01 | The Blue Day
Petir menyambar bersahutan. Meletup bagai kembang api yang minim warna.
Mereka memberitahu bumi jika seorang putra telah lahir dari rahim seorang ibu keturunan pribumi. Kelahiran pertama dalam keluarga Perkins. Marga asli dari London Inggris yang menapak di bumi Indonesia. Wulan Perkins berhasil melawan rasa sakitnya sendiri demi putra yang telah lama dinantikan.
“Congratulations Mr.Perkins, anda sekarang sudah menjadi seorang ayah. Anak anda sehat dan kuat. Tidak kurang satu apapun,” ucap dokter Gilbert.
“Thank you doctor Gilbert. How about my wife? Wulan baik-baik saja bukan?” tanya William cemas.
“Kondisi Mrs.Perkins belum stabil karena pendarahan yang terjadi sangat hebat. Kami berusaha menghentikan pendarahan namun istri anda saat ini mengalami koma,” Dokter Gilbert berterus terang.
William bergeming.
“Safe her please,..... lakukan apapun yang terbaik untuknya dokter!” mohon Inggris guy bersedih.
Tiba—tiba...
“Dokter Gilbert, bayi sudah selesai dimandikan dan sudah memasuki ruang perawatan bayi,” beritahu seorang suster.
“Baik, terima kasih suster. Tolong ibu bayi diproses untuk dibersihkan dan segera pindahkan ke ruangan perawatan intensif VVIP,” jelas pria yang mengenakan seragam putih dengan leher yang digantungi stetoskop.
“Segera dokter, kalau begitu saya permisi, ” suster perempuan yang mengenakan pakaian soft birel blue, lengkap dengan atasan di atas siku, dipadukan celana bahan warna senada, melangkah menjauhi mereka.
“Apakah anda mau melihat jagoan anda?” tanya dokter kepada Mr.Perkins guna menghiburnya.
“Sure I’m,” dokter Gilbert menuntun.
“Mari saya akan temani anda menuju ruangan perawatan bayi,” William berjalan mengekori disamping.
Indriani Wulandari yang lebih dikenal dengan nama, Wulan Perkins. Gadis biasa asli Jawa Tengah yang melabuhkan hati pada seorang pria bukan keturunan pribumi. Christopher William Louis Perkins, laki—laki berkebangsaan Inggris asli, tulen tanpa pencampuran.
Asmara yang terjalin antara karyawan dengan atasan bukan hubungan kerja semata, biasanya kaula muda menyebut dengan office romance. Hubungan tak biasa ini, membuat Wulan yang hanya general manager di sebuah perusahaan bertemu dengan William. Seorang pria luar biasa, pimpinan group Perkins.
Benih cinta tumbuh begitu saja, tanpa bisa dikontrol oleh mereka si empunya rasa. Setelah setahun menjalin kasih, William melamar Wulan, dan mengajaknya menjalani kehidupan rumah tangga. Wulan melambung dengan ungkapan cinta William, membuatnya mantab menerima pinangan sang kekasih. Walau Wulan seorang yatim piatu, ia diterima baik oleh Rosaline Perkins ibu dari William.
Rosaline bukanlah emak—emak serapah, seperti yang ada di drama oppa oppa. Mertua tak berhati pada menantu perempuan, beruntungnya Wulan William bisa mengikat janji suci pernikahan yang sakral.
Perjalanan cinta mereka diuji. Tahun pertama pernikahan, mereka belum dipercayai Tuhan sebagai orang tua muda. Mereka berjuang agar benih berkah merekah bisa menghuni rahim Wulan.
Tuhan menjawabnya di tahun kedua pernikahan. Wulan dinyatakan afirmasi dua garis, hamil.
Sayangnya, mereka masih dalam pengujian Tuhan.
Kehamilan Wulan cukup sulit karena sering mengalami pendarahan. Dokter menyarankan agar calon ibu ini bedrest total. Wulan bersedia mengikuti saran dokter, she is cooperative, ia tidak mau kehilangan bayinya. Buah cinta bersama William. This baby is all of her happiness.
***
Wulan menghuni salah satu unit perawatan intensif VVIP, di sekujur tubuh mungilnya dipasangi berbagai macam alat medis. Oksigen dan infus menemani Wulan, dentuman suara dari alat pendeteksi jantung bagai instrumen pengiring tidurnya.
“Sweetheart, bangunlah. Tolong jangan membuatku takut seperti ini sayang,” William mencium kening istri. Ia genggam tangan Wulan erat-erat, menyalurkan kehangatan cinta yang dimiliki. Pun ketegaran meruntuh, karena air mata mengalir tanpa izin. Lancang sekali.
William dilarang oleh dokter Gilbert guna mendampingi Wulan. Mengisi sisi perempuan yang tertidur tersebut. Ruangan perawatan intensif hanya boleh dikunjungi selama tiga puluh menit, dan itu pun satu orang saja yang boleh masuk, harus menggunakan jubah medis yang telah disediakan pihak rumah sakit.
***
Tinggi, putih, berambut blonde.
Suara heels yang dikenakan mengisi kekosongan lorong rumah sakit yang sepi. Merah menyala tetap elegan, sebagai landasan pijakannya melangkah. Terlihat tenang, tapi … siapa yang tahu isi hati perempuan yang sudah terlihat kerutan tipis–tipis di wajahnya.
“William,” panggilnya lembut. Empunya nama mendongak. Ia terenyuh melihat sosok yang tengah berdiri dihadapannya sekarang. Mata biru itu berbinar, mengkilap dengan seulas senyum hangat.
William bangkit lalu berlari. Ia memeluk perempuan tersebut erat—erat.
“I’m sorry honey. I came late. Wulan, bagaimana dia?” tanya Rosaline Perkins. Wanita paruh baya ini adalah ibu kandung William. Seorang single parent, di tinggal sang suami yang telah lebih dulu menghadap Tuhan saat William berusia dua belas tahun.
Momen itu membentuk karakter Rosaline yang baru. She grows up to be a business woman. Roda bisnis yang dulu dirintis mendiang suami diambil alih, kemudian ia kelola day by day. She is learning by doing. Belajar dari siapapun tentang cara pengelolaan bisnis yang baik hingga meraih kesuksesan.
“Mom. What should I do? Huh...”
Rapuh. Itulah yang dirasakan William sekarang. Seorang suami yang tak sanggup melihat istri yang dicintainya terbaring lemah dengan berbagai macam alat medis. Penunjang kehidupan baginya.
Sakit!
“Calm down. Believe me that she will get up back soon,” ucap Rosaline menguatkan William. Ibu ini percaya, Wulan akan segera tersadar dari koma.
William terisak. He shows her that hatinya juga bisa seperti boneka hello kitty.
William berusaha percaya akan ucapan dari Rosaline. Ia tepis firasat buruk yang sedari tadi menghinggapinya. Ia berusaha tetap tenang. Memikirkan list perencanaan yang dulu mereka rancang bersama, ia dengan Wulan.
“William, dimana cucu mama sekarang? Bolehkah mama melihatnya?” Rosaline berusaha mengalihkan pikiran William.
Setelah landing dari London, Rosaline langsung menuju rumah sakit tempat Wulan bersalin. Lelah? Pastinya. Tapi Rosaline sudah terbiasa. Ia salah satu wanita karir yang kuat di usia senja.
William mendampingi sang ibu menuju ruangan perawatan bayi. Rosaline melihat bayi laki-laki tampan, sedang tertidur lelap. Pipinya merona melebihi buah persik. Rambutnya pirang tersemaikan, juga kulit putih bersih bagai sehelai kapas.
Physically, putra William mewarisi gen darinya, yang asli kebangsaan Inggris. Mungkin sifat dan karakternya akan menyamai Wulan, yang ramah juga hangat.
“His name is?” celetuk Rosaline masih terpesona.
“Alexander Nicholas Louis Perkins. Wulan pasti menyukainya kan ma?” tanya William.
Sunyi.
Mereka berdiri dibalik pembatas kaca, keduanya memperhatikan baby Nich yang terlelap. Sesekali ada senyum yang melengkung di wajahnya yang tampan. Mungkin ia sedang bermimpi indah?
Who knows .....