The Persuit!

2398 Kata
(Beberapa waktu lalu, Sebuah Apartemen, Kota New York.) Brak! Brak! Brak! “Nelson! Aku tahu kau di dalam!” Jeff yang dalam balutan jaket jeans biru pudar masih dengan ransel di gendongan punggung, menggedor-gedor pintu apartemen berkali-kali. “Tunjukkan dirimu, Nelson!” Brraak! Brraak! Brraakk! “Jika kau tak membukanya, maka aku yang akan masuk paksa!” Seru Jeff seraya menggedor-gedor pintu. “Aku bisa mengendus aroma kelammu dari sini, Nelson!” Tiga belas detik berlalu tanpa adanya jawaban. Hal tersebut membuat pemuda keriting berkulit gelap naik pitam, terlihat dari raut wajah dan lubang hidung yang kembang kempis. “Hrrgh!” Ia Mengepalkan tinju kanan erat-erat, sejurus kemudian menghantamkannya ke daun pintu hingga jebol. Brraal! Brrraal! Brrraal! Setelah tiga lubang tercipta di sana, Jeff melangkah mundur. “Hwaaargh!” serunya menendang daun pintu, membukanya paksa. Bllaam! Masih dengan napas berderu akibat emosi tak terkontrol, Jeff memperhatikan punggung seorang lelaki tua. Laki-laki berusia tujuh puluh lima tahunan dengan postur tegap. “Aku sudah bilang, masuk dan putar handle pintunya,” ucap sosok berambut putih tersenyum ramah seraya memutar kursi menghadap Jeff. “Kau....” Jeff tertegun sejenak melihat pria tua yang dikenalinya. Lelaki yang merupakan bos tertinggi di dunia hitam yang ia kenali dahulu. Pria dalam balutan tuksedo abu-abu tersenyum kemudian menyapa, “lama tak berjumpa, Jeff....” “Apa yang kau laukan di sini, kau tua bang-” Psiuw! Sang pria bercelana abu-abu panjang menembak dengan benda yang semenjak tadi ia pegang. Alat penembak laras pendek di tangan, dilengkapi peredam suara. “Peluru khas LHA berdosis tinggi. Kau tak akan bisa berubah jadi makhluk yang meneror kota, atau pun bergerak untuk beberapa saat,” ucapnya santai ketika timha panas yang ia lontarkan tepat mengenai perut sasaran, membuatnya terdiam meraung kesakitan. “Kau memang sudah seperti serigala, ya? Harus ditembak agar mau diam dan mendengarkan.” “A-apa yang kau lakukan! Apa k-kau... terlibat juga dengan LHA!” bentaknya tak mampu bergerak. Sekujur badan Jeff dirambati rasa nyeri sekaligus kesemutan. “Tenanglah, Jeff. Kau sudah pernah mengenalku, kan?” Ia bangkit, berjalan pelan menghampiri Jeff. “Aku sudah pensiun dari dunia hitam. Aku sudah tak berjualan obat-obatan atau pun menjalankan bisnis penggulingan orang-orang penting negeri ini.” “Apa maumu!” seru Jeff mendelik. Keringat dingin mulai bercucuran dari dahi si pria berjaket jeans. “Kau pasti datang ke sini karena mengira bahwa, Nelson yang meminta Nicole untuk mencelakai keluargamu, kan?” terkanya menyimpan kembali alat penembak ke dalam saku. “Hrrrrgh....” Jeff mengeratkan gigi, menahan nyeri. “Ini semua, ada di luar ekspetasi kita, Jeff.” Ia jongkok menyetarakan tinggi badan dengan pemuda yang mengalirkan darah dari perut. “Aku juga mencari Nelson. Tapi nyatanya, apartemen ini sudah tak lagi dihuni. Mungkin, dia sudah pergi beberapa minggu lalu,” imbuhnya memandangi perabotan sekitar yang berdebu. “Katakan apa maumu!” serunya jengkel. “Aku tahu bagaimana caranya membalaskan dendam atas kematian keluargamu pada Nicole, serta siapa yang menyuruh Nicole.” Jeff mengerutkan dahi, hatinya dipenuhi rasa tak percaya. “Dusta!” serunya. “Nicole pasti pernah berkata, kalau dia membunuh keluargamu karena ingin menyelamatkanmu, benar?” Pria keriting berjaket jeans sejenak hening. Telinganya siap mendengar kalimat lanjutan dari sang mantan bos besar dunia hitam Kota New York. “Teruskan!” “Dia tidak berbohong soal itu,” ucapnya menatap jendela yang dirambati sinar mentari. “LHA saat ini ingin menguasai Amerika secara sepenuhnya. Mereka, ingin menjadi dewa yang mengendalikan semua hal, tak terkecuali bisnis-bisnis keluarga yang kujalani.” Ia menghela napas lirih. “Meski aku sudah pensiun, bagaimana aku bisa tenang kalau anak-anakku yang bergerak sebagai penerus, justru merengek karena diganggu oleh orang-orang itu?” “Kau mau aku menghancurkan LHA?” tanya Jeff bernada tinggi. “Tidak, Jeff. Tak layak saudagar kaya meminta seorang petani merobohkan gunung. Kau perlu kekuatan yang lebih besar untuk itu.” “Jangan berbelit dan katakan maumu dengan jelas!” Kembali jongkok, ia menempelkan telapak tangan pada pipi Jeff. “Kau bukanlah manusia serigala yang bisa dibunuh hanya dengan peluru perak atau pun ditikam jantungnya. Kau lebih dari itu, Jeff.” “Apa maksudmu!” “Kau adalah manusia yang bisa berubah jadi sang peneror kota kapan pun dan di mana pun kau mau. Kau tak perlu sinar bulan untuk berubah, meski hal itu bisa memperkuatmu.” Tangan kiri lelaki berambut uban merogoh sesuatu dari saku tuksedo abu-abu. “Omong kosong apa yang kau ucapkan!” “Ahahahah... aku sudah menduga. Kau yang sudah berubah jadi makhluk seperti itu saja masih tidak mempercayainya, apa lagi aku yang kau kenal sebagai manusia logis dengan perhitungan matematis, benar?” terkanya tersenyum santai. “Tapi percayalah, Jeff. Setelah berurusan dengan orang-orang LHA, aku banyak menjumpai teror sebenarnya dari kegelapan yang tak banyak orang percaya. Salah satunya? Iblis itu nyata!” Ia mengeluarkan sebuah jarum suntik dengan tangan kiri, mengutusnya tuk menusuk perut Jeff di mana bekas luka timah panas berada. Jlep! “Hwaaaaargh!” Jeff meraung kesakitan. Gigi taringnya memanjang dengan iris mata yang mulai kuning. Wwwiiiuuuuw! Sirine mobil polisi terdengar dari bawah gedung. Lelaki bertuksedo abu-abu berdiri dan kembali duduk di sofa putar. “Polisi lokal dan orang-orang LHA sedang datang kemari. Aku memanggil mereka dan menggunakanmu sebagai alibiku agar tak dicurigai,” ungkapnya tenang. “Cairan barusan adalah penangkal peluru itu. Kekuatan shapeshifter-mu akan pulih beberapa menit lagi. Dari pada kau mencoba menyerangku, sebaiknya kau per-” Grepp! Jeff melesat meraih ujung sofa si pria tua. Hanya dengan satu tangan, ia melempar lelaki bertuksedo abu-abu keluar jendela beserta kursi empuk tersebut. Prraang! Pria berjaket jeans menggeram lirih, mengintip ke luar jendela guna memastikan lelaki tua. “Aku tak sudi jadi pion siapa pun lagi!” gerutunya kesal. Ekor matanya sekilas menangkap sebuah gadget yang tergeletak di lantai pinggiran dinding. Ia sontak meraih mengambil benda yang ia yakini sebagai alat komunukasi milik pria tua yang baru ia lempar keluar. Jeff menarik napas dalam-dalam, kemudian menerjang jendela. Ia melompat keluar gedung, nekat terjun dari ketinggian tiga lantai. Otot pada kaki dan tangannya muncul, dengan daging padat yang bertambah bak binaragawan. “Haaargh!” Beberapa saat sebelum Jeff melompat terjun dari gedung, Raihan si pemuda berblangkon hitam terbelalak melihat seorang pria tua tergeletak meregang nyawa dengan luka fatal di bagian kepala akibat benturan nan keras. Mayat sang pria tua berbusana tuksedo abu-abu, tengah dikerumuni warga sipil sekitar yang penasaran. Beberapa polisi yang belum masuk ke gedung apartemen pun, lekas-lekas berlari mendekat, meminta kerumunan di sana tuk menjauh dari si mayat. Samar, Raihan mendengar salah satu polisi berkata lirih pada lelaki berbusana tuksedo hitam ala LHA, “dia Tuan Powel, benar?” Pria berkaca mata hitam dengan rambut cepak menyahut lirih, “sampaikan bila tak ada korban! Dan laporkan kalau-” Ucapannya terpotong tatkala ia menoleh ke atas, di mana Jeff si manusia buruan tengah melompat ke bawah. “Jeff Lincoln! Dia di sini! Cepat kirimkan bala bantuan!” Raihan yang tengah mententeng segelas kopi instan, menyipitkan mata memandang baik-baik lelaki berjaket jeans dengan ransel yang melompat turun, lanjut berlari menjauh. “Dia... si manusia serigala itu?” gumamnya melempar kopi yang baru ia beli ke tong sampah terdekat, sejurus kemudian berlari mengejar pemuda tersebut. ‘Powel? Apa dia orang penting? Kenapa LHA ingin menutupinya?’ * (Masa kini, Kota New York.) Ngwuuung! Raihan yang sudah duduk di dalam mobil sedan bersama John, melaju mengejar pria berjaket jenas dengan ransel di punggung. Lelaki yang pernah berubah jadi manusia serigala sempurna, mengayuh sepasang kaki di trotar jalan, melewati para pejalan kaki di hadapannya. Ia bahkan sesekali melompat tinggi saat ada orang-orang yang berjalan lambat sehingga memblokade jalan tanpa disengaja. “Dia tertembak oleh peluru khusus dari orang-orang LHA. Itu kenapa kekuatannya tak maksimal seperti beberapa hari lalu.” “Bagimu mungkin itu wajar, tapi bagi orang-orang sekitar, dia itu monster berwujud manusia. Pasti internet akan gempar lagi dibuatnya,” gerutu John terus menyetir. “Pergi kemana kau, serigala kecil?” gumam John lirih sembari memperlambat laju mobil saat Jeff melompat – merayap naik ke sebuah dinding beton bangunan pinggir jalan setinggi delapan meter. Raihan menggulirkan mata ke kanan-kiri. Tatapannya terhenti saat melihat sebuah masker hitam di dashboard mobil. “Kau cari jalan pintas dan menyusul dengan mobil!” pintanya mengenakan masker hitam, sejurus kemudian mengambil kaca mata hitam John. “Aku pinjam ini sebentar, ya!” ucapnya lagi membuka pintu mobil cepat-cepat. “H-hey!” Pria pirang mancung bertuksedo hitam berdecak kesal. “Tak heran Tom dan Julius kesal pada tindakan mendadakmu,” gumamnya geleng-geleng, memandang Raihan yang menyusul Jeff memanjat gedung. Dlap! Dlap! Dlap! Raihan yang kini mengenakan kaca mata hitam dan masker kain hitam, melompat memanfaatkan beton yang menonjol pada bagian bawah jendela gedung. Ia terus melompati beton-beton gedung tersebut satu persatu guna mencapai puncak bangunan. Telah mengasah tenaga dalam serta memperdalam ilmu Silat harimau, membuatnya mudah mengejar sang manusia serigala berbadan pria biasa. “Sebenarnya siapa pria yang dibunuhnya tadi?” pikir Raihan melompat ke atas. Tangan berotot dalam balutan lengan jaket hitam parasit berhasil menggapai ujung rooftop. Jeff Lincoln menoleh ke atas belakang, di mana deru baling-baling helikopter terdengar mengganggu. “Grrr....” “Jeff! Jeff Lincoln!” seru Raihan dari balik masker hitam seraya naik ke lantai rooftop. “Kau seharusnya masuk ke gorong-gorong kota untuk kabur dari kejaran mereka,” ucapnya memberi saran sembari berjalan mendekati pria kriting bertas ransel. Hidung pria mancung itu berdengus, memastikan aroma badan lelaki yang pernah mengejar sekaligus menghajarnya ketika ia berubah jadi wujud monster beberapa waktu lalu. “Pergi!” bentaknya kembali meluruskan badan ke ujung gedung, bersiap melompat ke gedung lain yang berjarak belasan meter. Dlap! Dalam satu pijakkan kaki saja, Jeff Lincoln melompat melalui jarak pemisah gedung. Setelah mendarat di gedung lain, ia lanjut mengayuh kedua kaki. Bermaksud mengulangi gerakan barusan lagi. Ia menggeram, mengeratkan deret gigi atas dan bawah saat deru baling-baling helikopter kian dekat. “Grrr!” Dlap! ‘Raihan! Raihan! Kau dengar?’ Jam tangan hitam digital yang ia kenakan pada pergelangan tangan kanan berbunyi. ‘Aku masih tidak yakin harus menggunakan tasbih itu di sini. Apa lagi hanya untuk main kejar-kejaran begini,’ batin Raihan. Pemuda berkaca mata hitam menghela napas, menatap Jeff yang terus melompat dari satu gedung ke gedung lain. “Ya, masuk.” Matanya menyipit memandang sebuah jembatan yang membentang di atas air bak jembatan Suramadu, tetapi lebih pendek. ‘Hati-hati pada sorotan kamera dari helikopter! Kau tak mau jadi selebriti dadakan karena disangka membantu manusia serigala kabur, kan?’ “Itu sebabnya aku pinjam kaca mata dan maskermu,” jawabnya bersiap melompat ke gedung lain di depan. “Orang itu sepertinya pergi ke arah jembatan di depan.” ‘Tunggu. Jembatan mana? Broklyn atau Manhattan?’ Raihan menoleh ke depan. Ia baru menyadari bila ada satu jembatan lain di sisi kiri. “Hmmm...” Ia jongkok, lanjut memijakkan kaki kuat-kuat dan melalui jarak belasan meter guna mendarat di rooftop gedung lain. Dlap! Ia mendongak ke langit biru setelah mendarat. “Jembatan yang ada di sisi kananku. Saat ini aku menghadap ke arah selatan.” ‘Mengerti! Jembatan Broklyn!’ sahut John paham. * Dor dor dor dor! Drrrrt! Di siang nan terik, Jeff Lincoln dihujani timah panas oleh belasan pria berseragam polisi komando khusus. Orang-orang yang mengenakan rompi anti peluru hitam, berjajar rapi menodongkan alat penembak laras panjang pada pria berambut kriting yang terus berlari mendekat. 'Otot dan tulangku masih lemas karena dampak peluru tadi, tapi lukanya sudah mulai rapat.' Ia melompat, menerjang salah satu penembak terdekat di ujung gedung depan. "Grrrawgh!" Ia tanpa ragu menancapkan kuku-kuku tajam ke perut lawan, sejurus kemudian menjadikannya tameng dari peluru yang menghujam ke arahnya. "Hwaargh!" Lelaki yang Jeff jadikan sebagai perisai hanya mampu menjerit merasakan belasan timah panas yang menerjang sekujur badan sebelum meregang nyawa. "Serahkan dirimu!" seru salah satu petugas seraya bergerak memutari Jeff, disusul beberapa anggota keamanan lain. Mata Jeff melirik ke bawah, di mana jalan raya dilalui berbagai macam kendaraan. "Berhenti mengejarku!" serunya melempar mayat yang ia pegang ke salah satu lelaki beralat penembak laras panjang, sejurus kemudian ia melompat turun ke bawah. Dlap! Jerit histeris para pejalan kaki ramai berkumandang tatkala pria berjaket jeans melompat terjun ke bawah. Sang pria keriting berkekuatan manusia serigala tersebut, mendarat tepat di sebuah atap mobil taxi kuning, membuatnya berhenti mendadak – tetapi tak mampu menyingkirkan pria rambut keriting beransel yang erat berpegangan pada sisi atap mobil. Tap! Jeff melompat ke aspal, membuka paksa pintu mobil taxi tersebut. “Minggir!” serunya menendang sang sopir paruh baya hingga terjengkang keluar. Dor! Dor! Dor! Dor! Peluru-peluru kembali melayang ke arah taxi kuning yang Jeff tumpangi. Tanpa pikir panjang, ia memijak gas kuat-kuat, melajukan kendaraan menuju jembatan panjang nan lebar yang membentang di depan. Brrrum! Konsentrasi lelaki berambut keriting terbagi antara stir mobil dengan ponsel yang baru ia ambil dari saku. Jari tangan kirinya mengetik sebuah pesan, mengirimnya pada salah satu kontak di sana, sementara tangan kanannya mengemudikan stir guna menghindari tabrakan dengan mobil yang melaju tak begitu kencang di jalur jembatan. Dor! Dor! Dor! Dor! Empat butir peluru kembali meluncur, ditembakkan oleh beberapa anggota polisi yang mengejar menggunakan mobil. Taxi kuning yang Jeff kemudikan mulai oleng tatkala sebuah timah panas menembus melubangi ban belakang. “Daam!” gerutunya kesal. Ia menoleh ke perairan di bawah, di mana sebuah speed boat melaju kencang ke bawah jembatan. Greek! Ia banting stir, sejurus kemudian melompat keluar dan terjun bebas menuju permukaan air nan luas di bawah jembatan Broklyn. Melihat tindakan Jeff, lima mobil polisi yang mengejar mulai mengurangi kecepatan, berhenti tepat di belakang taxi kuning yang membentur pinggiran jembatan. Pria berkemeja abu-abu yang mengendarai speed boat, tercengang melihat Jeff yang terjun tepat hendak menimpa kapal yang ia bawa. “Dia bukan Boss!” gumamnya merogoh – mengambil sebuah alat penembak laras pendek dari saku belakang, kemudian mengarahkannya pada si pria gelap berjaket jeans. Crrraak! Jeff lebih dulu menggoreskan cakar tajam tangan kanan ke wajah sang pengendara speedboat. Ia merebut kendali kapal motor berwarna putih biru, kemudian menjatuhkan pria mancung yang baru saja ia bunuh ke perairan. Raihan Abdi Pangestu yang baru tiba di ujung jembatan Brokyln, menghela napas melihat Jeff menggunakan jalur air tuk kabur dari kejaran para polisi. “John, kau di mana?” tanyanya mendekatkan jam tangan digital ke mulut. ‘Sembunyi dulu! Jangan sampai mereka menangkapmu! Aku akan temui kau di gedung awal tadi.’ “Dia berhasil lolos. Apa kau punya cara untuk mengejarnya?” ‘Biarkan dia pergi. Tom baru saja menelponku. Sepertinya dia menemukan saudara bola bowling berapi yang kau hancurkan beberapa hari lalu.’
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN