Raihan menenangkan napas. “Alhamdulillah, ngakak Ya Alloh,” gumamnya lirih. “Dahulu, di sebuah pulau yang jarang dihuni manusia, di sana didiami berbagai makhluk-makhluk gaib. Tidak ada yang berani memasuki kawasan hutan atau wilayah yang masih gelap, karena jika mereka berani datang ke sana, maka dipastikan mereka tinggal nama – tewas seketika. Ada yang bilang, itu karena ulah manusia-manusianya yang memakan para pendatang, ada versi lain yang mengatakan, itu karena ulah makhluk-makhluk supranatural yang mendiami gunung, laut, dan hutan sekitar. Diakui atau tidak, pulau-pulau itu memang banyak dihuni makhluk-makhluk yang ada di luar pikiran manusia. Pulau itu, disebut Pulau Jawa.”
John melirik pemuda berjaket hitam parasit. “Maksudmu... negeri asalmu? Itu hanya dongeng, kan?”
“Hahahah.... yah, kebanyakan orang jaman sekarang menganggapnya dongeng semata. Tapi, kami para anggota Pusaka Nusantara, dan bahkan orang-orang LHA, sudah jelas melihat bukti kebenarannya.”
“Kalau benar begitu, apa yang membuat negerimu padat dihuni manusia sekarang?”
“Ada utusan dari kerajaan Turki yang datang ke Pulau Jawa. Dia, membuat perjanjian pada makhluk penguasa Pulau Jawa, agar bangsa-bangsa gaib tak lagi menganggu para pendatag, atau pun orang-orang untuk menyebarkan keyakinan. Dan setelah itu, beliau utusan kerajaan Turki ini memasang beberapa benda pusaka. Salah satunya disebut sebagai Rajah Kalacakra – sebuah batu hitam yang dipasangi doa, agar makhluk-makahluk bertabiat keji menyingkir. Benda ini pula, yang melemahkan kebanyakan makhluk gaib, agar tak mudah menyeberang ke dimensi manusia.”
Melihat wajah John yang masih tak percaya, Raihan melanjutkan, “Elizabeth pernah mencabut benda yang aku maksud ini agar kekacauan terjadi. Tapi beruntungnya, benda ini berhasil dipasang kembali. Aku, dan Titisan Sayap Hitam yang ikut menghadapi mereka saat itu.”
“Lantas kenapa kau tertawa?”
“Tiada daya dan kuasa selain dari-Nya. Jika makhluk itu bangkit sekali pun, bukan berarti kita tidak bisa melenyapkannya lagi. Meski begitu....” Raihan menghela napas. “Aku hanya mengkhawatirkan nyawa orang-orang jika ada kekacauan seperti di Indonesia beberapa tahun lalu.”
“Jadi maksudmu....” John kembali tancap gas saat lampu merah beralih ke hijau. “Kau yakin bisa mengalahkan mereka meski semuanya bangkit?”
Raihan tersenyum kecil. “Aku? Heheh... tentu tidak.”
“A-apa?” John heran sekaligus kesal.
“Bukan aku, tapi DIA yang akan membereskannya lewat perantara yang dikehendaki-Nya. dan kita, barangkali jadi salah satu perantaranya.”
John tersenyum kecil. “Kau lebih menarik dari yang kukira. Baru kali ini aku bertemu lelaki yang tenang menghadapi makhluk-makhluk seperti mereka.”
“Sebenarnya ada banyak orang sepertiku, bahkan lebih baik lagi. Oh, dan soal tertawa ketika menghadapi musibah, itu juga hal biasa bagi kebanyakan Musafir yang sudah mencapai ketenangan jiwa.”
“Sungguh?” John melirik Raihan sinis.
“Menertawakan kebodohan diri sendiri, sebenarnya juga sudah jadi bagian masyarakat Nusantara sejak dulu. Kenapa? Karena dunia ini hanya senda gurau. Kehidupan kekal yang sebenarnya, ada setelah kematian.”
John termenung sejenak, memikirkan kata-kata Raihan yang masuk ke relung kalbu. ‘Dia ini... bijaksana, atau bodoh?’
“Ahahahahah!” Raihan yang mendengar apa yang John pikirkan tertawa usai mengisap sebatang lisong di tangan. “Diogenes dan Aristoteles juga disebut tidak waras, kan? Itu karena, orang yang tidak waras sanggup tertawa ketika ditimpa kemalangan dunia, sementara orang-orang yang menganggap diri mereka waras justru menangis saat sesuatu tak berjalan sesuai kemauan mereka.”
“Itu sebabnya kau bisa tenang walau istrimu sedang terbaring di rumah sakit sekarang?”
“Kami menyebutnya, Qodarullah – sesuatu yang sudah jadi bagian dari kehendak dan ketetapan-Nya. Manusia hanya bisa berupaya tanpa memaksakan hasil sesuai kehendak diri.”
Lagi-lagi John tertohok mendengar kalimat Raihan. Ia tak menyangka, bila lelaki yang justru tersenyum disebut sebagai dukun ini, memiliki pengetahuan filsafat di atas rata-rata. “Kau benar-benar menarik, Raihan,” gumamnya lirih, tersenyum menatap jalanan yang mulai landai.
Raihan meniup asap dari mulut. “Kembali ke topik, apa kau sudah tahu apa saja kelemahan enam makhluk yang akan dibangkitkan ini?”
*
(Masa kini, gedung terbengkalai New York.)
Sosok manusia hitam tak berhidung menggeser badan sedikit, dari perutnya muncul tentakel besar nan tajam. Makhluk berusia ribuan tahun tersebut menusuk perut pria pirang bertuksedo dengan tentakel tersebut.
Blaaawg!
“Uhhuuhgh! Uhaaagh!” John muntah darah ketika tubuhnya terpasung di dinding beton. “Haaaargh!”
Makhluk bermata merah berjalan menghampiri lawan. “Kau hidup berkat kekuatan yang ditakuti manusia. Bagaimana mungkin kau berharap menang melawan sesuatu yang juga ditakuti manusia?”
John mengibaskan cakar kirinya pada tentakel besar yang menancap di perut. “Haargh!”
Srrak!
Setelah tentakel tersebut terpotong, John mengatur napas. Mata abu-abunya waspada menatap lawan yang berhenti berjalan. “Ini... sudah bukan lagi masanya! Kau yang sudah terlupakan, seharusnya tidur saja selamanya!” seru John melesat merogoh sebuah cat semprot botolan ke wajah lawan.
Classs!
Lagi-lagi tentakel hitam melesat keluar dari perut makhluk hitam pekat, menusuk menghancurkan botol yang John lempar. “Kau pikir cukup bagi satu orang Vampir untuk mengalahkanku?”
Splaat! Splaat!
Dua tentakel milik sang monster menjerat lengan pria bertuksedo hitam, memojokkannya kembali ke dinding kuat-kuat hingga temboknya retak. “Bahkan seratus Vampir sekali pun belum tentu bisa menggores aku yang abadi ini!”
“Uhhoogh!” John kembali memuntahkan darah. Tulang belakangnya terasa retak, mati rasa sebagian. “K-kau!”
Grep! Grep!
John menancapkan cakar tangan kanan-kiri ke tentakel hitam lawan, sejurus kemudian memijak dinding di belakang guna melesat maju menerjang sasaran. Sembari melontar ke depan, ia meremas tentakel menggunakan kedua tangan, mengakibatkan anggota badan lawannya putus.
Krrak! Krraak!
“Haaagh!” Di awang-awang, John menyatukan telapak tangan terbuka guna menerjang makhluk hitam tak bermulut.
“Percuma!” serunya memanjangkan kedua tangan guna mencengkeram pundak John.
Sang Vampir memijakkan kaki pada tentakel lawan, kemudian berguling di lantai ruangan. Cepat ia merogoh saku, melempar sebuah botol semprot bening berisi air yang tersisa. “Ini dia!”
Pyaaar!
Umbracore membelokkan dua tentakel di perut. Satu menusuk punggung John dari belakang, satu menusuk memecahkan botol kaca berisi air bening. “Haaaaaaargh!”
Saat tubuh hitamnya terkena cipratan air, makhluk bermata merah mengeluarkan suara memekik. Kulit hitamnya mencair, begitu pula dengan tentakel di perut. “Hwaarggh! Apa ini!”
John yang bibirnya merah karena muntahan darah, tersenyum tanpa menampakkan gigi. “Itu? Orang itu bilang... itu sisa air wudhu!” seru si pria mancung melesat menghunuskan cakar kanan ke jantung lawan.
Jlep!
“Hwaaaaarrrkh!” Dirasa jantungnya terluka, makhluk hitam botak tanpa bulu melompat mundur dengan sisa tenaga. Ia menoleh ke lantai di mana kulit hitamnya terus mencair seperti oli hitam yang berceceran. “Hwahahahaharkh!”
Setelah mengamati tangan kanannya yang berlumur cairan hitam misterius, John memandang hernan lawan. “Kenapa kau tertawa?”
“Tunggu pembalasanku, Vampir cilik! Kau yang baru berusia ratusan tahun, tak akan punya kesempatan kedua untuk melawanku yang puluhan kali lebih tua darimu!” Tubuh makhluk tersebut menyusut, menjadi seukuran bola bowling yang terbakar api hitam.
‘Itu dia!’ Sang Vampir pirang mengayuh kedua kaki menghampiri lawan. ‘Makhluk-makhluk ini hanya bisa dikalahkan saat dalam wujud asli mereka!’
Drap drap drap dlap!
John lagi-lagi melompat, mengarahkan cakar kiri kali ini. “Haaaagh!”
Swuuuss!
Dengan mudahnya, bola api hitam tersebut meliuk di awang-awang menghindari serangan lelaki bertuksedo hitam. “Kau tak akan bisa membunuhku! Gwaharkhahahahahah!” Makhluk serupa kemangmang hitam, melayang keluar menjebol jendela kaca.
John meringis, terkekeh lirih menahan sakit pada perut yang berlubang. “Ya... sepertinya kau benar. Bukan aku yang bisa mengalahkanmu, tapi orang itu,” gumamnya terduduk lemas. Celana hitamnya basah akibat cairan hitam hasil dari kulit lawan yang mencair, sekaligus basah karena darahnya sendiri.
Baru beberapa detik sang bola api hitam melayang keluar, ia kembali masuk ke dalam ruangan di mana John berada. “Gwaaakh! Apa yang terjadi! Kenapa ada kubah padat bermantra di sekeliling bangunan ini!”
Dlap!
Raihan Abdi Pangestu melompat masuk dari jendela yang sang makhluk gaib pecahkan barusan. Pria berblangkon tersebut, masih saja menjepit sebatang lisong di tangan kanan. “Wahh, Vampir itu masih bisa duduk santai meski perutnya bolong, ya? Berarti di film-film itu bohong, dong?” celetuknya mengamati luka fatal di perut pria pirang bertuksedo hitam.
“K-kau! Siapa kau!” seru makhluk berapi hitam.
Mengisap lisong dalam-dalam, Raihan mengerutkan dahi. “Lah, deneng kaya kemangmang? Tapi kok genine ireng?” gumam Raihan heran.
“Kau... kekuatan apa ini? Siapa kau!” Sang makhluk berwujud bola api hitam melayang rendah, menjauhi Raihan dan John.
“Yang aku baca dari buku, katanya kalian ini enam bersaudara, ya?” tanya pemuda berblangkon hitam sembari membuang puntung udud ke lantai. “Kalau dilihat, sepertinya kau yang paling bungsu, benar?”
“Manusia tak tahu diri! Siapa kau berani bicara pada makhluk yang derajatnya lebih tinggi ini!”
Pria berjaket hitam parasit menghela napas. “Hey... hey... hey....” Raihan meregang-regangkan jemari kanan-kiri, membunyikannya. “Aku tak tahu, dari apa khalifah sebelum manusia diciptakan. Tapi, saat ini manusialah makhluk paling sempurna!”
Dlap!
Raihan melesat cepat, menendang bola api hitam tersebut ke dinding ruangan. “Haaagh!”
Blaaaawg!
Meski masih berputar-putar karena daya tendangan kuat Raihan, makhluk tersebut tetap berada di tembok yang sudah cekung. “K-kau... kau tak menggunakan sihir kitab itu! Tidak ada sebelumnya manusia yang bisa melawanku tanpa sihir hitam! Siapa kau!”
“Oooohh... pantas! Mainmu kurang jauh, Mbah.” Raihan berjalan mendekati bola api hitam di dinding. “Untung kau tinggal di negeri begini. Coba kalau tinggal di bumi Nusantara. Pasti usiamu tidaksampai seribu tahun!” serunya mengarik napas dalam-dalam.
“Hey! Raihan! Cepat bunuh dia!” seru John panik.
Paham bila nyawanya terancam, Umbracore berteriak, “t-tunggu! Tunggu sebentar!”
“Apa? Kau mau menawarkan diri jadi pusakaku? Atau mau mengikutiku?” Wajah Raihan jadi serius.
“B-benar! aku bahkan bisa jadi sumber kekuatanmu!”
Setelah merasakkan merinding di sekujur badan usai mengatur keluar-masuknya napas, Sang Musafir Hitam mengepalkan tinju kanan erat-erat. “Maaf... sumber kekuatanku cukup satu yang tiada duanya!” sahutnya melayangkan bogem kanan keras-keras pada bola api hitam. ‘Tinju Musafir Hitam!’ teriaknya dalam batin.
Blaaammm!
Dinding yang Raihan tinju retak hebat, retakan rambutnya menyebar seketika ke bagian gedung lain. Sementara sang bola api hitam, hancur berkeping-keping jadi abu hitam yang sedetik sempat bercahaya ungu. Jantung John agak tersentak melihat serangan dahsyat Sang Musafir Hitam hingga tanpa sadar ia menelan ludah.
‘O-orang ini... siapa orang ini sebenarnya!’ renungnya takjub.
*
(Masa kini, jalan Kota New York.)
‘Jadi... itu caranya melenyapkan makhluk berusia ribuan tahun?’
John mengangguk dari dalam mobil. Tangan kanannya memegangi gadget sembari mendekatkannya ke telinga. “Yah, meski orang itu menangis histeris setelah melakukan tinju sihir, tapi kemampuannya jauh di atas rata-rata anggota kita, bahkan lebih hebat dari kebanyakan anggota Pusaka Nusantara seumurannya,” sahutnya.
Drap drap drap drap drap!
Setelah seorang pria berjaket jeans bir pudar melesat cepat, bahkan sesekali melompati pejalan kaki di depan deretan gedung, Raihan si pemuda berblangkon hitam berlari di trotoar seperti mengejar. John yang berada di dalam mobil berteriak memanggil, “hey! Kau mau kemana! Hey!”
Tap!
Lelaki berjaket hitam parasit berhenti, menoleh ke belakang. “Kejar dia!” seru Raihan melompati moncong mobil, sejurus kemudian masuk ke dalam sedan yang John diami. “Orang itu, si Jeff!”
“A-apa?” John terbelalak.
Wiiiiiuuuuw.....
Sirine polisi terdengar mendekat, disusul dengan kemunculan tiga sedan putih biru khas polisi New York. “Target berlari lurus ke depan! Sejauh ini dia belum menyerang warga sipil!” ucap anggota polisi yang ada di bagian depan mobil menggunakan brick.
“Smith, kami menemukan target di dekat pusat kota. Jangan biarkan para polisi menangkapnya lebih dulu!” lapor John seraya menyalakan mesin kendaraan. Mata abu-abu dibalik kaca mata hitamnya fokus pada orang-orang bertuksedo hitam yang duduk di bangku belakang mobil polisi. “Bill Roods tidak main-main, dia benar-benar meminta polisi lokal Kota New York untuk bekerja sama,” imbuhnya tancap gas.
‘Apa? Jeff si manusia serigala itu di New York? Apa dia melepas alat pelacak yang dipasang ditubuhnya?’
“Tak ada waktu lagi! Segera kirimkan bala bantuan sekarang juga!” sahut John mematikan sambungan telepon. “Raihan, apa kau tak bisa menggunakan kemampuan khususmu untuk menangkap paksa orang itu?” tanyanya melirik pada pria berblangkon hitam di sebelah.
“Dia hanya sedang bingung. Kau sudah benar, kalau kita harus menangkapnya lebih dulu sebelum para polisi dan orang LHA,” sahutnya menenangkan napas. “Orang itu hanya perlu diajak bicara tanpa menggunakan kekerasan.”
John menggulirkan mata ke kanan. ‘Apa yang dia cari di kota ini?’