17: Tembok Penghalang Runtuh

1486 Kata

Sakka mengetuk pintu kamar Lolla beberapa kali. "Apa dia udah tidur?" Tak lama, pintu terbuka. Lolla menguap cukup lebar, namun ia langsung menutup mulutnya saat melihat Sakka menatapnya datar. "Eh? Sakka? Kenapa?" "Gue butuh bantuan lo," jawab Sakka menarik tangan Lolla. "Aduh, jangan narik-narik. Nanti tangan gue copot!" Sakka tidak menanggapi ocehan konyol Lolla. Ia menyeret Lolla ke kamar Rendy. "Obatin adek lo, gih." Lolla sempat terpaku melihat wajah dan tubuh Rendy yang penuh memar. "Siapa yang mukulin lo, Ren?" tanya Lolla pelan. "Nggak usah banyak tanya." Rendy membuang pandangannya, karena tatapan prihatin Lolla membuatnya muak. "Sebentar, gue ambil P3K dulu." Lolla berbalik badan, dan keluar dari kamar Rendy. Suasana menjadi hening. Sakka pun hanya bisa geleng-geleng kep

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN