Pasukan Chupacabra!

2167 Kata
(Dua belas jam lalu, malam hari di belahan Texas.) Tom dan Julius duduk santai. Pria mancung bertuksedo hitam mengamati pinggiran jalan nan sepi tanpa bangunan secuil pun di sekitar. “Kau yakin ini tempatnya?” “Aku ingat betul jika tempat yang aku lihat di mimpi semalam, adalah desa pamanku tinggal,” jawab pria botak berkemeja biru. “Tapi kenapa kau tak mau bilang pada Raihan kalau kau sering mendapati mimpi soal makhluk-makhluk ini?” John merogoh saku, mengambil sebungkus lisong khas amerika dari sana beserta korek gas-nya. “H-hey? Sejak kapan kau mulai....” Tom menghela napas, enggan memperhatikan sang sahabat yang mengisap lisong. “Aku tak mau membeberkan hal yang belum pasti.” “Tapi mimpimu soal ritual yang menewaskan keluarga Jeff dan ritual di hutan New Jersey, benar-benar terjadi, benar? Kenapa kau lebih suka jadi kelinci uji coba tentang mimpi burukmu sendiri?” sahutnya mengisap lisong, sedikit membuka jendela samping mobil. “Aku hanya....” Tom menyipitkan mata tatkala dua mobil sedan hitam memblokade jalan jauh – tiga puluh meter di depan mereka. “Ahh, sepertinya Charlie benar. wilayah Texas ini, dijaga ketat oleh orang-orang LHA,” gumam Tom mulai meraba kantung baju. Ia mengambil sekeping kartu identitas keanggotaan bodong. Namanya di sana tertera Steve Harvey. Ciiitt.... Pria botak gelap menghentikan mobil di depan dua sedan yang memblokade jalan. Ia melangkah keluar menenteng kartu identitas palsunya. “Steve Harvey, divisi penyelidikan arkeolog kuno,” ucapnya menunjukkan kartu identitas pada seseorang yang ada di bagian depan sedan hitam penutup jalan. Tidak adanya respon dari orang-orang di dalam mobil, membuat Julius keluar dari kendaraan, menghampiri Tom dari belakang. Ia mengambil ponsel, menelpon seseorang. Setelah telpon tersambung, ia berkata, “Yang Mulia Elizabeth, sepertinya ada anggota lapangan yang belum mengenal wajah kami. Mereka menutup jalan dan tak membiarkan kami lewat.” Ckriiik.... Jendela depan salah satu sedan berlogo LHA terbuka. Tampak seorang pria berblangkon duduk tenang memperhatikannya – lelaki yang pernah mengejar Jeff Lincoln sang manusia serigala. “Oh, kau ini divisi arkeolog, ya?” tanyanya membuka pintu. Dari pintu yang ia buka, mayat seorang anggota LHA yang masih mengucurkan darah di leher, terjuntai keluar mobil. “Kebetulan sekali... sepertinya kau juga punya kaitan dengan perempuan berjuluk si penyihir merah.” Julius melepas kaca mata hitam, memperhatikan wajah pria berkumis tipis dengan blangkon di kepala. “Siapa kau?” Tom terbelalak, mengingat seuah foto dari anggota organisasi khusus asal Indonesia. “Kau... anggota Dewata Nawa Sanga?” “Wah? Kau mengenalku? Apa aku sudah terkenal di kalangan LHA?” Pria berusia tiga puluh lima tahunan mengerutkan dahi. “Yah, berhubung kau sudah tahu, jadi aku harus-” Dor! Dor! Dor! Julius membuang lisong, lanjut mengambil alat penembak dari saku belakang. Pria mancung pirang kemudian meluncurkan tiga timah panas ke arah pria berblangkon dalam balutan busana hitam panjang. “Tom! Kembali ke mobil! Sekarang!” serunya panik setelah sasarannya menepis tiga butir peluru dengan keris luk lima di tangan. Setelah pria botak berkemeja biru masuk ke dalam sedan, Julius terus menembaki sasaran seraya berjalan mundur ke belakang. “Nyalakan mesinnya!” Brrruum! Brrum! Kaca jendela sedan hitam dari mobil pemblokir jalan satunya terbuka. Terlihat pria dngan wajah idol orea dari sana. “Kau lihat? Kau terlalu berlagak! Padahal kau bisa menikamnya langsung! Apa harus aku yang bergerak?” Greb! Julius duduk di bangku depan sembari melontarkan belasan timah panas susulan meski semuanya ditepis sasaran. “Tabrak mereka! Sekarang!” perintahnya memaksa Tom melajukan mobil ke depan. Brralll! Ia berhasil melaju setelah menabrak moncong depan mobil yang memblokir jalan. “Dewata Nawa Sanga? Mereka juga di sini?” Julius melihat orang-orang tak dikenal lewat spion samping kendaraan. “Bukankah itu organisasi yang juga mengumpulkan benda-benda antik dari Indonesia? Mereka itu musuh bebuyutan Pusaka Nusantara, benar?” Tom terus meenginjak gas, tak mau mengurangi kecepatan sedikit pun meski dua orang tadi tak mengejar sama sekali. “Mereka... apa ada kaitannya dengan LHA?” “Kau sendiri yang bilang kalau beberapa anggota organisasi itu membelot dan bekerja sama dengan Elizabeth. Tapi tadi, sepertinya mereka berdua menghabisi orang-orang LHA.” “Lelaki bernama Tarmoyo yang dulu bekerja sama dengan si penyihir merah sudah tewas. Dan yang tadi itu... Damar. Petinggi LHA ke-tujuh yang pernah bertarung melawan Sang Sayap Hitam,” ungkapnya terus tancap gas. “Orang tadi, bertarung melawan manusia bersayap yang turun dalam peperangan beberapa tahun silam?” Pria mancung bertuksedo hitam menghela napas. “Tanpa Raihan kita tak akan bisa menyentuhnya,” gumamnya lirih. “Lalu apa kau kenal pemuda yang satunya?” “Wajahnya tak terlalu tampak. Tapi kalau dia juga anggota Dewata Nawa Sanga, artinya ada yang mereka incar dari LHA,” terka Tom yakin. Melihat ada sesuatu yang tergeletak di tengah jalan, lelaki botak berkemeja biru spontan banting stir. Tak mau mobilnya menabrak pohon di pinggir jalan, ia menginjak rem kuat-kuat. Ciiiitt.... “Apa lagi sekarang!” gerutu Julius spontan. Keterkejutan membuatnya tersengal berkeringat dingin. Tom keluar dari mobil, meraih senter dari dashboard. Matanya terbelalak melihat tiga orang pemuda yang tergeletak tak berdaya. “Apa-apaan ini? Apa yang terjadi?” Julius menghampiri, jongkok dan memperhatikan luka di sekujur badan tiga pemuda berusia sembilan belas tahunan. ‘Luka ini....’ Masing-masing badan dari tiga pemuda berjaket biru gelap, dipenuhi luka cakar seperti ulah hewan buas. Hanya satu yang masih bernapas lemas dengan wajah pucat, sementara dua lainnya tak lagi bergerak bahkan sudah terbujur kaku tanpa nyawa. Bisa jadi karena luka gores yang begitu dalam di leher masing-masing. “Apa ini ulah dua orang di belakang tadi?” tanya Tom lirih. “Cepat! Bawa yang masih hidup! Kau bilang pamanmu bekerja di rumah sakit, kan? Ayo cepat!” perintahnya membopong pemuda berjaket biru gelap ke bagian tengah mobil. * (Enam jam kemudian, ruang tunggu sebuah rumah sakit, belahan Texas.) “Paman Ben?” Sapa tom pada pria berambut uban yang berjalan mendekat. Lelaki yang sebenarnya mengenal baik Jeff Lincoln itu, tersenyum memeluk sang keponakan. “Aku tak menyangka bisa melihatmu setelah bertahun-tahun tak bertemu. Bagaimana kabar keluargamu?” “Aahh, baik,” sahut Tom. Ia menoleh menunjuk Julius yang berdiri tuk mengulurkan tangan. “Ini Julius, rekan kerjaku.” “Ohh, hai Tuan,” sapanya menjabat tangan. “Apa anak itu baik-baik saja?” tanya si pria pirang bertuksedo hitam. “Beruntung pembekua darahnya cepat. Dia perlu dirawat beberapa hari. Apa yang terjadi padanya?” Tom buka mulut, “kami menemukannya tergeletak di tengah jalan. Sepertinya dia terluka karena hewan buas.” Ben menghela napas. “Yah, sepertinya polisi harus lebih banyak berpatroli di sekitar hutan,” gumamnya. “Oh, ya... ngomong-omong aku hanya bekerja sampingan di rumah sakit ini. Karena sekarang, aku tinggal di sudut kota New Jersey. Sepertinya Tuhan memang mentakdirkan kita bertemu hari ini,” ucapnya tersenyum. “Kalian mau pergi ke mana?” “Kami hanya sedang ke-” Julius memotong kalimat Tom, “apa kau tahu sesuatu tentang desa yang mengalami kekeringan mendadak akhir-akhir ini?” Pria berkemeja biru melirik pada Julius. Tak biasanya kawannya ini blak-blakan pada seseorang yang bukan anggota FBI. ‘Kau....’ “Oh, aku paham,” sahut Ben singkat. ‘Aku kadang lupa, kalau keponakanku ini bekerja sebagai agen lapangan FBI,’ pikirnya sejenak. “Berdasar kartu identitasnya, anak yang kalian temui ini juga berasal dari tempat itu,” ungkapnya merogoh saku dari jas putih khas dokter. Lelaki berambut uban tersebut memegang KTP si remaja yang dirawat. ‘Apa mungkin dia terluka karena serangan para manusia serigala? Jika dilihat dari bekas lukanya, sepertinya ada kemungkinan.’ Julius menyangga dagu dengan jempol kanan. “Kalau begitu, ka-” Lagi-lagi pria pirang bertuksedo hitam memotong kalimat Tom, “kau tetap di sini dan awasi anak itu. Aku yang akan pastikan keadaan tempat itu.” “Apa hanya karena kau mulai mengisap lisong, kau pikir kau bisa seperti Raihan, huh?” Cet! Julius mengambil KTP dari tangan Ben. “Jika aku belum kembali siang nanti, kabari John dan Raihan untuk pergi menyusulku,” ucapnya melangkah pergi. * (Dua hari kemudian, jalan raya sepi Texas.) ‘Ada sesuatu yang mengganjal. Tapi, aku ta tahu apa. Atau ini firasat soal apa yang terjadi di tempat itu?’ Samil duduk bersandar di sisi John yang menyetir sedan, Raihan kembali menarik sebatang lisong dari bungkusnya. Tep! Tangan John menahan pemuda berblangkon ketika ia hendak menyalakan api pada ujung udud. “Kau sudah habiskan lima batang sejak kita berangkat. Apa kau mau ngos-ngosan saat berhadapan melawan makhluk di sana?” Raihan tersenyum simpul, melanjutkan aksinya membakar lisong di tangan. “Kalau kau mau lihat ronsen paru-paruku, kau boleh mengantarku ke rumah sakit setelah ini,” ucapnya mengisap lisong dengan hikmat. “Oh, jadi sihirmu juga bekerja agar paru-parumu tetap bersih?” tanyanya kembali menyetir menggunakan kedua tangan. “Aku dilatih untuk mengatur pernapasan. Dalam setiap embus napas seorang Musafir, dianjurkan untuk selalu menyebut nama-Nya. bisa dibilang, ini adalah suplemenku agar hatiku stabil mengingat-Nya. karena dengan mengingat-Nya, hal-hal tak kasat mata ataupun kemampuan yang kalian sebut sebagai retrocognition, precognition, dan sejenisnya bisa dengan mudah kulakukan.” John tersenyum. “Jadi begitu cara kekuatanmu bekerja, ya? Pantas saja kau bisa menghajarku habis-habisan di hutan malam itu.” “Hey... kau masih marah karena kesalah pahaman itu?” “Tidak. Hanya saja... apa yang terjadi kalau kau bertarung tanpa berbekalkan suplemenmu itu? Apa kau tetap bisa bertarung melawan makhluk-makhluk seperti malam itu?” “Suplemen hanya untuk membantu. Tapi sumber kekuatanku, tak bergantung pada itu.” “Ya, ya... baiklah. Aku paham,” ucap John menggeleng lirih. “Ahh, ngomong-omong Tom bicara soal pria bernama Damar – lelaki yang juga merupakan petinggi sebuah organisasi bernama Dewata Nawa Sanga. Apa kau mengenalnya?” “Apa?” Raihan mengernyitkan kening, menoleh pada John. “Apa Tom di rumah sakit karena diserang orang itu?” “Tidak. Mereka berdua menemukan seorang remaja yang terluka di jalan. Tom mengantarnya ke rumah sakit dan Julius melanjutkan perjalanan ke desa terpencil yang kita tuju.” “Kalau ada orang-orang Dewata Nawa Sanga di sini, artinya hanya ada dua kemungkinan; antara mereka mengincarku, atau mereka mengincar sesuatu di sini? Ah! Syabila!” gumam Raihan buru-buru merogoh mengambil ponsel. Ia menelpon nomor Iwan. Tuuut.... ‘Halo, Kang? Ada apa?’ sahut Iwan dari sambungan telepon. “Kau ada di mana? Apa Syabila sudah siuman?” tanya Raihan cepat. ‘Kami sudah ada di bandara. Sebentar lagi kami berangkat. Dan Syabila... dia masih terus diam dan tak banyak bicara. Sepertinya masih shock.’ “Tapi selain itu, tidak ada sesuatu yang terjadi, kan?” ‘Kami bertiga dikawal oleh orang-orang berjas hitam begini. Mana mungkin kami bakal kenapa-kenapa,’ celetuknya sebal. “Syukurlah....” Raihan menghela napas, kembali mengisap lisong di tangan kiri. ‘Sampean mau ngomong sama istri?’ “Ndak, Wan. Biarkan dia tenang dulu. Kalau begitu, kabari aku jika kalian sudah sampai,” ucapnya mematikan sambungan telepon. John menoleh. “Apa semua baik-baik saja?” “Ya.” Ia mensakukan ponsel ke saku jaket. “Ngomong-omong Julius masih memberimu kabar, kan?” “Dia masih asyik bermain sebagai mata-mata di desa itu. Dia bilang, sejauh ini semuanya berjalan seperti desa-desa terpencil lain. Hanya saja, kekeringan yang melanda di sana begitu hebat, sampai-sampai para warga harus memesan pasokan air dari kota. Padahal, tadinya desa itu cukup subur dan dipenuhi pepohonan.” “Kekeringan mendadak? Apa selain itu ada hal janggal lain?” “Setiap jam sembilan malam, Julius mendengar tentang dengungan seperti lebah atau lalat. Setiap ia ingin memeriksanya, kepala desa yang merupakan kepala desa, melarangnya. Dia bilang, sudah jadi tradisi untuk tetap diam di dalam rumah sampai matahari terbit. Dan hanya orang-orang pilihan yang boleh keluar.” Matahari mulai terbenam, membuat kegelapan menyelimuti dataran di mana Raihan berada. Suhu udara yang begitu panas karena gurun gersang sekitar yang ia lewati, mendadak berubah jadi dingin dalam sekejap. Raihan samar merasakan adanya sesuatu yang mengintai dari kejauhan. “Apa tidak ada pemukiman terdekat di daerah ini?” “Masih sekitar tiga belas kilometer lagi. Kenapa? Kau mau salat?” “Selain itu... sepertinya ada sesuatu yang menunggu kita di depan sana,” gumam si pemuda berjaket hitam seraya membuang puntung lisong ke jendela. Drap! Drap! Drap! Drap! Drap! “Grrrooourrgh!” Dari sisi belakang mobil, terlihat barisan serigala-serigala tanpa bulu tengah berlari mengejar. Mereka begitu kurus, seperti kucing sphinx. Tetapi taring mereka lebih panjang dari serigala pada umumnya. John menoleh ke spion samping mobil. “Chupacabra?” gumamnya melepas kaca mata hitam. Ia memastikan dengan sepasang mata abu-abunya. Drap! Drap! Drap! Drap! Drap! Dari depan, belasan sosok serupa muncul. Semuanya berlari lurus ke arah sedan yang John kemudikan. “Kita dikepung!” seru John panik. “Tabrak mereka,” anjur Raihan santai. Brruuumm! “Kaaing! Kaaing! Kaaaing!” Empat ekor monster kurus bercakar hitam tajam ditabrak, salah satu kepala dari mereka terlindas ban mobil. “John, tambah kecepatan.” Pemuda berblangkon menarik napas dalam-dalam seraya berpegangan pada kursi. “Grrraaaungh!” Sesosok makhluk serupa tetapi dengan postur setinggi dua meter, serta posisi berdiri layaknya manusia serigala tanpa bulu berbadan kurus, muncul mengayunkan cakar dari bawah ke atas, membuat mobil yang mereka kendarai terpelanting – terjengkang ke belakang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN