Ekor mata Miranda sejak tadi melihat bahwa ada yang menguping pembicaraan mereka. Miranda yakin, seseorang itu bukan tidak sengaja tapi memang sengaja melakukannya untuk seseorang. Sengaja, Miranda terus memancing obrolan bersama anak dan menantunya itu, menunjukkan bahwa seakan-akan Johan memang bodoh dan mereka tidak bisa menemukan Mira. Setelah obrolan itu selesai, Miranda pun pamit pulang namun sebelumnya melangkah terlebih dahulu ke belakang dengan banyak sekali alasan yang tidak masuk akal. Renata dan Johan yang tidak mau mengambil pusing akan hal itu pun, mempersilahkan saja tanpa melarang.
Di sudut dapur, seorang wanita paruh baya duduk bersembunyi sambil memainkan ponselnya. Ia kembali melihat rekaman yang baru saja diambil olehnya itu, lalu tangannya dengan cekatan mengirimkan pesan video tersebut pada seseorang.
Miranda terus memperhatikan gerak-gerik wanita tua itu, sejak awal memang ia yakin kalau Mira – cucunya, tidak akan mungkin lepas komunikasi dengan keluarga. Miranda tahu betul, walaupun cucunya dalam keadaan emosi dan marah, tapi tetap saja tidak akan pernah membenci pada keluarganya. Miranda menyilangkan kedua tangannya di depan d**a, menatap datar wanita paruh baya yang sudah keluar dari tempat persembunyiannya.
Tepat, saat wanita tua itu berbalik arah, posisinya sudah berhadapan dengan Miranda. Seketika, tubuhnya menegang, wajahnya langsung pucat pasti dan kakinya terasa lemas. Bingung, entah apa yang terjadi setelah ini, wanita tua itu benar-benar tidak bisa berpikir untuk saat ini.
“Nyonya sepuh!” pekiknya terkejut. Bi Mar cukup terkejut, namun berusaha untuk tetap tenang agar terlihat tidak mencurigakan. “Ada apa? Apa nyonya butuh sesuatu sampai harus ke dapur?”
“Harusnya, aku yang bertanya. Apa yang kau lakukan? Kenapa bersembunyi seperti itu? Kau bersembunyi, layaknya maling yang takut ketahuan. Apa kau mengambil sesuatu di rumah ini?” tanya Miranda penuh kecurigaan. Sengaja, ingin membuat Bi Mar takut dan akhirnya akan memberikan info mengenai Almira.
“Tidak, Nyonya Sepuh! Tidak! Aku tidak mencuri apapun di rumah ini, sungguh!” jawabnya ketakutan.
Bi Mar memang paling takut jika sudah dituduh mencuri, apalagi ia bekerja di rumah besar itu bukan setahun atau dua tahun, tapi sudah puluhan tahun. Jangankan mencuri, memiliki pikiran untuk hal itu saja tidak pernah sedikitpun terlintas di dalam otaknya.
“Kau jangan macam-macam dengan keluarga ini ya, Mar. Kau tahu betul, bukan? Aku bisa melakukan apapun yang membuat kamu beserta semua keluargamu itu menyesal karena sudah mengkhianati kami.”
“Tidak, Nyonya. Aku tidak melakukan apapun, percayalah,” lirihnya menangkupkan kedua tangan, suaranya bergetar menahan rasa takut yang kian membara.
“Sini, aku lihat ponselmu!” tegas Miranda menengadahkan tangannya di hadapan Bi Mar.
Reflek, Bi Mar langsung menyembunyikan kedua tangannya ke belakang, Miranda tersenyum sinis dan semakin yakin banget kalau memang ada yang disembunyikan oleh BI Mar.
“Sepertinya, kau memang sedang sekongkol dengan orang lain untuk merampok di rumah ini, ya!” tuding Miranda membuat Bi Mar terpojok.
“Ya Tuhan, Nyonya. Bibi mana ada pikiran seperti itu, tidak Nyonya.”
“Kalau begitu, sini berikan!” bentak Miranda kasar. Jengah juga karena Bi Mar terus menyangkal dan tidak memberikan ponselnya. “Kau tidak mau memberikan ponselmu? Baik, aku akan telepon polisi sekarang juga!”
“Jangan, Nyonya!” cegah Bi Mar. Wanita tua itu menyerahkan ponselnya dengan tangan yang bergetar.
Bi Mar, merasa takut dengan ancaman Miranda, ia juga takut dengan Almira. Tapi, saat ini tidak punya pilihan lain, mungkin memang sudah saatnya mereka semua bertemu.
“Begini saja lama!”
Miranda mengecek semua pesan yang dikirimkan oleh BI Mar dan juga Mira. Rupanya, mereka memang sangat sering untuk berkomunikasi. Benar dugaan Miranda, cucunya tidak akan pernah mungkin lepas tangan. Karena, ia begitu sangat menyayangi keluarganya.
“Sudah kuduga. Almira pasti masih ada komunikasi sama salah satu penghuni rumah ini. Wanita itu, tidak akan mungkin benar-benar lepas komunikasi. Tapi, aku akui, bahwa kamu hebat, Mar.”
“Maksudnya, Nyonya?”
“Kamu menyembunyikannya selama lima tahun dan wanita itu lebih percaya denganmu daripada Renata, ibunya sendiri.”
“Jadi, dimana Mira tinggal sekarang?”
“Bibi tidak tahu, Nyonya,” lirihnya.
“Bohong! Aku tahu, kau berbohong, Mar. Kau takut pada Mira bukan? Aku tidak akan membiarkan dirinya tahu mengenai hal ini, tolong beritahu semuanya!”
Bi Mar sudah tidak punya pilihan lain lagi untuk hal itu, akhirnya memberitahu alamat tempat tinggal Mira dan kedua anaknya. Kasihan juga, jika mereka terpaksa pisah begitu lama karena keegoisan.
Miranda mentransfer sejumlah uang pada Bi Mar, karena memang wanita tua itu saat ini sedang membutuhkan banyak uang, untuk biasa cucunya yang sedang sakit.
“Aku sudah kirimkan sejumlah uang untuk pengobatan cicitmu.”
“Tidak, Nyonya. Bibi tidak menukar alamat Non Mira dengan sejumlah uang–”
“Tidak usah menolak. Kau tahu betul, aku sangat amat tidak suka di tolak. Itu rezeki dan gunakan sebaik mungkin. Terima kasih, sudah memberikan info yang aku butuhkan.”
Miranda beranjak dan meninggalkan rumah besar itu.
*
Ya seperti saat ini, Miranda sudah ada di hadapan Mira dan kedua anaknya. Wanita tua itu langsung menuju alamat yang diberikan setelah keluar dari rumah besar itu. Merasa tidak sabar bertemu dengan Mira dan kedua cicitnya, jadi ia tidak membuang-buang waktu lagi.
Mira cukup terkejut dengan kedatangan Miranda, tapi ia juga memahami bahwa cepat atau lambat, pasti mereka akan dengan mudah menemukannya. Entah dengan cara apapun, tapi Mira tidak menyangka jika sampai secepat ini.
Miranda tersenyum bahagia saat mendengar suara Mira lagi setelah lima tahun lamanya. Sungguh, ia merindukan panggilan itu dari bibir mungil Almira. Miranda mengalihkan pandangannya pada dua bocah kecil yang tampan itu, ia langsung terpesona dan seakan enggan untuk mengalihkan pandangannya.
“Mi, ngapain sih lama-lama disini? Segala pandangan-pandangan pula. Ayo buruan ke unit, aku sudah lapar!” sentak Michael. “Lagian, ini siapa sih? Nenek itu siapa?”
Miranda sedikit terkejut saat bocah itu melayangkan pertanyaan, memandangi secara detail dan yakin itu memang keturunan Almira. “Siapa namamu?”
“Michael. Michael Johan,” tegasnya penuh penekanan menatap Miranda dengan tatapan yang tegas seperti Mira.
Miranda langsung terkekeh mendengarnya, “Benar-benar Almira versi mini,” ejeknya membuat Mira tersadar dari lamunannya.
Mira menoleh pada Bi Dar, memberikan isyarat agar segera membawa kedua anaknya itu pergi. “Bi Dar, bawa anak-anak ke unit. Nanti aku menyusul.”
Bi Dar mengangguk dan menggiring kedua bocah itu masuk ke dalam lift menuju ke unit. Terlihat, kekecewaan di raut wajah Miranda karena seakan tidak diperbolehkan untuk menemui kedua cicitnya itu. Miranda memandang kedua bocah itu sampai masuk lift dan benar-benar hilang dari pandangan.
“Ada apa Omah kesini?” tanyanya datar.
“Menemui cucu dan cicit, Omah.”
“Kami tidak perlu ditemui, Omah. Karena kami, baik-baik saja. Bahkan, sangat amat baik-baik saja tanpa adanya kalian,” tegas Mira. “Jadi, lebih baik … Omah pergi dari sini, sebelum kedatangan Omah nantinya menjadi pertanyaan besar bagi kedua anakku.”
“Tidak. Omah, tidak akan pernah pergi dari sini, sampai kamu mengizinkan Omah untuk bertemu dengan mereka lebih lama.”
Mira terkekeh mendengar permintaan sederhana itu, “Untuk apa? Mereka tidak butuh pertemuan. Karena, mereka tidak pernah mengenal yang namanya keluarga. Di dalam hidup mereka, hanya ada aku, bukan kalian!”
Mira berlalu pergi dan dikejar oleh Miranda. “Tidak, Sayang. Jangan pergi! Omah mohon,” lirihnya menarik lembut tangan Mira.
Menarik sedikit kasar tubuh Mira agar masuk ke dalam dekapan Miranda. Sungguh, wanita tua itu sangat merindukan gadisnya yang selalu comel dan bahagia. Dan, semuanya berubah sejak kejadian menjijikan itu. Semuanya, membuat hidup Almira runtuh dan tidak ada lagi semangat untuk melanjutkan hidup, karena tidak ada arah dan tujuan.
“Lepaskan, Omah! Jangan sampai aku berbuat kasar,” tegas Almira menutupi semua rasa sakit dan kecewanya.
“Tidak, Almira. Sudah cukup, selama ini kamu menghukum diri sendiri. Sudah cukup, Sayang. Mau sampai kapan seperti ini? Mau sampai kapan? Hidupmu bukan hanya ada kedua bocah itu, tapi juga keluarga yang lain.”
“Aku tidak punya keluarga sejak lima tahun silam.”
“Mira, sejauh apapun kamu pergi. Sebencu apapun kamu pada kami semua, kamu tetap saja anak Johan. Kamu adalah Almira Niana Johan. Kamu tidak bisa menyangkalnya, Nak. Omah mohon, turunkan sedikit egomu.”
“Mira, Omah hanya ingin melepaskan rindu dengan cucu dan cicit, Omah. Omah berjanji, tidak akan memaksakan apapun padamu, Omah janji, Nak,” ucapnya bergetar.
“Bohong. Omah pasti berbohong. Aku yakin, setelah ini Omah pasti akan memberitahu pertemuan kita pada papa dan mama. Lalu, mereka akan datang dan memaksaku untuk pulang.”
“Tidak. Percaya pada, Omah. Omah janji tidak akan melakukan apapun dan tidak memaksakan apapun. Omah hanya ingin diizinkan bertemu denganmu dan kedua bocah itu. Sesuai dengan permintaanmu lima tahun yang lalu, harus mendapatkan izin jika ingin bertemu. Betul, bukan?”
Mira memejamkan mata sejenak, menarik nafas panjang lalu menghembuskannya kasar. Tidak punya pilihan lain, ia memang harus menuruti keinginan Omahnya itu. Sampai saat ini, emang orang-orang yang masih ada dalam lingkaran kepercayaan itu hanya beberapa orang saja. Termasuk, Omah.
“Baiklah kalau begitu. Aku mengizinkannya, dengan syarat Omah tidak memaksa aku kembali atau bertemu dengan mereka semua. Kecuali, itu keinginanku sendiri.”
“Iya, Sayang. Iya. Omah janji.”
Mira melepaskan pelukan Omah secara perlahan lalu mengajak wanita tua itu masuk ke dalam lift. Mereka akan menuju unit, dimana selama dua Minggu ini Mira berada dan menyembunyikan dirinya sendiri juga kedua anaknya.
Miranda begitu sangat bahagia karena mendapatkan lagi kepercayaan dari Almira. Berjanji, tidak akan menyia-nyiakan kepercayaan itu karena memang tidak ingin kejadian yang lalu terulang kembali. Selama di dalam lift, wanita tua itu terus saja bergelayut manja dilengan Mira.
Almira sendiri tidak merasa risih, karena memang Omahnya seperti itu. Ia juga sedikit rindu pada wanita tua itu, wanita yang selalu menuruti keinginannya.
“Mira, siapa nama anakmu yang satu lagi?”
“Matthew Johan, Omah.”
“Mereka sangat tampan sekali, ya. Perpaduan yang pas antara kamu dan suamimu, pasti,” jawabnya antusias. “Michael itu, Omah lihat benar-benar versi mininya kamu, Sayang. Kalau Matthew, pasti versi Papinya, ya.”
“Oh iya, suamimu kemana, Sayang?”