(Satu hari lalu, depan rumah sakit New York, Amerika.)
Cassie dengan sepasang mata yang hitam kelam, berjalan maju mendekati dua orang yang tengah asyik berbincang sembari bersandar pada mobil sedan kuning. Kemunculan Cassie dengan ekspresi datar serta mata yang hitam pekat, sontak membuat kedua pria berusia tiga puluh tahunan menoleh heran.
Tanpa berucap sepatah kata, gadis berbusana pasien warna biru langsung memegang handle pintu mobil yang ada di tengah kedua pria tersebut.
“Hey, Nona? Apa yang kau lakukan!” Salah satu pria berjaket tebal mencoba mendorong gadis pirang di sana. Ironis, lengannya yang lebih besar dari tubuh si gadis sama sekali tak mampu menggeser sedikit pun posisinya.
“Hey, Nat? Kau kenal gadis ini?” tanya pria cepak satunya sambil memandang kaki hingga kepala Cassie. “Apa kau ingin pergi ke hotel bersama kami, Nona muda? Meski dengan lensa mata Halloween begitu kau masih menarik, kau tahu?”
Blaaak!
Gadis berseragam pasien rumah sakit membuka pintu mobil keras-keras, mendorong salah satu pria di sana hingga tersungkur jatuh ke trotoar. Alhasil, sosok cepak yang baru saja menggodanya berubah kesal. “Hey! Apa-apaan kau!”
Grep!
Ia mencengkeram lengan Cassie kuat-kuat dengan ekspresi jengkel. “Apa kau tak bisa dnegar? Ha!”
Menoleh kecil pada si pria cepak yang mencengkeram, Cassie menatapnya tanpa bergeming.
Swuuus!
Sesuatu yang tak terlihat, seperti angina tapi bukan angina karena beratnya – melesat mendorong si pria cepak hingga terjungkal delapan meter. Ia meraung kesakitan, meringkuk di trotoar jalan memegangi perut yang serasa baru saja dihantam batu besar. “Haaaargh! Apa-apaan ini!”
“Hoy!” Sang pemilik mobil bangkit, mengayunkan bogem mentah ke kepala Cassie dari belakang.
Jrrttaaak!
Setelah tangannya terhenti oleh kekuatan tak kasat mata, lima buah jari dari kepalan tinjunya membengkok begitu saja, membuatnya menjerit dan berlutut kesakitan, “haaaaargh! Seseorang! Tolong! Haaargh!”
Usai dua pria tak dikenal menahan sakit, Cassie lanjut memasuki mobil. Ia mulai menyalakan mesin dan meninggalkan tempat yang kini dikerumuni para pejalan kaki sekitar.
*
(Jalan raya Texas, Amerika.)
Setelah melihat puluhan anggota CIA dan FBI membereskan mayat para Chupacabra, Raihan menghela napas seraya berjalan menuju sedan hitam di mana John sudah duduk bersiap menyetir kendaraan baru yang diberikan para bawahan beberapa waktu lalu. “Apa mereka akan melakukan penelitian pada monster-monster itu?” tanyanya duduk di bangku depan sebelah pria pirang berhidung mancung. Mata pemuda berblangkon hitam tertuju ke luar jendela mobil di mana kumpulan pria misterius membawa masuk makhluk seperti serigala tanpa bulu sehelai pun, ke dalam truk merah bak tertutup.
Bruummm!
“Kami selalu mengumpulkan hal-hal seperti ini di lua r sepengetahuan mata dunia.”
Lelaki berjaket hitam parasit merogoh mengambil sebungkus udud dari saku celana panjang. “Sejak LHA membuat gara-gara?”
“Lebih tepatnya, sejak sebelum perang dunia pertama dimulai. Ada begitu banyak hal-hal diluar nalar manusia yang bertebaran di penjuru dunia. Dan kami, mengumpulkannya sebagai penelitian lebih lanjut tentang mereka.”
“Lalu, soal video-video dan foto blur di internet yang banyak didapati orang-orang… apa itu adalah kebocoran informasi dari kalian?”
“Sebagian sengaja dibocorkan pada publik agar mereka waspada. Dan sebagian lain dibocorkan oleh orang-orang dalam untuk mengungkapkannya pada dunia.”
“Jawab dengan jujur, John.…” Raihan menghela napas usai mengisap lisong di tangan. “Apa ada Vampir atau manusia serigala lain di organisasi yang menaungimu ini?”
“Kalau aku bi-” Kalimatnya terpotong tatkala ponsel lelaki bertuksedo hitam bordering. Tom menelpon. “Ya, Tom? Bagaimana kabar bocah yang kau urus itu?”
‘Apa Tuan Raihan ada bersamamu sekarang?’
“Ya, seperti biasa. Menikmati sebatang lisong tak peduli tempat dan waktu,” jawabnya tersenyum sedikit melirik lelaki di sampingnya. “Kau merindukannya?”
‘Bocah yang aku temukan di jalan itu, dia mengamuk dan berubah seperti Jeff Lincoln. Dan gadis yang kau selamatkan di gedung tebengkalai milik si boss bodoh itu kabur. Cctv menunjukkan bila dia mengambil sebuah mobil dan pergi kea rah Texas kemarin.’
John memperlambat laju kendaraan. “A-apa? Lalu di mana bocah itu?”
‘Mayatnya sudah dibawa ke laboratorium untuk penyelidikan lebih lanjut.’
“Lalu perempuan itu? Apa kau dapatkan keberadaan detilnya? Kau paham kalau Texas itu luas, kan?”
‘Justru karena itulah aku menelponmu!’
Mendengar sahutan dari ponsel di tangan John, lelaki berblangkon hitam memejamkan mata. Ia mengatur keluar masuk napas, dalam hati bermunajat meminta petunjuk sembari menikmati sebatang lisong di tangan. “Siapa nama gadis itu?” tanya Raihan lirih dengan mata terpejam.
Tom yang mendengar suara Raihan, mneyahut agak keras, “Cassie! Cassie Stonecreigh!”
Bibir pemuda beralis lebat kembali berkomat-kamit merapal doa. Ia fokus pada titik di dahi, hingga gambaran samar sesosok perempuan pirang berbusana pasien rumah sakit muncul di kepala bagaikan beberapa foto yang berkelebatan. Tubuh pemuda berjaket hitam parasit mendadak gemetar dari ujung kaki sampai ujung kepala. “Hutan kering… penuh kegelapan…,” gumamnya lirih tatkala mendapati gambaran yang terpintas di benak. “Danau… derita… jeritan… jiwa-jiwa yang tersiksa…,” gumamnya lagi.
“Apa yang kau dapat, Raihan?” tanya John cepat.
“Hutan gersang tanpa dedaunan… dipenuhi kutukan dan dendam dari masa lalu…,” jawabnya terpejam agak memiringkan kepala ke samping kanan. “Julius!” serunya melihat sosok rekan yang berada dalam bahaya.
*
(Hutan gersang, pelosok Texas)
“Aaargh!” Julius mengerang kesakitan saat lengannya tergores cakar monster bertaring runcing pada pipi. Ia yang baru saja terjengkang jatuh, buru-buru bangkit dan mengayuh kedua kaki ke depan. ‘Makhluk itu… aku tak akan bisa mengalahkannya tanpa bantuan Raihan!’ pikirnya panik, meringis menahan nyeri dari lengan.
“Kau bisa lari, tapi kau tak bisa sembunyi,” ucap sosok makhluk berwujud manusia bercakar lalat. Ia menjejakkan kaki kuat-kuat, melompat melalui belasan meter hanya dalam satu kali pijakan kaki. Ia menyeringai, menampakkan gigi-gigi putih yang telah meruncing. Matanya yang hitam kelam, dapat melihat dalam gelap layaknya manusia di siang hari.
Sadar bila makhluk di belakang mendekat dalam kecepatan tinggi, John balik kanan seraya menodongkan alat penembak pada kepala sasaran. “Enyah kau!”
Dor! Dor! Dor!
Tiga timah panas kebiruan yang ia lontarkan, berhasil mengenai muka sang monster bermata hitam. Sosok bercakar lalat besar, terjengkang ke belakang, membuat John menelan ludah karena kecemasan. ‘Apa aku berhasil?’
Graaukk… grraukkk… graukk….
Makhluk dalam balutan busana dan kulit manusia bangkit berdiri seraya mengunyah tiga buah peluru yang ia tangkap menggunakan mulut. “Batuan ini… mungkin membuatku sedikit lelah. Tapi itu akan terobati setelah aku melahap jiwamu!”
Dlap!
Ia kembali melesat menerjang John sembari terkekeh dengan suara beratnya. “Kemarilah, Nak!”
Julius spontan menunduk, sejurus kemudian melakukan roll depan. Ia lagi-lagi meringis saat lengannya menempel tanah dengan keras. “Huuuurgh!” Ia mempercepat laju lari kembali ke arah danau saat sosok bertaring mengerikan kembali berlari mengejar. ‘Bahkan peluru ini tak mempan padanya! Apa yang bisa kulakukan sekarang!’
“Kemari kau!” Dari punggung William, sesuatu seperti sepasang jarum timbul – merobek lapisan jaket hitam yang ia kenakan. Jarum tersebut dengan cepat melebar, menipis menjadi sayap mirip lalat.
Swuuuung!
Ia terbang rendah, mengaitkan tangan serupa cakar lalat pada punggung pria pirang bertuksedo hitam. “Hahahah!”
Jlaaap!
Meski Julius sempat menyampingkan badan guna mengelak, tetapi lengan kirinya tertusuk oleh tangan sang monster bersayap lalat. “Hwaaaargh!” Sembari meraung menahan nyeri, pria tersebut spontan merogoh pisau belati dari saku belakang celana, sejurus kemudian menancapkannya pada leher sang monster bertaring lengkung pada bagian pipi.
Sedikit terdorong akibat tusukan yang Julius lakukan, William menyeringai memandang mata pria bertuksedo hitam. “Manusia tanpa tujuan bisa melawan meski dihinggapi ketakutan, ya?” bisiknya kagum. “Apa kau tahu, kalau aku gemar melahap jiwa manusia yang terpuruk dalam keputus asaan?” Senyumannya begitu lebar, sampai-sampai nyaris menyentuh telinga. Dari sela gigi-gigi mirip hiu, air liur menetes dari mulut sang iblis bermata hitam kelam. “Biarku perlihatkan, apa itu ketakukan!” serunya melempar tubuh Julius hanya dengan satu tangan.
Swuuuung!
“Hwaaaaargh!” Pria mancung berambut pirang terempas jauh. Tubuhnya melesat cepat, terjun ke arah danau jernih di bawah sana. Ia terpejam, bersiap menikmati rasa sakit dari tubuh yang keras membentur permukaan danau.
Byaaarrr!
Julius yang sempat menahan napas, kini berada di dalam air danau. Bagaikan di siang hari, ia dapat melihat jelas di dalam air jernih danau. Tampak beberapa buah kerangka kepala manusia yang timbul dari dasar danau, seperti melayang mengapung mengelilinginya. ‘Apa ini? Inikah kepala-kepala yang dipersembahkan padanya di masa lalu?’ pikirnya kalut seraya mengayuh sepasang tangan guna naik ke permukaan danau. ‘Aku harus segera keluar dari sini!’
‘Tolong… tolong kami! Bawa kami pergi dari sini! Tolong!’Seiring munculnya suara-suara bisikan di kepala Julius, penampakan-penampakan kerangka kepala manusia semakin banyak bermunculan. Dari rupa yang tadinya hanya kerangka manusia, lama-lama berubah jadi wujud-wujud manusia transparan penuh luka memar dan noda darah. “Jangan tinggalkan kami di sini! Bawa kami pergi!”
Grep!
Satu-persatu dari mereka mulai mendekat, memegangi tubuh Julius. Pria pirang bertuksedo hitam pun mulai mengeluarkan gelembung air dari mulut ketika sosok-sosok berwajah rusak dalam wujud transparan mulai menariknya ke dasar danau. ‘Huuuugh! Apa yang bisaku lakukan!’