Jahatnya mertuaku

1010 Kata
Citra terdiam sambil meneliti wâjah sang ayah, “Citra beli gorengan yah," jawabnya akhirnya. Huh, ayah citra hanya menghembuskan nafas berat, bagaimana pun sebagai seorang ayah dia tentu tahu bagaimana Putrinya dan selama 3 bulan ini dia merasa Putrinya sudah berubah. “Citra, citra!" Ayah dan ibu Citra saling menatap satu sama lain mendengar teriakan keras itu, mereka cukup terkejut mendengar suara yang cukup familiar itu berteriak seperti di hutan. “Citraaa, kamu itu budeg atau gimana kenapa gak jawab kalau di panggil, citra!" “Sebentar ya ayah." “Duduk citra, jangan keluar biarkan dia masuk." Mau tidak mau citra menuruti perkataan ayahnya, tidak lama berselang sang pemilik suara keras itu masuk dengan gaya congkaknya namun dia belum melihat siapa tamu yang ada di rumah anaknya itu. “Citra!" teriaknya sebelum akhirnya matanya menatap kedua orang tua citra. “Eh besan, sudah lama datangnya?" Mertua citra itu dengan cepat langsung melunak, dia langsung menyalami ayah dan ibu citra. “Maaf ya besan dengar teriakan seperti itu, gini loh citra ini kadang suka engga denger jadi harus teriak kencang gitu, iya kan cit?" tanyanya pada citra sambil sedikit melotot. Citra mengangguk patuh, dan hal itu benar-benar melukai hati ayah citra yang melihat interaksi keduanya. “Sejak kapan kamu menjadi tuli citra?" tanya sang ayah dengan tatapan intimidasinya. Citra menggeleng, namun dengan cepat sang mertua langsung berujar, “Ah besan bukan tuli tapi kurang denger, sudahlah tidak perlu di perpanjang. Besan tidak menginap disini kan?" Ayah dan ibu citra kembali heran mendengar pertanyaan itu, memang jika mereka menginap disana tidak boleh? bagaimanapun citra itu anak mereka meskipun sudah menikah bukan? “Belum tahu besan," jawab ibu citra akhirnya. Mertua citra tampak masam, “Begini lo besan, rencananya reno, citra sama saya itu mau pergi hari ini jadi rumah kosong, besan lebih baik pulang saja." Ayah citra tampak menatap putrinya yang hanya menunduk itu, “Citra apa benar seperti itu?" Citra kembali mengangguk seperti kerbau yang di cucuk hidungnya, “Iya ayah maaf jika ayah dan ibu harus pulang dan tidak bisa menginap disini." Ayah citra mengangguk, “Tidak masalah, ibu dan ayah masih kuat jika harus pergi dan pulang dalam sehari, ibu dan ayah hanya tidak kuat jika melihat anak kami di perlakukan dengan semena-mena oleh orang yang hanya berani mengambilnya, namun tidak memuliakannya." Mata citra berkaca-kaca mendengarnya, ikatan batin antara orang tüa dan anak memang tidak bisa di remehkanya “Ah besan ini bisa saja,yasudah citra kamu langsung siap-şiap ya sebentar lagi reno pulang kita langsung berangkat ibu pulang dulu, mari besan," pamitnya şambil buru-buru keluar dari rumah citra. Citra memaksakan senyumnya agar membuat kedua orang tuanya tidak curiga padanya, “maaf ya ayah ibu," lirih citra. Ayah citra tersenyum kemudian bangkit dari duduknya, “Tidak masalah nak," ayah citra mengelus kepala citra dengan sayang, “Kamu tetap anak ayah sampai kapanpun itu, pulanglah jika kamu sudah tidak mampu melewatinya, pintu rumah masih terbuka untukmu nak," tuturnya penuh haru. Citra memeluk sang ayah dengan erat, tangisan yang sejak tadi dia tahan akhirnya tumpah di dalam pelukan cinta pertamanya itu, “Terimakasih ayah, maaf citra belum bisa cerita semoga saja ada kebaikan di depan sana, tolong doakan citra selalu," pintanya. Sang ayah terus mencium pucuk kepala citra, “Pasti nak, pasti apapun itu akan ayah doakan karena kebahagiaanmu adalah kebahagiaan ayah." Citra meregangkan pelukannya dan kemudian beralih pada sang ibu, “Ibu doakan citra ya bu, citra janji akan cerita suatu saat nanti, untuk saat ini biarkan citra berusaha sendiri." Ibu citra mengangguk dan menyeka sudut mata putrinya, “Pulanglah kamu jika semuanya sudah buntu nak, kamu tetap jadi putri kesayangan kami," ujarnya dan di angguki oleh citra. Kedua orang tua citra pamit untuk lekas pulang ke kampung halaman, sepeninggal mereka ibu mertua citra datang kembali. “Heh citra apa maksud kamu undang orang tua kamu kesini? " bentaknya dengan wajah memerah menahan marah. Citra menggeleng, “Citra sama sekali gatau buk kalo ayah sama ibu datang kesini, lagipula wajar kan buk mereka datang, karena disini ada anaknya," bela citra. Mertua citra yang bernama ajeng itu langsung memplototi citra, “Apa kamu bilang hah?" dengan ganas wanita tua itu langsung menarik rambut citra dengan kasar, “Saya tahu akal busuk kamu, kamu sengaja bawa mereka kesini supaya apa? supaya kamu bisa ngadu iya kan!" teriaknya. “Enggak buk enggak, citra sama sekali gatau buk, lepas buk sakit." Mertua citra melepaskan tarikan itu dengan kasar, “Kamu itu ya awas aja ibu laporin kamu sama reno, ingat citra kamu itu sudah menikah itu artinya kamu harus patuh pada suami dan mertua kamu, ngerti kamu?" bentaknya. Citra mengangguk pilu, dan berjalan meninggalkan mertuanya itu. “Heh citra mana bawaan orang tua mu dari kampung tadi?" Citra berbalik arah sambil menatap heran mertuanya itu, “Hanya beras dan sayur bu untuk kebutuhan rumah ini," jawab citra. “Heh apa kamu bilang, kamu mau korupsi? kamu itu udah di jatah sama reno setiap hari, harusnya kamu berbagi dong dengan mertua pelit banget pantes aja reno males sama kamu." Citra menarik nafasnya berat, “Bu, tolong mengerti uang yang mas reno kasih hanya 20 ribu, dan itu bukan hanya untuk makan tapi untuk kebutuhan semuanya bu," lirih citra. “heh dasar menantu tidak bersyukur, mana sekarang beras sama sayurnya mana siniin," teriak bu ajeng. Citra menggeleng, “Enggak buk, untuk kali ini citra gak bakal kasih, ibu udah ambil jatah bulanan citra tolong jangan ganggu pemberian orang tua citra," ujarnya. Bu ajeng menyeringai sambil melipat kedua tangannya di depan d**a, “Ya sudah biar reno saja yang bicara sama kamu, ibu pulang dulu." Bu ajeng pulang dengan wajah sumringah meninggalkan citra yang menangis tergugu di dalam rumahnya tidak ada yang tahu. sebentar lagi reno akan pulang dan drama sebenarnya akan terlihat, tangisan yang citra keluarkan tidak sebanding dengan apa yang akan dia dapatkan sebentar lagi. Citra bangkit dari duduknya, dia meraih karung berisi beras dan sayuran itu, tujuannya sekarang adalah lahan kosong di belakang rumah disana ada seng terbengkalai lebih baik citra amankan saja semua itu disana, dia tidak rela jika pemberian orang tuanya di nikmati mertuanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN