03 | The Last Forgiveness

1233 Kata
Kota diguyur hujan marathon. Sejak semalam sampai fajar menjulang, hujan belum berhenti. Volume air yang tercurahkan, perlahan-lahan, merangkak besar dan besar. Tiba—tiba …… Ttes… Ttes… Gemuruh petir yang menyambar, menggaung dengan suara yang kencang. Kilatan yang dikeluarkan begitu menyilaukan, sampai orang—orang penghuni kota tidak ada yang berani mengintip. Mereka pasrah, dibangunkan dengan alarm demikian. Nicholas kecil gelisah dalam peraduan box bayi rumah sakit. Ya, bayi kecil itu belum dibawa pulang. William memutuskan menyewa kamar bayi VVIP untuk anaknya. Ia tidak tega membiarkan baby Nich sendirian dirumah, ditemani maid dan bodyguard saja. Lagi pula, William tidak leluasa menjenguk baby Nich, jarak rumah sakit dengan kediamannya cukup jauh. Suster jaga menggendong baby Nich. Ia timang—timang penuh sayang, sudah lebih dua minggu mereka bersama. Hal biasa, jika rasa sayang itu tumbuh, kian hari makin besar terpupuk. “Tenanglah Nicholas, suster disini bersamamu.” Suster itu tidak hilang akal. Ia meletakkan Nicholas kecil diatas table bathup, perempuan itu tidak risih menyibak kain yang menyelimuti tubuh baby Nich. “Tidak basah. Masih bersih!” Suster semakin terheran—heran. Biasanya, ia akan menemukan limbah kurang sedap menyeruak, atau sekedar cairan yang menguning, memenuhi kain penyumpal pangkal paha tersebut. “Kamu, kenapa Nicholas?” tanya suster itu cemas. Kain yang tadi terlepas, sudah terpakai lagi dengan rapi. Suster menggendong lagi, menimang dengan goyangan ter hilir—hilir. Tangisan Nicholas tersalur hingga ke telinga William, beruntung dokter Gilbert memberikan ruangan yang bersebelahan. Memudahkan William memantau kondisi istri dan anaknya. William meninggalkan Wulan sebentar, menggeser pintu ruang inap yang istrinya huni. Hanya beberapa langkah saja, William sudah menggeser pintu kamar Nicholas. “Anak saya, kenapa suster?” tegur William khawatir. Muka suster menegang, “Ma—maafkan saya tuan William, saya sudah memeriksa Nicholas, tapi ia tidak panas, ia juga tidak basah. Saya sedang berusaha menidurkannya tuan.” “Berikan ke saya!” nada William sudah pelan. Suster melangkah, menghampiri ayah Nicholas. William meraih tubuh terbungkus dengan suara melengking itu, hati—hati. “Ssshhhh… hey Nich, kenapa? Kamu haus?” celetuk William. “Maaf tuan, baby Nich sudah minum tadi. Dia menangis, kejang—kejang begitu setelah suara petir besar tadi tuan,” suster jaga memaparkan kronologinya, jujur. William hanya mendengarkan, ia pun tak mampu menyahuti. Rasa khawatirnya semakin menjadi—jadi. Pintu utama bergeser lagi. Rosaline masuk tergopoh—gopoh. “Sini, coba mama yang gendong Nicholas. Mungkin dia bisa lebih tenang!” Wajah lelaki itu mulai melonggar, “Makasih ya ma. Kalau mama nggak disini, mungkin aku sudah hilang akal. Aku gak ngerti cara mengurus bayi yang benar,” curahnya William mengakui kurangnya. “Sudah, jangan begitu. Fokuslah pada kesehatan istrimu Will,” sahut Rosaline lemah lembut. Tangannya mendekap erat tubuh Nicholas, menggoyang seakan Nicholas menghuni ayunan. Kekuatan super yang dimiliki Rosaline, mampu meredam rasa sedih Nicholas. Ia tidak menangis lagi. Mata baby Nich terpejam lekat, mulut kecil itu sedikit terbuka. Dari sana, keluar uap—uap kehidupan. “Kamu istirahatlah sebentar, nanti mama bangunkan kalau matahari sudah muncul!” suruh Rosaline pada William. Ibu ini tahu, kalau putra tercinta belum ada sedikit pun merebahkan diri. William melirik arloji yang melingkari tangannya, “Nanggung ma, sebentar lagi visit pasien. Aku ingin memastikan keadaan Wulan dari dokter Gilbert.” “Kasihanilah tubuhmu sendiri William, please… jangan egois. Kamu manusia, bukan robot buatan!” Rosaline menatapnya lamat—lamat, “Pergi tidur, sofa ini cukup memuat mu. Berbaringlah,” imbuhnya menatap sofa bed yang ada dalam kamar cucunya. *** Nicholas kecil kembali terusik. Rosaline terkesiap sesaat. William pun begitu. Mereka, sama—sama melipir ke box bayi yang digunakan baby Nich. Rosaline menggendong lagi baby Nich, lalu ditimang—timang. Nicholas semakin menjerit seperti dicekik seseorang. William tak tega mendengar rintihan putranya. “Ma, coba aku gendong?!” tandas William. Baby Nich akhirnya bolak balik antara ayah juga neneknya. Berputar layaknya bumi yang berotasi. Karena lelah, baby Nich terlelap dalam gendongan sang ayah. Dokter Gilbert menjumpai mereka, “Mr.Perkins, bisa kita bicara sebentar?” ajaknya pada suami Wulan. William melihat raut wajah serius dari dokter Gilbert. Ia membisu. Rosaline mengulas senyum tipis, “Tentu dokter Gilbert,” sahut ibu paruh baya ini. Sama dengan putranya, ia juga penasaran. “Mari ikuti saya,” ajak dokter Gilbert. Gilbert menggeser pintu kamar rawat. Ia mengembangkan tangan ke depan, meminta dengan penuh kesopanan pada Rosaline dan William, berjalan duluan keluar. Terlihat suster sudah berdiri didepan pintu untuk menyambut mereka. William semakin gusar. Rosaline menggenggam tangan William memberinya sedikit kekuatan. “Dokter, semua telah siap kami kerjakan!” dokter Gilbert mengangguk sekali, menyahuti ucapan suster rumah sakit. Rosaline gusar, ‘What’s wrong with this?’ Mimik wajah William tidak terbaca. Tatapan matanya kosong, bagai rumah reot, yang tak berpenghuni lagi. “Mari kita masuk kedalam sekarang,” dokter Gilbert mengajak William serta Rosaline memasuki ruangan, yang ternyata ditempati oleh Wulan. Perempuan yang berstatus sebagai istri William. Rosaline merinding, kedinginan. Ia merasakan suhu di ruangan ini lebih dingin dari sebelumnya. Nanar William melihat sebuah kain putih panjang terkembang. Pun air mata pria ini mengalir, menganak sungai. Dadanya bergemuruh, sesak, terasa terikat, dililit tambang kasar. “William, I’m really sorry. I did my best but The God really loves her,” ucap dokter Gilbert tenang. Ia harus sanggup memberitahu sahabat sekaligus suami dari pasiennya itu. “Jantung Wulan berhenti berdetak pukul 05.45 pagi ini. Saya sudah berusaha mengembalikannya. Tapi saya tak berdaya. Tuhan punya kuasa, ia telah mengambil Wulandari dari kita semua.” William terjatuh, “Kau bohong Gilbert. Ini sama sekali tidak lucu!” geram William dengan kepalan tangan mengeras, sampai buku—buku jarinya memutih. Rosaline bersimpuh. Ia raih tubuh putranya lalu memeluk William, “Calm down, Will… calm down,” lirihnya. William menangis, pria yang sedang rapuh ini membenamkan wajah juga kepalanya di ceruk leher sang ibu. Putra kebanggaan Rosaline meraung, meratapi kepergian sang kekasih. Wulan, terpaksa berhenti untuk berjuang. Ia sudah tidak mampu, tubuhnya meminta istirahat. Dan Wulan ikhlas, tak bisa menyentuh sang buah hati. “Boleh kami melihatnya, dokter Gilbert?” ungkap Rosaline. “Tentu Mrs.Rosaline, silahkan.” Dokter Gilbert membuka penutup tubuh perempuan ini, bagian wajahnya terekspos, Wulan mengulas senyum di mukanya yang teduh. Cukup lama, Rosaline memandangi wajah sang menantu, ia teringat perjuangan anak dan menantunya. Mereka berjuang agar cepat mendapat momongan, hadiah terindah untuknya. Air mata Rosaline mengucur, terbersit rasa bersalah di hatinya. ‘Thank you sweetheart, thank you!’ Wulan seperti ingin mengungkapkan, bahwa dirinya bahagia terlepas dari alat medis yang menyakitkan tubuhnya. Ia bahagia karena telah menjadi ibu, walau tidak bisa ikut membesarkan bayinya. Setidaknya ia bisa melihat dan mengawasi dengan caranya sendiri. Rosaline mengecup kening Wulan, ‘I’m sorry honey!’ ciuman terakhir tanda perpisahan antara mertua pada menantu. Rosaline menutup kembali wajah Wulan. Rosaline menghampiri William yang masih duduk termenung di lantai, “William, look me…… please!” Rosaline menangkup wajah putranya dengan kedua tangan. Mata mereka bersirobok, Rosaline pun berkata, “She’s smiling at me.” Rosaline berkaca—kaca menahan tangis. Ia harus kuat untuk William, “Wulan sudah bahagia Will,” imbuhnya menggenggam kuat. “Nggak ma,” William hanya bisa menggeleng. Ia tidak bisa berucap apa—apa lagi, selain menangkal kenyataan ini dengan lingual—nya. Ia tak bisa, sungguh tak bisa. Tuhan, kenapa Engkau begitu tega pada putraku? Nicholas belum menemui ibunya! Aku tak berharap banyak, izinkan putraku agar bisa mengucapkan satu kata itu Tuhan! Mommy … Nich, maafkan daddy, maaf! . To be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN