Dua minggu berlalu!
Belum ada kemajuan yang ditunjukkan Wulan. Perempuan itu masih lemas, tak berdaya, dan ia perlu alat medis penunjang agar tetap bernafas. William meminta pada dokter Gilbert, agar ada seorang suster yang menjaga dan memantau keadaan sang istri.
Baby Nich pun rewel karena tidak mendapatkan ASI dari ibunya. Sewajarnya, seorang bayi akan mendapat asupan nutrisi dari ibu kandungnya, bukannya cairan putih buatan, formulasi dari tangan manusia dan mesin canggih teknologi. Nicholas kecil terus menangis, meraung—raung, menggema ruang bayi.
Suara Nicholas terdengar sampai ke telinga William dan Rosaline. Guratan kecemasan terpampang jelas di wajah keduanya. Tak dipungkiri, kejadian ini menambah beban mereka. Satu belum usai, datang lagi yang baru.
William frustasi.
Pria dengan title ayah baru ini paham, jika anaknya butuh perhatian sang ibu. Tapi ia harus apa? Wulan belum sadarkan diri. Mustahil rasanya, istrinya dapat melakukan tugas sebagai ibu Nicholas. Walau sekedar memberinya nutrisi, Wulan sedang lemah. Tenaganya tak ada, bahkan ia menopangkan hidupnya pada bantuan mesin dan petugas rumah sakit.
Sungguh, Wulan tak ingin berada dalam situasi sesak tidak beruntung ini!
William mengambil Nicholas dari dekapan suster jaga. Baby Nich ditimang timang bagai dalam ayunan goyang. Ketakutan sempat menghinggapi pria yang sudah menjadi ayah itu. William khawatir, jika posisi tangannya ketika menggendong sang anak akan melukai saraf Nicholas. Ia belum pernah menimang seorang bayi sebelumnya, bahkan mengurus anak kecil juga tidak. William seorang anak tunggal, tidak ada adik dan kakak satu pun. Dia hanya memiliki seorang ibu, Rosaline.
Kini, William sudah tahu rasanya bagaimana ngemong seorang bayi. Ia berhasil menyingkirkan perasaan khawatir dan ketakutan tersebut, Nicholas terdiam dan tenang dalam pelukan William. Bahkan, bayi yang masih merah itu tertidur sekarang.
‘Tenanglah nak, I will protect you. Daddy, sayang banget sama kamu. Kita sama—sama berdoa ya, agar mommy bisa segera sadar, dan kamu akan bertemu dengannya.’
Setiap anak dapat merasakan siapa orang yang sedarah dengannya. Walau belum bisa berbicara tapi melalui tangisan seorang bayi dapat mengungkapkan perasaan yang dimiliki. Nicholas kecil tidak nyaman dengan suster rumah sakit, mungkin ia marah karena suster tidak mengantarkannya kepada ibunya. Marah kenapa suster selalu memberinya nutrisi formula bukan ASI murni dari Wulan ibunya.
Rosaline senang melihat inisiatif yang ditunjukkan putranya, William. Ia kagum pada putra semata wayangnya. Walau William hanya sebentar merasakan kasih sayang dari sang papa, namun ia bisa menyalurkan kehangatan dari seorang ayah kepada anaknya Nicholas. Rosaline pun cemburu.
“Can I?” tanya Rosaline.
William mengerti maksud ibunya. Ia dengan sukarela berbagi baby Nich. Rosaline menerimanya dengan senang hati. Sudah lama ia ingin mempunyai cucu dari William. Kini sudah terbayarkan penantian setahunnya. Seorang bayi lucu bermata biru muda ada dalam pangkuannya.
“Oh my sweetheart,” Rosaline mengecup pipi menyembul merah muda itu gemas.
“Kamu harus tumbuh kuat ya nak. Ingat kata—kata grandma ini, kalau Nicholas adalah sumber kekuatan keluarga Perkins. Jadi jangan rewel lagi ya sayang. Oh iya, mau main bola sama grandma?” tanya Rosaline kepada anak yang baru berusia dua minggu. Nenek yang aneh mana bisa bayi umur segitu main bola. Tapi ya sudah, mungkin ia terlalu bahagia, karena Nicholas telah datang dalam kehidupan keluarga Perkins.
William tidak punya adik. Rosaline tidak mau menikah lagi, ia memilih menjadi single parent, setelah suaminya menghadap Tuhan. Ia sibuk bekerja dan mempertahankan apa yang sudah ditinggalkan suami.
Innovation Bundle, aset yang harus diurus oleh Rosaline peninggalan dari sang suami. Perusahaan itu bertahan di tempat, lalu mulai melebarkan sayap setelah ditangani oleh William, ia membuka beberapa cabang di negara lain termasuk Indonesia. Itulah alasannya mengapa William dan Wulan bisa bertemu.
Perusahaan yang awalnya hanya bergerak di bidang garmen sekarang menjalar mengurus berbagai cabang bisnis. Tak hanya garmen, William mencoba peruntungan di bidang properti, hotel dan resort hingga ke teknologi sekalipun. Semua cabang bisnis itu berada dibawah naungan Perkins Needle group, nama baru pengganti Innovation Bundle.
***
“Oh come on mom. He’s just a little baby right now!” ledek William pada Rosaline yang ingin mengajak anaknya bermain bola sepak.
Rosaline pun terpingkal—pingkal mendengar teguran putranya, “Your baby is driving me crazy. He’s so cute. Suatu saat, kamu pasti mengerti tentang perasaan mama sekarang. Thanks God, you are blessing me!”
Pembelaan dari Rosaline benar adanya. Ia selalu berdoa pada Tuhan, agar Sang Khalik segera meniupkan ruh kedalam rahim Wulan. Jadi wajar Rosaline begitu menggilai Nicholas kecil.
Pernah sekali, Rosaline memata—matai kehidupan sang putra. Ia hanya ingin memastikan bahwa William dan Wulan selalu berusaha untuk memberikannya keturunan.
William berang saat mengetahui perbuatan ibunya. Ia malu pada Rosaline, yang ingin tahu bagaimana ia dan Wulan memadu kasih. Memastikan, kalau mereka selalu melakukan kegiatan surgawi itu setiap hari. Sangking pengennya jadi nenek, wanita paruh baya itu melakukan hal demikian.
Rosaline sadar, itu tidak baik. Ia juga menuturkan permintaan maaf karena lancang, mencampuri ranah pribadi anaknya sendiri. Dengan sadar, ia pun berjanji tidak akan mengulanginya lagi.
***
Ibu dan anak itu tertawa berbarengan. Rosaline sebenarnya juga malu, mengajak baby Nich bermain bola. Akal sehatnya masih berjalan baik, tapi terkalahkan oleh kebahagiaan yang tengah dirasakan.
Nicholas kecil pun anteng dalam dekapan Rosaline. Baby Nich menghisap botol nutrisi formulanya sampai tandas. William berucap syukur, ia senang melihat anaknya bisa cepat akrab dengan sang nenek. Ia berusaha tersenyum dengan matanya yang memerah. Rosaline tahu namun ia tidak menggubrisnya, ia tidak mau William jadi sungkan.
Kodratnya, seorang lelaki akan menaruh gengsi pada kelemahannya sendiri. Air mata, momok memalukan bagi sebagian kaum adam. Mereka merasa, dengan menangis runtuh sudah jati dirinya. Hilang sudah kehormatan, kegagahan bahkan keberanian dalam diri mereka.
Makanya, setelah layangan putus dari seorang kekasih, hanya kaum perempuan yang menangis tersedu—sedu. Kaum pria, tetap berdiri tegar bahkan pergi menjauh dengan wajah penuh arogansi.
Rosaline mengalihkan kesedihan putranya, menghibur lara hati, “Will, tolong temani mama ke kantin, bisa?” tak menunggu jawaban dari anaknya. Rosaline menarik William keluar dari ruangan bayi, setelah memberikan Nicholas pada suster rumah sakit.
Saling menjabat, menggandeng erat akan membuat seseorang tambah kuat melewati beban yang terus berjalan, bagai aliran air di sepanjang sungai.
Rosaline menggamit lengan William dalam diam, ia elus lengan sang putra dengan penuh kasih sayang. Tak banyak kata yang terucap dari bibirnya. Mereka terus berjalan hingga tujuan, cafetaria.
“Kamu mengingatkan mama pada papa,” Rosaline tersipu menyampaikan kerinduan pada mendiang suami.
William tertarik wajahnya kemudian fokus, “Maksud mama?” tanya ia sangking penasaran.
“Saat mama ngelahirin kamu, papa itu takut—takut buat menggendong kamu. Waktu itu, mama melahirkan secara normal. Kondisi mama perlahan membaik, ya masih menyisakan dosis bius. Tapi mama masih bisa ngeliatin, papa kamu yang takut—takut tapi pengen banget buat gendong kamu. Akhirnya, suster ngajarin dia. He’s really cute. Mama belum pernah liat ekspresi papa yang kayak begitu!”
William memperhatikan dengan penuh, bahkan ia ikut menyelami lautan kerinduan yang diseberang sang mama. Tangan dingin itu terulur menggenggam punggung tangan yang sudah dipenuhi beberapa kerutan halus.
“Terimakasih ya ma, you’re strong mom ever. Mama udah ngasih kehidupan yang luar biasa buat aku. Tolong bantu aku ya, buat ngelewatin ini semua.”
“Pasti nak. I will stay beside you, mama akan terus dampingi kamu apapun keadaannya. Promise!”
Air mata mereka keluar dengan sendirinya. Padahal tadinya, niatan Rosaline tidak ingin menaruh lebih bawang pada sembilu ini. Tapi apa mau dikata, memang menyakitkan membahas seseorang yang sudah pergi dari hidup kita. Mereka yang sudah tiada, tapi hati belum seutuhnya menerima, walau rentang waktu telah lama berlalu.
.
To be continued ♥