Bel berbunyi.
“Siapa sih?” rutuk Molina.
"Perasaan gue nggak ada pesen apapun, terus siapa yang datang?" Molina gugup.
Segera Molina mengenakan jubah mandi. Ia menghadap cermin, memastikan penampilan. Tak lama, ia berjalan ke pintu kamar. Menerka-nerka, "Kalau sampai orang salah alamat, atau mabuk, awas aja!"
Pintu kamar terbuka.
Mata Molina terperanjat keluar. Hadi dan beberapa bodyguard mengepung depan pintu.
‘Kok mereka tahu gue ada disini?’
Molina menelan saliva. Tercekat. Ketakutan menyelimuti raganya sekarang.
“Mana Tuan William?” bentak Hadi.
“Mmm..Mana aku tahu keberadaannya,” sahut Molina gugup.
Seorang bodyguard langsung menghempas tubuh Molina ke samping. Ia memberi akses agar Hadi bisa melihat ke dalam kamar. Hadi pun masuk, dengan jelas ia mendapati pakaian William tergeletak di lantai kamar hotel. Dan William terlelap dalam selimut di ranjang.
Hadi mencengkram tangan Molina kuat, “Apa yang telah kau lakukan, Molina? Kenapa tuan William begitu?” geram Hadi.
"Lepasin. Sakit, Hadi!" histeris Molina.
"Kau," tekan Hadi lamat-lamat.
"Murah sekali harga yang kau tawarkan. Sampai menjebak tuan William seperti ini!"
Molina menyeringai, "Saya tidak peduli. Terserah. Dengar, terserah... loe mau bilang gue ini apa. Yang jelas, I'm happy!" smirk devil.
"Khianat kau, Molina!" sembur Hadi berang.
“Seperti yang ada dalam pikiran mu Tuan Hadi. Kau pasti tahu apa yang dilakukan orang dewasa seperti kita ini, ya kan?”
Hadi tak membalas. Dia paham, maksud Molina. Tapi saat ini, ia ingin fokus pada keamanan William saat meninggalkan hotel. Seorang bodyguard mengutip pakaian William. Hadi turun tangan memakaikan jubah mandi ke tubuh topless William. Dibantu pihak keamanan hotel, Hadi dapat mengeluarkan William diam-diam.
***
Hadi duduk bermenung dalam perjalanan ke mansion Perkins. Berulang kali ia teringat kata-kata Molina.
(Flashback)
“Saya akan mencari tahu tentang semua ini. Dan saya pastikan, kau tidak akan tidur nyenyak, Molina!” ancam Hadi.
“Silahkan saja,” balas Molina tertantang.
(**)
Hadi memukul lututnya. Beberapa kali tanpa berbicara. Supir meneliti dari spion mobil, tak sanggup bertanya. Mereka kecewa atas kelalaian ini. Kinerja kurang cakap mereka di hari ini.
'Bagaimana reaksi William, kalau tau kejadian ini?' seru Hadi sendirian.
***
Mereka sampai di mansion.
Tubuh William dibopong bodyguard, Hadi langsung menelpon dokter Gilbert. Walau dokter Gilbert spesialis kandungan namun ia pasti paham apa yang telah terjadi dengan William. Gilbert juga dokter umum sebelumnya. Hasil risetnya pasti tidak diragukan lagi.
Hari sudah larut. Namun tak mengurungkan niat Hadi menghubungi Gilbert.
"Selamat malam dokter Gilbert," suara Hadi terdengar cemas.
"Malam Hadi, ada apa?" sahut Gilbert khawatir.
"Maaf dokter, bisakah anda ke mansion. Situasi genting sedang terjadi. Saya mohon dokter," pinta Hadi memelas.
"Baik, segera saya kesana," Gilbert menyanggupi permintaan Hadi.
Rosaline memaksa masuk ke kamar William, “Hadi, ada apa ini? Kenapa William?” cemas Rosaline mendapati putra semata wayang terkulai lemah.
Hadi menunduk lemah, "Maafkan saya Madam. Saya lalai. Sekali lagi saya minta maaf," tulusnya berucap mengenai hati.
"Hey.. kamu minta maaf kenapa? Ada apa ini? Tolong ceritakan, make me understand!" berondong Rosaline.
Hadi mendongak. Bebenah posisi agar bisa bercerita pada Rosaline.
“Feeling saya benar, Madam. Sesuatu buruk telah terjadi pada William. Barusan saya menemukan William di Emerald hotel. Ia tengah bersama Molina. Di sebuah kamar hotel," ungkap Hadi jujur.
Rosaline tercengang.
Mendadak kepalanya pusing. Hadi sigap memapah tubuh wanita paruh baya itu. Hadi sangat menghormati Rosaline bagai ibu sendiri, "Madam, saya hantar ke kamar ya. Soal William biar saya yang usut tuntas."
"Tidak Hadi, saya perlu tau kejelasan ini. Tolong ambilkan minum," pesan Rosaline.
Hadi mengabulkan. Ia sendiri menuangkan air ke gelas, "Ini Madam, pelan-pelan," Rosaline meneguknya.
“Permisi tuan, dokter Gilbert sudah datang,” tandas seorang bodyguard.
“Langsung saja, dibawa kemari!”
Hadi mengusap lengan Rosaline, "Madam, are you ok? Nanti sekalian diperiksa saja ya, mumpung ada dokter Gilbert."
"Tenanglah Hadi, saya sudah membaik. Saya ingin tetap disini," kekeh Rosaline.
***
Gilbert terkejut melihat William tertidur pulas seperti itu. Ia memeriksa tubuh William. Tak lama, Gilbert tau penyebabnya. Ia mengajak Hadi juga Rosaline bicara.
“Dia di bawah pengaruh obat tidur. Apa ada keluhan yang sedang dialami William? Kenapa mengkonsumsi obat tidur?” tanya Gilbert.
“Obat tidur dokter?" terang Hadi tak percaya.
"William tidak menyukai obat dokter Gilbert. Dia paling anti sama obat. Rasanya gak mungkin, dia minum pil tidur sembunyi-sembunyi!" sanggah Rosaline.
Gilbert mengangguk, "Maafkan saya, tapi dari gejala yang ditunjukan mengarah kesana Mrs.Rosaline!"
"Apakah ada efek sampingnya, dokter?” cemas Hadi bertanya.
“Saya rasa tidak ada. Ia hanya akan tertidur seperti itu sampai pagi. Tapi saya akan membawa sampel darah William ke lab agar bisa tau tentang dosis yang masuk ke tubuhnya,” jelas Gilbert menenangkan.
“Tolong kabari perkembangan hasil lab-nya nanti dokter," lirih Hadi.
"Pasti!"
Rosaline tertunduk lemah. Ia tak habis pikir soal obat tidur yang masuk ke tubuh William. Pikirannya melayang ke pekerjaan yang menumpuk di kantor. Berprasangka, jika pekerjaan-lah yang membuat William begini.
"Dokter, tolong diperiksa juga Mrs.Rosaline saya tidak mau terjadi sesuatu dengannya. Tadi sempat mau pingsan,” keluh Hadi. Rosaline tak mampu menolak. Hadi terus memaksa. Berdalih menjaga kesehatan anggota keluarga Perkins.
Setelah diperiksa, Gilbert memberikan resep obat untuk Rosaline. Ia juga meresepkan multi vitamin untuk William minum.
***
“Tom, kau sudah pahamkan situasi ini seperti apa. Saya ingin kau memimpin pengungkapan tentang kasus ini. Saya tidak mau kasus ini menguap begitu saja,” geram Hadi sampai mengepal kuat tangannya.
"Paham tuan. Saya sudah membagi mereka menjadi beberapa tim. Tugas mereka sudah jelas, memeriksa cctv kantor, klub dan hotel Emerald. Segera saya akan melaporkan hasil dari investigasi ini tuan.”
“Lakukan secara diam-diam."
Tom sudah lama mengemban mandat posisi penting di keamanan keluarga Perkins. Ia leader bodyguard, langsung diperintah Hadi. Loyalitas Tom tak perlu diragukan. Bahkan saat dulu Nicholas hampir diculik, ia bisa menangkis kejadian tersebut.
"Ken, pantau media. Jangan lengah lagi. Jangan ada tagar berita negatif tuan William, mengerti?" decit Hadi was-was.
"Baik tuan, saya akan handle media."
***
Molina tidak beranjak dari hotel. Ia malah bergelung dalam selimut tebal. Tak henti tersenyum, gadis itu sangat senang karena telah berhasil membuat William jatuh dalam pelukan. Dia menciumi bantal yang ditiduri William berkali-kali, menghirup aroma yang tertinggal disana.
"Kira-kira Hadi berhasil nggak ya?"