“Astag reno kamu zalim pada istrimu, astaghfirullah," ucap para tetangga seraya mengelus d**a.
Tidak ingin mendapatkan hujatan apapun buk ajeng lekas maju, “Ibu-ibu dengar ya, reko memberikan uang 20 ribu itu karena kesalahan citra sendiri. Dia wanita boros dan suka berfoya-foya, uang itu harusnya di tabung bukan di hamburkan," ujarnya sambil menatap remeh pada menantunya itu.
Citra mengelus d**a, “Yasudah buk, uang 20 ribunya untuk ibu saja citra tidak perlu. mulai besok citra akan bekerja seperti gadis dulu, dan tolong ya mas," Citra melirik ke arah Reno, “Jangan di larang ya soalnya ibumu murka jika uangmu untukku," tutur citra dan langsung masuk ke dalam rumah.
Orang-orang yang ada di luar langsung menatap reno dan bu ajeng seolah ingin menguliti kedua orang itu, ternyata apa yang mereka anggap selama ini salah. mereka mengira citra lah wanita yang tidak mau mengurus diri, ternyata untuk nafkah saja kurang bagaimana untuk kebutuhan dirinya.
Reno dan buk ajeng langsung menyusul citra ke dalam rumah, “Citra!" teriak reno menggelegar.
Citra yang tengah menyusun pakaian hanya santai tanpa menjawab teriakan suaminya.
“Lihat itu reno, istrimu itu memang harus di beri pelajaran dia sudah berani mempermalukan kita, memang punya apa dia?"
“Punya harga diri yang tidak bisa kalian beli," jawab citra dengan tegas tanpa berbalik arah.
Reno mengepalkan tangannya dengan keras, “Bisakah kamu menurut citra, aku ini suamimu harusnya kamu tidak seperti ini hanya karena masalah sepele."
Citra berbalik, “Sepele? apa yang kamu sebut sepele? tidak di nafkahi secara layak, di siksa hanya karena fitnah ibumu ini, kau tidak pantas sebagai imam yang di taati mas."
“Sudah reno biarkan saja dia bekerja, ibu ingin lihat apa yang bisa dia lakukan tanpa kamu. dia kira dia siapa? kamu itu harusnya bersyukur menikah dengan reno, banyak wanita yang ingin menikah dengannya tapi malah kamu yang di pilihnya."
Citra melipat kedua tangannya di depan d**a, “Yasudah nikahkan saja anak ibu ini dengan wanita yang ibu maksud, aku ingin lihat apa ada wanita yang mau merelakan hidupnya hanya untuk di siksa oleh manusia seperti kalian."
“Kau," Reno mengangkat tangannya bersiap ingin menampar wajah citra.
“kenapa? ayo tampar, supaya kita lebih mudah untuk bercerai," ujar citra dengan senyum sinisnya membuat Reno mendelik tajam.
“Tidak akan ada perceraian citra ingat itu."
Reno pergi begitu saja setelah mengatakan itu meninggalkan sang ibu yang gemas akan sikap putranya itu.
“Awas kamu," ancam bu ajeng pada citra dan hanya di balas senyum sinis oleh citra.
**********************************************
“Lili, apa lowongan pekerjaan yang kamu katakan beberapa waktu lalu masih ada?"
Karena tekad citra sudah bulat ingin bekerja dia langsung mendatangi lili yang berada di kampung sebelah, lelah yang dia rasa karena tekanan keluarga reno mungkin bisa di gantikan dengan dirinya yang bekerja.
Lili tampak berfikir, “Mungkin sudah tidak ada citra, karena itu sudah beberapa hari yang lalu kamu tahu sendiri banyak orang butuh pekerjaan bukan?"
Citra mengangguk, tampak wajahnya begitu murung membuat Lili tidak tega melihatnya.
“Tapi besok aku akan tanya ya, semoga saja ada tapi jika hanya sebagai CS tidak masalah kan?"
Citra mengangguk mantap, “Tidak masalah Lili, yang penting itu halal," jawabnya dengan semangat sambil tersenyum tulus.
Setelah bertemu dengan Lili citra langsung berpamitan pulang, tujuannya yaitu ke lahan kosong untuk mengambil beras dan juga sayuran yang sempat dia sembunyikan. Dia berencana akan memasak makanan untuknya.
Citra mempercepat langkahnya saat sudah tiba di dekat lahan itu, dari kejauhan sudah terlihat karung besar yang di bawa oleh orang tuanya.
Saat Citra mendekat dia tersenyum, teringat akan kedua orang tuanya yang membawa semua itu.
Citra tidak membawa semua bahan makanan itu pulang, hanya sedikit yang dia bawa untuk di masak seorang diri.
Citra membuka pintu belakang, saat pintu terbuka betapa terkejutnya dia saat melihat rumahnya seperti kapal pecah. piring berserakan, bungkus makanan terbuang dengan sembarang bahkan ampas kopi tumpah di atas meja.
Melihat semua itu Citra langsung mencari keberadaan suaminya, karena hanya reno lah seseorang yang bisa dia curigai saat itu.
“Mas, mas reno!" panggilnya.
Citra mencari reno di ruang tamu, tapi tidak ada. namun saat dia membuka pintu kamar.
Ceklek
“Mas reno!"
Reno yang tengah bermain game itu hanya melirik sekilas kemudian fokus kembali ke hpnya, “Kenapa?" ujarnya santai.
“Apa kamu yang melakukan semua itu?"
Alis Reno terpaut, “Apa? dapur kotor? iya memang kenapa, kamu mau marah coba aja aku laporin ibuk kamu," ancamnya.
“Mas kamu sadar gak sih? ini itu rumah tangga kita bukan rumah tangga ibuk, harusnya kamu sebagai suami lindungin aku mas bukan malah gini, terus maksud kamu apa berantakin dapur gitu?"
Reno tersenyum sinis, “Ya biar kamu ada kerjaan, kamu pengen kerja kan? yaudah tu beresin dapur kotor banget, sama kamar mandi tuh jorok," ucap Reno dengan bangga.
Citra menggeleng, “Mas kamu sadar gak sih ngelakuin apa?" lirihnya sungguh energinya terasa terkuras habis menghadapi reno.
Reno mengangkat bahunya acuh, “Sadar sih, udah kamu kerjain aja nanti aku bakal kasih gaji ya 30 ribu, lumayan kan? tapi jangan lupa masak ya, malu harus makan di rumah ibu terus," ucap reno sambil memasukkan hpnya ke sakunya dan meninggalkan Citra di dalam kamar.
Tidak lama terdengar suara sepeda motor Reno yang keluar dari halaman rumah, selalu saja begitu dia akan pergi entah kemana dan pulang larut malam nanti.
“Ya allah sampai kapan hamba harus bertahan dengan pria itu," gumam Citra di dalam hatinya.
Citra keluar dari kamarnya menuju dapur, sebagai seorang wanita yang terbiasa bersih sejak kecil mau tidak mau citra kembali membersihkan dapurnya. padahal sebelum dia bertemu Lili dia sudah membersihkan rumahnya.
Citra membersihkan dapur dengan rasa sakit hati yang luar biasa, dia menyeka sudut matanya yang basah mengingat perlakuan Reno padanya.
“Ternyata apa yang dikatakan ibu benar, Laki-laki yang terlihat baik, menghormati ibunya dan juga memiliki karir yang baik belum tentu menghargai seorang wanita."
********************************************
“Mau kemana kamu?"
“Kerja," jawab Citra acuh.
Reno menarik rambut citra dengan kasar, “Jangan sembarangan ya kamu, aku gak ijinkan kamu bekerja citra!"
Citra menarik tangan Reno dengan kuat hingga tarikan itu terlepas, “Kenapa kamu malu, seorang kepala bagian packing istrinya bekerja? padahal gaji suaminya saja lebih dari cukup untuk menafkahi istrinya?"