Reno selingkuh

1018 Kata
Pagi-pagi sekali Citra sudah bangun dan menyiapkan sarapan untuknya, karena pagi ini dia akan bekerja sesuai dengan ucapan Lili semalam yang mengatakan jika lowongan di kantornya masih ada. keributan yang sempat terjadi membuat Citra enggan melakukan tugasnya sebagai seorang istri. “Loh kamu makan, sarapan untuk mas mana?" Citra cuek sambil mengedikkan bahunya, hal itu kembali memicu kekesalan Reno yang pagi itu harus buru-buru untuk berangkat. “Kamu kenapa sih, makin di diemin makin seenaknya sama suami. kamu kira dengan gitu aku bakal bujuk kamu? enggak," ujar Reno. Citra bangkit dari duduknya, “Yang minta di bujuk juga enggak ada kok mas, sudah ya jangan ribut capek!" Reno mendekati Citra dengan wajah masamnya, “Terus kamu mau kemana, kenapa udah rapi gini? terus kenapa pakaian aku belum di setrika?" Citra menatap wajah Reno sambil menarik nafas dalam, “Kenapa enggak tanya ibu sih mas? harusnya yang masak dan siapin baju kamu itu ibu, karena kamu anak ibu bukan anak aku." “Kamu gak salah ngomong gitu?" Citra menggeleng, “Bener kan? kan kamu dan ibu yang selalu bilang gitu, aku ini cuma numpang disini dan bukan siapa-siapa jadi jangan harapin aku." Citra berlalu meninggalkan Reno dengan wajah kesalnya, “Akhhh, Citra, brak!" Reno melempar piring bekas makanan Citra itu ke lantai, tidak lama terdengar suara sang ibu yang masuk ke dalam rumahnya. “Reno, kamu sudah sarapan?" Reno mencebikkan mulutnya, “Apa sih buk, pagi-pagi udah dateng aja," kesalnya. “Ibu mau makan Reno, ibu laper makanannya mana?" Reno menjatuhkan tubuhnya du atas kursi tua itu, ”Gak ada, Reno juga belum sarapan." Mendengar hal itu bu Ajeng langsung memanggil sang menantu, “Citra, citra!" Citra yang tengah berada di kamarnya keluar, dia sudah siap untuk berangkat tapi harus kembali meladeni dua orang itu. “Kenapa buk?" tanya Citra santai. “Makanannya mana Citra, kamu itu gimana sih jadi istri gak becus sama sekali Reno itu harus berangkat pagi, dan ibu juga harus arisan kami butuh sarapan Citra!" “Yasudah masak saja buk, simple kan? aneh ya buk di kala sulit seperti ini ibu menuntut Citra sebagai menantu yang baik, tapi saat persoalan uang ibu mengatakan Citra ini bukan siapa-siapa." Mendengar hal itu kedua orang yang ada di hadapannya terdiam, tidak tahu lagi harus mengatakan apa. “Lagipula buk uang mas Reno kan semua di ibuk, yasudah harusnya ibu tanggung jawab dong kelola uangnya buat makan jangan buat shopping sama arisan emas doang buk," sindir Citra. Mendengar hal itu tatapan Reno beralih pada sang ibu, “Ibu arisan?" tanya Reno. Bu Ajeng tampak gelagapan, “Dikit doang Reno, ini juga buat kamu supaya cepet bisa kebeli kebun sama mobil," elaknya. Reno yang sudah terlalu percaya pada sang ibu hanya mengangguk kemudian beralih pada Citra, “Kamu mau kemana?" “Kerja," jawab Citra Acuh. Reno bangkit dari duduknya dan menatap nyalang sang istri, “Kamu itu bandel ya Citra, mas udah bilang kamu gak boleh kerja ngerti enggak sih!" “Enggak," Jawab Citra tegas. Reno menyungar rambutnya dengan kasar, “Mau kamu tu apa sih hah? mas bilang enggak ya enggak Citra!" berangnya. “Mau aku tu kamu tahu mas kalau aku kekurangan, kamu itu zalim, kamu hanya memikirkan ibumu yang bahkan rela mempertaruhkan rumah tangga anaknya demi uang!" Mendengar Citra mengatai ibunya seperti itu Reno menarik rambut Citra dengan kasar, “Jangan sembarangan ya kamu, aku gak ijinkan kamu bekerja citra!" Citra menarik tangan Reno dengan kuat hingga tarikan itu terlepas, “Kenapa kamu malu, seorang kepala bagian packing istrinya bekerja? padahal gaji suaminya saja lebih dari cukup untuk menafkahi istrinya?" “Sudah Reno sudah," relai buk Ajeng. “Kenapa buk, takut kalau anak ibu ini masuk penjara karena KDRT?" Buk Ajeng melotot mendengar ucapan Citra itu, “Sudah pergi saja kamu sana bekerja, kamu memang istri durhaka tidak mau mendengarkan ucapan suami." “Iya dan ibu mertua perusak rumah tangga anaknya." Citra pergi begitu saja dan mengabaikan teriakan suami dan sumpah serapah ibunya, jika diladeni Citra akan terlambat pergi bekerja sekarang. Setelah kepergian Citra buk Ajeng berusaha menenangkan putranya itu, seperti biasa dia akan mempengaruhi pikiran sang anak agar tidak lemah terhadap istri. “Sudah Reno jika dia mau bekerja iu bagus, artinya kamu tidak perlu kasih dia uang biarkan saja. biar gaji dia saja yang memenuhi kebutuhan kalian, sedangkan gaji kamu berikan pada ibu agar ibu tabung dan kamu segera membeli kebun." Reno tersenyum, “Bener juga ya buk, kalau gitu sih Reno bisa bebas buat nyari cewek lain." Buk Ajeng terkejut, “Jangan bilang gosip itu bener ya reno, kamu itu dekat dengan perempuan lain," tuding sang ibu karena pernah mendengar beberapa gosip tetangga tentang Putra nya itu. “Ah ibu ini, namanya laki-laki wajar bermain buk lagipula Reno males buk sama Citra. asal ibu tahu ya Reno belum pernah sentuh Citra, keburu males buk Citra jelek banget sekarang." Mendengar fakta yang bisa dikatakan aib rumah tangga itu dari anaknya buk Ajeng bukannya menasehati justru dia tertawa. “Bener sih Ren lebih baik jangan deh entar hamil terus anaknya jelek kayak ibunya gimana. ibuk sih ogah kalau cucu ibu jelek." “Nah itu dia buk, perempuan yang deket sama Reno itu cantik, modis anak orang kaya bawa mobil juga." Buk Ajeng tersenyum senang mendengarnya, tidak ada rasa kasihan sedikitpun pada sang menantu padahal dia sesama seorang wanita. “Yasudah bagus deh, nanti kalau memang cocok kalian nikah saja tinggalin tuh si Citra pembangkang itu apalagi kamu bilang pacar kamu orang kaya, beh minta aja nanti dia buat sewa pembantu biar kalian enggak kesusahan." Reno mengangguk, “Pasti dong buk, tapi sebelum Reno sama dia ya paling kurang kita nikmati dulu lah kerja keras Citra. ya enak banget tu perempuan udah di kasih mahar gak guna." “Nah bener ibu setuju, kalau bisa kamu minta pegang gajinya biar ibu yang atur oke?" Reno tersenyum senang, segala rencana telah tersusun di otaknya dia tidak akan membiarkan Citra lepas begitu saja. ******************************************** “Hey kamu, antar kopi ke ruangan CEO ya," Titah seorang wanita bertubuh gempal. Citra mengangguk dan lekas mengambil nampan dan membawa kopi itu. “Jangan genit," teriak wanita itu yang masih sempat terdengar oleh Citra.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN