Sejak Wulan pergi, Rosaline kembali menetap di Indonesia. Ia tidak bisa meninggalkan William, juga cucu satu-satunya Nicholas. Tahun pertama setelah Wulan pergi, Tahun kelam tak berwarna di hidup William. Ia hanya bermenung, sesekali menyibukkan diri dengan baby Nich.
Urusan perusahaan diambil alih Rosaline, tentunya dibantu oleh Hadi, sang asisten kepercayaan. Rosaline membiarkan William menyendiri, quality time bersama Nicholas. Ibu baik itu sengaja, ia tidak mau William gegabah saat menjalankan perusahaan.
Day by day,...
Rosaline beraksi membujuk William kembali bersemangat, menata kehidupan. Berbagai cara dilakukan, melibatkan William dalam acara kunjungan bisnis. Berharap sang putra bisa menemukan titik semangat hidup.
Rosaline tidak berharap banyak, apalagi meminta William sepenuhnya melupakan Wulan. Menghapus jejak sang menantu dalam memori putra tunggalnya. Ia sadar, sungguh nyawa dalam genggaman, almarhum begitu berarti dalam hidup anaknya, begitu hebat sebagai perempuan juga sebagai ibu muda.
Ia hanya tak mau melihat William terus menangis hingga mengigau nama Wulan setiap malamnya.
Lima tahun kemudian.
.
“Good night champ! Have a nice dream. Pasti kamu sudah nggak sabar ketemu mommy ya nak?!” Rosaline mengecup pipi lalu naik ke kening Nicholas. Tak terasa bayi merah itu telah tumbuh dengan baik menjadi balita yang sangat tampan.
Rosaline menghampiri putranya, “Will, don’t you wanna kiss him and say good night?” kejutnya, yang sudah mengenakan long dress sleepwear.
Dunia William teralihkan, “I will mom. Sehari saja tak melihat Nicholas, akan terasa hampa, Mom!” kelakarnya sambil tangan kiri bergerak menutup notebook yang menyala.
William menghampiri ibunya, membubuhkan kecupan selamat malam di kening. Rosaline mengusap senyum palsu sang anak, melayangkan senyuman, kemudian berlalu menuju kamar. William menatap punggung sang ibu seraya tersenyum, setelahnya beralih pergi ke kamar Nicholas.
***
“Grandma, would you like to accompany me to my school? Aku sedikit takut karena ini hari pertama ku,” keluh Nicholas.
Rosaline mengulum senyum, menopang mulut penuh menu sarapan hingga mata beradu, menatap William. Tatapan penuh makna, memberikan kesan perintah.
“Nich!” panggil William lembut.
William menangkup pipi chubby Nicholas yang kadung memerah, “Son, jangan takut nanti di sekolah kamu akan bertemu banyak teman baru!”
"Sungguh, dad?" tanya Nicholas dengan bening mata memancar.
William mengangguk pasti, "Sure, you are! daddy yakin kalau kamu akan bersenang-senang hari ini dan juga, kamu akan belajar banyak hal baru. So please, don't worry!"
Senyum penuh keyakinan terbit indah, menyilaukan ruang makan, "Let's go dad, I am not afraid anymore!"
***
Mereka menghantarkan Nicholas ke sekolah barunya. Kegugupan mengalungi raga Nicholas hingga ia tidak melepas genggaman tangan dari Rosaline.
Kejadian ini membuat William teringat akan sosok Wulan. Mendiang sang istri pun akan gugup, jika bertemu dengan orang baru atau pergi ke tempat baru, tetapi kalau sudah terbiasa susah untuk memisahkan.
Nicholas kecil diserahkan pada Miss Sania selaku guru di kindergarten school. Miss Sania bermandat menerima kedatangan putra tampan William, perempuan dewasa itu ketawa geli tersamarkan ulah Nicholas yang masih tergugu-gugu.
"Dad," bisik Nicholas seraya menggoyang ujung jas yang dikenakan ayahnya.
William menyamakan tinggi mereka, "Look at me champ," tangannya menangkup lagi wajah pemilik tomat ranum.
Mata bulat berwarna ash gray itu bersitatap, "Masih ingat, apa yang daddy bilang ke kamu tadi di rumah?" lembutnya William bertanya.
Nicholas membisu, tapi kepalanya mengangguk dengan malu-malu.
William mengusap sedikit rambut anaknya kemudian merapikan lagi, "Believe me, son!" tuturnya.
Sania berdeham, "Good morning Nicholas, I am happy to see you. I am miss Sania. And I am your teacher," sapanya seraya melengkungkan senyum terbaik.
Yup, dua pria beda generasi memandanginya kagum.
Tak salah, Sania wanita dewasa nan single. Dia manis tak membuat bosan yang melihat. Tinggi semampai dengan balutan seragam yang sopan. Wajahnya terlihat fresh, walau hanya memoleskan sedikit make up.
"Sepertinya daddy harus pergi nih, karena Nicholas sudah mendapat teman pertamanya!" gurau William. Sania mendengarnya tersipu, ia hanya bisa mengangguk sopan pada wali murid barunya tersebut.
William melambai sampai ke mobil yang terparkir.
“Dad, please pick me up after school, on time!” teriak Nicholas dibalik pagar kokoh berwarna silver titanium.
“Okey Nich, I do!"
***
Di perjalanan, Rosaline membuka suara, “Will, siapa gadis itu?”
William terkejut, “Maksud mama, miss Sania?” ia menatap ibunya itu mendalam.
“Tentu saja bukan dia!” datar Rosaline membalas rasa penasaran William.
Rosaline mendengar kabar dari Hadi bahwa enam bulan terakhir, William sering mendapat kunjungan dari seorang wanita yang seumuran dengan almarhum Wulan. Wanita itu hampir setiap hari mendatangi William. Hadi juga melihat kalau William tidak terganggu dengan kedatangan wanita tersebut.
"Lalu?" tanya William polos.
"Apa kamu sudah punya pacar baru?" balas Rosaline seraya menghela nafas gemas.
William menggeleng, "Apa sih maksud mama?! siapa juga yang punya pacar?" tanya dia balik.
"Kamulah!"
William pun paham. Seketika mengutuk nama seseorang, 'Awas kau Hadi, habis kau nanti. Saya pastikan kau akan menerima ganjarannya, tunai!'
“Mom, she is Wulan’s friend. We have known each other for a long time. Dia Molina, mom. Lengkapnya Molina Tiani!” perjelas William lalu bercerita tentang wanita yang sering berkunjung ke kantornya.
“Do you like her? I mean, like a man to woman?” desis Rosaline mengintrogasi.
Apakah William telah membuka hati kembali?
“I don't know. I’m not sure, but so far I feel comfortable with her. Aku hargai Molina karena dia teman dari Wulan, istriku. Just it!”
William nyatanya belum move on dari Wulan. Baginya tidak ada yang bisa menggantikan posisi sang istri. Namun ia ingat akan salah satu nasihat Rosaline, bahwa Nicholas dan dia membutuhkan seseorang yang mampu melanjutkan tugas Wulan, sebagai ibu maupun sebagai istri.
Tatapan tajam pun mengembang, “Mom, Ini semua karena mama. Bukankah mama menyuruh ku agar lebih terbuka, apalagi pada wanita? Lantas ini apa ma?”
Rosaline terkesiap, “What are you talking about? Kenapa kamu nyalahin mama sekarang?” perempuan paruh baya ini naik pitam.
William menghela nafas perlahan, mungkin karena faktor umur jadi Rosaline lupa, pikirnya sederhana. Pria kepala tiga tersebut menerangkan, “Oke, let me tell you that six months ago I visited a charity care center. And there I met her. See?”
Rosaline tertegun mencerna maksud William yang sengaja memojokkan dirinya, "Jadi mama penyebabnya, begitu?"
"Iyalah ma, kalau tidak, mana mungkin aku bertemu Molina. Aku tidak pernah menghubungi dia. Kami tidak saling menyimpan nomor, dan selama ini, hanya Wulan saja yang jadi perantara. Sebenarnya, mama mau-nya itu apa sih?"
Rosaline membalas, “I got it. Mama sih oke saja, asalkan kamu bawa dia dulu temui mama. Seperti apa sih, sosok Molina ini?!”
William nyalang mendengar kalimat terakhir dari ibunya itu, “Bertemu Molina?” ulangnya lagi.
"Yes it is. I wanna meet her, kamu atur ya!"
"My pleasure, Mrs.Rosaline! tapi ma, ini hanya pertemuan biasa ya. Aku tegasin sekali lagi, kalau aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Molina. Pure, teman saja!"
Rosaline terkikik, "Kalau pun ada apa-apa, gak masalah kan? Kamu duda, dan kalau mama tidak salah ingat, Molina ini single. Jadi mama mendukung sekali adanya apa-apa diantara kalian!"