“Hah… Hah… Hah…” Deru napas Naya terdengar berantakan, dahinya berkeringat, tenggorokkannya kering, pandangannya kacau di antara gelap yang dapat ia tangkap dengan matanya. Gadis itu perlahan berusaha untuk menyadarkan diri sepenuhnya, menormalkan kembali napas juga ardenalinnya yang terpacu karena mimpi yang dialaminya barusan. Menarik napas banyak-banyak, Naya lantas mengusak wajahnya gusar. Bagaimana ia bisa bermimpi seperti itu di saat seperti ini? Membuatnya bimbang dan kembali tak yakin dengan dirinya sendiri. Setelah apa yang terjadi, setelah apa yang dirasakannya pada Krist, haruskah Naya mengatakan yang sebenarnya? Haruskah Naya memberitahu Krist mengenai apa yang terjadi di hari kecelakaan itu sebelum mimpi buruknya tadi menjadi kenyataan. “Kenapa harus Rayya? Kenapa…” Gumam

