Ready To Get Some 'KARMA' ?

1972 Kata
Happy Reading . . . *** Bulan telah berganti. Dan hari ini adalah hari terakhir di mana Jade sudah melaksanakan ujian akhir yang akan menentukan lulus atau tidaknya ia dari sekolah itu. Dan rencananya, minggu depan sekolah itu akan mengadakan acara perpisahan bertema pesta topeng. Semua murid angkatan terakhir sangat bersemangat sekali menyambut acara tersebut mengingat jika hal itu adalah acara terakhir di mana mereka akan merayakannya bersama-sama. Tetapi tidak dengan Jade. Justru acara-acara seperti itulah yang sangat ingin ia hindari. Ia tidak yakin jika ia bisa membaur di acara seperti itu mengingat Jade adalah murid yang selalu diasingkan. Dan saat ini Jade ingin pulang karena kegiatan di sekolah sudah seledai, dan ketika ia sedang melangkahkan kakinya menuju parkiran, tiba-tiba saja namanya dipanggil dari kejauhan. Sedangkan Jade yang merasa namanya dipanggil langsung menghentikan langkah lalu membalikkan tubuhnya hingga kini ia berhadapan dengan Noel. "Lo sudah tahu kalo Minggu depan nanti sekolah bakal ngadain acara perpisahan?" tanya Noel kepada Jade. "Sudah. Memangnya ada apa?" "Lo sudah ada rencana mau dateng sama siapa?" "Hhmm... sebenarnya malah sama sekali aku tidak ingin datang ke acara itu." "Emangnya kenapa? Bukannya acara itu wajib?" "Aku tahu kalau acara itu wajib, tapi ..." "Tapi lo takut?" ujar Noel to the point. Jade pun menjawabnya dengan anggukkan kepala. "Lo dateng sama gue. Nggak usah takut mikirin yang lain." "Tapi ..." "Tapi, tapi mulu." "Tapi nanti Ally sama siapa kalau kamu perginya sama aku?" "Nggak usah mikirin dia. Lagian gue sama dia sudah nggak ada hubungan apa-apa lagi." "Memangnya kamu sudah putus sama Ally?" "Hhmm... sebenarnya baru break aja sih. Tapi bagi gue suatu hubungan itu nggak ada yang namanya break, jadi bagi gue itu kita sudah putus. Hhmm... maksud gue, gue sama Ally yang sudah putus.' Jade yang mendengarkan Noel berbicara dengan cukup panjang hanya menatap Noel sambil menahan tawanya. Ia masih tidak yakin saja jika Noel yang selama ini hanya menganggapnya seperti sampah layaknya murid yang lain, namun kini ia terlihat lebih santai ketika berhadapan dengannya dan seakan-akan pria itu pun juga lupa dengan suatu hal yang sudah ia rencanakan. "Ngapain lo malah ngeliatin gue? Lo mau ngetawain gue?" "Hah? Tidak. Hhmm... aku hanya bingung saja dengan sikap kamu yang tiba-tiba saja berubah seperti saat ini." "Maksud lo?" "Iya, kamu berubah. Sekarang kamu tidak pernah lagi berbicara secukupnya kepadaku. Dan dulu juga ketika aku ingin menghampiri kamu ataupun memberikan sesuatu kepada kamu, kamu sudah kabur duluan dan bahkan ngebuang semua pemberianku saat itu juga. Tetapi sekarang kamu berbeda, kamu yang sekarang justru malah seperti ingin berteman denganku. Ada apa denganmu Noel? Kamu tidak bermaksud untuk mempermainkanku, bukan?" "Emang setiap orang nggak boleh berubah ya?" "Bukannya seperti itu. Tetapi kamu tahu bukan, di sekolah ini aku seperti apa? Semua murid di sini bahkan tidak ada yang ingin berteman denganku, sedangkan sekarang kamu malah sebaliknya melakukan hal itu kepadaku. Aku memang wanita bodoh dan jelek, tetapi aku tetap manusia yang masih memiliki hati nurani dan harga diri. Aku akan sangat sedih jika nantinya ..." "Lo ngomong apa sih? Lo bingung kenapa gue tiba-tiba berubah dan jadi ingin berteman sama lo kayak gini? Iya? Asal lo tahu, gue cuman kasian ngeliat lo yang selalu di-bully sama murid-murid lain karena kekurangan lo ini. Katanya lo punya hati nurani? Lo punya harga diri? Tapi kenapa setiap lo di-bully lo hanya diam saja. Apa lo nggak kasian sama diri lo sendiri?" 'Great! You are such a reliable actor, Noel' batin pria itu. "Maaf, aku hanya takut. Takut jika kamu akan berubah lagi dan tidak ingin menjadi temanku lagi." "Yaudah sekarang balik ke topik awal. Lo mau nggak pergi ke acara perpisahan itu sama gue?" "Tapi apa kamu nggak malu?" "Gue harus malu sama siapa? Emangnya gue nggak pake baju apa harus malu-malu gitu?" Jade menundukkan kepalanya untuk tertawa sejenak karena ucapan Noel tadi. "Jadi gimana?" "Iya, aku mau. Tapi aku tidak punya topeng." "Gampang, nanti gue yang beliin." "Okay. Kalau begitu, aku pulang duluan ya." "Buru-buru amat. Ini masih termasuk pagi kali." "Hhmm... ak-aku ingin pergi ke suatu tempat dulu soalnya." "Mau kemana?" "Ke-ke suatu tempat." "Biar gue anter." "Tidak perlu. Aku membawa sepeda, jika kamu ingin mengantarku, lalu bagaimana dengan sepedaku?" " 'Kan bisa ditinggal." "Lalu jika aku ingin pergi ke mana-mana aku harus menggunakan apa? Kamu lupa kalau mulai besok kita sudah libur dan kita akan bertemu lagi saat acara perpisahan Minggu depan tiba?" "O iya. Yaudah kalau gitu hati-hati bawa sepedanya." "Kamu juga kalau pulang hati-hati bawa motornya." "Minggu depan gue jemput di rumah lo. Kita berangkat bareng ke acara perpisahan." "Okay. Kalau begitu aku duluan ya. Sampai jumpa." Setelah Noel menganggukkan kepalanya, Jade langsung melangkahkan kakinya menuju parkiran sekolah untuk mengambil sepedanya lalu ia meninggalkan sekolah. Sedangkan dengan Noel, ketika ia melihat Jade sudah menghilang dari pandangannya ia hendak menyusul kedua sahabatnya yang sejak tadi berada di kantin dan ingin mengatakan suatu hal kepada mereka. Namun ketika Noel baru saja membalikkan tubuhnya, ia langsung terkejut karena kedua sahabatnya itu tiba-tiba saja sudah berada di hadapannya. "Sialan... ngagetin gue aja lo! Perasaan tadi katanya lo berdua mau nunggu di kantin. Kenapa tiba-tiba jadi pada di sini?" "Gue sama Jared sekarang cuman mau mastiin saja sama lo. Sebenarnya ada apa sih sama diri lo sendiri?" ujar Conrad to the point. "Lo ngomong apaan sih?" "Lo pasti sudah tahu maksud dari pertanyaan kita tadi?" timpal Jared. "Jade?" "Ya iyalah! Pake nanya segala," balas Conrad dan Jared secara bersamaan. "Santai dong. Kompak amat lo bedua kayak mau lomba saja." "Gue sama Jared lagi nggak mau bercanda. Lo itu temen kita Noel, dan kita juga sahabatan dari jaman kita masih ingusan. Gue cuma nggak mau lo tiba-tiba saja berubah kayak gini. Berubahnya karena cewek cupu itu lagi." "Bener tuh. Pake juga putus segala sama Ally. 'Kan kasian dia, cewek cakep malah lo buang gitu saja. Kalau lo campakin Ally kayak gitu, mending dia buat gue aja kalo gitu." "Diem lo!" bentak Noel dan Conrad dengan kompak setelah mendengar ucapan Jared yang melenceng dari topik pembicaraan. "Kejam banget sih lo berdua. Gue ‘kan cuma bercanda." "Gini saja deh. Nanti malem lo bedua dateng ke rumah gue." "Mau ngapain? Ada minumannya nggak?" ujar Jared asal. "Nanti gue kasih air keras, banyak tuh di rumah gue. Mau?" balas Noel telak yang langsung membuat Jared menggerutu. "Emang lo mau ngapain nyuruh kita berdua dateng ke rumah lo?" "Gue pengen ngomong sama lo berdua." "Kenapa nggak sekarang saja?" "Nanti malem saja. Sekalian lo berdua nginep di rumah gue." "Yaudah ntar kita berdua ke rumah lo." "Kalau gitu gue cabut duluan." "Buru-buru amat sih bos, perut aja belum diisi dari tadi. Lo main cabut saja." "Gue mau mastiin sesuatu dulu. Nanti malem kalau lo berdua di rumah gue, gue bakal ceritain semuanya." "Yaudah kalo gitu." Setelah itu lalu Noel langsung melangkahkan kakinya menuju parkiran dan bergegas melajukan motornya ke suatu tempat untuk memastikan sesuatu setelah ia mencium sesuatu yang tidak beres tadi. *** Seperti biasa ketika ia sedang melakukan penguntitan, pria itu memberhentikan motornya di bawah pohon besar yang jaraknya tidaklah jauh dari sebuah bangunan untuk mencari seseorang yang sedang ia cari. Dan benar saja, tidak lama kemudian ia melihat seorang wanita yang sedang ia cari. Dan perasaannya yang sejak tadi mengatakan jika wanita itu memang pergi ke tempat itu tidaklah salah. Sudah kesekian kalinya juga pria itu memergoki wanita itu yang selalu mendahuluinya mendatangi tempat itu ketika ia ingin melihat kondisi seseorang yang sangat berharga di hidupnya. Pasalnya ketika ia sedang mendatangi tempat itu dan melihat wanita itu sudah berada disana, niatnya yang tadinya ingin menjenguk seseorang itu langsung lenyap begitu saja karena melihat wanita itu. Sebentar lagi. Sebentar lagi ia akan mempermalukan wanita itu di depan umum. Pria itu akan membuat wanita itu mengerti akan arti jika ia tidak perlu menjadi orang yang suka mencari perhatian ataupun menjadi pahlawan kesiangan baginya atau entah bagi siapa pun itu. Kenapa pria itu ingin melakukan hal itu, karena ia tidak suka jika hidupnya ataupun privasi-nya di campur tangani oleh orang lain. *** Noel membukakan pintu rumahnya setelah ia mendengar bel rumahnya berbunyi. Setelah ia membukakan pintu dan menampilkan kedua sahabatnya yang ternyata datang, ia langsung menyuruh kedua sahabatnya masuk ke dalam rumahnya. "Sepi amat nih rumah. Pada kemana penghuninya?" ujar Jared dengan asal sambil melangkahkan kakinya menuju sofa yang berada di ruang tamu. "Mau rame? Bantuin gue bakar nih rumah, mau?" balas Noel sambil melangkahkan kakinya menuju dapur untuk mengambil minuman. "Noel, kata kakek gue itu kalo ngomong itu harus di jaga. Kalo ada setan lewat terus dia denger ucapan lo barusan gimana? 'Kan bisa berabe nanti kalo rumah lo beneran kebakaran," seru Jared yang menasehati Noel. "Diem lo, ngoceh mulu kaya burung onta," timpal Conrad yang merasa jengah karena mendengar ucapan Jared yang sama sekali tidak penting untuk di dengar. "Yeee... mana ada burung onta secakep gue." "Ngomong mulu. Nih, biar diem," ujar Noel sambil melempar sebuah botol minuman beralkohol kepada Jared yang langsung membuat pria itu sigap menagkapnya. "Gue ga nyangka ternyata lo nakal juga,” balasnya berpura-pura terkejut. "So suci lo!" "Lo emang yang terbaik," balas Jared yang tanpa malu-malu lagi langsung menyambar minuman itu. "Emang nih burung onta satu nggak ada sopan-sopannya. Yang punya rumah saja belom minum, dia sudah nyamber duluan," cibir Conrad. "Biarini saja. Di sini gue cuma butuh lo doang buat ngomong," balas Noel kepada Conrad. "Jadi di sini gue nggak dibutuhin nih?" tanya Jared dengan wajah yang dibuat-buat marah. "Tugas lo di sini cuman diam dan menjadi pendengar. Gue nggak butuh kritik dan saran lo," balas Noel yang langsung membuat Jared terdiam. "Terus apaan yang mau lo omongin? Sampe nyuruh-nyuruh gue sama Jared nginep segala." "Gue pengen ngelakuin sesuatu dan gue butuh ide bagus dari lo." "Apaan emangnya?" Lalu Noel memberitahu maksud dari perkataannya tadi yang ingin melakukan suatu hal. "Atas dasar apa lo mau ngelakuin itu ke dia?" tanya Conrad dengan sangat penasaran. "Ya... gue pengen saja ngelakuin itu." "Tapi itu bukan sesuatu yang gampang, lo pasti tahu resikonya 'kan?" "Resiko apaan sih? Emangnya lo pada nggak mau bantuin gue? Kalo nggak mau, gue juga bisa sendiri." "Bukannya gitu Noel, tapi ..." "Intinya lo pada mau bantuin gue atau nggak?" "Ya mau gimana lagi, lo sahabat kita. Mau nggak mau ya kita harus bantuin lo, kita nggak mau lo kesusahan sendirian nantinya." "Jadi lo pada mau bantuin gue?" "Iya." "Lo sudah setuju, tuh temen lo yang satu lagi diem aja dari tadi." "Tau nih si burung onta dari tadi diem mulu," seru Conrad sambil memukul bahu Jared. "Hah?" Namun yang ditanya sudah mulai tidak fokus karena minuman yang ia minum membuatnya menjadi cukup tidak sadarkan diri. "Sudah ah males gue, kalo nggak inget temen sudah gue buang saja tadi di jalan," ujar Conrad dengan kesal. "Yaudah biarin aja, kita jadiin dia anak bawang saja. Kalo kita butuh apa-apa, baru deh kita suruh dia," balas Noel dengan santai. "Boleh juga." "Berarti mulai besok, lo sama gue harus nyari informasi dan barang-barang yang bakal kita butuhin nanti." "Oke. Tapi lo masih nggak mau ngasih tahu latar belakang kenapa lo sampai mau ngelakuin hal kayak gitu? Gue sahabat lo Noel, sebagai sahabat seharusnya lo terbuka sama gue." "Gue bakal kasih tahu kalau gue sudah siap dan kalau waktunya juga sudah tepat." "Kalau itu mau lo, sebagai temen gue cuma bisa mendukung dan percaya sama lo saja." "Nah... sekarang temenin gue makan. Tiba-tiba gue jadi laper habis ngeliat temen lo yang nggak guna itu." "Emangnya lo punya makanan?" "Gue tadi udah delivery, gue ‘kan nggak b**o kayak temen lo." "Tau tuh, kalo nggak inget dari jaman kita masih main hujan-hujanan sudah bareng-bareng, sudah bakal gue tendang dia dari tadi." Setelah Conrad mengeluarkan sumpah serapahnya, ia langsung menyusul Noel yang baru saja melangkahkan kakinya menuju dapur dan meninggalkan satu temannya yang tidak tahu diri itu. *** To be continued . . .
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN