Nafkah 20 ribu
“Nih uang belanja, hemat-hemat awas aja kalo kamu jajan."
Citra meraih selembar uang 20 ribu itu dengan tangan gemetar, “Mas bolehkah di lebihkan? Gas, bumbu dapur juga beras semua habis mas," lirihnya dengan nada takut.
Reno yang sedang melipat dan merapikan lengan bajunya itu melirik tajam, “Uang tambahan? kamu kira aku ini ladang uang kamu? usaha, dasar istri gak guna."
Reno segera meninggalkan Citra dengan deraian air mata, selalu saja begitu padahal mereka baru saja menikah tapi citra tidak pernah sekalipun merasakan kedamaian dalam rumah tangganya.
Tok Tok
Citra mengusap pipinya yang basah dengan kasar, kemudian buru-buru berjalan menuju ke arah pintu yang di ketuk dari luar.
Tok Tok Tok
Ceklek
“Loh ibu?" herannya karena melihat ibunya datang bersama sang ayah sambil membawa sebuah karung besar di sampingnya.
“Ayo masuk buk," citra menggeser tubuhnya dan mempersilahkan orang tuanya untuk masuk.
Ini adalah kali pertama orang tua citra datang berkunjung setelah 3 bulan citra menikah, mendadak mereka rindu dengan putri semata wayangnya itu yang mendadak tidak ada kabar setelah menikah.
“Wahh reno mana nduk? kenapa sepi sekali disini."
Citra tersenyum kecut, “Mas reno sudah pergi bekerja buk," jawabnya sekenanya.
Ibu dan ayah Citra tersenyum, “Ini ibu bawakan beras, sayuran juga buah dari kampung. kemarin ibu dan ayah panen, kemarin ibu udah coba hubungi kamu sama reno tapi malah gak bisa."
Citra meringis mendengar hal itu, sudah 3 bulan dia sama sekali tidak memegang handphone. alasannya adalah reno sudah menjual handphone itu karena di nilai citra tidak membutuhkannya lagi setelah menikah. Sedangkan reno? dia sudah memblokir nomor mertuanya.
“Maaf ya ibu ayah, HP citra rusak dan belum di beli baru insyaallah nanti citra bakal beli ya," ujarnya.
“Loh, bukannya HP kamu itu baru di beli sebelum menikah? ayah tidak lupa kok kalau handphone itu keluaran terbaru harganya juga tidak murah 25 juta, rusak kenapa nak?"
Citra terdiam tidak tahu harus menjawab apa, apakah ini saatnya dia mengadukan semua perbuatan mertua dan juga suaminya padanya? tapi apakah ini sudah saat yang tepat.
“Ibu lihat wajah dan tubuh kamu tidak terawat nak, penuh jerawat juga apa kamu tidak perawatan?" tanya ibu citra.
Citra menunduk dalam, sungguh begitu malu citra pada kedua orang tuanya ternyata ke tidak setujuan ayah dan ibunya itu pada pernikahannya dulu ternyata memiliki makna.
“Reno tidak menelantarkan kamu kan nak?" tanya sang ayah.
Citra menggeleng dengan cepat, “Alhamdulillah tidak ayah, citra seperti ini hanya karena sedang datang bulan hormon citra mungkin sedikit bermasalah."
Kedua orang tua citra menarik nafas lega, namun tiba-tiba pertanyaan lain muncul dari ibu citra.
“Kamu datang bulan? apa belum isi nduk?"
“Hus buk, ya jelas belum to orang anaknya masih datang bulan begitu sabar to buk," tutur ayah pada ibu.
Citra tersenyum kecut mendengarnya, andai dia bisa mengatakan jika dia tidak mungkin akan hamil karena reno sama sekali enggan menyentuhnya.
“Nduk bolehkah buatkan ayah kopi? ayah rindu sekali dengan kopi buatan kamu."
Citra mengangguk dengan cepat, “Boleh ayah, sebentar citra buatkan ya," ujarnya dan berlalu ke dapur.
Sesampainya di dapur tampak citra kebingungan gas, gula dan kopi sama sekali tidak ada. “Ya Tuhan bagaimana ini," paniknya.
Citra merogoh saku daster lusuhnya itu dan menatap uang 20 ribu itu dengan mata berkaca-kaca, “Ya allah apakah ini cukup untuk membeli gas, gula dan kopi?" gumamnya.
Citra sedikit menyikap tirai pembatas antara ruang tamu dan juga dapur, terlihat sang ayah dan ibunya sibuk bercerita.
Citra kembali menatap uang 20 ribu di tangannya, “Ayah tidak boleh tahu masalahku sekarang," Citra segera kembali memasukkan uang itu ke dalam sakunya dan berjalan menuju pintu belakang.
Citra berjalan mengendap menunduk untuk melewati jendela yang berada tepat di samping tempat duduk ibunya, dan kemudian berlari kencang menuju warung yang ada di seberang rumahnya.
“Eh citra maaf ya tidak boleh ngutang hari ini, " tegas pemilik warung yang melihat citra sudah berjalan ke arahnya.
Orang-orang disana langsung memusatkan perhatian pada citra yang tampak kumal itu, “Eh neng, badan sama muka itu di rawat suamimu itu incaran janda jangan sampe kamu menyesal setelah reno berpaling ke yang lebih segar."
“Astaghfirullah," Citra mengusap dadanya dan segera berjalan semakin dekat ke arah pemilik warung.
“Bu saya mau pesen kopi dan juga teh, tapi saya saja yang buat sendiri," Citra mengeluarkan uang lusuh itu dari daster yang tidak kalah lusuhnya, “Ini uangnya sisanya gorengan saja bu," pintanya sambil menyerahkan uang itu.
Pemilik warung mengamati uang itu, “Kenapa harus buat sendiri?"
“Ibu dan ayah saya rindu kopi buatan saya jadi saya minta tolong ya buk," tuturnya memohon.
Wanita yang tampak sudah sedikit tua itu menarik nafas dalam, kasihan juga melihat citra seperti itu, akhirnya dia mengiyakan permintaan itu.
“Yasudah, itu kopi dan tehnya langsung buat saja, biar saya bungkus kan kuenya."
Citra mengangguk dengan semangat, dia segera meracik kopi dan teh untuk ibu dan ayahnya. dia sudah membayangkan bagaimana bahagianya sang ayah ketika meminum kopi buatannya.
Citra memasukkan kopi dan teh itu ke dalam plastik bening yang ada disana, kemudian memasukkannya ke dalam plastik hitam.
“Bu ini kopi dan tehnya sudah selesai, “Citra menunjukkan isi dari plastik itu pada sang pemilik warung.
Pemilik warung mengangguk dan memberikan plastik berisi gorengan panas yang baru saja matang, “Ini gorengannya, terimakasih ya," ujarnya.
Citra tersenyum bahagia kemudian berjalan sedikit cepat untuk bisa sampai di rumah, seperti yang citra lakukan tadi, citra mengendap dan berjalan menunduk lewat samping rumah.
Setelah berhasil masuk ke dalam rumah citra langsung menyajikan kopi, teh dan juga gorengan itu ke dalam gelas dan piring tentunya, dan membawanya ke ruang tamu.
“Ayah ibu, ini kopi dan tehnya maaf ya citra lama."
Citra menghidangkan kopi dan teh itu di atas meja dan kembali duduk berhadapan dengan kedua orang tuanya.
“Kamu sedang tidak ada masalah kan nak? ayah tidak ingin jika kamu berbohong dari orang tuamu ini."
Citra memaksakan senyumnya dan mengambil satu buah gorengan, untuk mengganjal perutnya yang kosong sejak pagi tadi.
“Alhamdulillah citra baik ayah, tidak perlu khawatir."
“Lalu tadi kamu kemana nak? ayah sempat melihatmu ke dapur tapi ternyata kamu tidak ada disana."