Pasukan Chupacabra! (Bag. 2)

1421 Kata
(Beberapa bulan lalu, Pesantren Banyu Putih, Kediri, Jawa Timur.) Ki Panca dalam balutan kemeja hijau panjang bermotif keemasan, duduk bersila menghadap Raihan. Keduanya berada di sebuah pondok bambu beratap dedaunan rumbia. Melodi jangkrik terdengar merdu dari rerumputan taman keraton. “Setibanya di sana, jaga baik-baik istrimu. Kalau sekiranya ada hal sulit yang terjadi, minta dia pulang lebih dulu.” ‘Kalau beliau sampai bilang begini, apa aku akan berurusan dengan hal-hal itu lagi di sana?’ pikir Raihan sedikit menundukkan pandangan. Pria mancung bersarung hijau menyalakan sebatang lisong usai menyeruput secuil kopi dari cangkir. “Dan soal tasbih itu, gunakan di saat perlu saja. Usahakan, kau memakainya sehari sekali.” Pemuda berblangkon hitam mendongak cepat. “A-apa sebaiknya saya batalkan bulan madu ke sana, Mas?” “Jangan,” jawabnya santai. “Manten baru ya sudah sewajarnya jalan-jalan,” imbuhnya tersenyum. Wajah pemuda berjaket hitam seketika dihinggapi kebimbangan. ‘Apa aku akan berurusan dengan LHA lagi di sana, ya?’ “Soal ajian yang kau dapat, pastikan dulu siapa sasaranmu. Kalau dia orang seperti... siapa itu? David Tremos?” “David Trevor?” ucapnya meluruskan. “Ya, itulah... jangan pakai. Kebanyakan orang-orang sepertinya, hanya korban uji coba organisasi itu. Mereka belum tentu membunuh ratusan nyawa manusia.” “Lalu, kalau pimpinan LHA yang buat kekacauan itu, apa dia bisa diserang pakai ajian itu, Mas?” Ki Panca sejenak tak bersuara. Bibirnya bergerak-gerak dengan mata tertuju ke samping kanan. Setelah lima belas detik berlalu, ia melanjutkan, “kalau untuk orang-orang itu, coba saja. Kita tidak pernah tahu kalau tidak mencoba.” * (Masa kini, jalan sepi Texas.) Pada kegelapan malam yang kian pekat, di dalam sedan hitam, John menggoyang-goyang tubuh pemuda breblangkon hitam. Ia tak peduli pada dahinya yang agak soobek akibat kaca mobil yang pecah. Posisi mereka berdua terjungkal akibat mobil yang dilentangkan oleh manusia serigala kurus tak berbulu. “Raihan? Raihan! Kau baik-baik saja?” “Grrroourgh!” Sosok paling besar dengan tubuh kurus meraung mendongak ke atas. Raungannya disahuti dua puluh tujuh makhluk legenda pengisap darah yang mengepung mengelilingi mobil hitam. “Mereka... apa manusia serigala juga?” Raihan menghela napas, bersiap mendorongkan kaki ke jendela kaca mobil di samping. “Mereka Chupacabra, makhluk pengisap darah yang kukira sudah punah belasan tahun lalu karena perburuan yang LHA lakukan,” jawabnya menatap para makhluk kurus tak berbulu. “Dan sekarang, peluruku tidak akan cukup untuk menghabisi mereka.” “Apa ada dampak jika kau menggunakan kemampuan Vampirmu?” tanyanya menoleh pada John. Braalll! Raihan menjejak kaca hingga hancur berkeping-keping. Ia melompat keluar dan siaga memandang puluhan serigala tak berbulu yang mengepung melingkari mereka berdua. “Apa aku harus menggunakannya sekarang,” gumamnya meraba tasbih di dalam saku jaket. Braall! John melakukan gerakan serupa, ia keluar dari dalam mobil. Lekas-lekas mengacungkan alat penembak dengan satu tangan pada makhluk paling besar di sana. Makhluk yang berwujud manusia serigala tanpa bulu sehelai pun. “Werebeast? Apa dia memimpin para Chupacabra kemari?” “Dia sama seperti Jeff, ya?” terka pemuda berblangkon hitam mulai berjalan maju, tak mempedulikan para serigala tanpa bulu yang menggeram waspada memandangnya. “H-hey? Apa yang kau la-” “Grroaagh!” Satu dari puluhan makhluk bertaring panjang melesat menerkam pria beriris mata abu-abu. Dor! Dor! Dor! Setelah bunyi tembakan terdengar, makhluk-makhluk itu bergegas melesat menerjang si pria bertuksedo hitam. Sebagian yang ada di depan Raihan, berlari memutar, mengincar John yang ada di dekat mobil hitam yang terjungkal. “Grroagh!” ‘Kalau mengulur waktu, Julius bisa dalam bahaya kapan saja.’ Laki-laki berblangkon hitam menghela napas. Ia merogoh, mengeluarkan tasbih berbutir besar. Bibirnya mulai bergerak merapal doa. “Ya Alloh... Dzatulloh... Sifatulloh... Wujudulloh... Nurulloh... Sirrulloh... Sirrulloh... Sirrulloh... Sirrulloh... Sirrulloh... Sirrulloh... Sirrulloh....” “Grrroarh!” Sang manusia buas berjari panjang melesat ke arah Raihan setelah merasa akan adanya bahaya. Ia mengarahkan cakar di awang-awang. Grepp! Raihan mengelak dari ayunan cakar lawan, memiringkan badan ke samping kemudian menggapai ekor tak berbulu lawan. “Allohuma Ya Alloh!” Ia membanting sosok tersebut ke aspal di bawah. Setelah makhluk tak berbulu tersebut meraung kesakitan, Sang Musafir Hitam melanjutkan lantunan doa, “anugrahkan hamba kekuatan Sang Titisan Petir!” Bzzzzttt! Tubuh lelaki berjaket hitam dirambati aliran listrik yang memercik. Cahaya yang terpancar dari listrik tegangan tinggi tersebut berwarna kebiruan. “Haaaaagh!” Bzzzzttt! “Khaaaaing! Khaaing!” Sang manusia serigala besar berbadan kurus tersetrum. Darah dan organ dalam sang makhluk bertaring panjang pun mulai memanas. Sebagian kulitnya gosong dalam sekejap, sampai-sampai menyebarkan aroma gosong ke sekitar. Setelah tak ada lagi pergerakan dari makhluk yang ia pegang, Sang Musafir Hitam menoleh ke belakang, di mana John kuwalahan mengelak dan membalas serangan menggunakan cakar kanan-kirinya. “John! Menjauh dari mobil!” Tepat sesaat sebelum lima sosok Chupacabra melompat menerjang, John balik badan. Ia memijak sedan hitam yang terjungkal, kemudian berguling di aspal. “Ugh!” Dyaaarrr! Sebuah petir menyambar membidik tepat mobil hitam yang terjungkal hingga meledak. Api di sana, membakar lima sosok Chupacabra yang bertengger sejenak di atasnya. Tak seperti John yang kaget melihat petir yang mendadak menyambar dari langit, para Chupacabra yang tersisa mulai balik kanan. Mereka berlari menjauh dari jalan beraspal, menuju gurun gersang nan luas membentang. ‘Kalian tak boleh kabur!’ Raihan berlutut satu kaki, mengangkat kepalan tinju kanan tinggi-tinggi. “Sabetan langit!” serunya menghantamkan tinju ke aspal hingga retak. Dyar! Dyar! Dyar! Dyar! Dyar! Dyar! Tanpa adanya awan tebal hitam, petir-petir kebiruan melesat menerjang permukaan bumi laksana cambuk yang menghantam membabi-buta. Makhluk-makhluk berkaki empat tanpa bulu di sana, gosong dalam sekejap mata tanpa sisa. Semuanya terbaring tak bernyawa. John bangkit dengan tuksedo yang ternoda cairan merah. “A-apa kau....” Ia menoleh pada makhluk-makhluk yang tewas masih menyisakan asap dari badan. “Yang melakukannya?” tanyanya takjub. * (Di saat yang sama, rumah sakit Texas,) “Pak, saya rasa ada yang janggal dari pasien ruang 63.” Ben yang baru saja berkemas siap pergi ke New Jersey, menoleh ke depan meja di mana perawat lelaki berdiri di ambang pintunya yang terbuka. “Ada apa, Pak Chen?” “Sekarang dia sedang dijaga oleh lima orang satpam. Dia terus kejang dan semua jarum suntik yang ditusukkan padanya pat-” Crrraakk! Sesuatu tajam menusuk punggung hingga menembus paru-paru lelaki berbusana putih tersebut. Ia tersedak darah, membuat busana yang ia kenakan ternoda oleh cairan merah yang keluar dari mulut. Ben terperangah, mengamati wujud manusia serigala tanpa bulu yanh berdiri di belakang perawat pria bernama Chen. Tubuhnya gemetar, tak mampu bersuara atau pun bergerak saat mayat lelaki yang ia kenal ambruk ke lantai dan meregang nyawa. * Raihan berjalan bersama pria bertuksedo hitam, meninggalkan mobil yang terjungkal jauh di belakang. Melihat lelaki berblangkon hitam yang terus celingukan, John mengerutkan dahi menoleh pada wajah gelisah Sang Musafir Hitam. “Ada apa? Apa kau mengkhawatirkan mayat-mayat makhluk itu? Tenang saja, aku sudah menyuruh beberapa orang untuk datang membersihkan mereka sekaligus menjemput kita.” “Menurutmu, apa yang tadi itu sudah semua?” “Maksudmu?” Sang Vampir yang telah mengenakan kaca mata hitam mengaitkan alis. “Beberapa saat sebelum kemunculan mereka, aku merasakan keberadaan salah satu petinggi LHA yang mengawasi kita dari jauh. Apa pelurumu masih sisa?” “Hanya ada enam butir lagi,” jawabnya merogoh alat penembak yang ada di saku belakang. “Tapi aku rasa itu sudah semua.” “Soal makhluk besar yang tadi itu, kau menyebutnya apa?” “Werebeast. Hampir sama seperti manusia serigala, tetapi mereka berwujud seperti tadi secara permanen. Mereka juga hanya bergerak setelah matahari tenggelam, karena mata mereka tidak bisa melihat jika ada sinar ultra violet.” “Makhluk itu, memang manusia yang berubah jadi monster karena kutukan, atau uji coba LHA juga?” “Keduanya,” jawab John merogoh saku tuksedo. Ia mengambil sebungkus lisong warna putih dari sana. “Tapi sepertinya, yang tadi itu memang berkaitan dengan LHA.” ‘Apa Julius baik-baik saja di sana?’ pikir Raihan menggulirkan mata ke kanan-kiri. “Kalau pun mereka muncul lagi, bukankah kau bisa panggil petir lagi saja?” Pria pirang berhidung mancung menyodorkan sebungkus lisong pada pria berjaket hitam di samping kanannya. “Saat ini, aku hanya bisa menggunakannya sekali saja. Jadi....” Tep.... Sang Musafir Hitam berhenti melangkah saat telinganya samar mendengar derap langkah menyentuh tanah gersang dari sisi kiri jalan. “John!” Ia menarik paksa lelaki yang baru saja menyalakan udud, membuatnya lolos dari terjangan sosok manusia serigala tanpa bulu yang baru saja muncul. “Grrroaagh!” Makhluk dengan postur tinggi kurus bertaring tajam tersebut menggeram, kemudian mengaum menatap langit malam. “Duh Gusti! Ada lagi!” gerutu Sang Musafir Hitam sembari mengambil kuda-kuda siaga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN