A Chance

1233 Kata
Happy Reading . . . *** Hari ini adalah hari minggu, hari di mana Jade memiliki waktu luang dan selalu ia gunakan untuk membersihkan rumahnya. Karena saat hari-hari biasa, Jade selalu di sibukkan dengan kegiatan sekolahnya mengingat sebentar lagi ia akan menghadapi ujian akhir. Dan ketika Jade sedang membersihkan kamar yang dulunya pernah di pakai oleh Anitta, ia mendengar suara pintu rumahnya yang diketuk. Lalu Jade melangkahkan kakinya menuju jendela rumahnya dan mengintip siapa yang pagi-pagi seperti ini sudah datang ke rumah. Dan betapa terkejutnya Jade ketika melihat Noel yang sedang berada di luar sambil mengetuk pintu rumahnya. Ia langsung salah tingkah sendiri dan tidak tahu yang harus ia lakukan. Sedangkan di luar Noel masih terus mengetuk pintu rumah Jade. Lalu Jade menenangkan dirinya agar ia tidak salah tingkah di depan Noel nanti. Setelah diri Jade lebih tenang, ia langsung membukakan pintu rumahnya. "Hai," sapa Jade sambil mengeluarkan senyumannya kepada Noel. "Lo lagi sibuk?" "Hhmm... lagi bersih-bersih rumah saja. Memangnya kenapa?" "Ikut gue sebentar." "Ke mana?" "Nanti lo juga tahu." "Tapi aku ganti baju dulu ya." "Yaudah, tapi jangan lama-lama." "Iya. Kamu masuk dulu saja, duduk di dalam sambil nunggu aku ganti baju." Setelah Noel menganggukkan kepala, ia masuk ke dalam rumah Jade dan langsung duduk di kursi. Lalu Jade melangkahkan kaki menuju kamar untuk mengganti pakaiannya. Dan tidak lama kemudian, Jade keluar dari kamarnya dan ia melangkahkan kaki menghampiri Noel yang sedang duduk di ruang tamunya. "Aku sudah siap. Ayo kita pergi," ujar Jade yang membuat Noel mengangkat pandangannya dari ponsel miliknya yang ia genggam. "Lo nggak ada baju lain?" tanya Noel sambil terus menatap pakaian yang dikenakan Jade. Memang baju yang Jade kenakan saat ini sudah tidak enak untuk dilihat. Jade hanya mengenakan kemeja warna biru dan celana panjang yang ukurannya cukup kebesaran di tubuhnya. Itu pun warna pakaian yang Jade kenakan sudah terlihat kusam, karena pakaian itu adalah pakaian yang dulunya dimilik oleh Anitta. "Hhmm... memangnya ada yang salah? Baju yang aku punya memang seperti ini semua." "Yaudah ayo, kita pergi sekarang," seru Noel dengan pasrah. Setelah itu Noel langsung keluar dari rumah Jade begitu saja meninggalkan Jade yang masih terdiam memikirkan ucapan Noel yang sepertinya tidak menyukai pakaian yang ia pakai. Lalu dengan langkah berat, Jade melangkahkan kakinya keluar dari rumah tidak lupa dengan mengunci pintu terlebih dahulu. Dengan berat hati Noel menyalakan mesin motornya dan melakukannya setelah Jade menaiki motornya. Tidak butuh waktu yang lama karena jalanan pun cukup lenggang pagi ini, Noel memberhentikan motornya di depan gerobak penjual bubur ayam. "Turun," perintah Noel yang langsung dilakukan Jade. "Lo suka bubur ayam nggak?" "Suka." "Yaudah lo cari meja yang kosong biar gue pesenin buburnya." Setelah itu Jade melangkahkan kakinya menuju meja yang kosong lalu ia duduk di kursi. Tidak lama kemudian Noel datang dengan membawa dua mangkuk bubur di tangannya. "Nih... bubur lo," ujarnya sambil menaruh satu mangkuk di hadapan Jade. "Terima kasih." "Hari ini gue lagi pengen banget makan bubur ayam." "Kenapa kamu tidak mengajak Ally saja?" "Ally mana pernah mau gue ajak makan di sini. Makanan di pinggir jalan gini nggak se-level sama dia." Jade memilih tersenyum dan mulai memakan bubur miliknya. Ia hanya menyembunyikan rasa bahagianya saja karena hari ini adalah hari terbaiknya. Selain karena ia bisa makan bersama dalam satu meja dengan Noel, kenyataan lainnya adalah Noel berubah menjadi pribadi yang lebih hangat pagi ini. Semua ini masih bagaikan mimpi bagi Jade, terlalu sempurna rasanya. "Enak nggak bubur ayamnya?" tanya Noel disela-sela makannya. "Enak, aku suka." Noel pun menganggukkan kepalanya ,setelah itu ia kembali menyantap bubur miliknya yang tinggal setengah. Lalu setelah beberapa saat mereka sudah menghabiskan bubur ayamnya masing-masing, Noel langsung membayar dan mengajak Jade untuk pergi ke suatu tempat lagi. Sedangkan Jade hanya menganggukkan kepala dan mengikuti kemauan dari Noel yang ingin membawanya kemana saja. Jade tidak pernah memikirkan tentang sesuatu yang aneh dibalik sikap Noel yang tiba-tiba saja mau mendekati dan bersikap baik kepadanya. Jade tidak pernah memikirkan hal itu, yang ia pikirkan hanyalah berusaha agar ia tidak terbangun dalam mimpi indah yang sedang ia alami ini. *** Jade masih tidak bisa menutupi rasa tidak enaknya terhadap Noel. Karena saat ini mereka sedang berada di sebuah toko buku, di mana sejak tadi Noel terus memasukkan buku-buku yang ada di rak ke dalam tas keranjang yang dibawa Jade. "Noel, ini sudah lebih dari cukup. Aku tidak memiliki uang yang banyak untuk mengganti semua buku-buku ini," keluh Jade yang lagi-lagi ia ucapkan ketika Noel masih saja mengambil buku-buku dari rak. "Sudah lo diem saja. Lo mau lulus ujian nggak?" "Iya mau, tapi kamu tidak perlu membelikanku buku-buku sebanyak ini. Semuanya juga belum tentu terpakai dan kamu hanya membuang-buang uang kamu saja." "Gue cuma mau bersikap baik sama lo tapi kenapa lo bawel banget sih? Waktu kemaren Ally sudah ngerusakin buku yang baru aja lo beli. Terus kemaren dia sama temen-temennya juga nyeburin tas sekolah lo yang isinya buku-buku pelajaran. Kalau sekarang gue nggak beliin lo buku-buku ini, lo mau belajar dari mana? Lo mau nilai ujian lo jelek terus lo nggak lulus?" Jade menggeleng dengan cepat dan ia merutuki kebodohannya karena ia baru saja membuat Noel marah kepadanya. "Iya aku minta maaf. Aku tahu kamu cuma mau bersikap baik, tetapi aku juga tidak merasa enak karena kamu sudah terlalu baik, Noel. Aku tidak mau uang kamu terbuang hanya karena kamu beliin buku-buku ini." "Anggap saja gue gantiin buku-buku lo yang sudah dirusak sama Ally kemarin." Jade menganggukkan kepalanya dengan cepat dan memilih untuk mengalah saja. "Ada lagi buku yang mau lo beli?" "Tidak. Ini semua sudah lebih dari cukup." "Yaudah kita bayar ke kasir sekarang." Ketika semua buku-buku yang dibeli tadi telah di-scan di mesin kasir, Jade langsung terbelalak karena melihat jumlah harga yang harus dibayarkan. "Noel, kamu serius ingin membayar semuanya?" bisik Jade kepada Noel ketika Noel ingin mengambil dompet miliknya di kantung celana belakangnya. "Tugas lo cuma tinggal terima dan belajar yang bener biar lo lulus. Okay?" balas Noel sambil memberikan beberapa lembar uang seratus ribu kepada petugas kasir. Setelah proses transaksi itu selesai, Noel langsung memberikan dua kantong plastik besar berisi buku-buku yang tadi di beli kepada Jade. "Belajar yang bener." "Iya. Terima kasih ya Noel, kamu sudah beliin buku-buku ini buat aku." "Yaudah sekarang gue anter lo pulang, soalnya nanti sore gue sudah janji buat main futsal sama temen-temen gue." Jade pun menganggukkan kepala dan mengikuti Noel yang sudah berjalan terlebih dahulu keluar dari toko buku itu. Dan lagi-lagi kali ini Jade tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya lagi setelah apa yang Noel lakukan kepadanya. Tanpa memikirkan alasan yang dimiliki Noel dibalik semua perlakuan baiknya kepada Jade yang sebenarnya adalah perlakuan yang sangat menjijikan baginya. *** Di balik sebuah pohon, seorang pria kembali merasa geram ketika melihat wanita itu lagi yang sudah kedua kalinya mendatangi orang yang paling berharga di hidupnya dan bersikap seakan-akan wanita itu sangat kenal sekali dengan seseorang yang sangat berharga. Pria itu tidak suka jika ada orang asing yang dengan tiba-tiba saja datang ke kehidupannya dan bersikap seolah-olah ia adalah pahlawan yang patut diacungi jempol karena sikap baiknya. Tetapi yang ada pria itu malah merasa muak karena melihat tingkahnya. Ia semakin benci kepada wanita itu dan merasa semakin tidak sabar menanti hari itu tiba. Hari di mana ia memberikan pelajaran kepada wanita itu agar tidak perlu menjadi wanita dengan topeng pahlawan kesiangannya. *** To be continued . . .
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN