Hadi memboyong William menuju bandara. Mereka akan menggunakan jet bisnis milik perusahaan rintisan mendiang ayah William. Dalam perjalanan Hadi melaporkan to do list.
"Nicholas sudah beres, saya akan pantau dia melalui maid. Berikutnya kita akan terbang ke Singapura tuan, sore ini anda akan memimpin rapat di cabang sana. Lalu,.."
"Iya saya tau, bisa kau diam sejenak?" William melayangkan tatapan zombie.
"Maaf tuan, tapi ini penting. Anda harus tau karena ada sedikit perubahan,"
William membenarkan posisi duduk santainya, "Maksud kau, schedule saya berubah?"
Hadi mengangguk. Tegas.
Hatinya getir, "Bacakan!" suruh William.
"Selesai meeting, kita langsung balik, kemudian anda akan menuju restoran. Mrs.Rosaline khusus meminta saya menyelipkan ini," jujur Hadi.
"Kenapa tidak makan di rumah saja?" celetuk William.
"Tidak bisa tuan, Mrs.Rosaline mengundang Molina terlibat dalam acara dadakan tersebut!"
"Apa kau bilang?" sembur William.
***
Hadi me-reservasi satu VVIP room di salah satu hotel mewah. Raga ia lelah, begitu juga keinginannya yang ingin sekali berlehe-lehe di ranjang. Semua harus tertunda, kesenangan pribadi tertutupi karena mengemban tugas kerja.
Mereka sampai di lobby hotel, Hadi turun duluan. Ia berjalan ke pintu sebelah, handle car dibuka. William keluar mengenakan kacamata hitam seraya mengunci kancing giwang jas yang dikenakan. Mereka pun berjalan berbarengan.
"Di, kau duluan ke ruangan. Saya mau ke toilet sebentar," ucap William menahan kuap.
"Baik tuan, VVIP room 2 tuan!" cetus Hadi.
Tting...
William keluar tak bersuara lagi. Langkahnya terayun mencari keberadaan toilet. Tangan mengudara melambai pada Hadi, dengan tetap membelakanginya malas. Hadi menatap punggung atasannya gemas, 'Untung boss!'
“Selamat malam Madam,” sapa Hadi sambil membungkukkan badan.
"Kamu sendirian Hadi, special guest mana?" seloroh Rosaline.
"Ada Madam, tapi sedang ke toilet. Saya sudah minta bodyguard memberi pengawalan," ungkap Hadi.
Rosaline mengikik, "Ternyata kamu sangat berani padanya, bagaimana kaki mu, sudah baikan?"
Hadi menengok ke bawah, "Sudah Madam. Everything it's gonna be okay!"
"I'm sorry for him. Kamu jadi susah karena iseng-nya dia," sesal Rosaline.
Lalu Hadi terdiam.
Rosaline menangkap gelagat kekhawatiran, “Ada yang kamu risaukan Hadi?" selidiknya.
Gugup, menyelimuti perasaan Hadi, “Saya hanya,” mata mereka bertemu, “Khawatir dengan Molina Tiani."
"Apa ini berkaitan dengan perkataan kamu tempo hari?" tebak Rosaline.
"Betul Madam. Jangan sampai ini hanya sebatas ghosting, atau memanfaatkan sikon-nya saja!" sambung Hadi.
Rosaline memahami kata demi kata yang diucapkan Hadi, “Semoga saja tidak begitu, Di. Saya ingin sekali melihat William juga Nicholas bahagia seutuhnya. Dan sepertinya, perempuan ini baik."
“Harapan saya juga sama, Madam. Sayangnya, Molina ini sedikit tertutup dan susah ditebak jalan pikirannya,” papar Hadi.
"Wowowowo.... kalian membicarakan daddy Nicholas ya?"
William mendobrak pintu lalu mengejutkan mereka. Ia tatap satu per satu, diakhiri pada Hadi cukup lama. Matanya menyipit.
"Kau pikir saya balita, yang butuh orang dewasa saat masuk ke kamar mandi, hah?" dengus William geram.
Hadi membungkuk khusus, "Maafkan saya tuan, ini hanya prosedur saja. Lagi pula, saya perhatikan anda sangat kelelahan. Jadi hanya..."
"Kau banyak alasan, Hadi!" serangnya lagi.
Hadi mengunci mulutnya. Ia menyeret kursi yang berada di samping Rosaline, "Silahkan tuan!"
"Kau menyogok?" tuduh William berang.
"William, sudah. Don't be childish!" putus Rosaline menengahi pertengkaran mereka.
Suasana hening.
Rosaline memandangi putranya yang sibuk sendiri, "Santailah sedikit," cetusnya.
"Cause of you mom! aku nggak suka mama begini. Kenapa nggak nanya pendapat ku dulu? Aku sibuk nggak?" protesnya bertubi-tubi.
"Kelamaan!" sahut Rosaline santai.
"What?"
"Don't you thinking of Nicholas? Dia sendirian sekarang, Ma, di rumah!" timpal William mengesal.
"No drama, please, William! lagi pula, di rumah ada banyak maid. Nicholas cuma beberapa jam kita tinggal. Anak kamu itu sudah besar, sudah sekolah pula."
William semakin geram. Emosi-nya sudah di ubun-ubun, menguap, berasap-asap.
"Have a seat please, William?" suruh Rosaline.
"Ma," panggilnya terdengar memohon.
***
"Tamu sudah datang," ucap Hadi pada mereka seraya mengembangkan tangan sopan.
Molina masuk dengan anggun. Berjalan malu-malu, mengenakan gaun khusus, hasil seliwiran di butik tadi. Ia menjatuhkan pilihan pada gaun beige model sabrina. Perfect. Tulang selangka-nya mengkilap, menyilaukan mata yang memandangi. Ia sengaja, merayu William agar jatuh dalam pesona yang dirancang.
“I’m so sorry. Ku pastikan ini yang pertama dan terakhir kali aku datang terlambat. Maaf Mrs.Rosaline and William,” Molina meminta maaf dengan wajah yang sungguh manis.
“It's okay Molina. Kami paham, silahkan duduk,” sambut Rosaline tanpa marah.
William membisu, tak membalas sapaan Molina yang manis.
“Let’s dinner!” ajaknya tiba-tiba. Ia mengambil peralatan makan dan mulai memotong steak terbaik yang dihidangkan oleh resto hotel tersebut.
Mereka duduk sesuai circle meja bulat yang ada. Molina membuka obrolan yang menarik, namun hanya Rosaline yang menanggapi. William acuh, walau sesekali tersenyum kecut.
‘Iich… William kenapa sih? nggak tahu apa perjuangan gue buat ketemu dia malam ini. Gue dandan begini buat siapa coba?’ gerutu Molina. Wajahnya pun kadung kesal, terlihat jelas.
“Will, steak nya enak kan? Mama rasa Nicholas akan sangat menyukainya. Sayang ia tidak bisa ikut ke acara makan malam ini,” Mrs.Rosaline mencoba menghangatkan suasana yang terasa dingin.
“Ya ma, Nich sangat menyukai steak. Dan itu satu-satunya western food yang sangat disukai oleh Wulan!” kenang William.
Molina menatap nyalang ke arah William, ketika pria itu menyebut nama almarhum istrinya. Kentara-nya cemburu itu dikibarkan.
‘Jadi loe belum melupakannya Will? Sebesar itu cinta loe ke dia? Apa loe rabun, gue yang disini Will, bukan tuh orang! Tolong lihat gue, William!’
Rosaline merasakan api cemburu yang ditiupkan Molina. Sesama wanita, ia sangat paham. Tabu jika membahas seorang perempuan dari masa lalu, dihadapan wanita yang akan mengisi masa depan.
"Kamu sudah pernah bertemu Nicholas, Molina?" celetuknya.
Molina melunak, kembali sadar. Ia menatap Rosaline kosong, "Hmmm"
"Nicholas, sudah pernah bertemu belum?" ulang Rosaline.
"Sayang sekali belum Mrs.Rosaline," ia pandangi William lagi, "William gak pernah ajak aku ketemu anaknya!"kekehnya palsu.
Tangan Rosaline bekerja memotong steak. Menyuapnya ke mulut perlahan-lahan, "Ya ampun, William itu ya, Molina sudah ngode kamu itu. Ajaklah dia ketemu Nicholas sesekali, buat nostalgia."
"Nggak apa-apa Mrs.Rosaline kalau memang timing-nya pas, pasti akan kejadian. Benar kan Will?" tunjuk Molina harap.
William mematung, dengan tatapan bertumbuk.
"Molina saja paham, Ma. Take it slow. Memangnya mau ngejar apa sih?" guraunya.
***
Dinner is over.
William sudah tidak tahan lagi. Ingin sekali, ia segera memeluk jagoan kecilnya. Mendongengkan cerita pahlawan super pada bocah itu. Senda gurau menirukan suara lucu, 'Oh.. come on!'
Mereka berpisah.
Keluarga Perkins dan Hadi satu mobil diikuti para bodyguard, sedangkan Molina menuju mobilnya sendiri. Beruntung ia memiliki supir. Kalau tidak, mungkin ia semakin stress harus menyetir sendirian.
‘Gue tandai malam ini William. Gue akan ingat selama hidup gue. Malam loe nolak gue. Tunggu saja malam yang akan membuat loe tidak bisa menolak lagi!’