Perintah CEO

1013 Kata
“Nah ini mbak teman saya yang saya ceritakan kemarin." Citra menundukkan wajahnya tanda hormat pada wanita di depannya yang diketahui sebagai kepala ruangan. “Ini," Dia memberikan sebuah lembaran pada Citra. “Ini semua peraturan di perusahaan dan juga peraturan ruangan, kamu baca sendiri karena poinnya banyak." Citra mengangguk, “Baik bu," jawabnya. “Yasudah kamu aku tinggal ya cit aku masih ada kerjaan lain," ujar Lili padanya. Citra mengangguk, sedangkan Lili langsung pergi meninggalkannya disana bersama kepala ruangan. kepala ruangan menelisik penampilan Citra, “Saya lihat kamu cantik, tapi kamu jangan berbangga hati ya saya tidak mau ada gosip murahan setelah ini. tolong bekerja secara profesional hormati atasan dan juga senior." Citra mengangguk patuh, “Baik buk." Wanita itu memberikan seragam Citra, “İni silahkan ganti, setelah itu langsung bekerja ya jika ada karyawan yang memesan minum atau meminta tolong jangan di abaikan ya." “Baik bu, saya permisi," ujar Citra. Citra langsung menuju toilet untuk mengganti pakaiannya, teringat olehnya akan ucapan kepala ruangan yang mengatakan dia cantik. Citra melihat pantulan dirinya di depan cermin, seulas senyuman dia berikan “Iya aku cantik, tapi suamiku tidak melihat itu," lirihnya. Citra menarik nafasnya dalam, “Oke semangat Citra, jadilah wanita yang mandiri," ujarnya untuk penyemangat diri sendiri. Setelah selesai berganti pakaian Citra lekas memulai pekerjaannya dengan menyapu halaman, karena ruangan kerja sudah selesai dibersihkan dengan petugas yang lain. “Siapa wanita itu?" Tanya seorang pria bertubuh tegas dengan wajah tampan dan hidung mancung, pada bawahannya. “Emm sepertinya CS baru tuan," jawabnya seadanya karena wanita itu belum pernah terlihat sama sekali disana. tapi melihat pakaian yang dia kenakan dia tentu adalah seorang CS. Laki-laki itu mengangguk, sambil memberikan dokumen yang ada di tangannya pada bawahannya itu dia berujar, “Suruh wanita itu untuk mengantar kopi ke ruangan saya," perintahnya. “Dia tuan?" Pria itu melirik tegas, “Iya memang kenapa?" Pria itu langsung menggeleng, “Baik tuan akan segera saya perintahkan," ujarnya sambil menunduk hormat. pria itu langsung meninggalkan bawahannya itu disana dengan segala pertanyaan yang berkecamuk di kepalanya, biasanya sang bos tidak mau di layani oleh CS dia hanya mau kopi yang disiapkan oleh Sekretarisnya. “Ah sudahlah, mungkin suasana hati bos sedang baik hari ini." Pria itu segera menuju pantry untuk meminta CS yang biasanya membuat kopi untuk menyiapkan permintaan sang bos. “Tolong siapkan Kopi untuk tuan Rafel ya dan minta CS baru tadi untuk mengantarnya ke ruangan ya?" CS itu tampak heran, “CS baru? tuan bukannya kopi ini harus di antar oleh ibu Cindy ya?" ujarnya memastikan. Pria itu menggeleng, “Tuan meminta CS baru itu untuk mengantarnya, jangan lama ya takut tuan marah." Setelah mengatakan hal itu pria itu langsung pergi dari sana, pekerjaannya sudah menunggu urusan sang CS baru dan CEO mereka biarlah hanya mereka yang tahu. Setelah selesai membersihkan halaman Citra langsung kembali ke area pantry, niatnya untuk mengambil minum karena dia cukup kehausan. “Nah pas banget kamu datang, antar kopi ini ya ke ruang CEO," ujar wanita bertubuh gempal itu. Citra melirik ke arah kopi itu, “Baik bu," jawabnya dan langsung mengambil nampan dan meletakkan kopi itu di atasnya. “Permisi bu," Citra langsung berjalan keluar dari area pantry namun sebelum dia benar-benar jauh dari sana sebuah suara kembali terdengar. “Jangan genit ya!" teriaknya. Citra menggeleng, “Mana mungkin saya genit buk saya ini sudah menikah," pikirnya. karena bagaimana pun dia adalah seorang wanita bersuami, dia akan menjaga marwahnya dan hanya berniat bekerja disana. Setelah berjalan Citra baru teringat dia belum bertanya dimana ruangan CEO, sebagai orang baru tentu Citra harus bertanya lebih dulu kan? “Mbak maaf," Citra menyapa seorang karyawan wanita. Wanita itu mengangguk, “Ruang CEO dimana ya mbak?" Mendengar Citra bertanya soal CEO dua orang wanita itu tampak mendelik, “Kamu mau ke ruang CEO, ngapain?" Tanya mereka dengan nada tidak suka. “Saya di minta untuk mengantar kopi mbak," ujar Citra sambil menaikan sedikit nampannya. ”Gak salah kamu? yang harusnya ngantar kopi itu sekretaris yaitu bu Cindy kenapa malah kamu? jangan kegatalan woi kamu itu cuma CS disini." Citra menarik nafasnya dalam, “Maaf mbak saya hanya menjalankan tugas yang diperintahkan pada saya, jika memang mbak tidak bisa menunjukkan dimana letak ruang CEO biar saya cari sendiri." Citra lekas pergi dari sana meninggalkan kedua wanita itu, memang apa salahnya seorang CS yang mengantar kopi? apa karena pekerjaan mereka yang paling di anggap remeh disana? Citra mengikuti nalurinya untuk menaiki lift, dari yang pernah dia baca biasanya ruang CEO itu berada di lantai atas. berbekal hal itu Citra menekan tombol teratas gedung itu yaitu 25 . Ting! Lift terbuka, ternyata begitu ramai orang-orang yang ada disana, mereka menatap aneh pada Citra. Namun karena tugas dia akhirnya memberanikan diri untuk menyapa salah seorang disana, “Permisi mbak ruang CEO dimana ya, saya harus mengantar kopi." Mendengar hal itu wanita yang awalnya acuh itu terlihat menatap Citra tidak suka, “Kopi? kenapa kamu yang mengantar kopi, apa kamu tahu kopi siapa yang hendak kamu antar?" tanya wanita itu. pandangan orang-orang yang ada disana tampak teralih, mereka semua menatap Citra seperti ingin menguliti. “Kopi CEO itu tugas saya, saya sekretaris Tuan Rafel nama saya Cindy dan ini adalah tugas saya," Ujarnya dan langsung mengambil alih nampan itu dari tangan Citra. Karena gerakan yang tiba-tiba kopi yang berada di atas nampan itu tumpah dan mengenai tangan Citra, hal itu membuatnya histeris karena kopi itu masih cukup panas. “Akhh panas, tolong panas!" Cindy sama sekali tidak terlihat perduli, malah terlihat rona kepuasan di wajahnya. sedangkan para pejabat itu? sama sekali tidak ada yang membantu atau sekedar prihatin padanya. “Ya allah panas sekali," lirihnya dan langsung berlari masuk ke dalam lift. Sedangkan di sisi lain, Rafel yang baru selesai meeting terlihat kesal karena kopi yang dia pesan tidak kunjung datang. Rafel yang terkenal sedikit kejam dan dingin itu langsung keluar dari ruangannya. tapi saat melihat Cindy yang memegang nampan itu Rafel langsung menginterogasinya. “Kenapa nampan kopi itu ada padamu, dimana CS yang saya perintahkan?" ********************************************* “Kenapa dengan tanganmu?" “Ma maaf tuan, saya terkena kopi panas."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN