"Kamu seharusnya–" refleks Dina menoleh ke arah pintu karena terkejut mendengar pintu tersebut dibuka dengan kasar. "A–ayah." Tergagap Dina melihat sosok yang masuk ke kamar rawatnya. Ponsel yang masih di dekat telinganya diturunkan dengan cepat. Ia memaksakan senyum tipis tatkala ayahnya menghampirinya dengan langkah cepat, diiringi dadanya yang berdegup kencang karena perasaannya tiba-tiba tidak nyaman. "Ayah …." Dina memasang muka sendu ketika mereka sudah berhadapan, berharap dikasihani, tapi …. Plak! Plak! Dua tamparan keras mendarat di kedua pipinya. Masing-masing mendapatkan bagian. Dina sampai terdorong ke belakang karena badannya yang masih lemah dan ketidaksiapannya mendapatkan kejutan tak terduga dari ayahnya. "Dasar pe la cur! Anak kurang ajar! Siapa laki-laki itu?! Beran

