07 | Romantic Trap

1302 Kata
Pagi Molina suram, belum berubah cerah semenjak penolakan tiga hari yang lalu. Ia mantap memikirkan rencana manis, membuat sang pujaan hati jatuh dalam pelukan. Yup, Inggris guy, William. Molina men-dial nomor seorang yang dikenal, “Tolong loe lakuin semuanya dengan benar. Gue datang bareng dia, pukul 7 malam. Jangan gagal. Paham loe?” ancamnya. “Gampang, tenang aja loe. Gue bekerja sesuai perintah, tapi ingat... jangan lupa transfer gue on time. Later, gak ada dalam kamus gue!” pria itu mengancam balik. Tak terima diancam juga, Molina tersulut emosi, “Berani loe ngancam gue?” serangnya. "Gue boss loe, ingat itu!" Pria itu memampangkan smirk devil, “Gue kenal siapa rekan gue. Tenang aja loe. Gue gak ngancam, hanya kasih warning!” nada gurau pria ini sungguh menyebalkan. Molina memutuskan sambungan. Ia lempar telepon genggam-nya ke atas kasur, “Berani banget tuh si Frans. Lupa dia, kalau gue Molina. Kalau gue nggak butuh, amit-amit banget gue nelpon dia!” *** Sore ini, Molina berkunjung lagi ke kantor William. Setelah absen tiga hari, ia menampakkan wajah tidak tau malu. Ibaratnya, baru juga sekali ditolak, masa iya mundur. Pikirnya, sederhana. “Good afternoon William, sorry ya aku telat,” Molina masuk tanpa mengetuk. Entah ilmu apa yang dimiliki, sampai ia bisa lolos dari penjagaan Hadi. William terkejut, "Molina?" ekspresi dia bingung. Merasa terpanggil, Molina pun mendekat, "Kamu itu bingung begini makin gemes deh, Will!" ia jawil hidung selaras tampan pria bule tersebut. William mengusap risi jejak tangan perempuan yang entah kenapa bersikap konyol di hadapannya, "Sorry Molina, saya tak paham." "Coba buka hp, terus chat dari aku dibaca sekarang!" Terhipnotis. William melakukan apa yang disuruh Molina. Smartphone yang masih ke sambung dengan kabel charger, ia lepas paksa. Kebetulan daya sudah full. Jemarinya men-scroll layar, terbentang beberapa chat perempuan itu. Mata William menelisir arloji di pergelangan, “Tidak, kamu tepat waktu. Mungkin arlojimu perlu diperiksa ketepatannya. Sorry ya, saya tak segera melihat pesan yang kamu kirim,” tuturnya datar. Molina mengulurkan tangan, ingin bertengger di lengan sibuk William, “Perlu bantuan gak Will?” tanya ia manja. Mata perempuan ini kemana ya? Sudah jelas, meja kerja William penuh dengan tumpukan map, amplop dan berkas penting lainnya. Kenapa harus bertanya hal yang sudah ada jawaban pasti. William menggeser tangan Molina baik-baik, “Memangnya kamu ngerti bisnis?” selidiknya. Kecewa? Pasti. Tapi bukan Molina nama-nya, jika menyerah begitu saja. Molina kembali mendekat, “Ya sih, aku nggak terlalu paham dengan bisnis, tapi aku bisa bantu pijitin lengan kamu Will. Pasti pegel kan, capek?” tangan mulai bergerilya. William resah, ia hempaskan tangan Molina, mengambang. “Molina, saya nggak apa-apa. Terimakasih!” tolak William tersenyum kaku. Perempuan yang candu cinta itu, freezes! “Tunggu sebentar, kamu bisa duduk dulu di sofa?” suruh William tak enak. Tak langsung aksi, bahkan sekedar menyahuti saja, Molina enggan. "Please..." “Oke aku akan menunggu mu,” Molina pasrah. Ia mengikuti kemauan William. Gontai langkah Molina menuju sofa. Ia buang tubuhnya, menduduki kursi empuk itu, elegan. Malahan, tangan itu membuka asal sebuah majalah yang ada di meja sofa, membalikkan halaman per halaman seraya mata menatap William. Tiga puluh menit setelahnya. Molina gelisah, duduk sendiri diabaikan, “Apa kamu masih lama Will? Aku tidak enak kalau datang terlambat ke acara ulang tahun teman ku,” keluhnya memelas agar William mengakhiri jam kerjanya. “Sebentar!” William tidak menoleh. Ia sibuk berkutat dengan pekerjaan. Mengacuhkan Molina. Molina makin panas. ‘William, tunggu saja. Setelah ini, loe masih anggurin gue apa nggak!’ Belum usai pedih yang dirasakan, yang kian hari bukan terkikis malah semakin menumpuk. Molina belum lupa pada sakit hati yang diberikan William. Molina tak bisa menerima permintaan maaf pria itu, walau jari jemarinya menuliskan bisa. Nyata di kehidupan, suara hatinya tidak. Molina mendendam, ingin menjebloskan pria yang dicintai dalam lubang kolam dunianya. “Let’s go!” William menepuk pundak Molina, menyadarkan gadis itu dari lamunan. Molina terperanjat, “Aah… Maaf aku bermenung tadi,” gugupnya. William memijit pelipisnya, "Hmm.. gimana, jadi pergi?" Mereka berjalan menuju lobby kantor. Disana sudah menunggu supir pribadi William. Molina mencoba menggandeng tangan William, bagai sepasang kekasih yang dimabuk asmara. Sungguh, William disfavor. Namun ia mencoba tidak kasar. Teringat pada Wulan yang peduli, penuh perhatian dan menyayangi Molina. Pria keturunan Inggris ini menerima tawaran Molina bukan tanpa sebab, ialah bentuk permintaan maaf-nya yang nyata. *** Sampai di tujuan, mereka memasuki klub tempat pesta. Molina menyapa teman yang sedang berulang tahun. Ia juga memperkenalkan William pada teman-teman lain. William mencoba bersikap biasa, santai. Menikmati alunan musik disk jokey menggaung ruang temaram. Molina meninggalkan William sesaat. Ia beralasan ingin ke toilet, posisi duduk William membelakangi meja bartender. Sehingga ia tidak bisa memperhatikan apapun yang terjadi di belakang. Semua jebakan telah matang disusun. Molina intens bicara pada seorang bartender pria. “Itu dia. Pria yang duduk disana. Yang pake tuxedo warna navy, loe lihat kan Frans?” “Iya gue tau. Kan gue dah loe kasih liat fotonya. Gue juga dah hafal. Loe tenang aja!” sahut Frans enteng, seraya meracik minuman customer. Serasa mata Molina keluar dari sarangnya, mendapati sikap Frans yang nyantai, "Tcih.. gue pegang omongan loe ya!" ia pergi menjauh. Frans menyunggingkan senyum khas, bibir kiri tertarik ke atas sampai lesung pipi terlihat. Bolong manis, merayu kaum hawa. Ia cukup tampan dengan kulit kuning langsat. Pandai merapikan diri, memadu madankan pakaian ke tubuh, hingga sedap dipandang. Molina mengejutkan William. “Will, kita minum disana yuk!” teriak Molina disela dentuman musik keras mengayun. "Hah,..." mata William berkedip sebelah. "Kesana, yuk ikut!" ulang Molina sambil memegang tangan William. Menuntun jalan. Mereka sampai di meja bartender atas. "Disini maksud aku. Oke kan?" seru Molina di daun telinga William. "Thank you!" pikir William itu baik, tidak dikelilingi wanita cantik dengan baju kurang bahan. Bersolek bold, memikat lawan. "Kamu mau aku pesenin minuman apa, Will?" cetus Molina intim. "Nggak usah repot, biar saya sendiri aja!" tolaknya. Molina hanya bisa menelan ludah. William memesan minuman cocktail low alcohol. Kebetulan Frans yang jadi bartender-nya. Frans mengangguk, kemudian meramu racikan minuman yang diminta. "Low alcohol, pesenan anda!" terang Frans menyuguhkan. "Oke," sambut William yang langsung menenggak gelas. Berbinar mata Molina memandang. Ketika minuman itu mengaliri tenggorokan William, terlihat urat lehernya menegang kehijauan. Ia terjerembab pesona duda perayu iman. “Gimana Will, pestanya seru kan?” lanjut Molina mendekat. “Saya tidak terlalu suka disini. Berisik sekali,” imbuh William. Molina tertawa, “This is club, Will. Orang-orang kesini buat having fun, lepasin penat beban kerjaan!” William mengangguk, netra berbentur pada bartender. "Satu lagi, yang sama!" desis William. "Oke, siap!" Frans kembali meracik minuman yang sama. Molina menggoyangkan badan juga kepala, enjoy the music live. Sesekali mengode Frans. Yang dikode mengerlingkan mata, penuh goda. "Pesenan anda tuan," pungkas Frans. Racikan minuman itu tidak biasa. Frans menambahkan pil efek kantuk ke dalam minuman tersebut. Sesuai instruksi Molina sang pesuruh. Molina kelimpungan mendapati William menenggak minumannya. Hot, sekali teguk. "Kau menyukai nya?" oleng William. Molina terdiam, tertembak, tak siap, "Iya!" jawabnya cepat. "Jangan menyukai ku, Molina!" tegas William. Sendawa keluar. "Kenapa? Kau sudah ada yang punya?" serang Molina. William memainkan telunjuk di udara, "Tidak, tidak. Bukan itu. Saya ini duda, punya anak lagi. Sudah mau besar, sebaiknya kau cari yang single saja Molina." "Kalau duda memikat, kenapa harus cari yang single. Bukankah wanita bisa percaya pada, yang berpengalaman?!" sambut Molina. "Keras kepala kau ternyata, ya!" Bbughs... Reaksi pil terasa. William jatuh pingsan. Wajahnya menempel pada marmer meja bartender. Frans mencolek rekannya, "Gantian sekarang!" "Oke, jangan lupa janji loe." "Aman," balas Frans menepuk beberapa kali bahu pria yang sepantaran dengannya itu. Frans membopong tubuh William yang terkulai. Tak sadarkan diri. Molina mengarahkan jalan menuju mobil pribadi. Memang, mereka datang dengan mobil William, namun Molina memerintahkan supir pribadinya datang langsung ke klub. Sedangkan, supir William disuruh pulang. Molina telah menyogok, dengan segepok uang tunai. Supir pun tergiur, mengambil kesempatan emas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN