Don't Ever Give Me A Hope

1629 Kata
Happy Reading . . . *** Jade memberhentikan sepeda dan memarkirkannya di tempat biasa yaitu di tempat yang tersembunyi di parkiran sekolahnya. Setelah memastikan sepedanya sudah terparkir dengan benar, Jade segera melangkahkan kaki menuju kelas karena pagi ini tidak seperti biasanya ia datang ke sekolah sedikit siang. Ketika Jade hampir sampai di kelas, dari kejauhan ia bisa melihat Noel yang sedang berdiri di depan kelas. Dan benar saja, ketika Jade sudah berada di depan kelasnya Noel segera memanggil dan menghampiri Jade. "Lo baru dateng?" tanya Noel sedikit basa-basi. "Iya. Memangnya ada apa?" Lalu Noel mengambil dompet miliknya di saku celana dan mengambil selembar uang seratus ribu. "Nih, buat gantiin buku lo yang dijatuhin Ally kemarin," ujar Noel sambil memberikan uang itu kepada Jade. Tiba-tiba saja Jade langsung merasa sedih ketika mengingat kembali nasib buku tersebut. Bukunya memang masih bisa dipakai, kertas dan tulisannya pun masih baik-baik saja, tetapi rupa buku itu terlihat seperti bukan buku baru lagi. Setelah semalaman Jade mengeringkannya di depan kipas angin, buku itu jadi memiliki bercak-bercak kecoklatan akibat dari air genangan yang sudah mengering. "Tidak perlu, bukunya masih bisa dipakai. Uangnya kamu simpan saja. Kalau begitu aku masuk kelas duluan ya," balas Jade yang langsung masuk ke dalam kelas meninggalkan Noel. Bukannya Jade ingin membuat Noel menjadi merasa bersalah karena kejadian kemarin, tetapi Jade tidak ingin masalah seperti itu diperpanjang apalagi Noel yang harus bertanggung jawab padahal Noel tidak bersalah. *** Noel bersandar pada motornya sambil memainkan kunci motor yang berada di tangan. Sudah satu jam ia menunggu di sana, tetapi seseorang yang ia tunggu-tunggu belum terlihat batang hidungnya juga sejak tadi. Lingkungan sekolah sudah mulai nampak sepi karena jam pelajaran terakhir tadi sudah berakhir sekitar satu jam yang lalu. Namun Noel masih setia menunggu seseorang di sana. Dan tidak lama kemudian, dari kejauhan Noel bisa melihat seseorang yang ia tunggu-tunggu sejak tadi sedang berjalan memasuki lapangan parkiran. Namun ketika seseorang yang sudah Noel tunggu-tunggu sejak tadi hanya berjalan melewatinya begitu saja sambil menundukkan kepalanya. Dan seseorang yang Noel tunggu-tunggu itu adalah Jade. Noel yang melihat Jade yang hanya berjalan melewatinya seakan-akan Noel tidak terlihat, langsung segera menghampiri dan menarik tangan Jade. "Lo tadi nggak ngeliat gue berdiri di sana?" tanya Noel langsung ketika Jade sudah berada di hadapannya. "Hhmm... aku lihat." "Terus kenapa lo ngelewatin gue gitu saja? Biasanya lo selalu bertingkah kepedean dan peduli ke gue?" "Aku sangat lelah, Noel. Aku ingin cepat sampai di rumah agar aku bisa segera beristirahat." "Emangnya lo abis ngapain? Perasaan hari ini nggak ada pelajaran tambahan sehabis pulang sekolah." "Tadi aku habis ngebersihin semua toilet di lantai dua." "Emangnya lo habis berbuat salah apaan sampe-sampe disuruh ngebersihin semua toilet di lantai dua?" "Tadi saat guru matematika lagi mengajar di kelasku, anak-anak murid di kelas melemparkan gulungan-gulungan kertas kecil ke guru matematika yang sedang menjelaskan materi di depan kelas. Terus nggak lama setelah itu dia memukul papan tulis dengan keras dan langsung mengeluarkan teriakannya. Dia nanya siapa yang ngelemparin dia pake gulungan kertas itu, trus semua murid di kelas langsung nunjuk aku dan mereka bilang kalau aku yang ngelemparin dia pake gulungan kertas itu. Dan alhasil aku disuruh membersihkan semua toilet setelah pulang sekolah." "Terus kenapa lo nggak ngebela diri lo sendiri? Lo itu lagi bodoh-bodohin sama mereka," "Percuma, karena semua orang di sekolah ini nggak pernah ada yang mau dengar semua ucapanku. Lagi pula aku sudah biasa diperlakukan kayak gini sama mereka. Jadi ya aku biasa-biasa saja." "Yaudah kalo gitu sekarang gue anterin lo pulang." Jade langsung tercengang ketika Noel mengucapkan kalimat itu. Rasanya seperti mimpi, dan hal itu memang merupakan suatu hal yang sangat Jade impi-impikan selama ini. "Woi! Kenapa lo jadi ngelamun?" ujar Noel yang menyadarkan Jade dari lamunannya. "Hhmm... tadi kamu ngomong apa?" "Gue anterin lo pulang sekarang. Ini bukan mimpi, jadi lo nggak usah kebanyakan ngelamun." "Tapi, memangnya kamu nggak nganterin Ally pulang?" "Ally sudah pulang dari tadi." "Tapi aku bawa sepeda. Hhmm... mungkin lain kali aja ya." "Sepeda lo ditinggal di sekolah saja." "Tapi aku nggak mau ninggalin sepeda aku di sekolah. Lain kali aja ya Noel, nggak apa-apa 'kan?" "Yaudah, besok gue jemput lo di rumah. kita berangkat ke sekolah bareng." Setelah Noel mengucapkan kalimat itu, ia langsung meninggalkan Jade menuju motornya dan ia segera menjalankan motor meninggalkan lapangan parkir itu. Sedangkan di sana Jade masih terdiam melihat motor sport Noel yang semakin lama semakin menjauh dari pandangannya. Ini semua bagaikan sebuah mimpi bagi Jade, mimpi yang rasanya sangat mustahil untuk bisa menjadi kenyataan. Entah apa yang saat ini sedang terjadi kepada Noel hingga ia mau mengajak Jade pulang bersama. Dan ajaibnya lagi besok Noel akan menjemput Jade di rumahnya dan mereka akan berangkat ke sekolah bersama. Jade sudah terlanjur senang dengan sikap Noel yang tiba-tiba saja berubah menjadi baik. Ia tidak memikirkan apakah Noel memiliki rencana dibalik sikap baiknya tersebut. Yang Jade pikirkan hanyalah rasa senang yang begitu meluap-luap ketika besok ia akan dijemput oleh Noel. Jade melangkahkan kaki dengan sagat gembira menuju sepeda miliknya. Rasa lelah yang tadi ia rasakan, tiba-tiba saja sudah menghilang begitu saja entah kemana. Jade mengayuh sepedanya dengan cukup cepat, ia ingin bisa cepat-cepat sampai rumah agar ia bisa cepat beristirahat. Jade tidak sabar menanti hari esok, karena besok sepertinya akan menjadi hari terbaik bagi Jade. Dan keesokkan harinya, benar saja. Pagi hari Noel sudah bersandar pada motornya di depan rumah kecil milik Jade. Ia benar-benar menepati janjinya untuk menjemput Jade. Beberapa saat setelah Noel menunggu, tidak lama kemudian Jade keluar dari rumahnya sambil membawa serta sepedanya. Noel yang melihat hal itu langsung menghampiri Jade. " 'Kan kemaren gue udah bilang bakal jemput lo buat berangkat bareng," ujar Noel yang membuat Jade menghentikan langkahnya. "Noel?" balas Jade dengan sedikit tidak percaya ketika melihat Noel yang benar-benar berada di hadapannya, di depan rumahnya sendiri. "Kamu bisa tahu rumah aku?" sambung Jade. "Nggak penting gue tahu dari mana rumah lo. Emangnya lo lupa kemaren gue bilang apa?" "Hhmm... aku pikir kamu nggak serius ngomong kayak gitu." "Terus sekarang lo udah percaya 'kan kalau gue lagi nggak bercanda?" "Iya aku sudah percaya." "Yaudah, sekarang masukin sepeda lo. Terus kita berangkat ke sekolah sekarang." Lalu Jade segera memasukkan kembali sepeda miliknya ke dalam rumah. Setelah itu ia mengunci pintu rumah dan langsung menghampiri Noel yang sudah berada di atas motor. "Hhmm... Noel, memangnya nggak apa-apa kalau kita berangkat ke sekolah bareng?" tanya Jade dengan segala keraguannya. "Emangnya ada yang salah?" "Bukannya gitu, tapi kamu tahu 'kan aku ini orang yang paling nggak disukain sama satu sekolahan. Nanti kalo kita berangkat bareng, apa kamu nggak takut jadi bahan omongan sama murid-murid lain? Aku sih sudah biasa sama semua itu, aku nggak mau nantinya kamu jadi jelek dan malah jadi bahan omongan murid-murid lain. Lagi pula, apa jadinya kalo nanti Ally tahu kamu berangkat ke sekolah bareng sama aku?" "Sudah nggak usah peduliin omongan orang lain. Mendingan sekarang lo naik, kalo nanti lo nggak mau telat masuk sekolah." Namun setelah itu Jade masih terdiam saja dan tidak segera naik ke motor Noel. "Lo nunggu apaan lagi sih? Tadi 'kan gue sudah bilang nggak usah peduliin omongan orang lain." "Bukan itu." "Terus apa?" "Hhmm... aku nggak bisa naik motor kamu." Selain kegelisahan Jade mengenai murid-murid di sekolahnya yang pasti akan menggosipi dirinya dan Noel, Jade juga gelisah karena ia tidak bisa menaiki motor sport milik Noel karena bagian belakang yang menjadi kursi penumpang, memiliki bagian yang lebih tinggi dari kursi pengemudi. Noel yang mendengar ucapan Jade jika ia tidak bisa menaiki motor miliknya langsung turun dari motornya dan membantu Jade untuk menaiki motornya. Setelah beberapa saat Noel membantu Jade menaiki motornya, ia memberikan sebuah helm kepada Jade. Lalu Noel kembali menaiki motor dan ia langsung melajukan menuju sekolah. Selama di perjalanan menuju sekolah, keduanya hanya saling terdiam dan tidak ada dari mereka yang berniat untuk memulai pembicaraan. Hanya suara deru motor sport milik Noel saja yang mengisi suara selama perjalanan mereka menuju sekolah. Jade masih merasa begitu senang karena hal yang selama ini ia impi-impikan telah menjadi kenyataan. Dan setelah menempuh perjalanan yang cukup lama karena saat di pertengahan jalam tadi mereka terkena macet, tiba-tiba saja Jade menyuruh Noel untuk memberhentikan motornya di ujung jalan yang jaraknya sudah hampir dekat dengan sekolah mereka. "Kenapa nyuruh gue berhenti di sini?" tanya Noel dengan bingung sambil menengokkan kepalanya ke belakang. "Hhmm... aku turun di sini saja, seterusnya nanti aku akan jalan kaki sampai sekolah." "Ngapain mesti jalan kaki sih? Tadi gue udah bilang nggak usah peduliin omongan orang lain, lo cukup diem saja biar gue yang ngadepin mereka nanti," balas Noel lalu ia kembali menjalankan motornya menuju sekolah dan mengacuhkan Jade yang masih terus menyuruh Noel untuk memberhentikan motornya. Dan benar saja, ketika motor Noel memasuki wilayah sekolah dan menuju ke lapangan parkiran, semua mata murid-murid yang berada di sana langsung menatap bingung Noel yang memboncengi Jade di belakangnya. Mereka semua pasti tahu jika wanita yang dibonceng Noel adalah Jade. Karena hanya Jade-lah yang memakai kaus kaki hingga menutupi betisnya saat di sekolah. Setelah Noel memarkirkan motornya di lapangan parkir sekolahnya, ia turun dari motornya lalu melepas helm yang ia kenakan. Lalu ia membantu Jade untuk turun dari motornya. Selama hal itu berlangsung, seluruh mata murid-murid di sana masih tidak lepas dari Noel dan Jade, tidak terkecuali dengan kedua sahabat dan kekasihnya. Dari kejauhan Ally memandang Noel dan Jade dengan pandangan mematikan. Terutama kepada Jade, rasanya saat itu juga Ally ingin segera menghampiri Jade dan langsung menghajarnya habis-habisan. Tetapi Noel tidak memperdulikan semua pandangan itu, ia malah menarik tangan Jade dan membawanya masuk ke dalam sekolahan. Semua orang di sana bertanya-tanya apa yang terjadi dengan Noel hingga bisa-bisanya ia datang bersama dengan Jade. *** To be continued . . .
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN