05 | Girl Ghost

1129 Kata
Ttok… Ttok... “Come in!” Rosaline sedang sibuk memeriksa beberapa berkas dari tumpukan kertas di meja kerjanya. “I’m sorry madam. Saya ingin memberitahukan anda tentang penyelidikan yang telah anak buah saya lakukan,” lapor Hadi memulai perbincangan serius. “Well done! Cepat katakan lah,” pinta Rosaline tak sabar. Hadi membuka amplop coklat yang didekap, ternyata di dalamnya ada beberapa lembar foto dengan wajah yang sama dari seorang perempuan. Ia pun menyerahkan selembar jati diri lengkap kepunyaan seseorang. Nanar Rosaline melihat senyum ramah juga tulus dari wajah putranya, William Perkins. "Terus pantau mereka. Tapi ingat Hadi, jangan sampai ada yang tau termasuk William!" *** Pintu elevator terbuka ulah security yang menekan tombol navigasinya. Ketika memasuki kubus besar elevator, langkah William terhenti oleh teriakan seorang wanita, “William...” Terdengar nafas wanita itu tak beraturan, dia berlari mengejar langkah kaki rombongan William yang lebar. William menatap heran, ‘Molina! ini masih pagi kenapa ia sudah ada disini?’ batinnya. "William," ulangnya berteriak. “Oh kamu Molina, ada apa kemari? Kamu mengejutkan pagi saya,” sahut William dengan nada menyindir. "Aaa… aku hanya ingin bertemu dengan mu saja Will,” gugupnya menyahuti. Molina merapikan diri, rambut yang berantakan di sisir cepat dengan jari jemarinya. Padahal kondisi hatinya sedang miris, teringat akan effort-nya yang berlama-lama menghabiskan waktu, sekedar menata rambut sebahu bergelombangnya, agar terlihat indah di hadapan pujaan. Rosaline yang berdiri di samping William memperhatikan sesosok Molina ini. Mengenakan kacamata hitam, suatu keberuntungan baginya, karena Rosaline mampu menguliti sampai ke akar-akar. “Hello Mrs.Rosaline, I’m Molina Tiani," tangannya terulur sopan. Sudut bibir terangkat, seraya membuka kacamata hitam yang bertengger di cuping hidung mancung-nya. Rosaline menjabat anggun tangan Molina, "Glad to see you, Molina!" "Saya berteman baik dengan Wulan, bisa dibilang kami bersahabat Mrs.Rosaline. Saya turut berduka cita atas kepergiannya, sungguh saya bersedih karena Wulan begitu cepat meninggalkan kita semua," setetes air mata keluar dari sudut mata Molina. Rosaline hanya menatap lekat wanita itu dari ujung kaki hingga ujung kepala. Molina seketika canggung, ‘Kenapa neh? Dia kenapa liatin gue kayak hantu gitu. Kalau bukan karena William, ogah banget gue beli baju baru buat ketemu nenek tua ini!’ ucapnya kasar. “Terimakasih atas perhatian kamu untuk Wulan. Saya mohon doa terbaik agar mendiang tenang disana,” tulus Rosaline meminta dengan senyuman. Molina pun tersenyum, menyengir kaku membalas, “Yes Mrs.Rosaline, sure I am!” ucapnya di bibir. Sayang tak sejalan dengan hati kecilnya, ‘Gue perhatian ke William bukan ke si Wulan yang hanya tinggal nama itu!’ "So Molina, kami harus bekerja. Bagaimana ini?" tatap William absurd. "Yah, aku juga harus bekerja Will. Sebenarnya aku kemari ingin berbagi sarapan untuk mu juga ibumu," sekantong paper bag diserahkan Molina. Menyebul isi yang ada di dalamnya, roti lapis dari salah satu toko yang rasanya terkenal enak. William mematung, teringat kalau mereka sudah menyantap sarapan tadi. Menolak pun ia sungkan, "Terimakasih atas perhatian mu Molina. Ini saya terima ya, tapi lain kali tidak usah. Kami tidak mau merepotkan." "Sungguh tidak repot Will. Aku tulus melakukannya," desak Molina. "Ya sudah, jangan berdebat. Waktu terus berjalan, bukankah kalian harus segera bekerja?!" lerai Rosaline. "Ya benar, kalau begitu aku pamit ya Will," tatapnya sesaat, penuh cinta. "Mrs. Rosaline, saya permisi," Yang dipanggil mengangguk sekali, masih tersenyum. Finally, mereka masuk ke dalam elevator lalu tertutup, menyisakan Rosaline juga William di dalamnya. "Are you happy, Will?" cibir Rosaline mengulum senyum. "Oh.. please mom, ini hanya sarapan saja!" tegas William. "Bukankah, kamu sudah sarapan? Mau di taruh dimana itu menu roti lapis?" lagi Rosaline menyindir. William mengudarakan paper bag lalu berkata, "Aku akan berbagi pada yang lain!" *** Hadi mengetuk pintu ruang kerja William. Senyum licik terbit di balik meja kerja, "Hadi," lisannya berbunyi culas. Tanpa ragu, William bangkit dari kursi. Langkah kakinya pasti menuju sudut peralatan golf yang biasa digunakan. Genggamannya kuat pada salah satu stick, "Kena kau!" devil smirk. “Get in,” sahut William, selesai beroperasi. Daun telinga Hadi bergetar, ia meletakkan tangan kanannya di atas handle door. Satu kali gerakan mendorong, pintu terbuka. Hadi melangkah seperti biasa, tegap dengan tatapan mata ke depan. Brughs.... Tubuh Hadi tertelungkup. Kakinya nyeri, terpelatuk sebab stick golf yang menghalangi jalannya. "Kau kenapa Hadi? Apa kau habis minum, sampai-sampai terjatuh begitu?" seru William pura-pura. "Tidak tuan, mana mungkin saya minum saat bekerja!" klarifikasinya tegas. Semampu yang ia bisa, Hadi bangkit membenarkan diri. Ia menyeka lutut kakinya yang juga nyeri. Matanya terbeliak mendapati stick golf, ia angkat. "Mungkin ini penyebabnya tuan. Kenapa ia bisa keluar? Mustahil sekali kalo ia bisa melakukannya sendiri, bukan begitu tuan?!" Hadi berkata pelan namun sarat makna menikam. "Oh itu. Tadi saya main virtual, tapi sayang sedikit gagal karena tidak fokus. Lalu saya melemparnya asal, apa itu sangat sakit?" tunjuk William pada kaki sang asisten kepercayaan. "Nanti saya urus sendiri soal ini tuan. Ada hal yang lebih penting untuk anda lihat," Hadi menghampiri meja William terseok-seok. Ia menyerahkan berkas berwarna merah. William pias menerimanya. Kode merah digunakan sebagai tanda bahaya, "Masalah ini muncul dimana, pusat atau cabang?" tanya ia serius. "Cabang di Singapura tuan," fokus Hadi seraya membenarkan letak kacamata-nya. William membuka berkas lalu matanya fokus membaca laporan tersebut. Keseriusannya menambah porsi ketampanan di wajahnya, mengenakan kacamata baca bertengger di hidung pahatan sempurna. Voila. Beruntung, Molina tidak ada disana. Kalo pun ada, Hadi harus bersiap. Sekotak tisu pun tak cukup menadah liurnya. “Maaf Tuan, ini sudah waktunya anda untuk menjemput Nicholas dari sekolah,” beritahu Hadi tentang ucapan janji yang William kumandangkan. “What.. Oh my god! hampir saya lupa,” William menutup notebook. kemudian buru-buru berdiri. “Hadi, soal cabang Singapura apa bisa kau handle, gantikan saya di rapat itu?” tanya William. "Maaf tuan, investor menginginkan anda yang memimpin rapat!" Helaan nafas William berat, "Bilang ke Mrs.Rosaline agar bisa meng-handle kantor. Saya harus jemput Nicholas!" "Baik tuan," Hadi berbalik menahan sakit. *** Nicholas berbahagia, ditemani dihari pertama sekolahnya. William pun menjemput langsung dari sekolah, lalu menemani putranya makan siang. He such as a daddy-able right? "Paman Hadi, kaki paman kenapa?" tanya Nicholas cemas. "Sedikit sakit Nich. Tenanglah, paman sudah minum obat pain killer. Sebentar lagi pasti kaki paman akan baik-baik saja. Boleh paman berbicara dengan daddy mu sebentar?" izin Hadi pada Nicholas sopan, padahal usia mereka sangat jauh. Nicholas mengangguk seraya berucap, "Tentu Paman," ia mundur kembali ke kursi. William mengamati putranya bangga, walau Nicholas punya kuasa banyak tetapi dia tidak pongah, 'Putra kita begitu hebat, sayang!' "Hey Nich, kamu ada PR hari ini?" Nicholas yang terpanggil langsung berpikir, "Ada Dad." "Kamu bisa membuat tugas mu sendiri?" tanya William lembut. "Tentu. Miss Sania sangat pintar menjelaskan pelajaran, jadi aku tidak kesulitan!" satu pujian lolos dari mulut Nicholas. "Anak daddy memang pintar. Sekarang pergi ke ruang belajar ya, kerjakan tugasnya lalu pergi tidur siang. Oke champ?" "Baik, Dad. Bye paman Hadi," Nicholas berlalu meninggalkan duo orang dewasa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN