08 | Night Dreamer

1165 Kata
(Chat's screen) Tuan Hadi, barusan saya menerima uang tunai ini dari teman wanita, tuan William. (**) Begitu isi pesan singkat dikirim supir yang bekerja pada William. Ia melapor pada Hadi, notabene asisten kepercayaan keluarga Perkins. Hadi membelalak, sewaktu membuka notifikasi pesan yang muncul di ponsel. Tanpa buang waktu, pria berkacamata itu mendaring nomor supir. Panggilan masuk, tersambung. "Selamat malam tuan Hadi," sahut supir tenang. "Malam, kapan kau menerima uang sebanyak itu?" selidik Hadi kalem. "Belum lama tuan, tepatnya pukul 8 tadi. Saya menghantarkan tuan William dan nona itu ke klub di pusat kota. Nona itu menemui saya di parkiran, lalu menyuruh saya pulang. Dan saya diberi uang." "Posisi kau dimana sekarang?" "Saya akan mengirim lokasi ke tuan, saya sedang membuntuti nona itu karena merasa curiga!" "Bagus, kirim sekarang. Dan terus ikuti!" tutup Hadi. Hadi menggenggam ponsel seraya mengutuk, 'Sepertinya kau mulai menabuh genderang Molina. Baik, saya akan ikuti permainan ini dan kita lihat siapa yang bertahan sampai garis finish.' 'Molina nggak bisa di gampangkan. Dia cerdik, bahkan sampai tau kalau saya tidak ada di kantor pusat. Apa dia melakukan pengintaian?' Sungguh sesak perasaan Hadi, bersalah, khawatir, memenuhi ruang jiwa sendiri. "Tuan Hadi, titik lokasi yang dikirim terdeteksi sistem ada di daerah ini," ungkap general manager technology. "Dimana itu, Ken?" geram Hadi. "Emerald hotel, tuan Hadi." Mendengar nama hotel, semakin memanaskan batin Hadi, 'Lancang kau Molina, apa yang kau mau dari William?' Hadi mengumpulkan bodyguard, jumlah pria berotot dibalut setelan jas hitam itu sangat banyak. Mereka menuju titik lokasi yang di yakini keberadaan William juga Molina disana. Ken terus memantau kedipan titik melalui notebook khusus. Supir William terus mengikuti, menjalankan perintah yang diberikan Hadi. Memata-matai gerak gerik perempuan picik tersebut. Bapak ini mengirim beberapa gambar, hasil jepretan ponsel sendiri. Ken segera memberitahu Hadi perkembangan situasi yang ditangkap. Amarah Hadi meningkat hingga bertingkat, 'Tunggu balasan untuk ini, Molina!' "Maaf tuan, apa kita perlu memberitahu hal ini pada madam Rosaline?" cetus Ken disela ketegangan situasi. "Hold on, kita handle sikon dulu. Selesai masalah ini, saya pribadi yang akan menceritakan pada beliau!" *** “Eh.. Frans, cepetan buka kameranya. William biar gue yang tangani,” suruh Molina. “Biar gue yang ngurus nih bule. Loe ganti baju sana, soal kamera udah gue setting. Tenang aja loe!” papar Frans enteng. 'Bener juga si Frans, gue perlu dandan lah!' "Sana cepetan, ngapain bengong loe?" kejut Frans heran. "Eh... gue boss disini, paham loe!" gertak Molina. Jengkel Frans mendengarnya, "Iya boss. Sana boss, ganti baju sana. Nih bule dah ready!" Molina bergegas ke kamar mandi. Ya, mereka bertiga telah check in di Emerald hotel. Lokasi hotel yang berdekatan dengan klub. Hotel borju satu-satunya disana. Pasti Frans dalangnya. Frans membuka seluruh baju William, menyisakan boxer yang menutupi bagian bawah saja. William benar-benar tak me-response. Pasrah. “Begini amat nyari duit makan. Mending buka baju tuh cewek dari pada neh bule!” gumam Frans. Ia menatap kecewa pada pintu kamar mandi yang dilewati oleh Molina. "Gede juga sotong loe ya, tapi emang sih loe bule bule emang gede-gede kata si mbah. Eh,.. tapi loe jangan bangga dulu, punya gue juga gede, paham loe!" geli Frans menatap pada pusaka yang menyembul dibalik boxer. Frans memasang kamera full daya batrai. Kamera melekat pada tiang penyangga, tripod, yang sejajar bahu. Ia mengambil beberapa spot bergantian. Mencari angle terbaik menangkap moment juga mengabadikan. Molina keluar kamar mandi, hanya mengenakan jubah mandi milik hotel. Rambutnya tergerai, ikal menggantung di ujung. Wangi tubuhnya sampai menusuk hidung. “Gimana udah beres?” tanya Molina. Frans terkejut, tadi ia fokus. Sekarang lain cerita, iris-nya mengagumi Molina dari ujung kaki sampai ke kepala, ‘Cantik juga nih cewek. Kayaknya kalem nih.’ “Beres. Dah sana loe baring di sampingnya. Atur sendiri mau gimana posisi. Gue akan foto terus-terusan,” sahut Frans. Molina melepas jubah mandi. Frans terpesona, ia bisa melihat lingerie warna hitam yang menonjolkan setiap lekukan tubuh Molina. Padat meliat, Molina memiliki badan proporsional, dadanya terisi penuh, pinggulnya terawat dan tinggi semampai. Idaman sekali untuk dinikmati. 'Begajulan juga nih cewek, euh.. isss... nyeri lagi gue dibuatnya!' Gejolak Frans tersiksa. Beberapa kali Frans mengembus nafas. Menelan liur. Mendadak pusing di kepala, "Eheem... mulai ya!" aba-aba Frans. Kamera mengedip-ngedip tanpa flash. Molina bergelayut manja, menekan dadanya pada tubuh William. Ia kecup bibir William yang mengatup. Meraba-raba hingga memelintir, Molina beringsut ringsut. Ganas. Tubuhnya kini menegang, ingin disentuh. Nekat, ia letakkan tangan William di pusat sensitif. Mengusap mesra, sampai tuntas. *** Frans mengeluarkan memory card dari kamera, lalu menyalakan notebook. Selesai bebersih, Molina mendekat. Frans sedang membuat back up, menyalin barang bukti ke universal serial bus portable. Molina berdiri disamping Frans. Tanpa sadar, memajukan badan fokus melihat beberapa foto di layar. ‘Sialnya gue! pas banget lagi dipegang. Haishh... sabar ya nak! Loe gak bisa jamah nih cewek, tolong ngerti posisi gue!’ Frans nge-batin. Ia tatap miliknya seraya berujar. Mensugesti diri agar terkendali. Frans tak sengaja menoleh sampai terlihat belahan padat Molina yang hanya tertutupi setengah. Jubah mandi yang dikenakan terbuka ulah mereka berdekatan. Sedikit tersenggol, tak sengaja. "Ngagetin loe!" sembur Frans. "Eh gue cuma berdiri ya, gak ngapa-ngapain loe!" serang Molina. "Loe ngapain sih dekat gue? susah kan gue ngeditnya," tukas Frans, ngajak berantem. "Cepetan, pilih yang bagus!" rungut Molina. "Bawel loe ya, kerjain sendiri!" rajuk Frans. Molina cemas, "Eh gue bayar loe ya. Kita ada perjanjian, profesional dong." "Nih," Frans menyerahkan disk portable berwarna merah hitam. Mini size, dengan isi rahasia buatan mereka tadi. "Gue simpen yang asli di laptop gue, ntar gue masukin drive. Loe bisa buka pake kunci khusus. Satu lagi, gue orang yang paling menjunjung tinggi profesionalitas. Ngerti loe?" sambung Frans kesal. Frans harus kabur. Bumerang sekali kalau berlama-lama seruangan bersama Molina. Bisa saja ia kembali hidup lalu membawa Molina dalam dekapan. “Loe segera transfer sisanya. Gue pergi dulu,” mata Frans ke William. "Tuh bule, bisa loe urus sendiri kan?" celetuk Frans. Molina juga memandang William, "Oh.. loe tenang aja. Gue masih mau main sama dia, kerja loe sampai sini aja. Gue akan beri sedikit bonus buat loe.” Frans mengulum senyum, "Sange juga loe ya!" cibirnya. "Diem loe! atau gue batalin kasih loe bonus, hah?" ancam Molina. "Dasar cewek, mainnya ngancem. Gue balik ya!" Frans pergi meninggalkan kamar hotel. Molina hanya mengantar sampai pintu. Dia tak peduli Frans mau kemana. Yang diinginkan sekarang, ialah kembali membuka jubah lalu menaiki ranjang yang masih diisi William. Memeluk William erat-erat sampai tertidur. *** Hadi mendapat nomor kamar mereka, 'Kena kau!' Emerald Hotel, salah satu rekan bisnis William. Hadi kenal akrab sama semua pekerja. Ia begitu mudah menembus keamanan rahasia mereka. Hadi hanya perlu memperlihatkan jepretan hasil foto supir pada petinggi hotel. Sekali tindak, informasi segera didapat. "Terimakasih atas bantuannya," Hadi mengulurkan tangan. "Saya minta maaf atas ketidak nyamanan ini tuan Hadi, saya akan training lagi karyawan agar tau siapa saja pengunjung hotel. Kejadian serupa jangan sampai terulang lagi." "Tolong kasus ini dirahasiakan. Soal manajemen hotel, terserah saja. Yang penting jangan sampai naik ke media tentang hal ini. Saya tak ingin tuan William kena masalah." "Baik tuan Hadi. Saya mengerti!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN