"Anu tuan saya, " Cindy tampak kesulitan memberikan jawaban hal itu tentu langsung membuat klarifikasi bahwa Cindy sudah melarang CS itu untuk mengantar kopi.
“Kenapa kami melarangnya, apa kamu kira bagian CS berani datang kesini hanya untuk mengantar kopi jika bukan karena perintah saya?"
Cindy menunduk, “Maaf tuan," lirihnya.
Orang-orang yang ada disana juga turut menunduk karena tidak ingin menjadi Sasaran kemarahan dari Rafel.
Tuan Rafel segera masuk ke dalam lift dan berencana mencari CS baru itu yaitu Citra untuk memberikannya hukuman.
Citra yang sudah tiba di lantai dasar langsung berlari ke wastafel dan mencuci luka bakar itu, wajah Citra tampak begitu kesakitan karena terlihat jelas jika tangan wanita itu memerah dan melepuh.
Lili yang kebetulan masuk kesana melihat hal itu, “Citra kenapa dengan tanganmu," Ujar Lili terlihat khawatir.
Citra menggeleng, “Hanya terkena air panas Li," jawab Citra seadanya.
Mendengar hal itu Lili tampak kesal, “Ini bukan hanya Citra, tapi ini berbahaya ayo biar ku obati," Lili menarik lengan Citra dan membawanya keluar dari sana.
Lili membawa Citra ke bagian gawat darurat di perusahaan itu, yang tersedia bagi para pekerja yang mengalami kecelakaan kerja atau sedang kurang fit.
Sesampainya disana seorang tenaga medis langsung memberikan obat pada Citra, obat itu berupa seperti salep untuk mendinginkan bekas air panas itu agar tidak melepuh dan juga perban agar luka Citra tidak kemasukan debu.
“Nah sudah selesai, kamu karyawan baru ya?"
Citra tersenyum mengangguk baru itu seseorang yang menyapa Citra dengan baik.
“oh pantas saja, lain kali hati-hati ya," ingatnya.
“Iya mbak terimakasih ya," ujar Citra.
Citra dan Lili lekas berpamitan, tujuannya yaitu ke ruang makan karena waktu sudah menunjukkan pukul 1 siang.
Citra dan Lili segera mengambil makanan yang telah di siapkan secara prasmanan, kemudian mereka segera mencari tempat duduk untuk menyantap makan siang itu.
Di sisi lain kini Rafel sedang mencari dimana keberadaan Citra, namun dia tidak menemukan wanita itu alhasil dia kesal dan tampak aura tidak bersahabat dari dirinya.
Setelah menyelesaikan makan siangnya Lili dan juga Citra kembali harus melanjutkan pekerjaan, namun karena kondisi Citra yang masih sulit bekerja akhirnya Citra memutuskan untuk rehat sejenak di taman perusahaan.
Citra duduk disana sambil memperhatikan bunga dan juga tanaman hias lainnya yang tersusun rapi dan juga begitu cantik.
Seolah ketenangan itu begitu mengkhipnotis Citra dia sama sekali tidak lagi memperdulikan rasa sakit di tangannya, bahkan dia juga tidak menyadari kedatangan seseorang yang sejak tadi sudah mencarinya.
“Apa begitu nyaman disini sampai kamu melupakan pekerjaanmu?" ujar seseorang itu yang membuat Citra terlonjak kaget dan berbalik.
“Maaf tuan maaf, saya sedang beristirahat sebentar," ujar Citra sambil menyatukan tangannya di depan d**a.
“Kenapa dengan tanganmu?" tanya Rafel dengan nada dingin.
Citra masih belum mengetahui bahwa pria yang ada di depannya itu adalah CEO, namun ketegasan dan dinginnya Rafel sudah mampu membuat Citra ketakutan.
“Ma maaf tuan, saya terkena kopi panas." lirihnya sambil menurunkan kedua tangannya.
Mendengar hal itu Rafel yang tadinya berniat menghukum Citra kini merasa kasihan dengan wanita itu, dia yakin kopi yang terkena tangan Citra adalah kopi yang dia pesan.
Rafel mengeluarkan dompetnya dan kemudian mengambil 2 lembar uang, “Ini beli obatmu," Ujarnya.
Citra yang mendapatkan uang itu tampak heran, “Obat? saya sudah di obati tuan tenang saja," ujar Citra.
Mendapatkan penolakan itu harga diri seorang Rafel rasanya terlukai dia tidak suka ketika orang lain menolak pemberiannya.
“Apa aku harus memaksamu mengambilnya? ambil ini aku tidak suka penolakan, cepat!"
Mau tidak mau Citra mengambil uang itu dengan wajah ketakutan, “Terimakasih tuan," ujarnya meskipun tidak tahu kenapa pria di depannya itu memberikan uang.
Rafel mengangguk dengan wajah dinginnya dia berkata, “Mulai besok siapkan kopi dan juga cemilan untuk saya, dan juga bersihkan ruangan saya. saya mau kamu khusus mengerjakan itu tidak dengan yang lain."
Citra mengangguk, “Baik tuan," jawabnya.
“Dan satu lagi, saya tidak suka ketika kamu terlambat, saya tidak suka ruangan saya kotor saat saya tiba disana dan saya tidak mau kamu pulang sebelum saya pulang, paham?"
Lagi-lagi Citra mengangguk, Setelah itu Rafel langsung membungkukkan sedikit tubuhnya seraya berbisik.
“Jika kamu melanggar saya sendiri yang akan menghukum kamu, paham?"
“Paham tuan," jawab Citra cepat sambil menunduk tidak berani menatap wajah Rafel.
Rafel langsung meninggalkan Citra, namun ada satu hal yang Citra belum tahu. siapa pria itu, dan ruangan mana yang harus dia bersihkan besok.
“Maaf tuan, ruangan siapa yang harus saya bersihkan besok?" tanyanya sopan.
Rafel tersenyum tipis, “CEO," Jawabnya singkat namun berhasil membuat jantung Citra bertalu-talu.
Citra terdiam menatap uang yang ada di tangannya, sebenarnya dia membutuhkan uang itu untuk kebutuhannya tapi dia rasanya enggan menggunakan uang itu.
****************************************
Jam pulang telah tiba, Seharusnya Citra akan pulang bersama Lili namun karena Lili memiliki urusan yang mendadak akhirnya terpaksa Citra berjalan.
Tentu saja rumah dan perusahaan tempat Citra tinggal lumayan jauh, namun karena dia tidak memiliki uang untuk ongkos mau tidak mau dia harus memberanikan diri untuk pulang seorang diri.
Saat berada di dekat lampu merah Tak sengaja Citra melihat seseorang dari kejauhan. tidak mau menduga-duga, Citra mempercepat langkahnya seraya mendekat ke arah dua orang yang berada di atas motor itu.
“Mas reno," lirih Citra karena melihat Reno berboncengan dengan seorang wanita dengan begitu mesra, dari pakaian yang wanita itu kenakan tampaknya dia juga seorang karyawan.
“Mas reno!" teriak Citra sambil berlari hendak menghampiri Reno.
Tin tin!
Lampu yang tadi merah kini sudah berubah menjadi hijau itu artinya kendaraan bisa langsung berjalan, hal itu membuat Citra kehilangan Reno.
“Tidak aku tidak salah lihat itu mas Reno," ujar Citra sembari menatap semua kendaraan yang sudah menjauh itu.
Pikiran Citra benar-benar kalut, dia tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Suaminya berselingkuh? kenapa rasanya begitu mustahil.
Citra yang harusnya tiba jam 18.00 sore, kini justru dia baru tiba di rumah jam 19.30 malam.
Setibanya di rumah dia sudah melihat suami juga sang ibu mertua duduk dengan nyaman sambil makan dengan menu bermacam-macam.
“Wahh yang udah kerja, baru balik ternyata? kerja apa tuh sampe semalam ini," sindir sang ibu mertua.
Citra tidak mau menanggapi hal itu dia sudah terlalu lelah dan kecewa melihat Reno di lampu merah tadi.
“Jual diri kali," jawab Reno.