Happy Reading . . .
***
Noel melangkahkan kakinya menuju kantin setelah tadi ia mengantarkan Jade ke kelas. Pria itu langsung mendudukkan dirinya di samping Conrad dan merebut botol air mineral yang hendak Conrad minum.
Setelah meminum air mineral itu, Noel langsung menatap kedua sahabatnya dengan pandangan bingung karena mereka berdua sedang menatap Noel tanpa berkedip.
"Lo pada ngapain sih?" ujar Noel dengan pandangan jijik karena melihat wajah kedua sahabatnya yang masih menampilkan wajah freak-nya.
"Gue kira otak lo sudah nggak beres."
"Maksud lo?"
"Gue masih nggak percaya sama yang lo lakuin tadi. Lo bener-bener dateng sama si culun itu?"
"Emangnya kenapa?"
"Lo bener-bener nggak habis kesambet 'kan? Ada rencana apa lo tiba-tiba saja mau temenan sama si culun. Pake segala berangkat bareng lagi," tanya Jared dengan nada curiganya.
"Rencana apaan sih? Gue lagi nggak punya rencana apa-apa."
"Terus kalo lo lagi nggak punya rencana apa-apa, ada angin apa lo tiba-tiba mau deket sama tuh orang?"
Noel memandang kedua wajah sahabatnya itu dengan saling bergantian.
"Ne-think mulu lo. Sudah cabut, bentar lagi masuk."
Noel melangkahkan kaki meninggalkan kedua sahabatnya yang masih bertanya-tanya tentang sikap perubahan Noel. Sedangkan Noel, hanya mengabaikan tingkah kedua sahabatnya yang tiba-tiba saja menjadi detektif dadakan.
Setelah semua jam pelajaran selesai, Noel mesandarkan tubuhnya di dinding sambil menunggu Jade keluar dari kelas. Hari ini kelasnya dan kelas Jade tidak ada pelajaran tambahan, jadi ia memutuskan untuk mengajak Jade pergi ke toko buku dan membelikan Jade buku yang sudah dirusak oleh Ally kemarin.
Namun setelah murid terakhir yang keluar dari kelas Jade, Noel tidak melihat gadis tersebut yang keluar dari kelas. Sepertinya tadi pagi Noel sudah mengantarkan Jade hingga ia masuk ke dalam kelas, tetapi mengapa saat ini Jade tidak ada di kelasnya?
Lalu Noel menghampiri beberapa murid yang satu kelas dengan Jade yang masih berada di dekatnya.
"Lo liat Jade?" tanya Noel kepada salah satu siswi yang sedang berbincang dengan temannya.
"Nggak tuh, dari jam pertama tadi dia nggak ada."
"Serius?"
"Nggak percaya banget sih. Lagian lo ngapain pake ngurusin tuh orang? Gue kasih tau ya Noel, kalau lo mau cari temen, cari yang beneran dikit dong. Masa muka buruk rupa gitu mau lo jadiin temen. Yang bener saja?" timpal siswi lainnya yang membuat teman-temannya tertawa.
"Jaga mulut lo yang nggak berpendidikan itu. Mulut lo semua nggak ada bedanya tuh sama ibu-ibu komplek yang hobinya cuma suka nge-gosipin orang mulu."
Lalu setelah itu Noel langsung meninggalkan para siswi tersebut yang langsung terdiam setelah Noel mengatakan kalimat tajam itu. Noel melangkahkan kakinya mengitari setiap sudut sekolah untuk mencari keberadaan Jade.
Toilet, laboratorium, parkiran, kantin, semua sudah ia datangi, tetapi tidak ada keberadaan Jade di sana. Sekolah mulai sepi, hanya tinggal beberapa siswa saja yang mengikuti kegiatan ekstrakulikuler.
Sebenarnya Noel tidak perlu melakukan hal yang merepotkan dirinya sendiri. Memangnya mereka memiliki hubungan spesial apa hingga dengan repotnya ia mencari-cari keberadaan Jade yang tiba-tiba saja menghilang itu?
Tetapi karena satu hal, Noel harus melakukan itu. Noel harus melakukan itu agar ia bisa memberi pelajaran agar jangan pernah berani-berani mengusik kehidupannya pribadinya. Karena Noel sangat membenci hal itu.
Dan setelah beberapa saat Noel duduk di bangku dekat lapangan. Tiba-tiba saja ia mengingat jika gudang di belakang sekolah belum ia datangi. Lalu Noel langsung melangkahkan kakinya menuju gudang yang letaknya cukup jauh dari gedung utama sekolah.
Ketika Noel sudah berada di depan gudang itu, ia cukup ragu jika Jade benar-benar berada di dalam sana. Karena terlihat dari pintu gudang itu terdapat kunci gembok yang bergantung di sana menandakan jika pintu itu dikunci.
Tetapi Noel masih sangat penasaran apakah Jade benar ada di dalam sana atau tidak. Dan dengan langkah perlahan Noel mendekati pintu gudang dan pria itu pun mengetuknya.
"Jade, apa lo ada di dalam?". "Jade, lo bisa denger gue?" panggil Noel untuk memastikan apakah Jade berada di dalam atau tidak.
Tetapi setelah beberapa saat Noel memanggil-manggil Jade, tidak ada jawaban dari dalam sana. Sekali lagi Noel memanggil Jade, tetapi tetap tidak ada jawaban dari sana. Noel langsung berpikir kalau Jade tidak ada di dalam sana.
Ketika Noel hendak melangkahkan kakinya meninggalkan gudang tersebut, tiba-tiba saja ketika ia hendak membalikkan tubuhnya, pria itu mendengar suara pintu yang dipukul-pukul dengan perlahan dari dalam gudang.
Noel yang mendengar hal tersebut langsung menempelkan telinga pada pintu gudang untuk memperjelas pendengarannya terhadap suara itu.
"Jade, lo ada di dalam sana? Jade lo bisa denger gue?"
"Noel? Apa itu kamu? Noel tolong aku, aku di dalam sini. Tolong aku Noel!" seru Jade dengan sangat lemah dengan gadis itu yang masih memukul-mukul pintu dengan pelan dari dalam sana.
"Tunggu sebentar! Gue mau cari sesuatu buat buka gemboknya," balas Noel yang langsung melihat sekeliling apakah ada benda yang bisa ia gunakan untuk membukanya.
Tidak ada waktu untuk mencari penjaga sekolah dan meminta kunci darinya. Karena Noel sangat yakin jika saat ini penjaga sekolah sedang berkeliling mengunci satu per satu ruang kelas yang sudah kosong.
Dan betapa tidak beruntungnya dia saat ini, karena di sana tidak ada satu benda pun yang bisa menolongnya. Kecuali beberapa tumpukan batu bata yang berada tidak jauh darinya. Noel langsung menghampiri tumpukan batu bata itu dan ia pun langsung mengambil tiga batu bata sekaligus.
Setelah itu Noel kembali dan ia langsung menggunakan batu bata tersebut dengan cara memukul gembok itu berkali-kali itu hingga menimbulkan suara yang cukup bising karena benturan batu bata dan besi tebal itu.
Dua batu bata sudah hancur ketika Noel pakai untuk membukanya. Karena gembok itu cukup besar dan tebal, Noel butuh tenaga yang cukup kuat agar gembok itu bisa terbuka.
Dan pada batu bata yang terakhir, Noel mengerahkan segala tenaganya untuk membuka gembok itu dan dalam sekali pukulan gembok pun langsung terbuka. Noel langsung mengambil gembok tersebut dan membuangnya dengan asal.
Lalu ketika Noel sudah membuka pintu itu, Noel langsung di sambut dengan penampilan Jade yang sudah sangat berantakan sekali. Rambut Jade sudah sangat tidak teratur, pakaian seragamnya pun juga sudah sangat lusuh, wajahnya terlihat begitu pucat, di tambah lagi di kedua sudut bibir Jade terdapat bercak darah yang sudah mengering dan kedua pipi Jade pun terlihat cukup bengkak.
"Siapa yang ngelakuin ini semua ke lo?" tanya Noel langsung kepada Jade.
Tetapi bukannya Jade menjawab pertanyaan Noel, ia malah menundukkan kepalanya sambil menahan tangis ketika ia mengingat kembali kejadian yang ia alami itu.
"Jawab gue! Siapa yang ngelakuin semua ini, Jade?" seru Noel dengan nada penekanan di setiap katanya.
"Tidak ada," balas Jade dengan suara yang hampir tidak terdengar oleh Noel.
"Jade. Please, jawab pertanyaan gue. Siapa yang ngelakuin hal ini? Lo tahu nggak, ini tuh sudah keterlaluan banget? Gue bisa saja nendang pelaku itu keluar dari sekolah ini, tanpa pengampunan."
"Jangan!" balas Jade cepat.
"Maka dari itu lo kasih tau ke gue siapa yang ngelakuin semua ini."
"Tapi kamu janji jangan marah sama dia, apalagi buat ngeluarin dia dari sekolah ini."
"Gue nggak bisa janji."
"Ya sudah, kalau begitu aku tidak jadi memberitahukanmu."
"Huh... yaudah iya, gue janji nggak bakalan ngelakuin hal itu."
"Yang ngelakuin hal ini ke aku, Ally dan teman-temannya."
Kalimat itu langsung membuat nafas Noel berhenti sejenak. Hatinya merasa percaya dan tidak percaya dengan ucapan Jade tadi.
"Kamu tidak percaya? Kalau kamu tidak percaya, tidak apa-apa. Tidak usah memikirkan hal itu, aku juga sudah biasa menerima perlakuan yang tidak menyenangkan dari murid-murid di sekolah ini."
Lalu, suasana hening pun langsung mengelilingi mereka.
"Yaudah, sekarang gue anterin lo pulang." ajak Noel.
"Tunggu dulu."
"Apa lagi?"
"Aku ingin mengambil tasku di kolam ikan."
"Kolam ikan?"
"Iya. Sebelum Ally dan teman-temannya memasukkanku ke dalam gudang ini, mereka langsung mengambil tas milikku dan membuangnya ke kolam ikan. Jadi aku ingin mengambilnya di sana dulu, kamu tunggu di parkiran saja nanti aku akan menyusul."
"Biar gue yang ambilin, lo ke parkiran aja. Tunggu gue di sana."
Lalu setelah itu mereka berpisah, Noel yang menuju kolam ikan yang terletak di dekat lapangan utama sekolah dan Jade yang menuju parkiran sekolah. Dan setelah beberapa saat kemudian, Noel datang dengan celana beserta sepatunya yang sangat basah sambil membawa tas Jade di tangannya.
"Nih, tas lo."
"Makasih ya Noel. Maaf, celana sama sepatu kamu jadi basah seperti ini.”
"Iya. Sudah nggak usah dipikirin. Sekarang gue anterin lo pulang."
Setelah itu mereka langsung meninggalkan sekolah yang terlihat semakin sepi. Selama di perjalanan, Jade pun tidak henti-hentinya tersenyum kecil. Ia mengingat setiap pertolongan Noel yang dilakukan tadi kepadanya. Ini bagai sebuah mimpi yang sangat indah untuk Jade.
Noel berubah seakan-akan ia adalah superhero yang selalu menolong Jade ketika ia sedang berada di dalam kesulitan. Apa Jade harus rela untuk selalu menerima perlakuan tidak baik dari orang lain supaya Noel bisa berada di dekatnya?
Dan ketika Jade sedang asik melamun tentang Noel dan dirinya, tiba-tiba saja ia tersentak karena kakinya dipukul oleh Noel.
"Sudah nyampe, emang lo nggak mau turun?" ujar Noel dengan suara kurang jelasnya karena mulutnya tertutup oleh helm full face-nya.
"Hah... apa? Aku tidak mendengarnya."
"Sudah nyampe, lo nggak mau turun?" ulang Noel setelah ia melepas helm dari kepalanya.
Dan Jade pun langsung tersadar jika saat ini ia sudah berada di depan rumahnya. Jade sangat malu. Seberapa lama ia melamun hingga ia tidak sadar jika ia sudah berada di depan rumahnya?
"Masih nggak mau turun juga?" tanya Noel kembali sambil menyindir Jade yang masih berada di atas motornya.
Lalu setelah itu Jade langsung turun dari motor Noel dan memberikan helm kepada Noel setelah sebelumnya ia lepas terlebih dahulu.
"Hhmm... terima kasih Noel, hari ini kamu sudah nolongin aku keluar dari gudang sekolah, terus ngambilin tas aku yang ada di kolam ikan, sampai sekarang kamu mau nganterin aku pulang. Sekali lagi makasih ya."
"Harusnya gue yang minta maaf sama lo."
"Minta maaf buat apa?"
"Iya, karena Ally dan teman-temannya yang sudah ngelakuin hal tadi ke lo."
"Kamu 'kan nggak salah. Kenapa kamu yang harus minta maaf? Lagi pula bukannya tadi aku bilang, nggak usah pikirin masalah ini."
"Iya. Yaudah kalo gitu gue balik dulu."
"Hati-hati di jalan ya Noel."
"Jangan lupa obatin luka lo."
Setelah Jade menganggukkan kepalanya, Noel kembali memakai Helm-nya dan ia langsung melajukan motor meninggalkan rumah Jade. Dan setelah meninggalkan rumah Jade, Noel melajukan motor menuju rumah Ally untuk memastikan apa yang Jade katakan itu benar atau tidak.
Setelah menempuh perjalanan yang tidak terlalu lama, Noel telah sampai di rumah Ally. Kebetulan sekali setelah Noel memarkirkan motornya di depan rumah Ally, Noel melihat Ally dan Ibunya yang baru saja turun dari mobilnya. Lalu Noel langsung menghampiri mereka dan ia menyapa Ibu Ally terlebih dahulu.
"Sore tante," sapa Noel dengan ramah.
"Ehh... ada Noel. Noel baru datang?"
"Iya tante,". "Noel boleh bicara di sini sama Ally sebentar tante?"
"Ohh... tentu boleh, kalau begitu tante masuk ke dalam dulu ya."
"Iya tante."
Setelah memastikan Ibunya Ally masuk ke dalam rumah, Noel langsung menarik tangan Ally untuk sedikit menjauh dari rumahnya.
"Aku mau bicara sama kamu."
"Aku kira kamu sudah nggak anggap aku sebagai pacar kamu," ujar Ally dengan nada menyindir.
"Aku serius Ally. Ada yang ingin aku bicarain sama kamu."
"Yaudah ngomong saja."
"Apa yang tadi kamu lakuin ke Jade?"
Pertanyaan Noel tadi langsung membuat emosi Ally memuncak.
"Ohh... jadi kamu ke sini cuma mau nanya apa yang sudah aku lakuin ke si cupu itu, terus setelah aku kasih tahu ke kamu apa yang aku lakuin ke dia, kamu bakal nyalah-nyalahin aku? Iya? Bela saja terus tuh si cewek buruk rupa sampe mati," seru Ally dengan suara lantangnya karena emosinya yang tidak terkendali.
"Aku nanya ke kamu baik-baik. Kamu nggak perlu sampe teriak-teriak kayak gitu."
"Sebenarnya pacar kamu tuh siapa sih? Dia atau aku?"
"Jangan mengalihkan pembicaraan kita, Ally."
"Siapa yang ngalihin? Aku cuma nanya sama kamu siapa yang sebenarnya pacar kamu. Kayanya sekarang perhatian kamu ke cewek cupu itu lebih besar ya dari pada ke aku."
"Ally, kamu dengerin dulu penjelasan dari aku. Aku deketin dia tuh karena ..."
"Cukup! Aku mau hubungan kita break dulu untuk sementara," ujar Ally yang memotong ucapan Noel.
Lalu setelah itu Ally langsung berlari masuk ke dalam rumahnya tanpa mau mendengarkan penjelasan dari Noel terlebih dahulu.
"Sial! Kenapa semuanya jadi kacau gini?" seru Noel dengan geram sambil menendang ban motornya dengan cukup kencang.
***
To be continued . . .