I'm A Mess For Your Love

3083 Kata
Happy Reading . . . *** Hari ini Noel akan mengunjungi sang ibu tercinta untuk yang terakhir kali sebelum ia akan berangkat ke Inggris untuk melanjutkan pendidikannya hingga ia bisa meraih gelar dokter. Ya. Noel akan melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi agar ia bisa menjadi dokter seperti yang ia cita-citakan ketika sang Ibu mulai mengalami gangguan kejiwaan. Noel sangat ingin jika nantinya ia sendiri yang akan merawat Darla, mengobati Darla hingga sang Ibu bisa sembuh dari sakitnya. Dan setelah mempersiapkan semua rencananya itu dengan matang-matang, akhirnya Noel pun bisa mewujudkan keinginannya untuk bersekolah di negeri orang dengan mengambil Spesialis Kedokteran Jiwa atau Psikiatri selama kurang lebih 8 tahun karena setelah Strata 1-nya selesai, ia akan langsung mengambil jenjang yang lebih tinggi yaitu Sub-spesialis atau bisa disebut sebagai konsultan agar nantinya ia juga bisa membantu orang-orang yang bernasib sama seperti Ibunya yang jiwanya sedang terguncang. Dan selama itu juga ia harus rela untuk berpisah dengan sang Ibu tercinta untuk sementara waktu. Setelah memarkiran motornya, Noel segera melangkahkan kakinya memasuki sebuah bangunan di mana sang Ibu berada. Ketika Noel memasuki sebuah ruangan, ia bisa melihat Darla yang sedang duduk membelakanginya di sebuah kursi roda menghadap ke jendela. Noel pun segera menghampiri dan melihat wajah Darla yang sudah cukup lama tidak ia lihat. "Ma, apa kabar? Maaf kalau Noel baru bisa jenguk Mama sekarang. Belakangan ini Noel sibuk mempersiapkan ujian sekolah Noel, dan kemarin baru saja Noel selesai ujian. Doain agar Noel lulus ya Ma, soalnya setelah semua urusan sekolah Noel yang di sini selesai, Noel akan langsung pergi ke Inggris buat nerusin sekolah Noel. Mama setuju kan kalo Noel nerusin sekolah Noel di Inggris? Noel ingin menjadi dokter biar nanti Mama bisa sembuh saat Noel yang merawat. Mama setuju kan?" Tangan Noel yang sejak tadi menggenggam tangan Darla merasakan reaksi dari Darla yang sedikit meremas tangan Noel. Noel bisa merasakan itu walaupun hanya sesaat saja. Ia tidak pernah merasakan hal tersebut ketika ia sedang berbicara dengan Darla, Ibunya itu merespon walaupun hanya sekedar menggerakkan tangan saja. "Mama setuju kalau Noel pergi ke Inggris?" Lagi-lagi Noel merasakan tangan Darla bergerak seperti ingin membalas genggaman tangannya. Noel sangat senang melihat Darla yang sudah mulai ingin merespon setiap ucapannya, walaupun hanya sekedar menggerakkan tangannya saja. "Noel nggak tahu maksud Mama ini. Tapi, feeling Noel bilang kalau Mama setuju sama rencana sekolah Noel nanti. Terima kasih Ma, Noel janji saat Noel nanti sudah lulus, Noel akan langsung pulang untuk ngerawat Mama. Yang penting di sini Mama jangan mikirin apa-apa, cukup doain Noel supaya sekolah Noel bisa lancar nantinya. Noel sayang Mama," serunya lalu Noel memeluk tubuh Darla dengan cukup erat. *** Satu Minggu kemudian dan hari di mana sekolah itu mengadakan acara perpisahan pun tiba. Dari pagi hingga sore hari Jade sudah berusaha untuk menemukan pakaian terbaik untuk ia pakai ke acara tersebut. Namun apa daya, Jade hanya bisa menemukan pakaian milik sang Ibu yang bisa membuatnya sedikit lebih pantas untuk datang ke acara itu. Walaupun ia harus sedikit menjahit pakaian milik Anitta dulu itu karena ukurannya yang masih cukup kebesaran di tubuh Jade. Dengan menggunakan dress berwarna putih yang warnanya sudah sedikit kusam, dress itu juga terlihat masih sedikit kebesaran saat di pakai Jade karena postur tubuhnya yang memang terlalu kurus membuat dress itu seakan-akan menenggelamkan tubuh Jade. Setelah itu ia memastikan rambut panjangnya yang tetap ia ikat dan wajahnya yang terlihat polos karena tidak ada satu jenis make-up pun yang menghiasi wajahnya. Itu semua karena Jade tidak ingin membuang-buang sejumlah uang tabungannya hanya untuk pergi ke salon. Karena itu sama saja dengan yang dinamakan pemborosan. Tidak lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu yang berasal dari pintu masuk rumah Jade. Setelah sekali lagi ia memastikan penampilannya di hadapan kaca, Jade melangkahkan kakinya keluar dari kamar untuk membukakan pintu karena ia yakin jika yang datang adalah Noel. Dan benar saja ketika Jade membuka pintu rumahnya, di sana sudah terdapat Noel yang sudah berdiri di depan rumahnya lengkap dengan pakaian tuxedo yang membuat pria itu menjadi semakin terlihat mempesona. "Lo sudah siap?" tanya Noel. "Sudah," balas Jade dengan singkat karena ia tidak ingin Noel tahu jika ia sedang terpesona melihat penampilan pria itu yang bisa dikatakan nyaris sempurna. "Kalo sudah, ayo kita berangkat sekarang. Lo nggak mau kalau kita telat ‘kan?" "Iya. Sebentar, aku ingin mengambil tas lalu mengunci pintu dulu." Lalu Jade melangkahkan kakinya ke dalam rumah untuk mengambil tas. Setelah itu ia bergegas ke luar dan tidak lupa untuk mengunci pintu rumah. "Kamu membawa mobil?" tanya Jade kepada Noel ketika mereka sedang berjalan menuju sebuah mobil mewah yang terparkir tidak jauh dari rumah Jade. "Emangnya lo mau nanti penampilan lo berantakan pas sampai sekolah karena gue bonceng naik motor?" "Kamu menyindir aku? Penampilan aku biasa-biasa saja, tidak ada yang spesial. Jadi, kalau pun kamu jemput aku pakai motor, itu bukan masalah." "Sudah nggak usah dibahas. Mending kita berangkat sekarang," balas Noel yang sudah membukakan pintu di bagian penumpang dan mempersilahkan Jade untuk masuk ke dalam mobil. Setelah Jade sudah naik ke mobil, Noel segera menutup pintu dan melangkahkan kaki ke sisi pengemudi untuk masuk ke dalam mobil dan segera melajukannya ke sekolah di mana acara perpisahan itu dilaksanakan. Cukup lama mereka menempuh perjalanan menuju sekolah karena mereka sempat terjebak di jalanan yang macet karena saat ini waktu sudah masuk ke dalam jam sibuk di mana orang-orang akan pulang dari kantornya sehingga lalu lintas tidak bisa diajak untuk berkompromi. Setelah mereka melewati kemacetan, akhirnya mereka tiba di sekolah yang sudah cukup banyak murid yang datang. Karena memang 30 menit lagi acara perpisahan akan dimulai. Noel pun langsung turun dari mobil, lalu ia membukakan pintu penumpang untuk Jade. Dan saat itu juga ketika Jade turun dari mobil, semua mata yang ada di lapangan parkir langsung tertuju kepada kedua orang tersebut. "Sudah nggak usah ditanggapin, anggap saja lo lagi jadi artis dadakan," ujar Noel kepada Jade yang sedang tertunduk karena semua pandangan mata itu sambil menutup pintu mobilnya. "Seharusnya kamu tidak perlu menjemput aku, Noel." "Terus sekarang kita udah di sini, memangnya lo mau pulang lagi?" "Bukan seperti itu. Aku hanya tidak ingin kamu juga menjadi pusat perhatian dan bahan perbincangan orang-orang karena aku." "’Kan tadi gue sudah bilang nggak usah ditanggapin, okay? Sudah sekarang lo masuk duluan, soalnya gue mau nemuin temen-temen gue dulu." Jade pun mengangguk dengan lemah dan ia langsung melangkahkan kaki menuju aula utama di mana acara tersebut akan dilaksanakan. Dan setelah Noel melihat Jade sudah memasuki gedung sekolah, pria itu langsung melangkahkan kaki menuju control room yang mengatur semua lightning, sound dan semua hal di acara perpisahan itu. Dan ketika Noel memasuki ruangan tersebut, ternyata di sana sudah ada kedua sahabatnya yang terlihat sedang mempersiapkan semua hal yang sudah mereka buat dan sepakati kemarin. "Sudah beres semua?" tanya Noel kepada Conrad. "Tenang saja, selama ada gue semuanya aman dan beres." "Apaan lo? Yang dari tadi jadi kacung gue mulu! Tapi begonya kenapa gue mau ya disuruh-suruh sama lo?" balas Jared dengan kesal kepada Conrad. "Ya itulah kelebihan lo. Begonya lebih banyak dari pada pinternya!" ujar Conrad dengan telak. "Sudah, mending kita ke aula sekarang, acaranya sudah mau mulai. Yang penting semuanya udah beres ‘kan?" seru Noel kepada kedua temannya itu. "Beres!" Setelah itu mereka langsung keluar dari control room dan melangkahkan kakinya menuju aula sekolah. Sebagian besar murid sudah berada di dalam aula dan beberapa murid juga masih berada di luar termasuk seseorang yang tertangkap mata oleh Noel yang masih berdiri di dekat pintu masuk aula. "Lo berdua masuk duluan saja," ujar Noel kepada kedua sahabatnya itu. Conrad dan Jared pun langsung melangkahkan kakinya memasuki aula. Sedangkan Noel melangkahkan kakinya menghampiri orang tersebut. "Nunggu apaan lagi sih?" tanya Noel. "Aku tidak menunggu apa-apa." "Ya sudah kalo gitu ayo kita masuk, acaranya juga sudah mulai," ujar Noel yang langsung menarik tangan Jade namun gadis itu langsung menahan tangannya sendiri. "Kamu saja yang masuk. Aku ingin di sini saja." Namun Noel tidak mendengarkan ucapan Jade tadi dan ia tetap menarik tangan Jade dengan sedikit paksaan agar gadis itu mengikuti langkahnya memasuki aula. Setelah mereka memasuki ruangan itu, Jade meminta kepada Noel agar ia berdiri di dekat pintu saja yang berarti jauh dari kumpulan murid-murid lainnya yang duduk di kursi yang disediakan selama acara formal berlangsung seperti saat ini kepala sekolah sedang memberikan kata sambutannya. "Ya sudah kalo lo mau berdiri di sini, gue juga bakal berdiri di sini." "Tidak perlu Noel, kamu bisa bergabung dengan teman-teman kamu. Di sana juga ada Ally, kasihan dia sendirian. Lebih baik kamu temani dia," ujar Jade dengan berbisik karena suasana di aula itu sedang hening. "Kalau lo maunya berdiri di sini, ya gue juga bakal berdiri di sini. Gampang ‘kan?" Jade pun memilih untuk diam dan mengalah karena percuma saja semua ucapannya itu akan selalu ditolak oleh Noel dan Noel pun pasti akan selalu menjawab. Setelah kepala sekolah selesai menyampaikan kata sambutannya, satu per satu nama murid di panggil ke atas panggung untuk diberikan sebuah kalung mendali sebagai tanda jika mereka sudah mengakhiri masa pendidikannya di sekolah itu. Setelah semua murid telah mendapatkan kalung mendali, acara formal pun berakhir dan dilanjutkan dengan acara non-formal di mana ada beberapa para murid yang mengisi acara seperti dance, bernyanyi dan lain-lain. Dan ada juga beberapa murid lainnya yang hanya menyaksikan penampilan itu sambil menyantap hidangan yang memang sudah disediakan. "Lo mau makan apa?" tanya Noel kepada Jade. "Aku tidak lapar." "Badan lo sudah kecil begini masih nggak doyan makan. Gue ambilin saja ya.” Jade pun hanya mengangguk sebagai jawabannya, ia hanya tidak ingin berdebat lagi dengan Noel. Namun di dalam hatinya ia sangat gembira melihat Noel yang sepertinya memang sudah berubah. Jade sangat senang merasa ia bisa sedekat itu dengan Noel, walaupun Jade yakin Noel hanya menganggapnya sebagai teman saja. "Nih... makan yang banyak," ujar Noel sambil memberikan satu piring penuh yang berisi beberapa potong dan macam-macam roti. "Noel, aku itu tidak rakus. Dan makanan yang kamu ambilkan ini terlalu banyak.” protes Jade. "Sudah makan saja nggak usah malu-malu." "Tapi kalau nanti makanannya tidak habis bagimana?" "Yaudah kita makan berdua, okay?” Noel pun langsung menarik tangan Jade menuju kursi yang kosong untuk mereka duduki. Setelah menemukan dua kursi yang kosong, mereka langsung menempatinya dan memulai makan. Noel pun tidak hanya omong kosong saja, seperti yang ia katakan tadi jika ia akan makan berdua dengan Jade dalam satu piring. Setelah menghabiskan makanan itu, Noel pun merasakan ponselnya yang berada di kantung celananya bergetar menandakan jika ada pesan masuk di sana. Noel mengambil ponsel miliknya dan melihat sebuah pesan yang tertera di layar ponsel itu. Tepat saat Noel memasukkan kembali ponselnya ke dalam kantung celananya, pembawa acara memberitahukan bahwa acar utama yaitu pesta topeng akan dimulai. "Ayo!" "Ke mana?" tanya Jade dengan bingung. "Lo barusan nggak denger? Pesta topengnya bakal dimulai, jadi kita disuruh ngumpul lagi di tengah-tengah aula buat dansa," jelas Noel. "Tapi aku tidak bisa dansa." "Nanti gue ajarin. Nih topengnya, lo pake dulu," ujar Noel sambil memberikan sebuah topeng yang sejak tadi ia simpan di dalam jasnya kepada Jade. Akhirnya Jade pun memilih untuk mengalah lagi dengan mengambil topeng itu dan melangkahkan kakinya bersama Noel di mana para murid lainnya sudah berada di tengah-tengah aula dan sudah mulai berdansa dengan pasangannya masing-masing. "Gini caranya," ujar Noel yang langsung menaruh kedua tangan Jade ke atas bahunya. Ia pun menarik tubuh Jade hingga tubuhnya menempel dengan tubuh Jade. Lalu Noel pun menaruh kedua tangannya di pinggang Jade yang kecil itu. "Terus ikutin arah gerak kaki gue," sambung Noel. Dengan alunan musik merdu yang sejak tadi sudah diputar, perlahan mereka pun mulai bergerak ke kanan dan ke kiri mengikuti irama musik. Jade pun sejak tadi tidak bisa mengontrol detak jantungnya yang berdetak kencang sejak tangannya menyentuh bahu tegap Noel. Untung saja Jade memakai topeng sehingga wajahnya yang sangat bersemu itu bisa disembunyikan. Jika seperti itu terus, perasaan cinta Jade terasa semakin dalam kepada Noel. Cukup lama mereka berdansa karena di antara mereka tidak ada yang berniat untuk mengakhiri dansa itu. Hingga akhirnya mereka tersadar karena terdengar suara ponsel Noel yang berdering. Lalu. Noel pun melepaskan tangannya yang memegang pinggang Jade untuk mengambil ponselnya yang ada di kantung celana, begitu juga Jade yang langsung melepaskan tangannya dari bahu Noel. Setelah melihat nama temannya di layar ponsel itu, Noel langsung tersadar jika ia harus melakukan suatu hal yang sudah ia rencanakan. Tanpa mengangkat panggilan itu, Noel pun sudah tahu arti dari panggilan tersebut. "Hhmm... gue ke toilet sebentar ya, nanti gue balik lagi. Gue tinggal dulu nggak apa-apa ‘kan?" ujar Noel kepada Jade. "Iya. Aku tunggu di sini." Noel pun langsung melangkahkan kakinya keluar dari aula menuju control room di mana kedua temannya itu pasti sudah berada di sana. "Sudah siap semuanya?" tanya Noel kepada Conrad. "Sudah." "Sudah lo pastiin ‘kan kalau nggak bakal ada yang keluar masuk aula lagi?" "Lo ‘kan liat sendiri kalau yang lain masih pada dansa, guru-guru juga sudah pada keluar dari aula. Jadi gimana kita mulai sekarang saja?" "Sebentar," balas Noel yang sedang melihat layar yang berasal dari CCTV di aula itu. Noel pun terlihat sedang memperhatikan situasi di aula itu. Sedangkan Jade di sana terlihat sedang gelisah karena menunggu Noel yang belum juga kembali dari toilet. Jade ingin meminta kepada Noel untuk mengantarnya pulang. Karena setelah ditinggal oleh Noel yang katanya ingin pergi ke toilet tadi, Jade langsung mendapat celaan dan ucapan-ucapan yang tidak enak untuk didengar dari para murid-murid di sana. Karena Jade sudah tidak tahan mendengar semua kata-kata itu, ia berniat untuk mencari Noel dengan menyusulnya ke toilet. Namun ketika Jade baru saja ingin melangkahkan kakinya, tiba-tiba saja semua penerangan dan audio di aula itu langsung mati yang membuat aula itu langsung hening. Dan tidak lama kemudian para murid pun langsung berkasak-kusuk kenapa bisa semua listrik di aula itu mati. Tidak lama setelah itu, layar proyektor yang berukuran besar yang berada di dekat panggung pun menyala dan membuat semua mata para murid otomatis melihat ke sana. Ruangan aula yang tadinya terasa sunyi langsung riuh akibat suara tawa para murid karena melihat layar proyektor yang menampilkan semua foto-foto dan video Jade yang diambil saat dia sedang menjalani hukuman, ada pula yang wajah dan seragamnya kotor terkena tanah dan masih banyak lagi wajah Jade yang terlihat konyol terpampang di layar itu. Suara tawa yang riuh itu tidak berhenti hingga semua penerangan di aula itu menyala dan menampilkan Jade yang sudah tertunduk menyembunyikan wajahnya yang sudah basah akibat air matanya. Ia di permalukan disaat terakhir kalinya ia menginjakkan kakinya di sekolah itu. Pasti ia akan semakin di kenang oleh para murid lainnya sebagai 'the worst girl' di sekolah itu. Ia sudah tidak tahan lagi berdiri di ruangan itu. Layar proyektor itu memang sudah mati dan tidak menampilkan wajah-wajah konyol Jade lagi, tetapi semua mata langsumg tertuju kepada Jade dan suara tawa terdengar semakin kencang. Jade pun akhirnya berlari meninggalkan para murid yang masih tertawa. Namun, ketika Jade membuka pintu aula dan baru saja melangkahkan kakinya keluar dari sana, tiba-tiba saja dari atas pintu ada sebuah ember yang langsung menumpahkan isinya hingga membuat seluruh tubuh Jade dari atas kepala hingga ujung kaki menjadi kotor. Karena isi ember tersebut penuh dengan campuran dari tepung, lumpur dan air yang pasti akan terasa lengket. Jade pun merasa tidak bisa menggerakkan kaki. Ia sangat terkejut atas apa yang terjadi padanya. Ia malu, sangat malu. Suara tawa yang tadinya sempat reda kini kembali terdengar, bahkan terdengar lebih kencang ketika melihat tubuh Jade yang terdiam dan berlumuran tepung dan lumpur yang sudah larut dengan air. Saat Jade masih dalam keterkejutannya, Noel pun datang dengan kedua temannya dan berhenti tepat di hadapan Jade. "No-el. To-long aku," suara Jade yang bergetar meminta pertolongan kepada Noel. Setelah mendengar ucapan Jade tadi, Noel pun mengambil dua buah botol dari tangan Conrad dan ia pun langsung menuangkan isinya yang berupa glitter itu ke atas kepala Jade. Noel memilih benda itu karena ia pikir glitter adalah hal yang sangat susah untuk dihilangkan. Sama seperti perihal ini yang sangat Noel inginkan agar Jade tidak pernah melupakannya. "Lo berdua nggak ada yang mau bantuin gue?" tanya Noel kepada kedua temannya itu. Setelah mendengar perintah dari Noel tadi, Conrad dan Jared pun langsung menuangkan glitter yang masih tersisa tiga botol lagi kepada Jade. "Perfect," ujar Noel sambil tersenyum senang karena semua rencananya sudah berjalan dengan lancar. Para murid lainnya pun hanya bisa menyaksikan aksi Noel dan teman-temannya itu dari belakang sana sambil tertawa. Tidak hanya dengan itu saja, Noel pun mengangkat kerah baju yang dipakai Jade dan langsung membanting punggung gadis itu ke dinding yang berada di sebelah pintu hingga membuat Jade tidak bisa bernafas karena tercekik. "Lo denger baik-baik," ujar Noel tepat di telinga Jade dengan berbisik sehingga kedua temannya itu tidak bisa mendengar. "Jangan pernah ikut campur dengan urusan gue. Jangan pernah ikut campur dengan kehidupan gue. Gue nggak suka kalau ada orang asing yang ikut campur tangan dengan kehidupan gue. Gue tahu kalo selama ini lo diem-diem datang ke tempat di mana nyokap gue berada. Apa yang sudah lo lakuin di sana? Pura-pura baik di depan nyokap gue, mau cari perhatian sama dia. Denger sekali lagi, pake telinga lo dengan baik-baik! Gue nggak butuh orang yang pengen jadi pahlawan kesiangan buat gue. Gue nggak butuh orang-orang yang mau cari perhatian kayak lo. Karena lo itu nggak lebih dari seorang pecundang! Ngerti Lo?!" sambung Noel dengan teriakan di akhir kalimatnya sambil membanting tubuh Jade ke dinding hingga membuatnya terjatuh ke lantai. "Baby. Kamu nggak perlu teriak-teriak seperti itu. Lebih baik kita pulang saja ya," ujar Ally yang tiba-tiba saja datang dan memeluk tangan Noel dengan manja. Setelah itu mereka pun langsung pergi meninggalkan Jade yang tertunduk dan tidak bisa menahan air matanya yang terus-menerus menetes. Lalu satu per satu murid pun juga memilih untuk pulang setelah melihat pertunjukkan yang sangat menarik dan begitu menghibur. Jade. Gadis itu hanya bisa terdiam, terduduk sambil memeluk kedua lututnya dan membiarkan air matanya terus mengalir. Ia merasa begitu malu dan ketakutan. Ia hancur, sangat hancur karena ia harus menerima kenyataan bahwa pria yang sangat ia cintai itu telah membuat hatinya hancur berkeping-keping. Ia pikir pria yang sangat ia cintai itu sudah berubah, ia pikir pria yang sangat ia cintai itu sudah bisa menerima dirinya dikehidupan pria itu. Tetapi apa? Yang ia terima adalah kesakitan dan kehancuran. Sama seperti apa yang sudah ia terima dari orang lain. Dan hal itu pasti akan ia kenang selama hidupnya. *** To be continued . . .
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN