(Satu hari lalu, Pegunungan hutan bersalju, Alaska.)
Jeff Lincoln dipenuhi luka tembak. Busana yang ia kenakan sebagian terkoyak, ternoda warna merah darah. “Hosh… Hosh… Hosh….” Di pagi yang cerah, ia menyandarkan punggung ke sebuah pohon besar seperti pinus, membiarkan kedua kaki bersepatu hitamnya tenggelam dalam gundukan salju. ‘Apa-apaan mereka! Orang-orang itu bahkan seperti ingin mengejarku sampai ke ujung dunia!’
Dor! Dor! Dor! Dor! Dor!
Lima peluru kembali ditembakkan kea rah Jeff dari balik pohon yang ia gunakan tuk bersembunyi, membuat nyali pria keriting berjaket jeans menciut. Lebih lagi, ia sadar bila kekuatannya untuk berubah jadi manusia serigala tak bisa digunakan setelah peluru-peluru biru bersarang di badan.
“Serahkan dirimu, Tuan Lincoln! Dengan begitu kami tak perlu menghabisimu di sini!” seru seseorang dari kejauhan. Suaranya menggema, berpantulan di bukit nan tinggi.
“Aku yang akan melahap tubuh kalian sampai tulang!” sahutnya berteriak.
Dor! Dor! Dor! Dor! Dor!
Lagi-lagi lima butir timah panas melesat sebagai balasan dari ancaman pria berkekuatan manusia serigala. Sesekali Jeff mendongak ke atas pohon, memastikan tempat sebagai persembunyian. Paham bila rencananya akan sia-sia semata, pria hitam berjaket jenas penuh darah mengeratkan gigi, mengejam mencoba melakukan transformasi. “Huuuuuuungh!”
“Grrraaauung!” Auman serigala dari arah lain di sekitar pepohonan bersalju, membuat keadaan hening sejenak.
Jeff menggulirkan mata ke kanan dan kiri. Dirinya jelas betul familiar dari auman yang bukan berasal dari hewan biasa. Nalurinya seakan menterjemahkan auman tersebut sebagai ancaman agar orang-orang bertuksedo hitam menyingkir pergi dari hutan.
“Gwaaaaaagh!” Jerit penuh derita dari orang-orang yang mengejar Jeff, terdengar sili berganti saling bertautan. Di sela teriakan mereka, terdengar bunyi cabikan dan tulang yang diremuk, serta tembakan sebagai simbol perlawanan pada makhluk yang Jeff tak ketahui.
Delapan menit berlalu begitu saja. Jeff yang dipenuhi luka, melongok mengintip dari balik pohon pinus yang ia sandari. Tak ada makhluk hidup sejauh mata memandang, hanya jasad para pria berubsana tuksedo hitam, serta merah darah yang menggenangi salju.
Gryettt!
Getaran dari sesuatu yang mendarat di atas pohon terdekat, memancing pria keriting menoleh ke atas. Sepasang netranya terbelalak, menjumpai sesosok manusia serigala kekar nan besar. Warna dari makhluk bercakar panjang and bertaring tajam, putih bagaikan salju. Ia meneteskan liur dari sela mulut yang terkatup.
*
(Masa kini, Astral Plain.)
Ki Panca berdiri membelakangi Raihan. Lelaki berbusana putih panjang serupa gamis, tersenyum memandang langit penuh bintang-bintang di tepi jurang. Kaki mereka berada di atas hamparan rumput luas, yang mana dikelilingi sedikit pohon-pohon serupa pohon manga. “Lama sekali tha, Nak…” Ki Panca menoleh kecil ke belakang, di mana Raihan berdiri terbengong. “Kangen ingin lihat mukamu setelah beberapa bulan tak bersua,” ucapnya ramah.
“Mas Panca?” Pemuda berblangkon hitam melangkah mendekati sosok sang guru. Wajahnya semringah melihat kemunculan lelaki yang ia rindukan.
“Aku pernah bilang pada Wildan, kalau ketakutan merupakan sifat fitrah dari setiap manusia, sebab DIA Sang Maha Kuasa menanamkannya dengan berbagai alasan. Salah satunya, agar manusia hanya bergantung pada-Nya dari ketakutan-ketakutan yang menerpa.” Ia balik badan. “Dan… hanya jiwa-jiwa yang tenang, yang mampu menempatkan ketakutan pada apa yang harus ia takutkan.”
“Tidak ada kata terlambat, bagi mereka yang berniat berusaha. Hanya saja, hasil akhir tetap ada di tangan Sang Maha Kuasa,” ucap Ki Panca sembari duduk bersila. “Duduklah sejenak,” ajaknya ramah.
Melakukan apa yang sang guru ucapkan, pemuda berjaket hitam duduk bersila menghadap pria mancung bersorban putih. “Mas… apakah mereka ingin melakukan sesuatu yang sama seperti saat di Indonesia beberapa tahun lalu?”
“Motif mereka, adalah doktrin pemikiran para leluhur mereka semenjak ratusan atau bahkan ribuan tahun yang lalu. Ketika tujuan mereka terlaksana, niscaya ada manusia-manusia tak berdosa yang kehilangan nyawa. Ringkasnya, bersyukurlah. Sebab, apapun tujuan mereka, kau salah satu jiwa yang ditakdirkan untuk menghentikan mereka, sama seperti dulu.”
Pemuda beralis tebal memasang wajah serius. “Apa jadinya kalau saya langsung menargetkan kepala mereka, Mas?”
“Kau bukan Guntur atau pun Wildan saat pertama mereka mendapatkan anugerah besar-Nya. kau ini Raihan, santri kesayanganku yang mampu tenang dalam menyikapi permasalahan sepelik apapun. Bukankah tiap manusia harus jadi dirinya sendiri? Hehehe….”
Ia geleng-geleng, menghela napas lirih. ‘Anda benar, Mas…,’ pikir Raihan tersenyum kecil.
“Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Artinya, hukum semesta di setiap daerah terkadang berbeda-beda. Tapi, apa kau pernah dengar kisah tentang seorang pria asal negeri Barat yang ditolong oleh salah satu punggawa Pajajaran?”
Raihan mengerutkan dahi. “A-ada juga yang seperti itu? Tapi bukankah dulu orang-orang Barat datang ke Nusantara untuk menindas?”
“Tidak semuanya. Jangan pukul rata tiap-tiap dari mereka. wong kamu saja sekarang punya kawan berdarah Vampir, kok. Bukankah Vampir juga dikenal sebagai makhluk jahat? Hahahah!”
Raihan tersenyum malu. “Lalu bagaimana ceritanya, Mas?
Ki Panca membelakangkan tangan kanan ke belakang. Saat ia mendekatkannya ke mulut, tiba-itba sudah ada sebatang lisong di antara jepitan jari. “Kalau tidak salah, namanya Brend. Bukan s**u beruang loh ya!”
Raihan tertawa kecil, kembali memasang telinga saat sang guru hendak melanjutkan.
“Brend merupakan petinggi di negerinya. Karena satu dan dua hal, dia dituduh melakukan korupsi oleh orang-orang sesat berkedok pemerintah. Brend sendiri, merupakan pengikut sekte serupa. Dia dijadikan tangan kanan oleh orang-orang tersebut, karena dia mampu menggunakan kekuatan sihir dari sebuah kitab kuno. Padahal, dia sendiri tidak mempercayai kitab sihir tersebut.”
Raihan menyipitkan mata, iris matanya bergulir ke kanan-kiri. ‘Brend? Kenapa aku seperti merasa ada gambaran seseorang yang tak asing?’
“Brend yang saat itu berada di belahan Pulau Jawa, merasakan kejanggalan saat ia dalam perjalanan pulang. Semua yang disaksikannya menjadi asing, tidak seperti rute yang seharusnya. Dalam benaknya, terbesit wajah salah satu pria yang memintanya jadi tangan kanan. Tanpa sepengetahuannya, ada makhluk-makhluk setingkat rahyang dari negeri Mesir yang memburu jiwanya.”
“Jin dari Mesir? Tapi kenapa… Brend itu malah diburu, Mas?”
“Sebab dia tak meyakini kekuatan yang terkandung di kitab tersebut, dan seseorang yang mengutus jin tadi khawatir kalau-kalau Brend membocorkan soal kitab tadi.”
‘Kalau dipikir-pikir memang tak mengherankan… orang-orang LHA itu juga tidak ragu untuk membunuh rekan mereka sendiri demi tujuan atasan mereka,’ pikir Raihan manggut.
“Singkat cerita, Brend berhenti saat melihat sesuatu yang tak wajar. Mata kepalanya melihat adanya sosok harimau putih sebesar sapi.”
“Mmmmmm….” Pemuda berjaket hitam parasite mengangguk paham, bila sosok inilah yang dimaksud sebagai punggawa Pajajaran.
“Seperti manusia pada umumnya, Brend sempat ketakutan melihat sosok yang berjalan pelan di hadapannya. Tetapi ketakutan tersebut sirna, saat sang harimau berjalan pelan ke sampingnya. Bahkan, sang harimau tak melakukan gerakan perlawanan ketika Brend mengelus kepalanya.”
‘Jadi… harimau itu menjaganya dari Jin Mesir itu?’ terka Raihan.
“Benar,” sahut Ki Panca mendengar apa yang Raihan pikirkan. “Dia menemaninya hingga keluar dari hutan,” imbuhnya mengisap sebatang lisong di tangan. “Lantas, pelajaran apa yang kau petik dari kisah ini?”
“Alloh senantiasa menolong seseorang dengan segala cara, salah satunya dengan makhluk gaib yang ada.. begitu, Mas?”
Ki Panca tersenyum lebar. “Kalau kamu yang dulu, bisa-bisa malah jawab; ilmu gaib makhluk di Nusantara lebih kuat dari negeri manapun. Hahahah!”
Raihan tersenyum masam mendengar terkaan sang guru. “Yah, sebenarnya itu juga terpintas, sih…,” celetuknya lirih.
Ki Panca mengisap lisong di tangan, kemudian membuangnya lewat mulut. “Mungkin, makhluk-makhluk yang kau jumpai dari awal hingga detik ini di negeri kau berada sekarang, berwatak jahat dan beraura negatif. Tapi, yakinlah bila di penjuru bumi-Nya, selalu ada makhluk-makhluk yang masih menyembah Sang Maha Esa dengan cara mereka masing-masing. Karenanya, tak apa bila keadaan memaksamu menjadikan mereka wasilah.”
“Nggih, Mas. Siap!” sahut Raihan mantap.
“Ya wis… aku ono acara sik.” Pria mancung bersorban putih bangkit berdiri. Ia balik badan.
‘Aku hanya perlu tepat dalam menentukan sumber informasi mengenai ini,’ batin Raihan turut berdiri.
“Ahh, satu lagi.” Ki Panca menoleh ke belakang. “Ndang gerak. Sudah dibilang suruh jaga istrimu baik-baik. Sekarang dia sudah isi, loh! dua, kaya mi isi dua! Hahah….”
Pesan terakhir dari Ki Panca, membuat Raihan terbengong sekaligus semringah, meski didominasi rasa was-was.
*
(Sebuah hotel mewah, Kota New York.)
Brraaag!
Elizabeth menatap Nicole yang baru saja terempas ke dinding kuat-kuat akibat dorongan energi magis sang wanita penyihir berjubah merah. “Aku bahkan harus turun tangan untuk membawanya? Apa kurang jelas bila Yang Mulia membenci kegagalan?” Tangan kanannya mengadah ke depan seperti mencekik udara hampa.
“Huuurgh!” Lelaki yang dibalut jubah hitam dengan posisi badan di dinding, memegangi leher yang serasa diimpit oleh sesuatu tak kasat mata. “A-ampun… am… puni saya, Nyo… nya…..”
“Ada lima puluh persen manusia yang berbakat di dunia ini. Dan dari lima puluh persen, hanya ada dua puluh lima persen yang mampu menggunakan bakatnya,” ucap Elziabeth lirih, mengibaskan tangan kanan ke bawah.
Brrraak!
Nicole terempas ke bawah, menabrak meja keramik hingga remuk beserta vas bunga di sana. Ia mengaduh kesakitan. Tubuhnya tak mampu digerakkan, hanya pasrah dan terlentang di atas lantai berselimut karpet merah. “Huuurgh….”
Wanita berjubah merah panjang dengan tudung yang menutup kepala, berjalan maju mendekati Nicole. “Aku tak peduli jika pembangkitan tujuh makhluk ini gagal. Tapi jika kegagalannya mempengaruhi rencana besar Yang Mulia, maka tidak ada ampun bagi kalian….”
“Hwaaaargh!” Sekujurt kulit Nicole terasa terbakar, sebagian mulai melepuh. Padahal tidak ada api yang menyulut di badannya. Ia hanya menjerit, meraung memohon ampun tanpa bisa bergerak akibat lelah.
Setelah berada di dekatnya, Elizabeth berlutut satu kaki. “Aku dengar, Pria Jawa itu sedang menuju ke danau demi menyelamatkan temannya. Jika kau gagal lagi, mungkin kau bisa kabur dariku. Tapi dengan begitu, pergi sama saja dengan pengkhianatan. Dan pengkhianatan, harus dibalas dengan nyawa.” Jemari lentik berkuku panjang sang wanita bertudung menyentuh ubun-ubun pria mancung yang meraung kesakitan. “Apa kau paham, Tuan Nicole?”
“Hwaaauuurrrrng!” Tubuh lelaki berjubah hitam seketika ditumbuhi bulu-bulu halus. Lengan dan kakinya bertambah besar, dengan wajah yang menonjolkan moncong bak serigala.
“Orang itu, bukan lagi pria gegabah berkekuatan magis. Saat ini dia cukup cerdas,” ucapnya menarik lidah Nicole yang memanjang. “Jika kau membeberkan sesuatu tentang kami padanya, maka kepalamu akan meledak… dimulai dari lidahmu ini. Kemudian setelahnya, jiwamu akan dijadikan alas kaki olehYang Mulia di sana! Hahahahahah! Ahahahahh!”
Brrraaag!
Tubuh Nicole yang telah berubah jadi manusia serigala kekar berbulu hitam terpental ke dinding ruangan hingga rambut retakan menyebar ke sekelilingnya. Wujudnya kembali berubah jadi manusia – masih dengan beberapa sisa helai jubah hitam yang melekat di badannya.
Sang Penyihir Merah melangkah menuju daun pintu ruangan. “Kalau pun kau gagal, aku yakin gadis terpilih itu bisa melakukannya lebih baik darimu….”
*
(Masa kini, jalan aspal menuju desa terpencil Texas, Amerika.)
Dlep!
Raihan membuka sepasang mata masih dengan ingatan mimpi yang erat melekat di benaknya. ‘Mas Panca….’ Pemuda yang duduk di dalam bangku depan mobil di sisi sang supir, tersenyum semringah mengingat wajah sang guru.
“Ahh, kau sudah bangun?” tanya John menoleh pada lelaki berblangkon hitam. “Kebetulan, sebentar lagi kita sampai.”
“John?” sebut Raihan hendak menanyakan soal nama yang disebut sang guru di alam mimpi.
“Apa?” tanyanya kembali menatap jalan beraspal beriring pepohonan tanpa daun.
‘Ahhh… tidak. Seperti biasa, informasi yang beliau sampaikan terkadang tak diketahui banyak orang. Meski aku penasaran, siapa Brend yang beliau maksud, dan kitab apa yang bisa memanggil jin Mesir itu.’ Raihan menggeleng lirih. “Tidak. Tidak apa….” Mata kepalanya menyapu ke luar, di mana pohon-pohon tak berdaun berdiri di atas tanah retak nan gersang. Dedaunan yang ada di atas muka bumi pun, telah coklat mengering. ‘Tunggu… ini… aura di tempat ini, sangat mirip dengan gambaran yang aku terima kemarin malam?’
“Kekeringan separah ini, konon pernah terjadi di kawasan ini ratusan tahun lalu. Apa kau baru pertama kali melihat yang seperti ini?”
“Aku mendapati gambaran danau yang belum mengering malam kemarin saat Tom menelpon. Dari situ juga sudah janggal, kalau melihat hutan sekitar sampai kering kerontang begini.”
“Kau tahu di mana danau yang kau lihat itu?”
Pemuda berblangkon hitam menggeleng lirih. “Belum. Kita hanya perlu mencarinya nanti.”
“Lalu… apa ini merupakan kutukan dari makhluk yang kita buru?”
“Mereka yang tak kasat mata, memiliki tingkatan berbeda-beda. Memang benar, bahwa sebagian bisa mengakibatkan kekeringan seperti ini. Tapi, aku rasa kita harus pastikan lebih dulu.”
“Ngomong-omong... apa pendapatmu jika aku mengisap darah para penduduk desa yang menyerang kita nantinya?”
“Maksudmu?” Raihan mengerutkan dahi, menoleh pada pria mancung berambut pirang. “Apa mereka juga terlibat dengan LHA?”
“Dari legenda yang kudengar, orang-orang desa bertingkah aneh semenjak beberapa bulan lalu. Mereka sama sekali tak mengeluhkan kekeringan ini pada pemerintah lokal.”
“Apa yang menurutmu aneh dari hal itu?”
“Kabarnya, beberapa petugas kepolisian yang melakukan patroli ke daerah ini, hilang secara misterius bersama mobil mereka. Saat dilakukan pencarian, tidak ada barang bukti mau pun jejak mobil yang hilang. Semua lenyap bak ditelan bumi.”
“Kalau kau tahu begitu, kenapa kau biarkan Julius pergi begitu saja seorang diri?” tanyanya bernada tinggi.
“Satu jam setelah dia tiba di sana, beberapa anggota FBI dikirim untuk menyusul tanpa sepengetahuan Julius. Tapi, lagi-lagi mereka hilang. Dan hanya Julius yang masih memberi kabar pada kita… seolah-olah, sesuatu atau mungkin mereka, membiarkan Julius tinggal lebih lama di sana.”
Raihan mengatupkan bibir. ‘Apa ada yang special dari orang itu?’ Tiga detik ia berpikir, hingga sepasang netranya lebar terbuka. “Apa leluhur Julius berdarah bangsawan?”
“Ya. Ayah dari kakek buyutnya, konon merupakan pengawal kerajaan Belanda dulu. Tapi, hal itu diragukan karena ia bukan anak kandung dari ayahnya.”
“Maksudmu, dia anak angkat?”
“Benar. Sampai sekarang, kami juga belum tahu siapa ayahnya. Apa kau kira… dia juga akan dijadikan tumbal ritual?”
Raihan menghela napas. “Benar atau tidak, kita harus segera menemukannya.”
Setelah lima menit berlalu, jalan beraspal yang mereka lalui menyempit. Pepohonan gersang tak berdaun pun nyaris tak memiliki jarak di sekitar pinggiran jalan. Tepat lima puluh meter di jalan beraspal nan lurus, terlihat seorang perempuan berbusana pasien berdiri tegap membelakangi mobil yang John kemudikan. Meski klakson telah ia bunyikan beberapa kali, perempuan di sana tetap berdiri tak menggubris klakson. Hingga….
Brall!
Sedan yang mereka kemudikan membentur sesuatu tak kasat mata, seperti perisai gaib yang mengelilingi si gadis tersebut. Ledakan pun terjadi, membuat kendaraan roda empat tersebut dilalap api.