Mira menahan nafas saat mendapatkan pertanyaan yang dia sendiri tidak bisa menjawabnya, berharap lift segera tiba di lantai unitnya dan terbuka. Dan, syukurlah nasib memang baik dan berpihak padanya, Miranda seakan lupa dengan pertanyaannya tadi dan memilih untuk segera keluar dari dalam lift lalu bertanya dimana letak unit Almira.
“Mira, cepat dong! Omah sudah tidak sabar ketemu dua bocah tampan itu.”
“Sabar dong, Omah. Jalannya pelan-pelan saja, nanti kalau jatuh gimana? Bahaya, kan,” cegah Mira yang menahan tangan Miranda.
Wanita tua itu hampir saja terjungkal ke depan karena jalan terburu-buru sambil menarik tangan Almira, tanpa memperhatikan langkah kakinya. Untung saja, Mira refleks menarik tangannya agar tidak terjungkal.
“Tuh, kan. Hampir saja jatuh,” ucap Mira datar, Miranda yang mendapatkan tatapan datar seperti itu langsung nyengir dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Maaf, Sayang. Omah terlalu antusias untuk bertemu dengan mereka. Ah, rasanya sangat amat tidak sabar untuk memeluk mereka.”
“Tapi, sayangnya mereka tidak akan semudah itu untuk dipeluk, Omah,” jawab Almira menghentikan langkah kaki Miranda yang sudah lebih dulu maju setelah diberitahu nomor unit apartemen Mira.
“Kenapa?” tanyanya menoleh kebelakang.
“Seperti apa yang sudah aku katakan sebelumnya, mereka hanya mengenal aku sebagai keluarga saja. Tanpa ada siapapun, mungkin mereka juga tidak akan bisa menerima Omah nantinya.”
Hati Miranda mencelos mendengar penjelasan Mira, memang tadi Mira sudah menjelaskan hal itu. Tapi, mendengar bahwasanya mereka belum tentu bisa menerima dirinya, itu cukup menyakitkan untuknya. Miranda memang tidak pernah tahu luka Almira seperti apa dan bagaimana, tapi apa mungkin luka itu sampai pada hari kedua anaknya.
“Omah akan berusaha semaksimal mungkin, agar mereka bisa menerima, Omah.”
“Silahkan, aku tidak melarang. Dan, yang paling penting tepati janji Omah untuk tidak memaksa aku kembali, sampai aku sendiri yang benar-benar ingin kembali.”
Almira melangkah lebih dulu, meninggalkan Miranda yang masih terpaku dengan sikap wanita itu. Entah mengapa, Miranda seakan-akan tidak bisa mengenali sosok Almira lagi. Wanita itu seperti orang yang berbeda, di masa lalu Almira memang orang yang tegas namun tidak cuek seperti ini. Tetapi, kenapa sekarang justru sangat berbeda sekali.
Miranda kembali melangkah, mengekor di belakang Almira, sampai mereka berhenti di depan sebuah unit. Mira mengetuk pintu dan terbuka lebar memperlihatkan Bi Dar yang memandang heran, karena Mira membawa wanita tua itu. Namun, Bi Dar hanya menatap sebentar lalu membuka pintu dengan lebar dan mempersilahkan mereka masuk.
“Mami, kenapa lama sekali sih? Mau makan saja, harus menunggu Mami datang, aku sudah kelaparan!” sungut Michael yang emang sejak tadi mengeluh lapar dan tidak diperbolehkan lebih dulu untuk makan oleh Matthew.
“Loh, kenapa gak makan? Memangnya, Bi Dar tidak memperbolehkan?”
“Bukan Bi Dar, tapi Matthew nih. Katanya, harus nunggu Mami, biar makan bersama. Tapi, Mami lama sekali karena wanita tua–”
“Michael!” tegur Matthew menyadari kalau Maminya itu datang tidak sendirian.
“Apa sih? Memang iya, ‘kan? Karena wanita tua tadi, Mami jadi terlambat makan bersama dengan kita!” protes Michael. Seketika, Matthew langsung melompat dan membungkam mulut kembarannya itu.
“Diam, Michael. Wanita tua itu ada di belakang, Mami,” bisik Matthew agar tidak terdengar siapapun.
Michael yang memang sejak tadi membuang muka, tidak tahu bahwa keberadaan Miranda itu ada dibelakangnya. Matanya melebar sempurna, merasa tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Matthew. Tapi, ia berbalik arah, matanya molor sempurna karena benar-benar wanita tua itu ada disana, namun seketika Michael berubah biasa saja, seperti tidak ada kejadian apapun. Wajahnya, kembali datar bahkan tanpa senyuman.
Almira sengaja tidak menghentikan sedikit pertikaian itu, karena memang ingin memperlihatkan pada Miranda, bagaimana aslinya sikap Michael dan Matthew. Mira melirik Omahnya yang terpaku dengan semua percakapan bocah kembar itu. Mungkin, cukup terkejut dengan respon Michael yang sudah seperti orang dewasa itu. Pandai menyampaikan rasa kesalnya terhadap sesuatu.
“Kenapa dia ikut, Mi?” tanya Michael datar.
Miranda segera tersadar dengan hal itu, ia memberikan senyum terbaiknya pada kedua bocah kembar yang memandangnya datar. Kedua bocah itu, memang kalau di hadapan orang baru kenal, pasti akan cuek dan datar. Berbeda lagi jika pada fans yang melihat permainan musik mereka yang seru.
“Hai, tampan!” sapa Miranda.
“Gak usah sok kenal. Nenek itu siapa? Ada perlu apa ke sini? Tujuannya apa?” cecar Michael.
Almira kembali melirik Miranda yang juga ternyata sedang menatapnya. Almira seakan mengatakan, inilah sikap asli mereka dan sekaligus menantang Miranda yang katanya akan berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan hati mereka. Almira tersenyum, namun senyuman itu terlihat meledek sekali.
Almira mengalihkan pandangannya pada Bi Dar, wanita tua itu langsung paham dan menyiapkan makan siang yang sudah hampir kesorean itu.
“Aku, Omahnya Almira. Mami kalian,” jawab Miranda merasa bingung harus memperkenalkan dirinya sebagai apa dan seperti apa.
Keduanya mengerutkan dahi, menatap Mira yang hanya tersenyum tanpa menjawab apapun. Wanita muda itu ingin tahu, setelah itu respon apa yang akan diberikan oleh kedua bocahnya.
“Jangan bicara omong kosong. Mami tidak punya keluarga dan hanya kami keluarganya,” jawab Michael tegas.
“Iya, Michael benar. Selama ini, Mami hanya bersama kita berdua dan Bi Dar. Tidak ada yang lain, lalu Nenek ini siapa? Kenapa mengaku-ngaku keluarga? Penipu ya!” tuding Matthew menunjuk pada Miranda yang terlonjak.
“Tidak! Bukan! Aku bukan penipu. Aku benar-benar Omahnya Almira Niana Johan, Mami kalian,” tegasnya agar mereka percaya tapi keduanya malah memandang sinis. Masih sama sekali tidak percaya dengan apa yang dikatakan wanita tua itu.
“Mira, kenapa kamu diam saja, Sayang? Katakan pada mereka, Omah bukan penipu, Nak,” lirihnya menatap Mira minta pembelaan.
Mira menghela nafas panjang, membalas tatapan Omahnya itu. “Bukankah sudah aku katakan sebelumnya? Mereka belum tentu bisa menerima Omah, karena mereka tidak mengenal apa itu keluarga. Mereka hanya mengenal aku dan Bi Dar. Tidak ada yang lain.”
“Ya, Omah tahu. Tapi tidak ada salahnya bukan, kalau kamu memberikan pengertian pada mereka. Menjelaskan Omah ini siapa agar tidak ada kesalahpahaman seperti ini, Almira.”
“Untuk apa? Aku sudah katakan sejak awal, Omah masih memaksa bukan? Bahkan, dengan percaya diri merasa bisa menaklukkan mereka,” kekeh Mira. “Tapi, ternyata tidak semudah itu, bukan?”
“Sebenarnya, mereka itu pandai, Omah. Tanpa dijelaskan pun akan tahu dan paham, tapi berhubung sejak masih di dalam kandungan tidak mengenal siapa keluarga besarnya. Jadi, anggapan mereka yang tidak punya keluarga.”
“Tapi, sekarang kamu sudah kembali bersama dengan mereka. Kamu juga pasti nantinya akan kembali ke rumah Papamu. Sudah seharusnya, mulai dari sekarang dijelaskan agar mereka itu paham.”
“Cukup, Omah! Jangan terlalu jauh membicarakan hal yang belum tentu bisa aku terima. Aku katakan, jangan pernah memaksakan sesuatu yang tidak bisa aku wujudkan! Aku tidak suka dipaksa, biarkan semuanya mengalir seperti air yang mengalir. Omah, ingat janji Omah!” tegas Mira tidak terima jika Omahnya itu bersikap seperti biasanya.
Memang, tidak seharusnya bisa percaya pada orang-orang disekitarnya. Mira sejak dulu, paham betul bagaimana keluarga besarnya. Sikap yang seenaknya dan selalu menekan, sifat yang selalu membuat jengah dan otoriter, itu membuatnya muak. Dan, ya seperti sekarang ini melahirkan Mira yang sikap dan sifatnya tidak jauh berbeda dengan mereka, lalu Mira melahirkan bibit baru yang tidak jauh perbedaannya juga dengan mereka semua.
Michael dan Matthew, sebenarnya tahu betul, mereka paham kalau wanita tua itu memang bukan orang sembarangan. Sebab, Maminya tidak akan mungkin juga membawa orang lain masuk dan berkumpul dengan mereka kalau bukan benar-benar mengenal baik. Sudah dapat dipastikan, wanita tua itu memang adalah orang penting atau keluarga dari Maminya. Namun, kedua bocah itu memilih untuk pura-pura tidak tahu dan enggan untuk membuat hati, sebelum Maminya sendiri yang meminta.
Mereka, tidak ingin jika Maminya selalu terluka dan menangis. Mereka selalu tidak sengaja melihat kacaunya Mira, ketika wanita muda itu depresi saat penyakitnya kambuh. Bi Dar selalu berusaha menenangkannya dan kedua bocah itu selalu melihat kekacauan Maminya. Mereka hanya tidak mau, kehadiran keluarga besar Maminya itu justru semakin membuat wanita muda itu kacau hidupnya.
“Tapi, Mir–”
“Mi, kapan makannya? Bicara terus, lapar aku!”
“Iya, Sayang. Ayo kita makan,” ajak Mira menggiring keduanya menuju meja makan, membiarkan Miranda tetap berada di tempatnya tanpa ada niat mengajak. Mira memang sempat menoleh ke belakang, namun hanya membiarkan Miranda sibuk dengan pikirannya sendiri.
Sekali lagi, Mira sengaja melakukan itu semua. Menunjukkan pada mereka, sekalipun dirinya tidak lagi dianggap keluarga atau anak, maka itu tidak menjadi masalah. Karena, ada kedua bocah itu yang selalu menjadi pelipur lara disetiap luka yang muncul, walaupun terkadang mereka bagaimana kucing dan tikus.
Ternyata, tidak mudah mendekati kedua bocah itu. Mereka terbentuk oleh didikan Mira yang keras dan tidak mudah menerima orang lain. Mungkin, memang benar yang dikatakan oleh Mira, aku tidak boleh memaksa untuk saat ini. Butuh pendekatan yang lama agar bisa masuk ke dalam hidup mereka, aku tahu … lukanya pasti masih dalam, batin Miranda menatap nanar ketiga orang yang sudah duduk di atas kursinya masing-masing.
“Omah, ayo makan!”