(Jalan sepi Texas.)
Dor!
Pria mancung berambut pirang menembakkan timah panas pada sosok sang monster yang hendak menerjang. Meski tembakannya meleset, ia berhasil mengurungkan niat sang manusia serigala tanpa bulu tuk menyerang.
“John, tolong ladeni dia sebentar,” pinta Raihan menepuk pundak kiri pria bertuksedo hitam. Sejurus kemudian, si pemuda berblangkon merogoh sebungkus lisong beserta korek gas dari saku jaket. “Aku minta lima menit- eh, tidak... satu menit,” imbuhnya menyalakan api. ‘Lari dan menunggu bala bantuan hanya membahayakan nyawa. Tapi berbeda dari makhluk tadi, aku rasa dia masih sedikit punya rasa takut – terbukti dari caranya mundur saat John menembak,’ pikirnya meniup asap keluar dari mulut.
‘Orang-orang percaya bahwa Vampir bisa mengalahkan Werewolf dan semacamnya dengan mudah. Mungkin itu berlaku bagi ayah atau kakek buyut.’ John membidik makhluk yang siap melompat. ‘Tapi aku yang Vampir tanpa ilmu sihir, bisa saja tewas oleh cakarnya.’ Ia menekan pelatuk, melontarkan timah panas kedua pada sasaran.
Dlap!
“Grrrr....” Lagi-lagi sang manusia serigala melesat ke samping, mengelak cepat dari serangan John.
“Apa kau takut tertembak, Nak? Kalau begitu kenapa kau tak lari saja? Ha!”
Sang serigala yang berdiri dengan kedua kaki, menggeram seolah terprovokasi. “Grroagh!” Ia melesat memijakkan kaki belakang kuat-kuat, mengayunkan cakar serupa kail hitamnya pada lawan.
Dor! Dor! Dor! Dor!
Sang manusia serigala tanpa bulu, meraung menahan sakit tatkala pundak dan lengan kanannya tergores peluru biru yang John luncurkan. Darah merah agak kehitaman, mengalir dari bagian badan di mana peluru bersarang. “Grrr...”
‘Apa dia mengerti bahasaku?’ Pria beriris mata abu-abu mengerutkan kening, bersiap melakukan serangan serupa.
Sang makhluk bertaring tajam dengan cakar lengkung serupa kail, menggeram kesal. Ia mengayuh kedua tangan dan kaki cepat-cepat. “Grroaaargh!” ia melesat menutupi wajah dengan tangan kiri. Sementara tangan kanan bersiap mengayun mengoyak lawan.
Dor! Klek! Klek! Klek!
Satu timah panas berhasil mendarat di lengan sang monster di udara. Habisnya amunisi membuat John melompat menghindari terjangna. “Raihan! Awas!”
Grep!
Bukannya mengelak, pemuda berbalngkon hitam dalam balutan busana panjang justru menjatuhkan lisond di tangan, kemudian menangkap lengan kanan kurus sang monster. Ia melakukan bantingan ala jurus silat kuat-kuat, membenturkan serigala tak berbulu ke aspal. Matanya terpejam, seraya mengalirkan tenaga ke tangan kanan.
Blaawk!
“Kaaaing!” Sosok bertaring tajam kesakitan, tak bergerak sejenak.
Tep!
Lelaki berjaket hitam menempelkan telapak tangan kanan ke dahi lawan, sedangkan tangan kirinya erat menyatukan moncong sang monster agar tak terbuka. Bibir Sang Musafir Hitam bergerak-gerak merapal sesuatu. Meski makhluk yang ia pegang bergerak meronta-ronta, tetapi tak ada gerakan tangan yang berupaya mencakar Raihan.
“Kalau kau masih ingin jadi manusia....” Raihan membalikkan pososo sang monster jadi tertelungkup, masih erat memegang lengan kanan lawan. Bunyi dari sendi dan tulang yang geser pun terdengar dari lengan sang serigala botak. “Diamlah!” bentaknya membenturkan kepala bermoncong serigala ke aspal kuat-kuat.
Gweeergh!
Dari mulut makhluk berbadan kurus nan jangkung, ia mengeluarkan cairan hitam pekat nan kental seperti oli. Aroma menyengat cairan misterius tersebut memaksa John menutup hidung. Makhluk tersebut terus memuntahkan cairan hitam kental, hingga perlahan kepala bermoncongnya kembali seperti semula – manusia biasa.
Raihan terus berkomat-kamit sampai eskujur badannya gemetaran, tanda bila ia memperoleh cukup energi alam sekitar. “Atas nama-Nya...,” ucapnya mengangkat tangan kanan tinggi-tinggi. “Kembalilah jadi makhluk yang seharus-Nya!”
Blaam!
Ia mengayun telapak tangan kanan terbuka ke punggung monster jangkung dengan kepala manusia. Gelombang angin yang timbul, seketika memadamkan bara api dari sisa lisong Raihan di atas aspal.
*
(Sebuah rumah sakit, beberapa waktu lalu, Texas.)
Tom lekas-lekas menembakkan alat penembak di tangan saat sang monster kurus jangkung bermoncong serigala hendak menggoreskan taring panjang ke leher Ben. “Hoy!”
Dor! Dor! Dor!
Dari tiga peluru, dua berhasil bersarang di punggung sang Werebeast. Satu lainnya meleset mengenai jendela ruangan. “Dia tidak jatuh?” gumam Tom kaget, melihat sang manusia serigala tanpa bulu balik badan dengan raut murka.
Sontak, si pria botak berbusana biru menoleh ke sisi sepi lorong lantai dua. Ia memilih jalur landai, menghindari orang-orang yang berlarian keluar. “Kejar aku!” serunya mulai mengayuh kedua kaki kuat-kuat tanpa melihat ke belakang.
Drap! Drap! Drap! Drap!
Monster kurus berbadan jangkung mulai mengejar. Saat jaraknya dengan sasaran berkisar lima meter, ia melompat menggunakan keempat kaki, menargetkan leher belakang Tom tuk dilahap. “Grrroaagh!”
Tom yang melihat adanya apar – semprotan nitrogen cair yang ada di lantai dekat dinding, menunduk sejurus kemudian menggapainya dengan tangan kiri. “Haaaaagh!” Ia memutar badan seraya mengayunkan logam padat dari wadah nitrogen ke rahang sang monster bermonong serigala.
Dang!
Sesaat setelah sang lawan oleng, Tom membidik dahi sang manusia Chupacabra bercakar lengkung. “Dasar tak tahu diri!”
Dor! Dor!
Sosok makhluk jangkung tak berbulu menutup wajah menggunakan lengan kiri. Meski terlihat semakin lemas setelah peluru-peluru yang Tom tembakkan bersarang di tubuh, ia terus melangkahkan kaki, kembali menerjang tatkala lelaki botak berada dalam jangkauan serang. “Grrroaaagh!”
Trrraak!
Pria berbusana biru menggunakan apar sebagai perisai. Cakaran sang Werebeast menggores dalam benda tersebut, membuat gas yang ada di dalamnya bocor – menyemprot sekitar. Melihat adanya kesempatan, Tom yang jantungnya berdenyut tak karuan lekas-lekas balik badan guna melanjutkan langkah. Matanya tertuju pada pintu tangga darurat yang terbuka, sementara tangannya mendekat ke mulut. ‘Aku hanya bisa lari ke atas! Lakukan sesuatu! Cepat!’
Drap! Drap! Drap! Drap!
Setelah memasuki ruang tangga darurat yang melingkar naik, ia terus berlari tanpa menoleh ke belakang meski sepasang telinganya mendengar derap langkah cepat yang ia yakini berasal dari kaki sang monster. ‘Kalau dia juga berubah karena terinfeksi, maka sedikit saja serangannya mengenaiku, aku juga akan jadi seperti dia!’ pikirnya panik terus berlari. Keringat mulai tampak membasahi sekujur badan pria botak berkemeja biru.
“Grrrr!” Meski telah tertinggal agak jauh di bawah, sosok jangkung bermoncong serigala mendongak ke atas di mana Tom terus melarikan diri menuju rooftop. Ia jongkok, lanjut melompat dan menancapkan cakar-cakar tajam hitam serupa kail ke dinding. Makhluk tersebut merayap cepat seperti cicak, meninggalkan permukaan dinding yang hancur akibat kuku-kukunya.
Drap! Drap! Drap! Drap! Drap!
Tom dengan napas yang tersengal terus berlari. Wajahnya berubah pucat ketika menoleh kecil ke belakang, menjumpai sang monster bertubuh jangkung yang mengejar kian mendekat. “Ohhh, shiiiiii-” Tom melompat menghantamkan bahu ke pintu yang tertutup. Usai mendobrak daun pintu logam, ia berguling di atas rooftop dan berhasil mengelak dari terjangan sang Werebeast tanpa sadar.
“Grrroaaargh!” Sang monster yang kini berada di luar gedung, memperhatikan Tom. Ia menggeram sebelum melesat menerjang sasaran. Hingga....
Dor! Dor! Dor! Dor! Drrrrr!
Tiga orang petugas keamanan yang ada di dalam helikopter menembak sang monster, menghujaninya dengan timah panas tanpa henti. Tubuh kurus nan jangkung sosok bertaring panjang mulai dipenuhi noda darah. Makhluk tersebut ambruk, tangan kanannya mengadah pada Tom yang terduduk lemas, seolah masih ingin menggapainya.
*
(Masa kini, sebuah desa terpencil, Texas.)
Julius berjalan menyusuri hutan di gelap malam. Bukan hutan rindang, melainkan kumpulan pepohonan tak berdaun nan kering seperti tanah yang ia pijak. Tidak ada suara penghuni hutan, hanya desir angin dingin dan ranting yang bergoyang. ‘Kekeringan ini benar-benar mendadak. Mungkinkah LHA ada di balik ini? Tapi kenapa orang-orang desa dengan bodohnya membiarkan kekeringan tanpa mengadukannya pada pihak bersangkutan?’
Krakk....
Mendengar adanya dahan patah di belakang, Julius bergegas bersembunyi ke balik pohon ek yang kering. Derap langkah dan kain-kain yang menyapu daun-daun kering di tanah membuatnya yakin bahwa ada lebih dari satu orang yang datang.
Seseorang dalam balutan jubah hitam berjalan membawa sebuah nampan emas. Sebuah kepala manusia, tepatnya seonggok kepala laki-laki, tergeletak di atasnya. Sosok berjubah hitam tersebut diikuti puluhan warga desa yang membawa obor menyala, dari pria hingga wanita. Semuanya berkomat-kamit menirukan apa yang sosok berjubah hitam ucapkan.
Mereka terus berjalan, melalui pohon ek di mana Julius bersembunyi. Ekspresi orang-orang desa begitu datar, dengan tatapan kosong tertuju ke depan. Bak terhipnotis, mereka semua melangkah menyusuri jalan setapak hutan. Entah sadar atau tidak, mereka seolah membiarkan Julius berjalan mengendap mengikuti mereka.
Belasan menit berlalu sudah. Orang-orang yang dipimpin sosok berjubah hitam kini berhenti di depan sebuah danau hitam pekat nan lebar. Air yang memenuhi kubangan seluas puluhan meter itu, yang mana terletak di antara tebing gersang tanah gurun, sama sekali tak dihuni seekor ikan pun.
“Apa itu ritual pengorbanan? Tapi kepala siapa itu?” gumam Julius sembari mengamati tindakan para warga desa dari atas tebing gersang. Ia bersembunyi di balik sebuah batu yang ada di sebelah pohon gersang.
“To-tolong! Tolong! Tolong!” Lima orang warga lain menyusul dari barisan belakang. Mereka masing-masing membawa sebuah karung besar yang bergerak-gerak.
“Orang? Ada seseorang di sana?” Pria bertuksedo hitam terperangah memperhatikan karung yang ia yakini berisikan seseorang. ‘Jika aku keluar dan menyelamatkannya sekarang, bisa-bisa....’
Byuuur!
Lelaki tua yang semenjak tadi memanggul karung, melemparnya ke danau hitam pekat. Cairan hitam dari danau tersebut seolah hidup, menelan karung ke dalam dasar danau secara perlahan. Jerit histeris yang meminta tolong pun raib setelah warna karung telah diselimuti hitam pekat.
Setelah salah satu warga melempar karung berisi manusia, sosok berjubah hitam menaruh nampan emas dengan kepala di atasnya ke permukaan danau. Hal serupa pun terjadi, di mana cairan hitam pekat danau menenggelamkan nampan sekaligus kepala lelaki di sana.
Bluuk... blukbluk... blukk....
Setelah lima menit berlalu begitu saja, kepala pria yang sempat ditelan hidup-hidup oleh air hitam danau, kini timbul ke permukaan. Ironis, kepala tadi kini muncul dengan bagian tubuh yang lengkap, dari tangan, kaki, perut, tanpa bekas luka. Begitu pula dengan karung yang dilumuri cairan hitam, benda tersebut mengambang, membiarkan seseorang keluar dari sana.
‘Apa-apaan itu!’ Bulu kudu Julius berdiri, terbelalak tak mempercayai apa yang mata kepalanya saksikan.