Legenda Danau Seribu Kepala!

1297 Kata
(Rumah sakit New York, satu hari yang lalu.) Sepasang mata gadis pirang dalam balutan busana pasien rumah sakit biru lebar terbuka. Warna putih pada netranya perlahan berubah hitam, dari warna iris mata yang menyebar. Ia berdiri dari ranjang rumah sakit tanpa ekspresi. Padahal tangan kanannya mencabut infus, membuat darah sedikit mengalir dari sana. Sontak, beberapa pasien lain yang ada di ruangan terkejut melihat gadis bernama Cassie yang berjalan pelan menuju pintu keluar. Beberapa perawat di sana pun terbelalak sejenak, sebelum mendekat dan mencegah sang pasien keluar ruangan. Blaaawk! Tanpa menyentuh, seorang perawat wanita yang hendak memegang gadis tersebut, terpental ke dinding, memekik kesakitan. Cassie, pasien yang dititipkan oleh pihak kepolisian untuk dirawat di sana itu, terus saja berjalan. Ia tak mempedulikan dua petugas satpam yang berteriak kaget sebelum mendekat. Blaawk! Brruug! Seorang satpam berbadan tegap terlontar ke dinding, menindih paksa perawat tadi. Sementara satpam satunya, berlutut dengan kedua kaki seolah-olah kakinya ditarik oleh energi tak kasat mata. Bahkan, ia tak bisa menoleh pada sang pasien yang terus melangkah keluar ruangan. * (Masa kini, Hutan pedalaman Texas.) ‘Ini sepertinya cukup!’ pikirnya menghela napas dalam-dalam. Tatapan Julius masih tertuju pada kerumunan warga pembawa obor di bawah sana. “Apa Anda tersesat, Tuan?” Lelaki berambut ikal alam balutan busana hitam jaket kulit, menyapa dari belakang sang anggota CIA. Deg! Julius balik badan, tercengang mendapati pria berusia lima puluh tahunan yang berdiri lima meter darinya. “Ah, Pak William? Sa-saya hanya....” Saat ia menoleh kecil ke bibir danau, bukan hanya puluhan warga desa yang raib, tetapi juga warna hitam pekat kubangan air nan lebar di sana tampak seperti air biasa yang memantulkan sinar rembulan. “A-apa?” “Mari, Tuan... setelah desa mengalami kekeringan, kawasan hutan ini jadi sangat berbahaya. Apa lagi bagi warga luar desa,” ungkapnya balik kanan. Lelaki yang merupakan tetua desa, mulai melangkah berharap Julius mengikutinya. ‘Apa tadi itu halusinasi? Mustahil! Padahal aku tidak minum hari ini!’ pikirnya melangkah menyusul. “Kau pasti melihat halusinasi, ya?” terka sang lelaki jangkung berjaket kulit hitam. “Warga desa banyak melihat hal-hal aneh, dan mengejutkannya lagi... sosok-sosok mengerikan yang merek lihat, meneror dan meminta mereka menghabisi seluruh anggota keluarganya. Orang-orang yang melakukannya, adalah orang-orang yang kembali ke rumah setelah matahari tenggelam.” Pria mancung pirang bertuksedo hitam mengerutkan kening. “Itu kenapa, Anda melarang saya untuk keluar setelah matahari tenggelam?” Pria berambut ikal tersenyum sungging. “Selain itu, ada banyak makhluk-makhluk mengerikan yang berkeliaran sesaat sebelum kawasan ini mengering.” “Makhluk? Makhluk jenis apa, Pak?” “Apa kau pernah dengar soal legenda Chupacabra?” tanyanya tanpa menoleh. “Makhluk yang hanya keluar saat gelap dan mengisap darah hewan ternak?” “Sepertinya kau tahu banyak,” tanggap William. “Apa kalian sudah melaporkan ini pada petugas kepolisian sekitar?” Julius berjalan lebih cepat, menyetarakan langkah dengan William. “Orang-orang berseragam itu, mereka hanya bungkam dan enggan mengungkapkan hal-hal berbau magis dan mistis. Padahal sudah banyak dari mereka yang menjumpai hal-hal demikian. Yah, aku tak heran karena negeri ini dipimpin oleh orang yang mengutamakan logika. Coba kalau pemimpin tertinggi negeri ini adalah orang yang paham tentang hal gaib.” ‘Begitu, ya?’ Julius menyipitkan mata, melirik kecil pada lelaki bernama William di samping kirinya. “Ah, ngomong-omong... yang di belakang itu danau apa?” Sret.... Telapak kaki berbalut sepatu milik William terhenti. Ia menoleh pada pria pirang di samping. “Apa kau ingin dengar ceritanya?” “Jika Anda tidak keberatan,” ucapnya ikut berhenti. Sosok berjaket hitam tersenyum kecil, lanjut berjalan maju. “Sekitar lima ratus tahun yang lalu, ada sebuah suku pedalaman di daerah ini. Mereka masih berkaitan dengan suku Aztec. Singkat cerita, daerah mereka ini, dilanda kekeringan. Semua mata air, bahkan pepohonan, mengering dalam semalam.” “Samaseperti kekeringan saat ini?” gumam Julius lanjut berjalan mengekor. “Benar.” William menghela napas. “Dan konon, itu terjadi akibat pertumpahan darah orang-orang yang mulai memperlebar peradaban kemari.” “Maksud Anda?” Ia mengerutkan dahi. “Manusia-manusia yang datang dan menembaki warga lokal. Suruhan mereka yang ingin memperluas pembangunan.” “Ah, seperti peperangan suku Indian dan para pendatang?” “Singkat cerita, putri dari kepala suku yang berwenang, berjalan ke tengah hutan setelah beberapa hari mendapatkan mimpi yang sama – mimpi tentang munculnya makhluk penyelamat yang mengembalikan kedamaian. Dan danau itu, adalah tempat munculnya makhluk tadi.” “Lalu apa yang terjadi selanjutnya? Makhluk apa itu?” “Ahahah... rasa penasaran manusia terkadang harus ditebus dengan bahaya. Apa kau benar ingin tahu lebih lanjut?” Sejenak Julius melirik ke kanan-kiri, memastikan bila hanya ada mereka berdua yang berada di hutan gelap tanpa dedaunan. “Apa... ada kutukan bagi mereka yang mendengarnya?” William geleng-geleng sambil terkekeh. Ia melanjutkan, “di saat matahari tenggelam, gadis kecil itu berjumpa dengan sosok makhluk yang ia mimpikan berturut-turut. Di sana, mereka melakukan perjanjian.” “Perjanjian macam apa yang mereka lakukan?” “Sosok itu... dia berjanji akan mengembalikan kedamaian desa, jika si gadis itu berkenan meminjamkan tubuhnya.” “Lalu... apa perjanjian itu terlaksana?” “Heheh... pola pikir polosnya, membuatnya terjerumus ke dalam kegelapan. Dia, menerima tawaran makhluk tersebut.” “Tapi... apa makhluk itu menepati janjinya?” “Ya. Gadis itu kembali ke desa dalam keadaan tubuh yang dikuasai sang sosok misterius. Dia membunuh Ayah dan adik-adiknya, agar dia diangkat menjadi kepala suku.” “Tak heran... pasti dia kembali dengan kekuatan di luar batas kekuatan manusia biasa, kan? Lalu, bagaimana dia bisa mengembalikan tanah yang mengering?” “Tentu saja.” William tersenyum kecil. “Gadis itu, memimpin peperangan melawan para pendatang. Dan dia, mengumpulkan ribuan kepala manusia sebagai persembahan pada sang makhluk tadi. Beberapa hari kemudian, wilayah ini kembali subur.” “Mmmm... begitu... lalu, apa sebenarnya makhluk yang kita bicarakan itu? Apa dia ada kaitannya dengan Chupacabra?” “Hahah... tidak. Makhluk itu, tidak berkaitan dengan para serigala bodoh itu. Derajatnya jauh lebih tinggi dari mereka – bahkan manusia itu sendiri.” “Makhluk yang lebih tinggi derajatnya dari manusia?” gumam Julius curiga. “Ngomong-omong, Tuan Julius... boleh aku tahu, apa tujuan hidupmu?” “Tujuan hidup?” Julius memperlambat langkah. ‘Apa maksudnya menanyakan ini mendadak?’ “Manusia terbagi jadi beberapa golongan. Mereka yang haus kekuasaan dan uang, ada mereka yang ingin jadi pemimpin tertinggi, ada yang ingin hidup damai bersama orang-orang yang dicintai, dan ada mereka yang menginginkan semua hal itu. Tapi, terdapat segelintir manusia yang merasakan hidup dengan kedamaian yang bahkan aku sendiri tak paham. Orang-orang itu, adalah orang yang tak mampu ditundukkan dengan hal-hal tadi yang kusebut. Melihat wajahmu, aku yakin kau bukan orang yang aku bicarakan terakhir. Lalu, yang manakah dirimu, Tuan Julius?” Julius merasa was-was setelah mendengar pertanyaan sosok di sampingnya. “Kau....” Ia berhenti berjalan, pelan merogoh alat penembak dari balik busana tuksedo. “Siapa kau?” “Hmmmm... kau tak mau menemaniku bicara lebih lama lagi? Padahal sudah lama aku tak bicara santai begini...” Pria berjaket hitam berhenti berjalan, menatap Julius yang keheranan. “Ngomong-omong, apa kau mau tahu seperti apa wujud makhluk yang kita sebut-sebut tadi?” Deg! Lagi-lagi, Julius merasakan sesuatu yang buruk. Ia terdiam mengamati mata William yang perlahan berubah hitam pekat. “Jangan-jangan... kau!” Ia sigap menodongkan alat penembak ke wajah pria bernama William. “Ohh... aku lupa menyampaikan.” Suara yang keluar dari tenggorokan William berubah berat. “Siapa pun yang mendengar legendaku, maka harus dibayar dengan nyawa!” Jrrasss! Jrrasss! Jrasss! Taring hitam nan tajam juga padat, muncul menyobek kulit pipi kanan-kiri William dari dalam. Satu tanduk lain muncul dari dahinya. Disusul oleh cakar-cakar yang muncul dari sekitar telapak tangan – sebuah cakar yang mirip dengan jemari lalat. Dor! Dor! Dor! Dor! Dor! Dor! Lima buah dentuman dari timah panas yang Julius lontarkan, jadi bunyi pengantar jerit penderitaannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN